ARKIPEL
Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival





12th ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival (2025)
MILISIFILEM COLLECTIVE EXHIBITION

31 August – 14 September 2025
Contemporary Art Gallery, TMII, Jakarta
Curators
Participants
Afrian Purnama, Ali Satri Efendi, Ananda Firman Syarif, Ananta Wijayarana, Andres Denegri, Anggraeni Widhiasih, Azhar Arrival, Beny Kristia, Bo Wang, Chen Singing, Dahlan Khatami, Dyah Nindyasari, Fachri Ghazali, Hanna Haris Rifai, Helmi Yusron, Kayla Miska, Lee Yung-chuan, Manshur Zikri, Maria Silalahi, Mathew Gunawan, Misbahul Khoir, Muhammad Hafidz, Pingkan Polla, Prashasti Wilujeng Putri, Rafael Marius, Rahmania Nerva, Rahmat Gunawan, Raras Umaratih, Riyan Kelana, Robby Ocktavian, Scott Miller Berry, Shelvira Alyya, Sorayos Prapapan, Syarifa Amira Satrioputri, Taufiqurrahman Kifu, Theo Nugraha, Tulapop Saenjaroen, Van Luber Parensen, Volta Jonneva, Wildan Iltizam, Yosep Anggi Noen, Zahra Zulya, Zbynek Baladrán, Zhang Zimu
Pengantar Kuratorial
Curatorial Introduction
Tujuh dekade setelah Konferensi Asia-Afrika mengetengahkan solidaritas di tengah Perang Dingin, dunia kembali mendapati dirinya berada pada situasi “Tahun Hidup Dalam Bahaya” yang baru. Seruan pidato Sukarno dari tahun 1964, Tahun Vivere Pericoloso, terasa semakin relevan di tengah perang yang berkecamuk dari Palestina hingga Ukraina, krisis iklim yang tak terbantahkan, serta kemunduran hak asasi manusia yang kembali mengemuka di lingkup nasional. Bahaya-bahaya ini tidak lagi terpusat pada satu blok ideologis; mereka terdesentralisasi, meresap ke dalam kehidupan sehari-hari melalui layar gawai, kebijakan pembangunan, dan udara yang dihirup. Pameran ini lahir dari sebuah urgensi untuk membongkar, mempertanyakan, dan me-reaktivasi Semangat Bandung menjadi sebuah metode aktif untuk bertahan dan melawan. Ini adalah momentum kritis untuk bertanya: jika solidaritas adalah jawabannya, seperti apa wujudnya di era di mana koneksi bersifat instan namun kepercayaan begitu rapuh
Para seniman dalam pameran ini bekerja dengan keyakinan bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar berlalu; ia mengendap dalam lanskap, terarsip dalam teknologi, dan bersemayam dalam struktur sosial. Proses mereka juga melampaui penampilan karya; dengan melakukan investigasi kritis terhadap zaman, berdialog dengan warisan perjuangan dan trauma masa lalu untuk membedah anatomi bahaya masa kini. Pameran ini adalah sebuah undangan untuk menavigasi medan yang genting ini bersama-sama..
Roh yang Tak Kasat Mata
Gagasan bahwa sejarah adalah entitas yang hidup dan terus menghantui masa kini menjadi titik pijak bagi para seniman dalam pameran ini. Landasan pemikiran ini secara kuat disuarakan oleh Sukarno dalam pidato pembukaan Konferensi Asia-Afrika 1955, di mana ia mengartikulasikan bahwa pertemuan bersejarah itu merupakan kulminasi dari perjuangan panjang para pendahulu:
Inilah konferensi internasional yang pertama dari bangsa-bangsa kulit berwarna sepanjang sejarah umat manusia! … Pada hemat saya kita berkumpul di sini pada hari ini karena akibat dari pengorbanan… Bagi saya, dalam gedung ini bukan hanya terdapat pemimpin-pemimpin dari segala bangsa Asia dan Afrika saja: di dalamnya terdapat pula roh yang tak kasat mata, yang baka, yang selalu jaya, dan mereka yang mendahului kita. Perjuangan dan pengorbanan mereka telah membangun jalan ke arah pertemuan ini.
Dalam pernyataan ini, Sukarno melampaui sekadar retorika puitis. Ia mengartikulasikan sebuah perspektif kosmologi Selatan yang secara fundamental berbeda dari rasionalisme Barat, di mana batas antara dunia fisik dan spiritual, antara yang hidup dan yang telah tiada, tidaklah kaku. Dengan menyebutkan kehadiran “roh”, ia melegitimasi pandangan dunia ini di panggung internasional, mengikat proyek politik dekolonisasi pada akar spiritual yang dipahami bersama oleh para delegasi. Dalam pandangan ini, sejarah melampaui statusnya sebagai arsip beku; ia menjadi kehadiran aktif yang terus menuntut untuk didengarkan.
Kehadiran spektral inilah yang menjadi material bagi para seniman. Mereka bertindak sebagai medium, bekerja untuk merasakan, menggali, dan menyalurkan kembali “roh yang tak kasat mata” tersebut. Arsip, bagi mereka, adalah medan interogasi untuk memanggil kembali suara-suara yang dibungkam.
Beberapa seniman mendekati arsip sebagai sebuah partitur yang dapat diaktifkan kembali. Manshur Zikri, misalnya, menerjemahkan Dasasila Bandung menjadi Sonic Instruction, serangkaian instruksi performatif yang mengintervensi bunyi keseharian. Karyanya tidak hanya merefleksikan 70 tahun KAA, tetapi juga menyerukan aksi konkret. Salah satu instruksinya secara eksplisit mengajak audiens berdonasi untuk Palestina, mengubah tindakan digital yang privat menjadi “jejak sonik kepedulian”. Di sini, solidaritas geopolitik diaktifkan menjadi gestur personal yang mendesak, menghubungkan semangat dekolonisasi masa lalu dengan perjuangan kemerdekaan hari ini. Dengan cara serupa, Rahmania Nerva dan Riyan Kelana dalam karya mereka, Re: Kepada Sahabat Asia Afrika, mengaktifkan arsip perlawanan yang berbeda: sebuah puisi Sugiarti Siswadi dari tahun 1961. Dengan memanfaatkan keintiman dan spontanitas oil pastel, para seniman membangun sebuah kontra-wacana dalam wujud visual, berdialog dengan suara seorang penulis perempuan berafiliasi Lekra yang telah lama dibungkam. Ini juga menjadi upaya merebut kembali dan menyuarakan kembali sejarah seni kiri Indonesia, sebuah perlawanan terhadap amnesia historis sebagai salah satu bentuk bahaya yang paling laten.
Sementara itu, seniman lain justru mendekonstruksi arsip itu sendiri, mempertanyakan stabilitas dan kebenarannya. Mereka menunjukkan bahwa sejarah tidak pernah tunggal. Kompleksitasnya yang sering kali menyakitkan dan bertentangan dieksplorasi oleh Rahmat Gunawan dalam One and Three Bridges. Dengan melapiskan arsip pidato tiga tokoh sentral Aceh yang secara ideologis saling berlawanan — Tengku Chik di Tiro, Soekarno, dan Hasan di Tiro — ia menciptakan sebuah pengalaman sonik dan visual yang menolak rekonsiliasi mudah. Karyanya menghadirkan sejarah sebagai sebuah impossible trinity, sebuah trilema yang memaksa audiens untuk bertahan dalam ketidaknyamanan kontradiksi dan menolak narasi linear. Kerapuhan arsip dan ingatan di era digital menjadi fokus Anggraeni Widhiasih dalam from the library of the forgotten. Dengan memasukkan fragmen sejarah KAA yang tercecer ke dalam Akal Imitasi
(AI), ia menunjukkan betapa mudahnya warisan yang terlupakan dapat dihapus, sekaligus betapa mudahnya “narasi baru” dapat diciptakan oleh teknologi. Karyanya menjadi sebuah peringatan tajam tentang kerentanan arsip di zaman pasca-kebenaran, ketika “roh” sejarah dapat dipalsukan atau bahkan diciptakan dari ketiadaan.
Ekologi, Memori, dan Representasi Krisis
Jejak sejarah dan kekerasan juga mengendap dalam tanah, air, dan udara. Para seniman dalam bagian ini memandang lingkungan sebagai saksi bisu, korban, sekaligus arena pertarungan di era Antroposen. Dalam karya Endless Cycle of Expansion, Syarifa Amira Satrioputri membedah Manggarai sebagai “medan politik terestrial”, ketika lapisan-lapisan modernisme, jejak konsumsi, dan materialitas ekologi saling berbenturan, mengubah ruang menjadi sebuah situs geologis dari aktivitas manusia. Demikian pula, proyek sketsa Sungai Mahakam (Series) karya Theo Nugraha. Ia merekam sungai sebagai sebuah ekosistem dinamis yang terus menerus mencatat peristiwa-peristiwa di tepiannya. Keduanya menunjukkan bagaimana lanskap adalah palimpsest; sebuah naskah yang terus ditulisi ulang oleh jejak kekuasasan dan kehidupan.
Bentang alam juga menyimpan memori sonik dari bencana dan kekerasan. Komposisi suara ambisonik Ditemui Pak Yotomi karya Van Luber Parensen membawa audiens ke padang rumput Balaroa, mengajak untuk mendengarkan dengan saksama kehidupan yang tumbuh kembali di atas luka likuifaksi Palu. Karya ini menjadi sebuah meditasi sonik tentang resiliensi dan trauma. Suara ini memberi napas pada citraan visual Plus Three Minus Eight dan Percakapan di Jalan Pulang karya Taufiqurahman Kifu, yang merekam jejak bencana dari ketinggian, menyandingkan trauma ekologis tanah dengan trauma kultural yang terpendam. Kontras antara imaji realis dan fantasi dalam melihat lanskap juga dieksplorasi oleh Yosep Anggi Noen dalam filmnya Genre Sub Genre, yang menyajikan fragmen-fragmen visual dari sebuah ranah geografis dalam ketegangan antara malam yang mencekam dan siang yang sureal. Di sisi lain spektrum, pengalaman sonik dari Ananta Wijayarana dalam Through the Pipes, Submerged menarik bahaya ekologis ke skala domestik. Karyanya memaksa audiens merasakan siklus limbah tak terlihat dari hulu ke hilir, hingga sensasi klaustrofobik terendam olehnya, mengubah polusi dari data abstrak menjadi pengalaman visceral.
Di hadapan lanskap yang terluka, beberapa seniman beralih ke strategi mitopoetik dan pertanyaan tentang representasi. Tanah Tersirat oleh Helmi Yusron dan Dyah Nindyasari adalah sebuah esai visual yang menolak menyerah pada narasi kiamat ekologis, dan justru membayangkan mitos baru yang lahir dari puing-puing kerusakan. Upaya merepresentasikan yang tak terlihat ini juga menjadi inti film Lembusura karya Wregas Bhanuteja, yang bermain-main dengan proses visualisasi sosok mitologis pasca-letusan gunung berapi. Pertanyaan tentang cara merepresentasikan katastrofi — bagaimana sebuah tragedi bisa disampaikan tanpa eksploitasi — ditelisik lebih jauh dalam pendekatan forensik film Catastrophe karya Zbynek Baladran. Sebagai kontras, hubungan yang lebih puitis dan intim dengan alam dihadirkan Scott Miller Berry melalui film 16mm-nya, Weeping Willow, yang berfokus pada satu pohon dan resonansi emosionalnya, menawarkan mode representasi yang personal dan afektif.
Mekanisme Kuasa dan Gejala Sosial
Bahaya kontemporer juga beroperasi melalui struktur dan mekanisme kontrol yang membentuk kehidupan sehari-hari. Berbagai aparatus, dari yang berbasis teknologi hingga yang bersifat sosio-politik, bekerja secara halus untuk menormalisasi kekuasaan. Rangkaian karya dalam bagian ini membedah mekanisme tersebut, menyingkap cara kerjanya yang sering kali tak kasat mata. Pertama, aparatus teknologi pengawasan dan mediasi. Melalui karyanya Cikini, Menteng, Kwitang, Gambir, Monas dan Gondangdia, Afrian Purnama mempertanyakan status ontologis dari CCTV sebagai “imaji teknis”— sebuah aparatus yang beroperasi secara otonom, meniadakan intensi subjek di balik kamera, dan secara simultan mengubah siapa pun di depannya menjadi objek data dalam sebuah medan pengawasan tanpa henti. Wacana ini diperluas ke konteks global oleh Bo Wang dalam The Revolution Will Not Be Air-conditioned, yang melacak evolusi mal dari akar kolonialnya menjadi mesin konsumerisme yang terkondisikan. Kritik terhadap cara mediasi digital mengonstruksi realitas melalui bentuk-bentuk visual yang artifisial dan banal juga dieksplorasi dalam film A Room with a Coconut View karya Tulapop Saenjaroen.
