ARKIPEL

Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Pengantar Kuratorial

Curatorial Introduction

Tujuh dekade setelah Konferensi Asia-Afrika mengetengahkan solidaritas di tengah Perang Dingin, dunia kembali mendapati dirinya berada pada situasi “Tahun Hidup Dalam Bahaya” yang baru. Seruan pidato Sukarno dari tahun 1964, Tahun Vivere Pericoloso, terasa semakin relevan di tengah perang yang berkecamuk dari Palestina hingga Ukraina, krisis iklim yang tak terbantahkan, serta kemunduran hak asasi manusia yang kembali mengemuka di lingkup nasional. Bahaya-bahaya ini tidak lagi terpusat pada satu blok ideologis; mereka terdesentralisasi, meresap ke dalam kehidupan sehari-hari melalui layar gawai, kebijakan pembangunan, dan udara yang dihirup. Pameran ini lahir dari sebuah urgensi untuk membongkar, mempertanyakan, dan me-reaktivasi Semangat Bandung menjadi sebuah metode aktif untuk bertahan dan melawan. Ini adalah momentum kritis untuk bertanya: jika solidaritas adalah jawabannya, seperti apa wujudnya di era di mana koneksi bersifat instan namun kepercayaan begitu rapuh

Para seniman dalam pameran ini bekerja dengan keyakinan bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar berlalu; ia mengendap dalam lanskap, terarsip dalam teknologi, dan bersemayam dalam struktur sosial. Proses mereka juga melampaui penampilan karya; dengan melakukan investigasi kritis terhadap zaman, berdialog dengan warisan perjuangan dan trauma masa lalu untuk membedah anatomi bahaya masa kini. Pameran ini adalah sebuah undangan untuk menavigasi medan yang genting ini bersama-sama..

Gagasan bahwa sejarah adalah entitas yang hidup dan terus menghantui masa kini menjadi titik pijak bagi para seniman dalam pameran ini. Landasan pemikiran ini secara kuat disuarakan oleh Sukarno dalam pidato pembukaan Konferensi Asia-Afrika 1955, di mana ia mengartikulasikan bahwa pertemuan bersejarah itu merupakan kulminasi dari perjuangan panjang para pendahulu:

Inilah konferensi internasional yang pertama dari bangsa-bangsa kulit berwarna sepanjang sejarah umat manusia! … Pada hemat saya kita berkumpul di sini pada hari ini karena akibat dari pengorbanan… Bagi saya, dalam gedung ini bukan hanya terdapat pemimpin-pemimpin dari segala bangsa Asia dan Afrika saja: di dalamnya terdapat pula roh yang tak kasat mata, yang baka, yang selalu jaya, dan mereka yang mendahului kita. Perjuangan dan pengorbanan mereka telah membangun jalan ke arah pertemuan ini.

Dalam pernyataan ini, Sukarno melampaui sekadar retorika puitis. Ia mengartikulasikan sebuah perspektif kosmologi Selatan yang secara fundamental berbeda dari rasionalisme Barat, di mana batas antara dunia fisik dan spiritual, antara yang hidup dan yang telah tiada, tidaklah kaku. Dengan menyebutkan kehadiran “roh”, ia melegitimasi pandangan dunia ini di panggung internasional, mengikat proyek politik dekolonisasi pada akar spiritual yang dipahami bersama oleh para delegasi. Dalam pandangan ini, sejarah melampaui statusnya sebagai arsip beku; ia menjadi kehadiran aktif yang terus menuntut untuk didengarkan.

Kehadiran spektral inilah yang menjadi material bagi para seniman. Mereka bertindak sebagai medium, bekerja untuk merasakan, menggali, dan menyalurkan kembali “roh yang tak kasat mata” tersebut. Arsip, bagi mereka, adalah medan interogasi untuk memanggil kembali suara-suara yang dibungkam.

Beberapa seniman mendekati arsip sebagai sebuah partitur yang dapat diaktifkan kembali. Manshur Zikri, misalnya, menerjemahkan Dasasila Bandung menjadi Sonic Instruction, serangkaian instruksi performatif yang mengintervensi bunyi keseharian. Karyanya tidak hanya merefleksikan 70 tahun KAA, tetapi juga menyerukan aksi konkret. Salah satu instruksinya secara eksplisit mengajak audiens berdonasi untuk Palestina, mengubah tindakan digital yang privat menjadi “jejak sonik kepedulian”. Di sini, solidaritas geopolitik diaktifkan menjadi gestur personal yang mendesak, menghubungkan semangat dekolonisasi masa lalu dengan perjuangan kemerdekaan hari ini. Dengan cara serupa, Rahmania Nerva dan Riyan Kelana dalam karya mereka, Re: Kepada Sahabat Asia Afrika, mengaktifkan arsip perlawanan yang berbeda: sebuah puisi Sugiarti Siswadi dari tahun 1961. Dengan memanfaatkan keintiman dan spontanitas oil pastel, para seniman membangun sebuah kontra-wacana dalam wujud visual, berdialog dengan suara seorang penulis perempuan berafiliasi Lekra yang telah lama dibungkam. Ini juga menjadi upaya merebut kembali dan menyuarakan kembali sejarah seni kiri Indonesia, sebuah perlawanan terhadap amnesia historis sebagai salah satu bentuk bahaya yang paling laten.

