ARKIPEL

Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

5 – 13 September 2025 at Forum Lenteng


Pengantar Tematik

70 tahun sejak proyek geopolitik ambisius Konferensi Bandung yang digagas oleh negara-negara bekas jajahan merumuskan sikap tegas terhadap dua kutub besar, benang dalam jelujur Sejarah Dunia seperti masuk ke lubang yang sama tiga-empat lajur sebelumnya. Tragedi kemanusiaan karena kedaulatan masih terjadi, kebangkitan rezim-rezim yang menekan multivokalitas dan keadilan sosial belum pula tercapai. Semuanya bermutasi menjadi bahasa birokrasi nan rumit yang terkesan hanya dapat diurai oleh para pencipta atau gatekeeper bahasanya.

Gefährlich leben! Vivere pericolosamente! Vivere pericoloso! Hidup dalam bahaya…

Provokasi yang dilayangkan Nietzsche untuk menjawab krisis eksistensial manusia lewat frasa ‘hidup dalam bahaya’ mengalami tarik ulur dramatis di Sejarah Dunia. Oleh Mussolini, frasa ini menjadi kredo untuk membela negara Italia Raya dan fasisme; oleh Soekarno, ia dimaknai sebagai fase yang mesti dilalui Indonesia dalam revolusi yang tak pernah berhenti melawan imperialisme. Keduanya mewakili masa-masa genting dalam peristiwa geopolitik besar, Perang Dunia II dan puncak Perang Dingin. Soekarno menyematkan Tahun pada frasa tersebut sebagai pembacaan atas momentum otak-atik kekuatan imperialis di kawasan Selatan Global yang menuntut gerak bersama dalam kerangka revolusioner yang romantik, lewat rekontekstualisasi Konferensi Bandung sebagai muara pemikiran dekolonisasi dan aktivisme. Gerakan-gerakan masyarakat yang bertahan hingga hari ini, yang belajar bersama-sama untuk menandingi bahasa para gatekeeper, baik itu praktik filibuster, mengakali algoritma dan sistem, dan menciptakan noise.

Gerakan massa yang mengutilisasi keserentakan gambar bergerak dalam teknologi media di era kontemporer menggubah puisi baru atas peristiwa massa. Jarak antara tubuh-kamera-platform distribusi-montase dalam peristiwa massa lintas lokasi menawarkan refleksi berlapis atas waktu dan definisi ulang atas hakikat kemanusian, hidup bersama lewat irisan sejarah personal dan sejarah publik. Dengan kesadaran atas eksperimentasi dan aktivisme ini, ARKIPEL ingin menggali wacana sinematik yang memetakan agenda produksi pengetahuan bersama atas bagaimana membangun kesadaran hidup ulang-alik antara sistem dan non-sistem sebagai individu atau kolektif—bukan hanya dalam tema-tema yang diangkat dan bentuk estetika, tetapi juga dalam cara produksi dan distribusi yang revolusioner. 

Tema ini mengundang interpretasi dan metode sinematik seluas-luasnya dalam membedah persoalan genting di irisan yang privat dan publik. Years of Living Dangerously, menjadi pemantik untuk merakit imajinasi baru dalam menyiasati zero-sum game dari realitas geopolitik hari ini. Terlepas kita semua hidup di lokasi yang memberikan ‘cetakan’ untuk bergerak–cincin api, patahan, subtropik– dan sejarah kawasan yang berbeda, hasrat untuk hidup menyiasati bahaya menjadi hasrat kolektif untuk membangun dunia baru. 


© 2026 Forum Lenteng. All rights reserved.
ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Website: arkipel.id · Layout: tooftolenk
Powered by WordPress.com