Dari aparatus teknologi, bahaya juga menjelma dalam bentuk tekanan kekuasaan yang lebih fisik dan material. Dalam Megapascal, Azhar Arrival menerjemahkan kekerasan pembangunan infrastruktur ke dalam pengalaman audiovisual yang distortif; tumpang-tindih gambar dan suara dari ruang konstruksi merepresentasikan bagaimana tanah, tubuh, dan kedaulatan ditundukkan oleh tekanan “kemajuan”. Mekanisme kontrol sosial yang mengakar didemonstrasikan Ali Satri Effendi dalam Lelaki dan Burungnya, sebuah jukstaposisi antara eksperimen Skinner, dokumentasi lomba burung, baris-berbaris militer, dan kerusuhan ‘98. Karya Dahlan Khatami, [Tanpa Judul], kemudian memperingatkan tentang kebangkitan cara berpikir otoriter sebagai respons reaksioner terhadap ketidakpastian global. Melalui serangkaian drawing abstrak geometris yang diciptakan dengan pensil, komposisinya yang pekat dengan warna hitam, gradasi, dan putih memvisualisasikan ketegangan dan tekanan zaman. Efek dari berbagai tekanan ini termanifestasi dalam fragmentasi sosial yang subtil, yang didiagnosis melalui karya-karya yang merekam gejalanya. Salah satunya adalah jurang sosial tak terlihat yang coba dilintasi dalam performans fotografi Menangkap Lompat karya Maria Christina Silalahi. Melalui serangkaian delapan foto, teknologi fotografi digunakan untuk membekukan gestur tubuh yang rapuh sekaligus menantang. Kekaburan visual atau blur yang muncul pada beberapa citra akibat kecepatan gerak menjadi jejak interaksi antara tubuh dan aparatus teknologi. Blur ini dapat dibaca sebagai metafora atas sulitnya mendefinisikan dan memetakan jurang sosial itu sendiri; sebuah abstraksi yang — seperti tubuh yang melompat — lolos dari upaya perekaman yang tuntas.
Selanjutnya, wacana publik yang telah menjadi instrumen kekuasaan dibedah dalam kolase Mikrofonmenschen karya Raras Umaratih. Judulnya, yang berarti “Manusia Mikrofon”, merujuk pada para pejabat yang direduksi menjadi corong anonim negara. Raras menjukstaposisikan citra petinggi negara dengan wajah terpotong dengan imaji-imaji militer, sebuah gestur visual yang secara tajam menghubungkan retorika resmi dengan aparatus kekerasan, menelanjangi bahasa publik sebagai performa kekuasaan yang hampa makna. Puncaknya, rapuhnya fondasi komunikasi dalam eksperimen verbal, Kabar, karya Robby Ocktavian.
Setelah memetakan anatomi bahaya yang beragam — dari yang bersifat spektral dan ekologis hingga yang terstruktur dalam teknologi dan politik — maka pertanyaan mendesak berikutnya adalah tentang metode perlawanan. Jika bahaya bekerja dengan cara yang terdesentralisasi dan seringkali tak kasat mata, bagaimana sebuah respons dapat dirumuskan?
Praktik Kolektif sebagai Metode
Jawaban yang diajukan dalam pameran ini bersifat metodologis. Ia terletak pada praktik kolektif sebagai sebuah cara kerja dan bentuk perlawanan. Pertama-tama, praktik ini memperluas arena solidaritas ke tingkat transnasional, mereaktivasi semangat internasionalisme KAA. Dalam dunia yang menyaksikan kekerasan dari Gaza hingga Kyiv, karya-karya dalam pameran ini menciptakan dialog tentang pengalaman trauma sejarah yang melintasi batas-batas budaya.
Film Uyuni karya Andrés Denegri tentang teror di Bolivia bersanding dengan lukisan Riak yang Tak Terlupakan karya Riyan Kelana yang merespons pergolakan di Indonesia. Tema sengketa wilayah dan pengasingan yang disuarakan dalam film Who Is Fishing? karya Chen Singing dan Turtle Island: Nostalgic Voices karya Lee Yung-chuan dari Taiwan menggemakan pengalaman serupa di berbagai belahan dunia. Dialog ini diperdalam oleh esai-film Letter to T; in nuclearity we are connected karya Zhang Zimu, yang membongkar bagaimana representasi visual bom atom di Tiongkok dinegosiasikan secara historis: sebagai simbol kekuatan komunal melawan imperialisme, sekaligus sebagai titik masuk untuk merefleksikan keterhubungan ekologis yang rapuh di zaman nuklir.
Lantas, solidaritas ini diwujudkan dalam cara kerja. Pameran ini mengajukan praktik kolektif yang berfungsi dalam dua aras yang saling menguatkan: ia menciptakan “ruang aman” secara internal — sebuah lingkungan suportif berbasis kepercayaan yang memungkinkan anggotanya untuk bereksperimen — yang kemudian memungkinkannya berfungsi sebagai ruang bertahan secara eksternal untuk menghadapi krisis sistemik. Ini yang menjadi “roh” dari Milisifilem Collective, yang tecermin dalam proyek angkatan Kenanga berjudul Mengurai Perkamen. Di sini, penafsiran ulang novel Gabriel García Márquez menjadi arena untuk membangun bahasa visual bersama. Semangat gotong-royong dan eksperimentasi liar juga didorong oleh jaringan sporadis seperti Council of Ten. Upaya merakit ulang arsip sebagai tindakan politis melawan penghapusan sejarah menjadi inti dari proyek Searching for the Archives of Sanggar Suka Banjir karya Prahasti Wilujeng Putri. Praktik solidaritas ini juga tecermin dalam Mannerisme Petani karya Ali Satri Effendi dan instalasi kain Pasar dan Aktivitasnya karya Volta Joneva, yang menunjukkan bagaimana kebersamaan dinegosiasikan dalam praktik keseharian, sebuah kesadaran prosedural yang juga dibongkar dalam film Death of the Soundman karya Sorayos Prapapan.
Epilog: Menavigasikan Medan yang Genting
Tanpa menawarkan peta jalan keluar dari krisis, pameran Years of Living Dangerously justru berfungsi sebagai sebuah ruang jeda kritis di tengah kepungan bahaya-bahaya yang seringkali membuat sesak. Karya-karya yang dihadirkan adalah instrumen-instrumen untuk mempertajam kepekaan, melatih kembali cara melihat, mendengar, dan merasakan realitas yang semakin kompleks. Mereka mengajak audiens untuk tidak berpaling dari ketidaknyamanan, melainkan untuk duduk bersamanya, menginterogasinya, dan mungkin menemukan celah-celah kecil di mana daya tahan bisa ditumbuhkan.
Lokasi pameran di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sendiri menambahkan lapisan pembacaan yang kompleks. Sebagai sebuah proyek Orde Baru yang merepresentasikan “Indonesia dalam miniatur”, TMII adalah sebuah arsip raksasa yang sarat dengan narasi kekuasaan dan konstruksi identitas. Menghadirkan karya-karya yang secara kritis membongkar sejarah, kekuasaan, dan narasi pembangunan di dalam konteks TMII menciptakan gesekan yang produktif. Barangkali, pameran ini menjadi intervensi temporer di dalam sebuah monumen, sebuah catatan kaki kritis terhadap narasi besar yang diusung oleh lingkungannya serta mempertanyakan apa yang disimpan dan apa yang sengaja dilupakan oleh
arsip nasional tersebut.
Pada akhirnya, pameran ini adalah sebuah ajakan untuk secara kritis membaca tanda-tanda zaman, untuk mendengarkan “roh yang tak kasat mata” dari masa lalu, dan untuk menemukan kembali kekuatan dalam kerja bersama. Dengan merakit ulang solidaritas melalui jejaring kepedulian, pemikiran kritis, dan praktik artistik yang gigih, mungkin inilah cara untuk mereaktivasi “Semangat Bandung” hari ini. Ini adalah sebuah penegasan bahwa di tengah tahun-tahun yang paling berbahaya sekalipun, seni dan kebudayaan tetap menjadi ruang untuk berlatih dan membayangkan kemungkinan dunia yang lain.
Seven decades after the Asian-African Conference foregrounded solidarity amid the Cold War, the world once again finds itself in the new “Year of Living Dangerously.” Sukarno’s 1964 speech calling for Year of Vivere Pericoloso feels ever more relevant in the midst of wars raging from Palestine to Ukraine, the undeniable climate crisis, and the resurgence of human rights setbacks on the national stage. These dangers are no longer concentrated in a single ideological block; they are decentralized, permeating everyday life through screens, development policies, and the very air we breathe. This exhibition emerges from an urgency to unearth, question, and reactivate the Bandung Spirit as an active method of survival and resistance. It marks a critical moment to ask: if solidarity is the answer, what form can it take in an era when connections are instant but trust so fragile?
The artists in this exhibition work with the conviction that the past never truly passes; it lingers in landscapes, is archived in technologies, and resides in social structures. Their processes extend beyond the presentation of the artworks; they engage in critical investigations of the times, in dialogue with the legacies of past struggles and traumas, all to dissect the anatomy of present dangers. For that, this exhibition serves as an invitation to navigate this precarious terrain together.
The Invisible Spirit
The idea that history is a living entity that continues to haunt the present becomes the departure point for the artists participating in this exhibition. This line of thought was powerfully articulated by Sukarno in his opening speech at the 1955 Asian-African Conference, where he declared that the historic gathering was the culmination of long struggles by the forebears:
This is the first international conference of the colored nations in the history of humankind! … In my view, we gather here today as the result of sacrifices… To me, within this building are not only the leaders of Asian and African nations: there are also the invisible, eternal, ever victorious spirits of those who preceded us. Their struggle and sacrifices paved the way to this gathering.
Here Sukarno went beyond poetic rhetoric. He articulated a cosmological perspective of the Global South that is fundamentally different from Western rationalism, where the boundaries between the physical and the spiritual, between the living and the dead, are not rigid. By naming the presence of “spirits,” he legitimized this worldview on the international stage, binding the political project of decolonization to spiritual roots shared by the delegates. In this view, history is not a frozen archive but an active presence demanding to be heard.
This spectral presence becomes the material for the artists. They act as mediums, working to sense, unearth, and channel back the “invisible spirit.” For them, the archive is a field of interrogation to summon silenced voices. Some approach the archive as a score that can be reactivated. Manshur Zikri, for example, translates the Bandung Ten Principles into Sonic Instruction, a series of performative instructions intervening in everyday sounds. His work not only reflects on 70 years of the Asian-African Conference but also calls for concrete action. One instruction explicitly invites audiences to donate to Palestine, transforming private digital gestures into “sonic traces of care.” Here, geopolitical solidarity becomes an urgent personal gesture, linking the spirit of past decolonization to present struggles for independence. In a similar way, Rahmania Nerva and Riyan Kelana, in their work Re: Kepada Sahabat Asia Afrika (To Friends of Asia Africa), activate a different archive of resistance: a 1961 poem by Sugiarti Siswadi. By employing the intimacy and spontaneity of oil pastel, the artists construct a counter-discourse in visual form, dialoguing with the voice of a woman writer affiliated with Lekra (The Indonesian People’s Cultural Institute) who had long been silenced. This also becomes an effort to reclaim and rearticulate the history of Indonesian leftist art, a resistance against historical amnesia as one of the most latent forms of danger.
Meanwhile, other artists deconstruct the archive itself by questioning its stability and veracity. They reveal that history is never singular. Its painful and conflicting complexities are explored by Rahmat Gunawan in One and Three Bridges. By layering archival speeches of three central Acehnese figures—Tengku Chik di Tiro, Sukarno, and Hasan di Tiro—who were ideologically opposed, he creates a sonic and visual experience that rejects easy reconciliation. His work presents history as an impossible trinity, a trilemma that compels the audience to remain within the discomfort of contradictions and to resist linear narratives.