Sementara itu, seniman lain justru mendekonstruksi arsip itu sendiri, mempertanyakan stabilitas dan kebenarannya. Mereka menunjukkan bahwa sejarah tidak pernah tunggal. Kompleksitasnya yang sering kali menyakitkan dan bertentangan dieksplorasi oleh Rahmat Gunawan dalam One and Three Bridges. Dengan melapiskan arsip pidato tiga tokoh sentral Aceh yang secara ideologis saling berlawanan — Tengku Chik di Tiro, Soekarno, dan Hasan di Tiro — ia menciptakan sebuah pengalaman sonik dan visual yang menolak rekonsiliasi mudah. Karyanya menghadirkan sejarah sebagai sebuah impossible trinity, sebuah trilema yang memaksa audiens untuk bertahan dalam ketidaknyamanan kontradiksi dan menolak narasi linear. Kerapuhan arsip dan ingatan di era digital menjadi fokus Anggraeni Widhiasih dalam from the library of the forgotten. Dengan memasukkan fragmen sejarah KAA yang tercecer ke dalam Akal Imitasi
(AI), ia menunjukkan betapa mudahnya warisan yang terlupakan dapat dihapus, sekaligus betapa mudahnya “narasi baru” dapat diciptakan oleh teknologi. Karyanya menjadi sebuah peringatan tajam tentang kerentanan arsip di zaman pasca-kebenaran, ketika “roh” sejarah dapat dipalsukan atau bahkan diciptakan dari ketiadaan.

Jejak sejarah dan kekerasan juga mengendap dalam tanah, air, dan udara. Para seniman dalam bagian ini memandang lingkungan sebagai saksi bisu, korban, sekaligus arena pertarungan di era Antroposen. Dalam karya Endless Cycle of Expansion, Syarifa Amira Satrioputri membedah Manggarai sebagai “medan politik terestrial”, ketika lapisan-lapisan modernisme, jejak konsumsi, dan materialitas ekologi saling berbenturan, mengubah ruang menjadi sebuah situs geologis dari aktivitas manusia. Demikian pula, proyek sketsa Sungai Mahakam (Series) karya Theo Nugraha. Ia merekam sungai sebagai sebuah ekosistem dinamis yang terus menerus mencatat peristiwa-peristiwa di tepiannya. Keduanya menunjukkan bagaimana lanskap adalah palimpsest; sebuah naskah yang terus ditulisi ulang oleh jejak kekuasasan dan kehidupan.

Bentang alam juga menyimpan memori sonik dari bencana dan kekerasan. Komposisi suara ambisonik Ditemui Pak Yotomi karya Van Luber Parensen membawa audiens ke padang rumput Balaroa, mengajak untuk mendengarkan dengan saksama kehidupan yang tumbuh kembali di atas luka likuifaksi Palu. Karya ini menjadi sebuah meditasi sonik tentang resiliensi dan trauma. Suara ini memberi napas pada citraan visual Plus Three Minus Eight dan Percakapan di Jalan Pulang karya Taufiqurahman Kifu, yang merekam jejak bencana dari ketinggian, menyandingkan trauma ekologis tanah dengan trauma kultural yang terpendam. Kontras antara imaji realis dan fantasi dalam melihat lanskap juga dieksplorasi oleh Yosep Anggi Noen dalam filmnya Genre Sub Genre, yang menyajikan fragmen-fragmen visual dari sebuah ranah geografis dalam ketegangan antara malam yang mencekam dan siang yang sureal. Di sisi lain spektrum, pengalaman sonik dari Ananta Wijayarana dalam Through the Pipes, Submerged menarik bahaya ekologis ke skala domestik. Karyanya memaksa audiens merasakan siklus limbah tak terlihat dari hulu ke hilir, hingga sensasi klaustrofobik terendam olehnya, mengubah polusi dari data abstrak menjadi pengalaman visceral.

Di hadapan lanskap yang terluka, beberapa seniman beralih ke strategi mitopoetik dan pertanyaan tentang representasi. Tanah Tersirat oleh Helmi Yusron dan Dyah Nindyasari adalah sebuah esai visual yang menolak menyerah pada narasi kiamat ekologis, dan justru membayangkan mitos baru yang lahir dari puing-puing kerusakan. Upaya merepresentasikan yang tak terlihat ini juga menjadi inti film Lembusura karya Wregas Bhanuteja, yang bermain-main dengan proses visualisasi sosok mitologis pasca-letusan gunung berapi. Pertanyaan tentang cara merepresentasikan katastrofi — bagaimana sebuah tragedi bisa disampaikan tanpa eksploitasi — ditelisik lebih jauh dalam pendekatan forensik film Catastrophe karya Zbynek Baladran. Sebagai kontras, hubungan yang lebih puitis dan intim dengan alam dihadirkan Scott Miller Berry melalui film 16mm-nya, Weeping Willow, yang berfokus pada satu pohon dan resonansi emosionalnya, menawarkan mode representasi yang personal dan afektif.

Bahaya kontemporer juga beroperasi melalui struktur dan mekanisme kontrol yang membentuk kehidupan sehari-hari. Berbagai aparatus, dari yang berbasis teknologi hingga yang bersifat sosio-politik, bekerja secara halus untuk menormalisasi kekuasaan. Rangkaian karya dalam bagian ini membedah mekanisme tersebut, menyingkap cara kerjanya yang sering kali tak kasat mata. Pertama, aparatus teknologi pengawasan dan mediasi. Melalui karyanya Cikini, Menteng, Kwitang, Gambir, Monas dan Gondangdia, Afrian Purnama mempertanyakan status ontologis dari CCTV sebagai “imaji teknis”— sebuah aparatus yang beroperasi secara otonom, meniadakan intensi subjek di balik kamera, dan secara simultan mengubah siapa pun di depannya menjadi objek data dalam sebuah medan pengawasan tanpa henti. Wacana ini diperluas ke konteks global oleh Bo Wang dalam The Revolution Will Not Be Air-conditioned, yang melacak evolusi mal dari akar kolonialnya menjadi mesin konsumerisme yang terkondisikan. Kritik terhadap cara mediasi digital mengonstruksi realitas melalui bentuk-bentuk visual yang artifisial dan banal juga dieksplorasi dalam film A Room with a Coconut View karya Tulapop Saenjaroen.