The fragility of archives and memory in the digital era becomes the focus of Anggraeni Widhiasih in her work from the library of the forgotten. By inserting scattered fragments of Asian-African Conference history into Artificial Intelligence, she demonstrates how easily forgotten legacies can be erased, and at the same time how easily “new narratives” can be fabricated by technology. Her work becomes a sharp warning about the vulnerability of archives in the post-truth era, when the “spirit” of history can be falsified or even conjured out of nothing.
Ecology, Memory, and the Representation of Crisis
Traces of history and violence also settle into the soil, water, and air. The artists in this section perceive the environment as silent witness, victim, and battlefield in the Anthropocene era. In Endless Cycle of Expansion, Syarifa Amira Satrioputri dissects Manggarai as a “terrestrial political field,” where layers of modernism, traces of consumption, and ecological materiality collide, transforming space into a geological site of human activity. Similarly, Theo Nugraha’s sketch project Sungai Mahakam (Series) records the river as a dynamic ecosystem continuously inscribing events along its riverbanks. Both works show how the landscape is a palimpsest; a manuscript ceaselessly rewritten by the imprints of power and life.
The landscape also holds sonic memories of disaster and violence. Van Luber Parensen’s ambisonic composition Encountered Mr. Yotomi transports audiences to the grasslands of Balaroa, inviting them to listen closely to life growing back over the wounds of Palu’s liquefaction. This work becomes a sonic meditation on resilience and trauma. Its sounds give breath to the visual imagery of Plus Three Minus Eight and the Conversation on the Way Home by Taufiqurahman Kifu, which record traces of disaster from above, juxtaposing ecological trauma of the land with repressed cultural trauma. The tension between realist imagery and fantasy in perceiving landscapes is also explored by Yosep Anggi Noen in his film Genre Sub Genre, presenting visual fragments of a geographic realm caught between the terror of night and the surrealism of day. At the other end of the spectrum, Ananta Wijayarana’s sonic experience Through the Pipes, Submerged draws ecological danger into the domestic scale. His work forces audiences to feel the invisible cycle of waste from upstream to downstream, until the claustrophobic sensation of submersion sets in, transforming pollution from abstract data into a visceral experience.
Faced with wounded landscapes, some artists turn to mythopoetic strategies and questions of representation. The Graveyard by Helmi Yusron and Dyah Nindyasari is a visual essay that refuses to surrender to ecological apocalypse narratives, instead imagining new myths born from the debris of destruction. The effort to represent the unseen is also at the core of Wregas Bhanuteja’s film Lembusura, which plays with the visualization of a mythological figure after a volcanic eruption. The question of how to represent catastrophe — how a tragedy can be conveyed without exploitation — is pursued further in Zbynek Baladran’s forensic film Catastrophe. In contrast, a more poetic and intimate relationship with nature is presented by Scott Miller Berry through his 16mm film Weeping Willow, which focuses on a single tree and its emotional resonance, offering a personal and affective mode of representation.
Mechanisms of Power and Social Symptoms
Contemporary dangers also operate through structures and mechanisms of control that shape everyday life. Various apparatuses, from technological to socio-political, work subtly to normalize power. The works in this section dissect those mechanisms, exposing their often-invisible workings. First, the technological apparatus of surveillance and mediation. In Cikini, Menteng, Kwitang, Gambir, Monas and Gondangdia, Afrian Purnama questions the ontological status of CCTV as a “technical image”—an apparatus that operates autonomously, erasing the subject’s intention behind the camera while simultaneously turning anyone before it into data objects within an unending surveillance field. This discourse is expanded into the global context by Bo Wang in The Revolution Will Not Be Air-conditioned, tracing the evolution of malls from their colonial roots into conditioned machines of consumerism. Critiques of how digital mediation constructs reality through artificial and banal visual forms are also explored in Tulapop Saenjaroen’s film A Room with a Coconut View.
Beyond technological apparatuses, danger also manifests in the more physical and material pressures of power. In Megapascal, Azhar Arrival translates the violence of infrastructure development into a distorted audiovisual experience; overlapping images and sounds from construction sites to represent how land, bodies, and sovereignty are subdued under the pressure of “progress.” Deeprooted mechanisms of social control are demonstrated by Ali Satri Effendi in The Men and The Birds through a juxtaposition of Skinner’s experiments, bird competition documentation, military drills, and the 1998 riots. Dahlan Khatami’s work Untitled 2025 then warns of the resurgence of authoritarian ways of thinking as a reactionary response to global uncertainty. Through a series of abstract geometric pencil drawings, his dense black, gradient, and white compositions visualize the tensions and pressures of the era.
The effects of these various pressures manifest in subtle social fragmentations, diagnosed through works that capture their symptoms. One of such symptoms is the invisible social gulf attempted to be crossed in Maria Christina Silalahi’s photographic performance Cop The Hop. Through a series of eight photos, photography is used to freeze gestures of a fragile yet defiant body. The visual blurs caused by movement speed become traces of interaction between body and technological apparatus. This blur can be read as a metaphor for the difficulty of defining and mapping the social gulf itself—an abstraction that, like a hopping body, escapes a complete capture. Next, public discourse as an instrument of power is dissected in Raras Umaratih’s collage Mikrofonmenschen. The title, meaning “Microphone People,” refers to the government officials reduced to anonymous mouthpieces of the state. Raras juxtaposes images of state leaders with cropped faces and military visuals, a sharp gesture that links official rhetoric with the apparatus of violence, laying bare public language as a hollow performance of power. This culminates in the fragile foundations of communication in Robby Ocktavian’s verbal experiment How Good, You Are.
After mapping the anatomy of dangers—spectral, ecological, technological, and political—the urgent next question is about methods of resistance. If danger operates in decentralized and often invisible ways, how can a response be formulated?
Collective Practice as Method
The answer proposed in this exhibition is methodological. It lies in collective practice as both a working mode and a form of resistance. First, this practice expands the arena of solidarity to a transnational level, reactivating the spirit of Asian-African Conference internationalism. In a world witnessing violence from Gaza to Kyiv, the works in this exhibition create dialogues on experiences of historical trauma that cross cultural boundaries.
Andrés Denegri’s film Uyuni, about terror in Bolivia, sits alongside Riyan Kelana’s painting Riak yang Tak Terlupakan (Unforgettable Ripples), which responds to upheavals in Indonesia. The themes of territorial disputes and exile voiced in Chen Singing’s Who Is Fishing? and Lee Yung-chuan’s Turtle Island: Nostalgic Voices from Taiwan echo similar experiences in different parts of the world. This dialogue is deepened by Zhang Zimu’s essay-film Letter to T; in nuclearity we are connected, which unpacks how visual representations of the atomic bomb in China have been historically negotiated: as symbols of communal power against imperialism, while also serving as entry points to reflect on fragile ecological interconnectedness in the nuclearity.
Then, the way of working incarnates solidarity. The exhibition proposes collective practice that operates on two mutually reinforcing levels: it creates an internal “safe space” — a supportive environment based on trust that allows members to experiment — while also functioning as an external survival space to face systemic crises. This is the “spirit” of the Milisifilem Collective, reflected in the Kenanga’s project Decipher the Parchments. Here, the reinterpretation of Gabriel García Márquez’s novel becomes an arena for building a shared visual language. The spirit of mutual cooperation and wild experimentation is also fostered by sporadic networks like the Council of Ten. The attempt to reconstruct archives as a political act against historical erasure is central to Prahasti Wilujeng Putri’s Searching for the Archives of Sanggar Suka Banjir. This practice of solidarity is also reflected in Ali Satri Effendi’s The Mannerism of Farmers and Volta Joneva’s textile installation The Market and Its Activities, which show how togetherness is negotiated in everyday practice; a procedural awareness also unpacked in Sorayos Prapapan’s film Death of the Soundman.
Epilogue: Navigating Precarious Terrain
Rather than offering a roadmap out of crisis, the exhibition Years of Living Dangerously functions as a critical pause amid the suffocating accumulation of dangers. The works presented are instruments to sharpen sensitivity, retrain ways of seeing, listening, and sensing an increasingly complex reality. They invite audiences not to turn away from discomfort, but to sit with it, interrogate it, and perhaps find small apertures where resilience can grow.
The exhibition’s location at Taman Mini Indonesia Indah (TMII) adds another complex layer of reading. As a New Order project representing “Indonesia in miniature,” TMII is a vast archive laden with narratives of power and identity construction. Presenting works that critically dismantle history, power, and development narratives within the context of TMII creates a productive friction. Perhaps this exhibition becomes a temporary intervention within a monument, a critical footnote to the grand narrative championed by its surroundings, and a question about what is preserved and what is deliberately forgotten by the national archive.
Ultimately, this exhibition is an invitation to critically read the signs of the times, to listen to the “invisible spirits” of the past, and to rediscover strength in working together. By reassembling solidarity through networks of care, critical thought, and persistent artistic practice, this might be a way to reactivate the “Bandung Spirit” today. It affirms that even in the most dangerous years, art and culture continue to become the spaces to rehearse and imagine the possibility of another world.

Letter to T; in nuclearity we are connected
Zhang Zimu | Tunisia, France | 2023 | 21 minutes

Catastrophe
Zbynek Baladran | Czech Republic | 2019 | 6 minutes

Genre Sub Genre
Yosep Anggi Noen | Indonesia | 2014 | 12 minutes, BW

Lembusura
Wregas | Bhanuteja | Indonesia | 2014 | 10 minutes, Color

A Room with a Coconut View
Tulapop Saenjaroen | Thailand | 2018 | 29 minutes, Color

Turtle Island: Nostalgic Voices
Lee Yung-chuan | Taiwan | 2000 | 21 minutes, Color

Who Is Fishing?
Chen Singing | Taiwan | 2000 | 16 minutes, Color

Death of the Soundman
Sorayos Prapapan | Thailand | 2017 | 16 minutes, Color

The Revolution Will Not Be Air-conditioned
Bo Wang | USA | 2022 | 27 minutes, Color & BW

Uyuni
Andrés Denegri | Argentina | 2005 | 8 min, Color

endless cycle of expansion
Syarifa Amira Satrioputri | Indonesia | 2025 | Instalasi 2 panel

Plus Three Minus Eight dan Percakapan di Jalan Pulang
Taufiqurrahman Kifu | Indonesia | 2025 | Video Instalasi 2 Kanal | 8 Minutes & 12.12 Minutes

Sungai Mahakam (Series)
Theo Nugraha | Indonesia | 2023-now | Sketches (Charcoal)

Ditemui Pak Yotomi
Van Luber Parensen | Indonesia | 2025 | Sound Composition

Pasar dan Aktivitasnya
Volta Jonneva | Indonesia | 2025 | Instalasi Kain

Huhujanan
Wildan Iltizam Bilhaq | Indonesia | 2025 | Video, 17 minutes 7 seconds

Kabar
Robby Ocktavian | Indonesia | 2021 | Video, 15 minutes

Riak yang tak terlupakan
Riyan Kelana | Indonesia | 2025 | Painting

Mikrofonmenschen
Raras Umaratih | Germany | 2025 | Collage zine

One and Three Bridges
Rahmat Gunawan | Indonesia | 2025 | mix media

Re: Kepada Sahabat Asia Afrika
Rahmania Nerva & Riyan Kelana | Indonesia | 2025 | Drawing | Oil pastel on 21,0cm x 29,7cm paper

Mencari Arsip Sanggar Suka Banjir
Prashasti Wilujeng Putri | Indonesia | 2025 | Video installation & zine

Tanpa Judul 2025
Dahlan Khatami | Indonesia | 2025 | Drawing

Tanah Tersirat
Dyah Nindyasari & Helmi Yusron | Indonesia | 2025 | Video, 6 menit 6 detik

Menangkap Lompat
Maria Christina Silalahi | Indonesia | 2025 | Performance-based photography, 8 inkjet prints on photo paper; 60×80

Sonic Instruction
Manshur Zikri | Indonesia | 2025 | Event score 70 prints on paper; 30 x 30cm each.