Dari aparatus teknologi, bahaya juga menjelma dalam bentuk tekanan kekuasaan yang lebih fisik dan material. Dalam Megapascal, Azhar Arrival menerjemahkan kekerasan pembangunan infrastruktur ke dalam pengalaman audiovisual yang distortif; tumpang-tindih gambar dan suara dari ruang konstruksi merepresentasikan bagaimana tanah, tubuh, dan kedaulatan ditundukkan oleh tekanan “kemajuan”. Mekanisme kontrol sosial yang mengakar didemonstrasikan Ali Satri Effendi dalam Lelaki dan Burungnya, sebuah jukstaposisi antara eksperimen Skinner, dokumentasi lomba burung, baris-berbaris militer, dan kerusuhan ‘98. Karya Dahlan Khatami, [Tanpa Judul], kemudian memperingatkan tentang kebangkitan cara berpikir otoriter sebagai respons reaksioner terhadap ketidakpastian global. Melalui serangkaian drawing abstrak geometris yang diciptakan dengan pensil, komposisinya yang pekat dengan warna hitam, gradasi, dan putih memvisualisasikan ketegangan dan tekanan zaman. Efek dari berbagai tekanan ini termanifestasi dalam fragmentasi sosial yang subtil, yang didiagnosis melalui karya-karya yang merekam gejalanya. Salah satunya adalah jurang sosial tak terlihat yang coba dilintasi dalam performans fotografi Menangkap Lompat karya Maria Christina Silalahi. Melalui serangkaian delapan foto, teknologi fotografi digunakan untuk membekukan gestur tubuh yang rapuh sekaligus menantang. Kekaburan visual atau blur yang muncul pada beberapa citra akibat kecepatan gerak menjadi jejak interaksi antara tubuh dan aparatus teknologi. Blur ini dapat dibaca sebagai metafora atas sulitnya mendefinisikan dan memetakan jurang sosial itu sendiri; sebuah abstraksi yang — seperti tubuh yang melompat — lolos dari upaya perekaman yang tuntas.

Selanjutnya, wacana publik yang telah menjadi instrumen kekuasaan dibedah dalam kolase Mikrofonmenschen karya Raras Umaratih. Judulnya, yang berarti “Manusia Mikrofon”, merujuk pada para pejabat yang direduksi menjadi corong anonim negara. Raras menjukstaposisikan citra petinggi negara dengan wajah terpotong dengan imaji-imaji militer, sebuah gestur visual yang secara tajam menghubungkan retorika resmi dengan aparatus kekerasan, menelanjangi bahasa publik sebagai performa kekuasaan yang hampa makna. Puncaknya, rapuhnya fondasi komunikasi dalam eksperimen verbal, Kabar, karya Robby Ocktavian.

Setelah memetakan anatomi bahaya yang beragam — dari yang bersifat spektral dan ekologis hingga yang terstruktur dalam teknologi dan politik — maka pertanyaan mendesak berikutnya adalah tentang metode perlawanan. Jika bahaya bekerja dengan cara yang terdesentralisasi dan seringkali tak kasat mata, bagaimana sebuah respons dapat dirumuskan?

Jawaban yang diajukan dalam pameran ini bersifat metodologis. Ia terletak pada praktik kolektif sebagai sebuah cara kerja dan bentuk perlawanan. Pertama-tama, praktik ini memperluas arena solidaritas ke tingkat transnasional, mereaktivasi semangat internasionalisme KAA. Dalam dunia yang menyaksikan kekerasan dari Gaza hingga Kyiv, karya-karya dalam pameran ini menciptakan dialog tentang pengalaman trauma sejarah yang melintasi batas-batas budaya.

Film Uyuni karya Andrés Denegri tentang teror di Bolivia bersanding dengan lukisan Riak yang Tak Terlupakan karya Riyan Kelana yang merespons pergolakan di Indonesia. Tema sengketa wilayah dan pengasingan yang disuarakan dalam film Who Is Fishing? karya Chen Singing dan Turtle Island: Nostalgic Voices karya Lee Yung-chuan dari Taiwan menggemakan pengalaman serupa di berbagai belahan dunia. Dialog ini diperdalam oleh esai-film Letter to T; in nuclearity we are connected karya Zhang Zimu, yang membongkar bagaimana representasi visual bom atom di Tiongkok dinegosiasikan secara historis: sebagai simbol kekuatan komunal melawan imperialisme, sekaligus sebagai titik masuk untuk merefleksikan keterhubungan ekologis yang rapuh di zaman nuklir.

Lantas, solidaritas ini diwujudkan dalam cara kerja. Pameran ini mengajukan praktik kolektif yang berfungsi dalam dua aras yang saling menguatkan: ia menciptakan “ruang aman” secara internal — sebuah lingkungan suportif berbasis kepercayaan yang memungkinkan anggotanya untuk bereksperimen — yang kemudian memungkinkannya berfungsi sebagai ruang bertahan secara eksternal untuk menghadapi krisis sistemik. Ini yang menjadi “roh” dari Milisifilem Collective, yang tecermin dalam proyek angkatan Kenanga berjudul Mengurai Perkamen. Di sini, penafsiran ulang novel Gabriel García Márquez menjadi arena untuk membangun bahasa visual bersama. Semangat gotong-royong dan eksperimentasi liar juga didorong oleh jaringan sporadis seperti Council of Ten. Upaya merakit ulang arsip sebagai tindakan politis melawan penghapusan sejarah menjadi inti dari proyek Searching for the Archives of Sanggar Suka Banjir karya Prahasti Wilujeng Putri. Praktik solidaritas ini juga tecermin dalam Mannerisme Petani karya Ali Satri Effendi dan instalasi kain Pasar dan Aktivitasnya karya Volta Joneva, yang menunjukkan bagaimana kebersamaan dinegosiasikan dalam praktik keseharian, sebuah kesadaran prosedural yang juga dibongkar dalam film Death of the Soundman karya Sorayos Prapapan.