Mengurai Perkamen
Milisifilem Kenanga | Indonesia | 2025 | Artbook, Video Artbook

Nº 5
Pingkan Polla | Marocco | 2024 | Short film | 3 minutes 6 seconds

MPa
Azhar Arrival | Indonesia | 2025 | Short Film & Sound Performance | 10 minutes 22 seconds

from the library of the forgotten
Anggraeni Widhiasih | Indonesia | 2025 | AI-generated Video Projection on looping | 6 minutes 34 seconds

Through the Pipes, Submerged
Ananta Wijayarana | Indonesia | 2025 | Sound Composition | 11 minutes 9 seconds

Mannerisme Petani
Ali Satri Efendi | Indonesia | 2025 | Sketches, Black & White

Lelaki dan Burungnya
Ali Satri Efendi | Indonesia | 2025 | Film, Black and White, 14 minutes

Cikini, Menteng, Kwitang, Gambir, Monas dan Gondangdia
Afrian Purnama | Indonesia | 2025 | Video, single channel | 14 minutes
Biografi Partisipan
Participants’ Biography
Afrian Purnama adalah seorang penulis lepas, periset seni, pembuat, kritikus dan kurator film. Beberapa tulisan kritik filmnya dapat ditemukan di jurnalfootage.net dan aspekrasio.com.
Afrian Purnama is a freelance writer, art researcher, filmmaker, critic, and curator. Some of his film criticism can be found at jurnalfootage.net and aspekrasio.com.
Ali Satri Efendi lahir di Karawang dan saat ini tinggal di Bekasi. Ia mempelajari eksperimen seni rupa di Milisifilem Collective. Ia bekerja sebagai dosen di sebuah kampus politeknik. Sebagai seorang sineas, film-filmnya telah diputar di berbagai festival film, seperti ARKIPEL: Jakarta International Experimental & Documentary Film Festival, Images Forum (Jepang), Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta, Minikino: Bali International Short Film Festival, serta Monitor 15, sebuah program tur yang diselenggarakan oleh SAVAC (South Asian Visual Art Center), dan dipamerkan di Galeri BGSU di Ohio, serta di Museum Nasional Singapura.
Ali Satri Efendi was born in Karawang, and currently lives in Bekasi. He studies visual art experimentations at Milisifilem Collective. He works as a lecturer in a polytechnic campus. As a filmmaker, his films were screened at various film festivals, such as ARKIPEL: Jakarta International Experimental & Documentary Film Festival, Images Forum (Japan), Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta, Minikino: Bali International Short Film Festival, as well as Monitor 15, a tour program conducted by SAVAC (South Asian Visual Art Center), and exhibited in BGSU Galleries in Ohio, as well as in Singapore National Museum.
Ananta Wijayarana (1997) adalah seorang seniman dan penulis. Pada tahun 2025, ia bergabung dengan SIGISORA, sebuah inisiatif studi bunyi dari Jakarta. Dari situ, ia menciptakan beberapa komposisi bunyi, dan mengadakan acara Sesi Mendengar.
Ananta Wijayarana (1997) is an artist and writer. In 2025, He joined SIGISORA, a listening initiative from Jakarta. From there, he created several sound compositions, and held a listening Session.
Anggraeni Widhiasih adalah seorang peneliti dan seniman yang berbasis di Jakarta. Praktiknya menjelajahi persimpangan antara memori, media, dan ruang. Berlatar belakang studi Hubungan Internasional dan audiovisual melalui Milisifilem Collective, ia kerap mengartikulasikan gagasannya melalui tulisan, proyek kuratorial, dan karya audiovisual. Sejak 2020, ia menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Visual Jalanan, dan sesekali menjadi kurator untuk ARKIPEL – Festival Film Dokumenter dan Eksperimental Internasional Jakarta, serta NextScene Kids and Youth Film Festival. Saat ini, ia adalah kandidat Magister Media, Budaya, dan Masyarakat di Universitas Glasgow. Karyanya dalam pameran ini menyoroti ketegangan antara media, penghapusan memori, dan solidaritas.
Anggraeni Widhiasih is a Jakarta-based researcher and artist whose practice navigates the intersections of memory, media, and space. With a background in International Relations and audiovisual work through the Milisifilem Collective, she often articulates her ideas through writing, curatorial projects, and audiovisual works. Since 2020, she has been Editor-in-Chief of Visual Jalanan, and occasionally curates for ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival, as well as NextScene Kids and Youth Film Festival. Currently a Master’s candidate in Media, Culture and Society at the University of Glasgow, her current work in this exhibition probes the tensions between media, memory erasure, and solidarity.
Azhar Arrival Wibisono adalah seniman audio-visual dan performance yang memadukan disiplin ilmu teknik dan seni. Sebagai Master bangunan anti gempa, ia mengeksplorasi relasi insinyur, manusia, dan tanah melalui karya intermedia, esai, dan performans bertema ritual, tubuh, serta teknologi. Ia terlibat dalam proyek The Duke of Pasir Luhur, Catra, Kembang Lais, dan Urban Dzikir, serta aktif di Milisifilem dan Teater Getek, menjadikan seni sebagai ruang dialog antara struktur, geoteknik, dan spiritualitas.
Azhar Arrival Wibisono is an audio-visual and performance artist who combines engineering and art in his practice. As a master of earthquake-resistant building design, he explores the relationship between engineering, humans, and the land through intermedia works, essays, and performances that often engage themes of ritual, the body, and technology. He has been involved in projects such as The Duke of Pasir Luhur, Catra, Kembang Lais, and Urban Dzikir, and is active with Milisifilem and Teater Getek, positioning art as a space for dialogue between structure, geotechnics, and spirituality.
Dahlan Khatami suka menulis puisi, artikel, dan membagikannya melalui blog pribadi. Dahlan menyukai hal-hal baru untuk memperbaharui diri dalam pengetahuan, kemampuan dan pengalaman. Dahlan merupakan salah satu pendiri Forum Peduli Literasi Masyarakat dan seorang guru tingkat dasar.
Dahlan Khatami enjoys writing poetry and articles and sharing them through his personal blog. Dahlan enjoys exploring new things to renew himself in knowledge, skills, and experience. Dahlan is one of the founders of the Community Literacy Care Forum and a teacher at an elementary school.
Dyah Nindyasari (Jakarta, 2002) adalah mahasiswa Studi Asia Selatan dan Tenggara di Universitas Leiden. Menjadi anggota MILISIFILEM Collective sejak 2024, ia aktif menulis, mengkurasi, dan memproduksi berbagai proyek seni dan film. Karya-karyanya telah dipamerkan di JOFFIS 2024 dan pameran Metasandi (2024).
Dyah Nindyasari (Jakarta, 2002) is a student of the study of South and Southeast Asia at Leiden University. A member of the MILISIFILEM Collective since 2024, she actively writes, curates, and produces various art and film projects. Her works have been exhibited at JOFFIS 2024 and the Metasandi exhibition (2024).
Helmi Yusron (lahir 2001, Indonesia) tergabung dalam Milisifilem Collective Forum Lenteng sejak 2023. Film yang dihasilkan dari program ini adalah I Watch You Watch Them, yang ditayangkan perdana di Festival Film Arkipel Documentary & Eksperimental Internasional ke-10 (2023). Saat ini, ia sedang mengerjakan proyek “Futures of Listening: Water Knowledge from Two Cities”, yang bertujuan untuk mengembangkan platform empati untuk berbagi pengetahuan dari masyarakat di Jakarta dan Istanbul.
Helmi Yusron (born 2001, Indonesia) has been a member of the Milisifilem Collective Forum Lenteng since 2023. The resulting film from this program is “I Watch You Watch Them,” which premiered at the Arkipel 10th Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival (2023). He is currently working on the project “Futures of Listening: Water Knowledge from Two Cities,” which aims to develop an empathetic platform for sharing knowledge from communities in Jakarta and Istanbul.
Manshur Zikri (1991) adalah seniman, kritikus, dan kurator yang berbasis di Yogyakarta dan Lombok Utara. Praktik lintas-disiplinnya meliputi riset artistik, strategi kuratorial, kerja editorial, dan produksi budaya eksperimental. Lulusan Kriminologi Universitas Indonesia, ia aktif di Forum Lenteng sejak 2009, memimpin Jurnal Footage sejak 2023, dan menjadi kurator di Cemeti – Institute for Art and Society (2020–2022). Pada 2025, ia mengkuratori Bangsal Menggawe: Ando Kayuq Aiq, program budaya berbasis komunitas di Lombok Utara.
Manshur Zikri (b. 1991) is an artist, critic, and curator based between Yogyakarta and North Lombok. His interdisciplinary practice encompasses artistic research, curatorial strategies, editorial work, and experimental cultural production. A Criminology graduate from the University of Indonesia, he has been active with Forum Lenteng since 2009, has led Jurnal Footage since 2023, and curated at Cemeti – Institute for Art and Society from 2020 to 2022. In 2025, he curates Bangsal Menggawe: Ando Kayuq Aiq, a community-driven cultural program in North Lombok.
Maria Christina Silalahi (Jakarta, 1993) adalah seniman dan pembuat film yang berbasis di Yogyakarta dan Lombok Utara, alumnus Milisifilem Collective dan 69 Performance Club. Lulusan Kriminologi Universitas Indonesia, praktiknya meliputi performans, instalasi, dan film eksperimental, dengan fokus pada tubuh, arsip keluarga, mikro-histori, serta kekerasan sosial-lingkungan. Karyanya mengurai nilai sosial dan kerangka institusional secara kritis melalui pendekatan kolaboratif, liris, dan tajam yang berakar pada eksperimen visual.
Maria Christina Silalahi (b. Jakarta, 1993) is an artist and filmmaker based between Yogyakarta and North Lombok, and an alumnus of Milisifilem Collective and 69 Performance Club. A graduate in Criminology from the University of Indonesia, her practice spans performance, installation, and experimental film, delving into the body, familial archives, micro-histories, and socio-environmental violence. Her works critically deconstruct social values and institutional frameworks through a lyrical, incisive, and collaborative approach rooted in visual experimentation.
Milisifilem Kenanga adalah angkatan termuda dari kelompok studi audiovisual dalam Milisifilem Collective. Dibentuk pada Januari 2025, angkatan ini mempertemukan peserta dari berbagai kota di Indonesia, mendorong eksplorasi dan eksperimentasi kolektif dalam praktik sinema, audiovisual, gambar bergerak dan media.
Milisifilem Kenanga is the youngest audiovisual study group batch within the Milisifilem Collective. Formed in January 2025, this batch brings together participants from various cities across Indonesia, fostering collective exploration and experimentation in cinema, audiovisual, moving-image, and media practices.
Zahra Zulya (Depok) adalah seorang mahasiswa Ilmu Sejarah di Universitas Indonesia. Ia sempat aktif dalam beberapa organisasi dan komunitas seni di kampus. Ia berpengalaman sebagai juru program di pemutaran film kampus, pemeran dalam film pendek, pembuat zine, dan perajin rajut paruh waktu. Saat ini ia belajar di Milisifilem Collective.
Zahra Zulya (Depok) is a History student at the University of Indonesia. She has been active in several campus art organizations and communities. Her experience includes programming campus film screenings, acting in short films, making zines, and working as a part-time crochet craftsperson. She is currently studying with Milisifilem Collective.
Misbahul Khoir (Jakarta) adalah seorang pejalan yang baru menyelesaikan Program Studi Bahasa dan Sastra Arab di UIN Sunan Kalijaga. Semasa kuliah, ia aktif di sebuah lembaga pers mahasiswa dan komunitas sastra.
Misbahul Khoir (Jakarta) is a traveler who recently completed a degree in Arabic Language and Literature at UIN Sunan Kalijaga. During college, he was active in a student press institute and a literary community.
Kayla Miskaatuzahra (Jakarta) adalah seorang mahasiswi Sejarah dan Peradaban Islam di Universtitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Kayla Miskaatuzahra (Jakarta) is a student of Islamic History and Civilization at UIN Syarif Hidayatullah.
Hanna Haris Rifai (Bukittinggi) adalah lulusan Program Studi Belanda, Universitas Indonesia (2024). Kini ia magang di Gerai Salihara, Komunitas Salihara Arts Center. Tertarik pada sejarah kolonial, arsip, dan seni.
Hanna Haris Rifai (Bukittinggi) graduated from the Dutch Studies program at the University of Indonesia (2024). She is currently interning at Gerai Salihara, Komunitas Salihara Arts Center, with interests in colonial history, archives, and art.
Mathew Gunawan (Bogor) merupakan seorang mahasiswa Fakultas Film dan Televisi di Institut Kesenian Jakarta. Saat ini sedang menyelesaikan studinya dalam bidang penyutradaraan
Mathew Gunawan (Bogor) is a student at the Faculty of Film and Television, Jakarta Institute of the Arts, currently completing his studies in directing.
Muhammad Hafidz (Depok) lulusan Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Universitas Teknologi Sumbawa tahun 2024.
Muhammad Hafidz (Depok) graduated in 2024 from the Agricultural Industrial Technology program at the University of Technology Sumbawa.
Fachri Ghazali (Depok) seorang Videographer. Menyelesaikan studinya di Universitas Islam Negeri Jakarta jurusan Sejarah dan Peradaban Islam.
Fachri Ghazali (Depok) is a videographer. He graduated from UIN Jakarta with a degree in History and Islamic Civilization.
Shelvira Alyya (Bandung) adalah seorang seniman lulusan Program Studi Film dan Televisi, Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2023. Selain mengembangkan karyanya, ia juga aktif sebagai juru program di sebuah komunitas asal Bandung yang bernama Bahasinema.
Shelvira Alyya (Bandung) is an artist who graduated from the Film and Television program at the Indonesia University of Education in 2023. Besides developing her own works, she is also active as a programmer in a Bandung-based community called Bahasinema.
Beny Kristia (Magelang/Malang) lulusan jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya tahun 2023. Di tempat ia berkuliah, ia sempat aktif menjadi bagian dari komunitas film di kampus yang berfokus pada produksi, pemutaran, pemrograman film, dan festival film mahasiswa. Ia terlibat sebagai tim juru program di Proposal Menonton, salah satu pemutaran film alternatif yang didirikan bersama teman-temannya baru-baru ini di Malang.
Beny Kristia (Magelang/Malang) graduated in 2023 with a degree in Communication Studies from Brawijaya University. During his studies, he was part of a campus film community focused on production, screenings, programming, and student film festivals. Recently, he co-founded Proposal Menonton, an alternative film screening initiative in Malang, where he also serves as a programmer.
Rafael Marius (Jakarta/Yogyakarta) seorang Lulusan Tata Kelola Seni di ISI Yogyakarta. Aktif di berkegiatan di beragam komunitas dan festival film.
Rafael Marius (Jakarta/Yogyakarta) graduated in Arts Management from ISI Yogyakarta. He is active in various communities and film festivals.
Ananda Firman Lahir (Bogor) adalah perupa autodidak asal Pekanbaru yang tinggal di Bogor. Karyanya berfokus kepada keilmuan hayati, terutama tetumbuhan (botani), ekologi, serta keterkaitan nya dengan sejarah, dekolonisasi dan kehidupan manusia. Bergabung bersama Indonesian Society of Botanical Artist (IDSBA) sejak 2018, ia berkesempatan untuk terlibat dalam berbagai gelaran pameran bersama seperti “Ragam Flora Indonesia” di Kebun Raya Bogor (2018).
Ananda Firman Lahir (Bogor) is a self-taught artist from Pekanbaru based in Bogor, whose works focus on botany, ecology, and their connections to history, decolonization, and human life. Since 2018, he has been a member of the Indonesian Society of Botanical Artists (IDSBA), participating in group exhibitions such as Ragam Flora Indonesia at Bogor Botanical Gardens (2018).
Sejak 2016, Pingkan Polla aktif memproduksi karya performans, film eksperimental, dan proyek seni yang memperdalam keterlibatannya dengan praktik seni berbasis komunitas. Setelah lulus dari KASK Conservatorium di tahun 2024, dia dan 9 orang seniman muda Indonesia menginisiasi gerakan eksperimental film Indonesia bernama Council of Ten. Pada tahun 2025, ia turut serta membuka ruang pemutaran “misbar” yang diberi nama All Cinemas Are Beautiful (ACAB) Kino di Brussels, Belgia. Buku terakhirnya yang berjudul It’s About Believing in Your Friends’ Practice merupakan refleksi percakapan dengan kolektif-kolektif seni di Indonesia, yang menawarkan wawasan tentang dinamika seni berbasis komunitas.
Pingkan Polla has been actively producing performance artworks, experimental films, and art projects, deepening her engagement with community-driven practices since 2016. After graduating from KASK Conservatorium in 2024, she and other 9 Indonesian emerging artists co-initiate Indonesian experimental film movement called Council of Ten. In 2025, she co-initiate an open air cinema called All Cinemas Are Beautiful (ACAB) Kino in Brussels, Belgium. Her recent book, It’s About Believing in Your Friends’ Practice, is a reflection on conversations with Indonesian collectives, offering insights into the dynamics of community-based art.
Prashasti Wilujeng Putri adalah seorang seniman dan manajer seni. Sejak 2016, ia aktif di bidang pertunjukan dan eksperimen visual, termasuk bekerja dengan 69 Performance Club dan Milisifilem Collective.
Prashasti Wilujeng Putri is an artist and art manager. Since 2016 she has been active in performance and visual experimentation, including work with 69 Performance Club and Milisifilem Collective.
Rahmania Nerva atau Rara (2001) adalah seorang seniman dan penulis yang berbasis di Depok, Jawa Barat. Ia merupakan lulusan dari Prodi Rusia di Universitas Indonesia. Saat ini ia sedang menekuni praktik audiovisual dan menulis tentang film. Beberapa tulisannya dapat dibaca di buku S…Untuk Sinema dan Minikino Articles.
Rahmania Nerva or Rara (b.2001) is an artist and writer based in Depok, West Java. She completed her bachelor degree in Russian Studies at the University of Indonesia. Currently, she is engaging with audiovisual and writing about film. Some of her writings were published in S… Untuk Sinema and Minikino Articles.
Riyan Putra Jaya Kelana (1999) adalah seorang seniman, musisi, dan penulis yang berbasis di Solok. Ia merupakan bagian dari Komunitas Gubuak Kopi dan Milisifilem Collective. Eksplorasi seninya mencakup bidang kepenulisan, film, dan kebudayaan. Ia pernah terlibat dalam Tenggara DIY Culture (2022) dan karyanya pernah dipamerkan di Jogja Fotografis Festival (2024) dan Metasandi (2024). Tulisannya tentang film dapat dibaca di buku S…Untuk Sinema dan Jurnal Footage.
Riyan Putra Jaya Kelana (b.1999) is an artist, musician, and writer based in Solok. He is part of Komunitas Gubuak Kopi dan Milisifilem Collective where his interest in writing, film, and culture was nurtured. He was involved in Tenggara DIY Culture in 2022 and his works were exhibited in Jogja Fotografis Festival (2024) and Metasandi (2024). His writing on films was published in S…Untuk Sinema and Jurnal Footage.
Rahmat Gunawan merupakan lulusan psikologi dengan minat mendalam akan emosi negatif dan individu disfungsional. Dia merupakan bagian dari Edelweiss, generasi keenam Milisifilem Collective. Dia aktif menyublim minatnya lewat tulisan, seni visual, dan bentuk penceritaan lainnya. Kegiatan favoritnya menonton film, membaca buku, tidur siang, dan merekonstruksi ulang bunga tidurnya.