Tanpa menawarkan peta jalan keluar dari krisis, pameran Years of Living Dangerously justru berfungsi sebagai sebuah ruang jeda kritis di tengah kepungan bahaya-bahaya yang seringkali membuat sesak. Karya-karya yang dihadirkan adalah instrumen-instrumen untuk mempertajam kepekaan, melatih kembali cara melihat, mendengar, dan merasakan realitas yang semakin kompleks. Mereka mengajak audiens untuk tidak berpaling dari ketidaknyamanan, melainkan untuk duduk bersamanya, menginterogasinya, dan mungkin menemukan celah-celah kecil di mana daya tahan bisa ditumbuhkan.

Lokasi pameran di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sendiri menambahkan lapisan pembacaan yang kompleks. Sebagai sebuah proyek Orde Baru yang merepresentasikan “Indonesia dalam miniatur”, TMII adalah sebuah arsip raksasa yang sarat dengan narasi kekuasaan dan konstruksi identitas. Menghadirkan karya-karya yang secara kritis membongkar sejarah, kekuasaan, dan narasi pembangunan di dalam konteks TMII menciptakan gesekan yang produktif. Barangkali, pameran ini menjadi intervensi temporer di dalam sebuah monumen, sebuah catatan kaki kritis terhadap narasi besar yang diusung oleh lingkungannya serta mempertanyakan apa yang disimpan dan apa yang sengaja dilupakan oleh
arsip nasional tersebut.

Pada akhirnya, pameran ini adalah sebuah ajakan untuk secara kritis membaca tanda-tanda zaman, untuk mendengarkan “roh yang tak kasat mata” dari masa lalu, dan untuk menemukan kembali kekuatan dalam kerja bersama. Dengan merakit ulang solidaritas melalui jejaring kepedulian, pemikiran kritis, dan praktik artistik yang gigih, mungkin inilah cara untuk mereaktivasi “Semangat Bandung” hari ini. Ini adalah sebuah penegasan bahwa di tengah tahun-tahun yang paling berbahaya sekalipun, seni dan kebudayaan tetap menjadi ruang untuk berlatih dan membayangkan kemungkinan dunia yang lain.

Zhang Zimu | Tunisia, France | 2023 | 21 minutes

Zbynek Baladran | Czech Republic | 2019 | 6 minutes

Yosep Anggi Noen | Indonesia | 2014 | 12 minutes, BW

Wregas | Bhanuteja | Indonesia | 2014 | 10 minutes, Color

Tulapop Saenjaroen | Thailand | 2018 | 29 minutes, Color

Lee Yung-chuan | Taiwan | 2000 | 21 minutes, Color

Chen Singing | Taiwan | 2000 | 16 minutes, Color

Sorayos Prapapan | Thailand | 2017 | 16 minutes, Color

Bo Wang | USA | 2022 | 27 minutes, Color & BW

Andrés Denegri | Argentina | 2005 | 8 min, Color

Syarifa Amira Satrioputri | Indonesia | 2025 | Instalasi 2 panel

Taufiqurrahman Kifu | Indonesia | 2025 | Video Instalasi 2 Kanal | 8 Minutes & 12.12 Minutes

Theo Nugraha | Indonesia | 2023-now | Sketches (Charcoal)

Van Luber Parensen | Indonesia | 2025 | Sound Composition

Volta Jonneva | Indonesia | 2025 | Instalasi Kain

Wildan Iltizam Bilhaq | Indonesia | 2025 | Video, 17 minutes 7 seconds

Robby Ocktavian | Indonesia | 2021 | Video, 15 minutes

Riyan Kelana | Indonesia | 2025 | Painting

Raras Umaratih | Germany | 2025 | Collage zine

Rahmat Gunawan | Indonesia | 2025 | mix media

Rahmania Nerva & Riyan Kelana | Indonesia | 2025 | Drawing | Oil pastel on 21,0cm x 29,7cm paper

Prashasti Wilujeng Putri | Indonesia | 2025 | Video installation & zine

Dahlan Khatami | Indonesia | 2025 | Drawing

Dyah Nindyasari & Helmi Yusron | Indonesia | 2025 | Video, 6 menit 6 detik

Maria Christina Silalahi | Indonesia | 2025 | Performance-based photography, 8 inkjet prints on photo paper; 60×80

Manshur Zikri | Indonesia | 2025 | Event score 70 prints on paper; 30 x 30cm each.

Milisifilem Kenanga | Indonesia | 2025 | Artbook, Video Artbook

Pingkan Polla | Marocco | 2024 | Short film | 3 minutes 6 seconds

Azhar Arrival | Indonesia | 2025 | Short Film & Sound Performance | 10 minutes 22 seconds

Anggraeni Widhiasih | Indonesia | 2025 | AI-generated Video Projection on looping | 6 minutes 34 seconds

Ananta Wijayarana | Indonesia | 2025 | Sound Composition | 11 minutes 9 seconds

Ali Satri Efendi | Indonesia | 2025 | Sketches, Black & White

Ali Satri Efendi | Indonesia | 2025 | Film, Black and White, 14 minutes

Afrian Purnama | Indonesia | 2025 | Video, single channel | 14 minutes

Biografi Partisipan

Participants’ Biography

Afrian Purnama adalah seorang penulis lepas, periset seni, pembuat, kritikus dan kurator film. Beberapa tulisan kritik filmnya dapat ditemukan di jurnalfootage.net dan aspekrasio.com.

Ali Satri Efendi lahir di Karawang dan saat ini tinggal di Bekasi. Ia mempelajari eksperimen seni rupa di Milisifilem Collective. Ia bekerja sebagai dosen di sebuah kampus politeknik. Sebagai seorang sineas, film-filmnya telah diputar di berbagai festival film, seperti ARKIPEL: Jakarta International Experimental & Documentary Film Festival, Images Forum (Jepang), Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta, Minikino: Bali International Short Film Festival, serta Monitor 15, sebuah program tur yang diselenggarakan oleh SAVAC (South Asian Visual Art Center), dan dipamerkan di Galeri BGSU di Ohio, serta di Museum Nasional Singapura.

Ananta Wijayarana (1997) adalah seorang seniman dan penulis. Pada tahun 2025, ia bergabung dengan SIGISORA, sebuah inisiatif studi bunyi dari Jakarta. Dari situ, ia menciptakan beberapa komposisi bunyi, dan mengadakan acara Sesi Mendengar.

Anggraeni Widhiasih adalah seorang peneliti dan seniman yang berbasis di Jakarta. Praktiknya menjelajahi persimpangan antara memori, media, dan ruang. Berlatar belakang studi Hubungan Internasional dan audiovisual melalui Milisifilem Collective, ia kerap mengartikulasikan gagasannya melalui tulisan, proyek kuratorial, dan karya audiovisual. Sejak 2020, ia menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Visual Jalanan, dan sesekali menjadi kurator untuk ARKIPEL – Festival Film Dokumenter dan Eksperimental Internasional Jakarta, serta NextScene Kids and Youth Film Festival. Saat ini, ia adalah kandidat Magister Media, Budaya, dan Masyarakat di Universitas Glasgow. Karyanya dalam pameran ini menyoroti ketegangan antara media, penghapusan memori, dan solidaritas.

Azhar Arrival Wibisono adalah seniman audio-visual dan performance yang memadukan disiplin ilmu teknik dan seni. Sebagai Master bangunan anti gempa, ia mengeksplorasi relasi insinyur, manusia, dan tanah melalui karya intermedia, esai, dan performans bertema ritual, tubuh, serta teknologi. Ia terlibat dalam proyek The Duke of Pasir Luhur, Catra, Kembang Lais, dan Urban Dzikir, serta aktif di Milisifilem dan Teater Getek, menjadikan seni sebagai ruang dialog antara struktur, geoteknik, dan spiritualitas.

Dahlan Khatami suka menulis puisi, artikel, dan membagikannya melalui blog pribadi. Dahlan menyukai hal-hal baru untuk memperbaharui diri dalam pengetahuan, kemampuan dan pengalaman. Dahlan merupakan salah satu pendiri Forum Peduli Literasi Masyarakat dan seorang guru tingkat dasar.

Dyah Nindyasari (Jakarta, 2002) adalah mahasiswa Studi Asia Selatan dan Tenggara di Universitas Leiden. Menjadi anggota MILISIFILEM Collective sejak 2024, ia aktif menulis, mengkurasi, dan memproduksi berbagai proyek seni dan film. Karya-karyanya telah dipamerkan di JOFFIS 2024 dan pameran Metasandi (2024).

Helmi Yusron (lahir 2001, Indonesia) tergabung dalam Milisifilem Collective Forum Lenteng sejak 2023. Film yang dihasilkan dari program ini adalah I Watch You Watch Them, yang ditayangkan perdana di Festival Film Arkipel Documentary & Eksperimental Internasional ke-10 (2023). Saat ini, ia sedang mengerjakan proyek “Futures of Listening: Water Knowledge from Two Cities”, yang bertujuan untuk mengembangkan platform empati untuk berbagi pengetahuan dari masyarakat di Jakarta dan Istanbul.

Manshur Zikri (1991) adalah seniman, kritikus, dan kurator yang berbasis di Yogyakarta dan Lombok Utara. Praktik lintas-disiplinnya meliputi riset artistik, strategi kuratorial, kerja editorial, dan produksi budaya eksperimental. Lulusan Kriminologi Universitas Indonesia, ia aktif di Forum Lenteng sejak 2009, memimpin Jurnal Footage sejak 2023, dan menjadi kurator di Cemeti – Institute for Art and Society (2020–2022). Pada 2025, ia mengkuratori Bangsal Menggawe: Ando Kayuq Aiq, program budaya berbasis komunitas di Lombok Utara.

Maria Christina Silalahi (Jakarta, 1993) adalah seniman dan pembuat film yang berbasis di Yogyakarta dan Lombok Utara, alumnus Milisifilem Collective dan 69 Performance Club. Lulusan Kriminologi Universitas Indonesia, praktiknya meliputi performans, instalasi, dan film eksperimental, dengan fokus pada tubuh, arsip keluarga, mikro-histori, serta kekerasan sosial-lingkungan. Karyanya mengurai nilai sosial dan kerangka institusional secara kritis melalui pendekatan kolaboratif, liris, dan tajam yang berakar pada eksperimen visual.