Rahmat Gunawan studies psychology and has a gripping interest in low arousal/low valence negative emotions and individual dysfunctionalities. He is part of Edelweiss, a 6th-generation participant of Milisifilem Collective. He is actively engaging in sublimating his interest through writing, visual art, and other forms of storytelling. His favorite pastimes are watching films, reading books, taking short naps, and reconstructing vivid dreams he has had.
Raras Umaratih, lahir 1999, adalah seorang seniman multimedia, penulis, dan pengelola acara yang tumbuh besar di wilayah yang kini dikenal sebagai Indonesia, dan saat ini tinggal dan bekerja di Berlin. Karyanya sering mengangkat tema tentang kehadiran yang tidak hadir, arsip pribadi, pinggiran, dan ruang di antara sebagai sumber konflik yang berpotensi membawa kejernihan.
Raras Umaratih (they/them/dia) b. 1999 is a multimedia artist, writer, and organizer who grew up in the territory known today as Indonesia, and is currently living and working in Berlin. Their work often deals with the present absentees, personal archives, the margins, and the in-between as a source of conflict that has the potential to bring clarity.
Robby Ocktavian (Samarinda, 20 Oktober 1990), seorang seniman dan organisator seni. Gemar menayangkan filem di celah-celah kota Samarinda bersama kawan-kawan Sindikat sinema. Ia juga mendirikan Naladeva Film Festival di Samarinda. Menyelesaikan studi Hubungan Internasional di Universitas Mulawarman, Samarinda, dan kemudian belajar memahami dan memproduksi visual di Forum Lenteng dalam program Milisifilem Collective.
Robby Ocktavian (Samarinda, October 20 1990), is an artist and art organizer. He enjoys screening films in the Samarinda with his friends in the Sindikat sinema collective. He is also the organizer of the Naladeva Film Festival in Samarinda. He studied International Relations in Mulawarman University, Samarinda, and then he continued his studies in the visual arts in Forum Lenteng under the Milisifilem collective program.
Syarifa Amira Satrioputri (2000, Jakarta) adalah pengamat geologi dan seniman multidisiplin. Ia lulus dari jurusan geologi Universitas Indonesia dan aktif mengkaji isu antroposen lewat pemetaan interdisiplin. Penelitiannya tentang lingkungan pengendapan akibat pintu air Manggarai dipamerkan di Zone2Source, Belanda bersama milisifilem. Sekarang ia membangun platform alternatif Geology made Punk (GMP) untuk mengkritisi keilmuan geologi dan menulis tentang film dan lingkungan.
Syarifa Amira Satrioputri (2000, Jakarta) is a geologist and multidisciplinary artist. She graduated from the University of Indonesia with a degree in geology and actively studies the Anthropocene through interdisciplinary mapping. Her research on the sedimentary environment caused by the Manggarai floodgate was exhibited at Zone2Source in the Netherlands with milisifilem. She is currently building the alternative platform Geology made Punk (GMP) to critique geological study and write about film and the environment.
Taufiqurrahman Kifu (Indonesia, 1994) adalah seniman interdisiplin yang berkarya melalui performance, drawing, fotografi, sound, dan film, dengan mengeksplorasi bahasa serta konteks tiap medium. Film pendeknya A Tale of the Crocodile’s Twin (2022) meraih Jury Special Mention di Kurzfilmtage Oberhausen (2023), serta dipresentasikan di Visual Documentary Project, Kyoto University (2023) dan 12th Biennial Association for Southeast Asian Cinema Conference, Chiang Mai (2025). Ia juga mengkuratori pameran, ARKIPEL: Jakarta International FIlm Festival 2025, dan menjadi Direktur Artistik Festival Film Tengah (Palu).
Taufiqurrahman Kifu (Indonesia, 1994) is an interdisciplinary artist whose practice includes performance, drawing, photography, sound, and film, exploring each medium’s language and context. His short film A Tale of the Crocodile’s Twin (2022) received a Jury Special Mention at Kurzfilmtage Oberhausen (2023) and was presented at Kyoto University’s Visual Documentary Project (2023) and the 12th Biennial Association for Southeast Asian Cinema Conference, Chiang Mai (2025). He also curated exhibitions, ARKIPEL: Jakarta International FIlm Festival 2025 and was Artistic Director of Festival Film Tengah (Palu).
Theo Nugraha (Samarinda, April 1992) adalah seorang seniman, kurator, dan organisator asal Samarinda. Theo adalah pelopor proyek noise pertama di Samarinda dan telah menjadi bagian dari kancah musik eksperimental Indonesia sejak 2013. Diskografinya mencakup hampir 200 rilisan. Ia tergabung dalam kelompok eksperimen visual Milisifilem Collective dan studi seni pertunjukan di 69 Performance Club. Theo adalah salah satu penggagas proyek Situationist Under-Record. Selain itu, ia adalah salah satu pendiri HEX Foundation dan salah satu penggagas Extended. Asia, sebuah platform daring untuk seniman suara dan visual. Kini Theo bekerja sebagai kurator Rumah Adat Budaya Daerah Kota Samarinda dan tim redaksi Visual Jalanan.
Theo Nugraha (Samarinda, April 1992) is an artist, curator and organizer from Samarinda. Theo is the pioneer of the first noise project in Samarinda and has been part of the Indonesian experimental sound scene since 2013. His discography contains almost 200 releases. He is part of the visual experimentation group with Milisifilem Collective and performance art studies at 69 Performance Club. Theo is one of co-initiators of Situationist Under-Record project. In addition he is one of the founders of the HEX Foundation and one of the initiators of Extended. Asia, an online platform for sound and visual artists. Now Theo works as curator of the Rumah Adat Budaya Daerah Kota Samarinda and editorial team at Visual Jalanan.
Lahir di Sumatra Barat, 23 April 1987, Van Luber Parensen adalah seorang seniman yang berbasis di Jakarta. Ia merupakan bagian dari Forum Lenteng dan Milisifilem Collective. Praktiknya berkembang dalam ranah komposisi bunyi, film, dan medium eksperimental lainnya. Ia juga merupakan salah satu pendiri SIGISORA; sebuah inisiatif mendengar yang berfokus pada studi bunyi dan komposisi.
Born in West Sumatra on April 23, 1987, Van Luber Parensen is a Jakarta-based artist. He is a member of Forum Lenteng and Milisifilem Collective. His practice includes sound composition, film, and other experimental media. He is also a co-founder of SIGISORA; a listening initiative focused on sound studies and composition.
Volta Jonneva, aktif sebagai salah satu anggota Komunitas Gubuak Kopi. Pada tahun 2021, ia berpartisipasi dalam penulisan buku kritik film “Harimau Tjampa” bersama Kultur Sinema yang diinisiasi oleh Forum Lenteng, Jakarta. Sejak tahun 2020 , ia menjadi Direktur Tenggara Festival. Pada tahun 2022, ia terlibat pameran Local in the Making di Seoul, Korea Selatan bersama Komunitas Gubuak Kopi.
Volta Jonneva is an active member of the Gubuak Kopi Community. In 2021, he participated in the writing of a film critique book, “Harimau Tjampa,” with Kultur Sinema, initiated by Forum Lenteng, Jakarta. Since 2020, he has been the Director of the Tenggara Festival. In 2022, he participated in the Local in the Making exhibition in Seoul, South Korea, with the Gubuak Kopi Community.
Wildan Iltizam Bilhaq adalah seniman otodidak yang saat ini tinggal di Yogyakarta. Sejak 2016, Wildan mulai mengembangkan seninya melalui medium seni lukis dan seni pertunjukan. Pada tahun 2021 bersama rekan-rekannya, ia menginisiasi sebuah kolektif studi pertunjukan; Proyek Edisi. Ia juga merupakan bagian dari #NonBlokMovement; sebuah kolektif seniman berbasis Fantom Blockchain, yang bertujuan untuk melakukan eksperimen dan aktivisme di lingkungan yang berkembang pesat. Ia juga merupakan bagian dari Milisifilem Collective.
Wildan Iltizam Bilhaq is a self-taught artist currently based in Yogyakarta. Since 2016, Wildan started developing his art by the medium of painting and performance art. In 2021 with his associates, he initiated a performance study collective; Proyek Edisi. He is also part of #NonBlokMovement; an artist collective based on Fantom Blockchain, aims to perform experimentation and activism in the thriving environment. He is also part of the Milisifilem Collective.
Andrés Denegri adalah seorang seniman yang berkarya terutama pada filem dan video. Lulus dari Universidad del Cine dan menjadi dosen di sana, selain mengajar di UNTREF dan mengembangkan pusat penelitian seni audiovisual, CONTINENTE. Karyanya telah dipamerkan di berbagai pameran dan festival. Dia merupakan Direktur BIM (Bienal de la Imagen en Movimiento).
Andrés Denegri is an artist who works primarily in film and video. Graduated from Universidad del Cine and became a lecturer there, in addition to teaching at UNTREF and developing the audiovisual arts research center, CONTINENTE. His work has been exhibited at various exhibitions and festivals. He is the Director of BIM (Bienal de la Imagen en Movimiento).
Bo WANG adalah seorang seniman, pembuat film, dan peneliti yang berbasis di Amsterdam. Karya-karyanya telah dipamerkan di kancah internasional, termasuk di MoMA, Guggenheim, Garage Museum, CPH:DOX, IFFR, Visions du Réel, Open City Documentary Festival, Seoul Mediacity Biennale, Sesc_videobrasil, Sharjah Film Platform, dan masih banyak lagi. Ia adalah kandidat doktor di ASCA, Universitas Amsterdam, dan saat ini mengajar di LUCAS, Universitas Leiden.
Bo Wang is an artist, filmmaker, and researcher based in Amsterdam. His works have been exhibited internationally, including at MoMA, Guggenheim, Garage Museum, CPH:DOX, IFFR, Visions du Réel, Open City Documentary Festival, Seoul Mediacity Biennale, Sesc_videobrasil, Sharjah Film Platform, among others. He is a PhD candidate at ASCA, University of Amsterdam, and currently teaches at LUCAS, Leiden University.