Milisifilem Kenanga adalah angkatan termuda dari kelompok studi audiovisual dalam Milisifilem Collective. Dibentuk pada Januari 2025, angkatan ini mempertemukan peserta dari berbagai kota di Indonesia, mendorong eksplorasi dan eksperimentasi kolektif dalam praktik sinema, audiovisual, gambar bergerak dan media.

Zahra Zulya (Depok) adalah seorang mahasiswa Ilmu Sejarah di Universitas Indonesia. Ia sempat aktif dalam beberapa organisasi dan komunitas seni di kampus. Ia berpengalaman sebagai juru program di pemutaran film kampus, pemeran dalam film pendek, pembuat zine, dan perajin rajut paruh waktu. Saat ini ia belajar di Milisifilem Collective.

Misbahul Khoir (Jakarta) adalah seorang pejalan yang baru menyelesaikan Program Studi Bahasa dan Sastra Arab di UIN Sunan Kalijaga. Semasa kuliah, ia aktif di sebuah lembaga pers mahasiswa dan komunitas sastra.

Kayla Miskaatuzahra (Jakarta) adalah seorang mahasiswi Sejarah dan Peradaban Islam di Universtitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. 

Hanna Haris Rifai (Bukittinggi) adalah lulusan Program Studi Belanda, Universitas Indonesia (2024). Kini ia magang di Gerai Salihara, Komunitas Salihara Arts Center. Tertarik pada sejarah kolonial, arsip, dan seni.

Mathew Gunawan (Bogor) merupakan seorang mahasiswa Fakultas Film dan Televisi di Institut Kesenian Jakarta. Saat ini sedang menyelesaikan studinya dalam bidang penyutradaraan 

Muhammad Hafidz (Depok) lulusan Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Universitas Teknologi Sumbawa tahun 2024.

Fachri Ghazali (Depok) seorang Videographer. Menyelesaikan studinya di Universitas Islam Negeri Jakarta jurusan Sejarah dan Peradaban Islam. 

Shelvira Alyya (Bandung) adalah seorang seniman lulusan Program Studi Film dan Televisi, Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2023. Selain mengembangkan karyanya, ia juga aktif sebagai juru program di sebuah komunitas asal Bandung yang bernama Bahasinema. 

Beny Kristia (Magelang/Malang) lulusan jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya tahun 2023. Di tempat ia berkuliah, ia sempat aktif menjadi bagian dari komunitas film di kampus yang berfokus pada produksi, pemutaran, pemrograman film, dan festival film mahasiswa. Ia terlibat sebagai tim juru program di Proposal Menonton, salah satu pemutaran film alternatif yang didirikan bersama teman-temannya baru-baru ini di Malang.

Rafael Marius (Jakarta/Yogyakarta) seorang Lulusan Tata Kelola Seni di ISI Yogyakarta. Aktif di berkegiatan di beragam komunitas dan festival film. 

Ananda Firman Lahir (Bogor) adalah perupa autodidak asal Pekanbaru yang tinggal di Bogor. Karyanya berfokus kepada keilmuan hayati, terutama tetumbuhan (botani), ekologi, serta keterkaitan nya dengan sejarah, dekolonisasi dan kehidupan manusia. Bergabung bersama Indonesian Society of Botanical Artist (IDSBA) sejak 2018, ia berkesempatan untuk terlibat dalam berbagai gelaran pameran bersama seperti “Ragam Flora Indonesia” di Kebun Raya Bogor (2018). 

Sejak 2016, Pingkan Polla aktif memproduksi karya performans, film eksperimental, dan proyek seni yang memperdalam keterlibatannya dengan praktik seni berbasis komunitas. Setelah lulus dari KASK Conservatorium di tahun 2024, dia dan 9 orang seniman muda Indonesia menginisiasi gerakan eksperimental film Indonesia bernama Council of Ten. Pada  tahun 2025, ia turut serta membuka ruang pemutaran “misbar” yang diberi nama All Cinemas Are Beautiful (ACAB) Kino di Brussels, Belgia. Buku terakhirnya yang berjudul It’s About Believing in Your Friends’ Practice merupakan refleksi percakapan dengan kolektif-kolektif seni di Indonesia, yang menawarkan wawasan tentang dinamika seni berbasis komunitas.

Prashasti Wilujeng Putri adalah seorang seniman dan manajer seni. Sejak 2016, ia aktif di bidang pertunjukan dan eksperimen visual, termasuk bekerja dengan 69 Performance Club dan Milisifilem Collective.

Rahmania Nerva atau Rara (2001) adalah seorang seniman dan penulis yang berbasis di Depok, Jawa Barat. Ia merupakan lulusan dari Prodi Rusia di Universitas Indonesia. Saat ini ia sedang menekuni praktik audiovisual dan menulis tentang film. Beberapa tulisannya dapat dibaca di buku S…Untuk Sinema dan Minikino Articles.

Riyan Putra Jaya Kelana (1999) adalah seorang seniman, musisi, dan penulis yang berbasis di Solok. Ia merupakan bagian dari Komunitas Gubuak Kopi dan Milisifilem Collective. Eksplorasi seninya mencakup bidang kepenulisan, film, dan kebudayaan. Ia pernah terlibat dalam Tenggara DIY Culture (2022)  dan karyanya pernah dipamerkan di Jogja Fotografis Festival (2024) dan Metasandi (2024). Tulisannya tentang film dapat dibaca di buku S…Untuk Sinema dan Jurnal Footage.

Rahmat Gunawan merupakan lulusan psikologi dengan minat mendalam akan emosi negatif dan individu disfungsional. Dia merupakan bagian dari Edelweiss, generasi keenam Milisifilem Collective. Dia aktif menyublim minatnya lewat tulisan, seni visual, dan bentuk penceritaan lainnya. Kegiatan favoritnya menonton film, membaca buku, tidur siang, dan merekonstruksi ulang bunga tidurnya.

Raras Umaratih, lahir 1999, adalah seorang seniman multimedia, penulis, dan pengelola acara yang tumbuh besar di wilayah yang kini dikenal sebagai Indonesia, dan saat ini tinggal dan bekerja di Berlin. Karyanya sering mengangkat tema tentang kehadiran yang tidak hadir, arsip pribadi, pinggiran, dan ruang di antara sebagai sumber konflik yang berpotensi membawa kejernihan.

Robby Ocktavian (Samarinda, 20 Oktober 1990), seorang seniman dan organisator seni. Gemar menayangkan filem di celah-celah kota Samarinda bersama kawan-kawan Sindikat sinema. Ia juga mendirikan Naladeva Film Festival di Samarinda. Menyelesaikan studi Hubungan Internasional di Universitas Mulawarman, Samarinda, dan kemudian belajar memahami dan memproduksi visual di Forum Lenteng dalam program Milisifilem Collective.

Syarifa Amira Satrioputri (2000, Jakarta) adalah pengamat geologi dan seniman multidisiplin. Ia lulus dari jurusan geologi Universitas Indonesia dan aktif mengkaji isu antroposen lewat pemetaan interdisiplin. Penelitiannya tentang lingkungan pengendapan akibat pintu air Manggarai dipamerkan di Zone2Source, Belanda bersama milisifilem. Sekarang ia membangun platform alternatif Geology made Punk (GMP) untuk mengkritisi keilmuan geologi dan menulis tentang film dan lingkungan.

Taufiqurrahman Kifu (Indonesia, 1994) adalah seniman interdisiplin yang berkarya melalui performance, drawing, fotografi, sound, dan film, dengan mengeksplorasi bahasa serta konteks tiap medium. Film pendeknya A Tale of the Crocodile’s Twin (2022) meraih Jury Special Mention di Kurzfilmtage Oberhausen (2023), serta dipresentasikan di Visual Documentary Project, Kyoto University (2023) dan 12th Biennial Association for Southeast Asian Cinema Conference, Chiang Mai (2025). Ia juga mengkuratori pameran, ARKIPEL: Jakarta International FIlm Festival 2025, dan menjadi Direktur Artistik Festival Film Tengah (Palu).

Theo Nugraha (Samarinda, April 1992) adalah seorang seniman, kurator, dan organisator asal Samarinda. Theo adalah pelopor proyek noise pertama di Samarinda dan telah menjadi bagian dari kancah musik eksperimental Indonesia sejak 2013. Diskografinya mencakup hampir 200 rilisan. Ia tergabung dalam kelompok eksperimen visual Milisifilem Collective dan studi seni pertunjukan di 69 Performance Club. Theo adalah salah satu penggagas proyek Situationist Under-Record. Selain itu, ia adalah salah satu pendiri HEX Foundation dan salah satu penggagas Extended. Asia, sebuah platform daring untuk seniman suara dan visual. Kini Theo bekerja sebagai kurator Rumah Adat Budaya Daerah Kota Samarinda dan tim redaksi Visual Jalanan.

Lahir di Sumatra Barat, 23 April 1987, Van Luber Parensen adalah seorang seniman yang berbasis di Jakarta. Ia merupakan bagian dari Forum Lenteng dan Milisifilem Collective. Praktiknya berkembang dalam ranah komposisi bunyi, film, dan medium eksperimental lainnya. Ia juga merupakan salah satu pendiri SIGISORA; sebuah inisiatif mendengar yang berfokus pada studi bunyi dan komposisi.

Volta Jonneva, aktif sebagai salah satu anggota Komunitas Gubuak Kopi. Pada tahun 2021, ia berpartisipasi dalam penulisan buku kritik film “Harimau Tjampa” bersama Kultur Sinema yang diinisiasi oleh Forum Lenteng, Jakarta. Sejak tahun 2020 , ia menjadi Direktur Tenggara Festival. Pada tahun 2022, ia terlibat pameran Local in the Making di Seoul, Korea Selatan bersama Komunitas Gubuak Kopi.

Wildan Iltizam Bilhaq adalah seniman otodidak yang saat ini tinggal di Yogyakarta. Sejak 2016, Wildan mulai mengembangkan seninya melalui medium seni lukis dan seni pertunjukan. Pada tahun 2021 bersama rekan-rekannya, ia menginisiasi sebuah kolektif studi pertunjukan; Proyek Edisi. Ia juga merupakan bagian dari #NonBlokMovement; sebuah kolektif seniman berbasis Fantom Blockchain, yang bertujuan untuk melakukan eksperimen dan aktivisme di lingkungan yang berkembang pesat. Ia juga merupakan bagian dari Milisifilem Collective.

Andrés Denegri adalah seorang seniman yang berkarya terutama pada filem dan video. Lulus dari Universidad del Cine dan menjadi dosen di sana, selain mengajar di UNTREF dan mengembangkan pusat penelitian seni audiovisual, CONTINENTE. Karyanya telah dipamerkan di berbagai pameran dan festival. Dia merupakan Direktur BIM (Bienal de la Imagen en Movimiento).

Bo WANG adalah seorang seniman, pembuat film, dan peneliti yang berbasis di Amsterdam. Karya-karyanya telah dipamerkan di kancah internasional, termasuk di MoMA, Guggenheim, Garage Museum, CPH:DOX, IFFR, Visions du Réel, Open City Documentary Festival, Seoul Mediacity Biennale, Sesc_videobrasil, Sharjah Film Platform, dan masih banyak lagi. Ia adalah kandidat doktor di ASCA, Universitas Amsterdam, dan saat ini mengajar di LUCAS, Universitas Leiden.