Scott Miller Berry adalah seorang pembuat film dan pekerja budaya yang telah tinggal di Toronto sejak 2001. Ia menjabat sebagai Direktur Pelaksana di Workman Arts, sebuah organisasi seni + kesehatan mental, dan sebelumnya menjabat sebagai Direktur Eksekutif di Images Festival selama sepuluh tahun. Ia menjabat sebagai anggota Dewan Direksi Long Winter Music + Arts Festival dan TMAC (Toronto Media Arts Centre). Tulisan-tulisannya baru-baru ini dimuat di POV Magazine, blog film Goethe-Institut Toronto, dan di Other Places: Reflections on Media Arts in Canada, yang disunting oleh Deanna Bowen.
Scott Miller Berry is a filmmaker and cultural worker who has lived in Toronto since 2001. By day he is Managing Director at Workman Arts, an arts + mental health organization and previously he spent ten years as Executive Director at the Images Festival. He serves on the Board of Directors with Long Winter Music + Arts Festival and TMAC (Toronto Media Arts Centre) and his recent writing appears in POV Magazine, Goethe-Institut Toronto film blog and in Other Places: Reflections on Media Arts in Canada, edited by Deanna Bowen.
Sorayos Prapapan (1986) lahir di Bangkok. Dia mulai bekerja di industri filem Thailand sebagai perekam suara dan seniman foley. Dia telah menyutradarai banyak filem pendek yang memenangkan penghargaan di negara asalnya dan ditampilkan di banyak festival filem internasional.
Sorayos Prapapan (1986) was born in Bangkok. He started working in Thai film industry as a sound recordist and foley artist. He has directed many short films which won an award in his home country and were shown in many international film festivals.
Singing Chen adalah seorang sineas yang memfokuskan karyanya pada kondisi dan keyakinan manusia, mengeksplorasi esensi kehidupan. Pendekatannya terhadap realisme magis menyoroti absurditas dalam realitas dan menunjukkan masalah struktural dalam masyarakat. Ia telah mengumpulkan banyak citra puitis melalui observasi selama dokumentasi jangka panjangnya terhadap seniman Taiwan di berbagai bidang seperti teater, tari, dan seni suara. Pada tahun 2022, film VR-nya, The Man Who Couldn’t Leave, memenangkan Penghargaan Pengalaman Terbaik dalam Kompetisi Imersif Venesia ke-79, dan ia menjabat sebagai ketua juri untuk kompetisi imersif tersebut di Festival Film Venesia ke-80. Karya-karya terkenal lainnya termasuk film VR Afterimage for Tomorrow, dokumenter The Walker, film layar lebar God Man Dog dan Bundled, serta serial Heaven on the 4th Floor, yang banyak di antaranya dinominasikan atau dimenangkan di Festival Film Berlin, Festival Film Busan, Festival Film Fribourg, TIDF, dan masih banyak lagi.
Singing Chen is a filmmaker who focuses her creation on the human condition and beliefs, exploring the essence of life. Her approach to magical realism highlights the absurdity in reality and points out the structural problem in society. She has accumulated many poetic images through nuanced observations during her long-term documentation of Taiwanese artists in different fields such as theatre, dance, and sound art. In 2022, her VR film The Man Who Couldn’t Leave won the Best Experience Award in the 79th Venice Immersive Competition, and she served as the jury president for the immersive competition at the 80th Venice Film Festival. Other renowned works include the VR film Afterimage for Tomorrow, the documentary The Walker, feature films God Man Dog and Bundled, and the series Heaven on the 4th Floor, many of which were nominated or won at the Berlin Film Festival, Busan Film Festival, Friborg Film Festival, TIDF, and many more.
Lahir pada tahun 1953, LEE Yung-chuan menempuh pendidikan magister di bidang Radio-Televisi-Film dari University of Texas di Austin. Tesisnya, Bugged, meraih Golden Harvest Award untuk Film Naratif Terbaik. Ia pernah menjabat sebagai editor untuk United Daily News dan jurnalis untuk Economic Daily News. Saat ini, ia menjabat sebagai dosen tamu di National Taipei University of the Arts. Selain itu, ia adalah penulis buku “Taiwanese Cinema: An Illustrated History”.
Born in 1953, LEE Yung-chuan pursued his master’s degree in Radio-Television-Film from the University of Texas at Austin. His thesis project, Bugged, received the Golden Harvest Award for Best Narrative Film. He has served as an editor for the United Daily News and a journalist for the Economic Daily News. He currently holds a position as an adjunct lecturer at the National Taipei University of the Arts. Additionally, he is the author of “Taiwanese Cinema: An Illustrated History.”
Tulapop Saenjaroen adalah seorang seniman dan pembuat film yang tinggal di Thailand. Tulapop memperoleh gelar MA dalam program Aesthetics and Politics di CalArts. Dia juga bekerja sebagai produser untuk Apichatpong Weerasethakul dan menyutradarai By the Time It Gets Dark. Ia telah berpartisipasi dalam berbagai pameran dan festival film.
Tulapop Saenjaroen is an artist/filmmaker based in Thailand. Tulapop holds an MA in Aesthetics and Politics program at CalArts. He also worked as an associate producer for Apichatpong Weerasethakul’s By the Time It Gets Dark. He has participated in various exhibitions and film festivals.
Wregas Bhanuteja is an Indonesian film director and screenwriter. His short film Lembusura (2014), inspired by the eruption of Mount Kelud, was selected for the 65th Berlin International Film Festival in 2015, where he became the youngest competing director at just 22. In 2016, he made history as the first Indonesian filmmaker to win at the Cannes Film Festival with his short film Prenjak. Since then, Wregas has directed numerous works, with his latest feature set for release in 2025.
Wregas Bhanuteja adalah seorang sutradara film dan penulis skenario Indonesia. Film pendeknya, Lembusura (2014), yang terinspirasi oleh letusan Gunung Kelud, terpilih untuk Festival Film Internasional Berlin ke-65 pada tahun 2015, di mana ia menjadi sutradara termuda yang berkompetisi di usianya yang baru 22 tahun. Pada tahun 2016, ia mengukir sejarah sebagai pembuat film Indonesia pertama yang menang di Festival Film Cannes dengan film pendeknya, Prenjak. Sejak itu, Wregas telah menyutradarai banyak karya, dengan film panjang terbarunya yang dijadwalkan rilis pada tahun 2025.
Yosep Anggi Noen adalah sutradara, penulis, editor, dan dosen asal Yogyakarta, Indonesia. Anggi kerap menggunakan fiksi sebagai metode untuk bertutur sekaligus menyingkap narasi sejarah yang sulit dituturkan akibat tekanan berbagai konteks. Berbagai filmnya kerap tayang di helatan internasional. Filmnya Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (2012) pernah terpilih di Locarno Film Festival dan meraih “Special Mention Award” di Vancouver IFF 2013. Dengan film Hiruk Pikuk Alkisah (2019), ia memenangkan Piala Maya untuk Sutradara Terpilih serta nominasi Sutradara Terbaik FFI.
Yosep Anggi Noen is a director, writer, editor, and lecturer from Yogyakarta, Indonesia. He often employs fiction as a way to tell stories and uncover historical narratives that are otherwise silenced by political and social pressures. His works have been widely presented at international festivals. Peculiar Vacation and Other Illnesses (2012) was selected for the Locarno Film Festival and received a “Special Mention Award” at the Vancouver International Film Festival 2013. With The Science of Fictions (2019), he won the Maya Award for Best Director and was nominated for Best Director at the Indonesian Film Festival.
Zbynek Baladran (Praha) adalah seorang penulis, seniman, kurator dan arsitek pameran. Ia menempuh studi sejarah seni di Departemen Filsafat, Universitas Charles, dan di studio Komunikasi Visual, Lukisan dan Media Baru di Akademi Seni rupa, keduanya berada di Praha. Pada tahun 2001 ia mendirikan Display (tranzit-display 2007-17), sebuah ruang untuk seni kontemporer.
Zbyněk Baladrán (Prague) is an author, artist, curator and exhibition architect. He studied art history in the Philosophy Department of the Charles University and in the studios for Visual Communication, Painting and New Media at the Academy of Fine Arts, both in Prague. In 2001 he co-founded Display (running 2001–17), a space for contemporary art.
Zimu Zhang adalah seorang peneliti, kurator, dan praktisi gambar bergerak. Ia menyelesaikan penelitian PhD-nya tentang ekologi dan budaya visual pada tahun 2022 di School of Creative Media, City University of Hong Kong. Ia adalah alumni DocNomads Erasmus Mundus Joint Master dalam pembuatan film dokumenter (2012-2014). SIC (SoundImageCulture, 2016), dan talenta Berlinale (2016). Ia adalah penerima beasiswa Landhaus 2022 di Rachel Carson Center for Environment and Society, LMU dan beasiswa VisitANTS 2023 untuk Studi Kritis Keanekaragaman Hayati dan Penelitian Antroposen di Universitas Oulu, Finlandia.
Zimu Zhang is a researcher, curator and moving image practitioner. She completed her PhD research on ecology and visual culture in 2022 at the School of Creative Media, City University of Hong Kong. She is an alumna of DocNomads Erasmus Mundus Joint Master in documentary filmmaking (2012–2014), SIC (SoundImageCulture, 2016) and Berlinale talents (2016). She is the recipient of the 2022 Landhaus fellowship at the Rachel Carson Center for Environment and Society, LMU and 2023 VisitANTS fellowship in Critical Studies of Biodiversity and the Anthropocene Research at University of Oulu, Finland.



















































































© 2026 Forum Lenteng. All rights reserved.
ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival
Website: arkipel.id · Layout: tooftolenk
Powered by WordPress.com