Scott Miller Berry adalah seorang pembuat film dan pekerja budaya yang telah tinggal di Toronto sejak 2001. Ia menjabat sebagai Direktur Pelaksana di Workman Arts, sebuah organisasi seni + kesehatan mental, dan sebelumnya menjabat sebagai Direktur Eksekutif di Images Festival selama sepuluh tahun. Ia menjabat sebagai anggota Dewan Direksi Long Winter Music + Arts Festival dan TMAC (Toronto Media Arts Centre). Tulisan-tulisannya baru-baru ini dimuat di POV Magazine, blog film Goethe-Institut Toronto, dan di Other Places: Reflections on Media Arts in Canada, yang disunting oleh Deanna Bowen.

Sorayos Prapapan (1986) lahir di Bangkok. Dia mulai bekerja di industri filem Thailand sebagai perekam suara dan seniman foley. Dia telah menyutradarai banyak filem pendek yang memenangkan penghargaan di negara asalnya dan ditampilkan di banyak festival filem internasional.

Singing Chen adalah seorang sineas yang memfokuskan karyanya pada kondisi dan keyakinan manusia, mengeksplorasi esensi kehidupan. Pendekatannya terhadap realisme magis menyoroti absurditas dalam realitas dan menunjukkan masalah struktural dalam masyarakat. Ia telah mengumpulkan banyak citra puitis melalui observasi selama dokumentasi jangka panjangnya terhadap seniman Taiwan di berbagai bidang seperti teater, tari, dan seni suara. Pada tahun 2022, film VR-nya, The Man Who Couldn’t Leave, memenangkan Penghargaan Pengalaman Terbaik dalam Kompetisi Imersif Venesia ke-79, dan ia menjabat sebagai ketua juri untuk kompetisi imersif tersebut di Festival Film Venesia ke-80. Karya-karya terkenal lainnya termasuk film VR Afterimage for Tomorrow, dokumenter The Walker, film layar lebar God Man Dog dan Bundled, serta serial Heaven on the 4th Floor, yang banyak di antaranya dinominasikan atau dimenangkan di Festival Film Berlin, Festival Film Busan, Festival Film Fribourg, TIDF, dan masih banyak lagi.

Lahir pada tahun 1953, LEE Yung-chuan menempuh pendidikan magister di bidang Radio-Televisi-Film dari University of Texas di Austin. Tesisnya, Bugged, meraih Golden Harvest Award untuk Film Naratif Terbaik. Ia pernah menjabat sebagai editor untuk United Daily News dan jurnalis untuk Economic Daily News. Saat ini, ia menjabat sebagai dosen tamu di National Taipei University of the Arts. Selain itu, ia adalah penulis buku “Taiwanese Cinema: An Illustrated History”.

Tulapop Saenjaroen adalah seorang seniman dan pembuat film yang tinggal di Thailand. Tulapop memperoleh gelar MA dalam program Aesthetics and Politics di CalArts. Dia juga bekerja sebagai produser untuk Apichatpong Weerasethakul dan menyutradarai By the Time It Gets Dark. Ia telah berpartisipasi dalam berbagai pameran dan festival film.

Wregas Bhanuteja is an Indonesian film director and screenwriter. His short film Lembusura (2014), inspired by the eruption of Mount Kelud, was selected for the 65th Berlin International Film Festival in 2015, where he became the youngest competing director at just 22. In 2016, he made history as the first Indonesian filmmaker to win at the Cannes Film Festival with his short film Prenjak. Since then, Wregas has directed numerous works, with his latest feature set for release in 2025.

Yosep Anggi Noen adalah sutradara, penulis, editor, dan dosen asal Yogyakarta, Indonesia. Anggi kerap menggunakan fiksi sebagai metode untuk bertutur sekaligus menyingkap narasi sejarah yang sulit dituturkan akibat tekanan berbagai konteks. Berbagai filmnya kerap tayang di helatan internasional. Filmnya Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (2012) pernah terpilih di Locarno Film Festival dan meraih “Special Mention Award” di Vancouver IFF 2013. Dengan film Hiruk Pikuk Alkisah (2019), ia memenangkan Piala Maya untuk Sutradara Terpilih serta nominasi Sutradara Terbaik FFI.

Zbynek Baladran (Praha) adalah seorang penulis, seniman, kurator dan arsitek pameran. Ia menempuh studi sejarah seni di Departemen Filsafat, Universitas Charles, dan di studio Komunikasi Visual, Lukisan dan Media Baru di Akademi Seni rupa, keduanya berada di Praha. Pada tahun 2001 ia mendirikan Display (tranzit-display 2007-17), sebuah ruang untuk seni kontemporer.

Zimu Zhang adalah seorang peneliti, kurator, dan praktisi gambar bergerak. Ia menyelesaikan penelitian PhD-nya tentang ekologi dan budaya visual pada tahun 2022 di School of Creative Media, City University of Hong Kong. Ia adalah alumni DocNomads Erasmus Mundus Joint Master dalam pembuatan film dokumenter (2012-2014). SIC (SoundImageCulture, 2016), dan talenta Berlinale (2016). Ia adalah penerima beasiswa Landhaus 2022 di Rachel Carson Center for Environment and Society, LMU dan beasiswa VisitANTS 2023 untuk Studi Kritis Keanekaragaman Hayati dan Penelitian Antroposen di Universitas Oulu, Finlandia.


© 2026 Forum Lenteng. All rights reserved.
ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Website: arkipel.id · Layout: tooftolenk
Powered by WordPress.com