ARKIPEL
Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival
Forum Festival melibatsertakan seniman, kritikus, cendekiawan, dan praktisi dalam diskusi panel dan meja bundar yang mengkaji peran sinema kontemporer dalam masyarakat. Segmen ini mengedepankan dialog, refleksi kritis, dan pertukaran lintas disiplin untuk menantang dan memikirkan kembali batasan praktik dokumenter dan eksperimental.
Setiap tahun, Festival Forum secara konseptual selaras dengan tema utama ARKIPEL, berfungsi sebagai ruang diskursif yang memperluas kerangka kuratorial festival ke dalam percakapan publik. Diskusi, presentasi, dan pertukaran yang dikembangkan dalam segmen ini secara langsung menanggapi keprihatinan tematik yang dieksplorasi oleh festival.
Pada tahun 2025, Festival Forum mengadopsi “Years of Living Dangerously” sebagai payung tematiknya, membentuk serangkaian dialog yang meneliti implikasi budaya, politik, dan estetika dari tema tersebut dalam praktik gambar bergerak kontemporer.
Forum Festival brings together artists, critics, scholars, and practitioners in panel discussions and roundtables that interrogate contemporary cinema’s role in society. This segment foregrounds dialogue, critical reflection, and exchange across disciplines to challenge and rethink the boundaries of documentary and experimental practices.
Each year, Forum Festival is conceptually aligned with the overarching theme of ARKIPEL, functioning as a discursive space that expands the festival’s curatorial framework into public conversation. The discussions, presentations, and exchanges developed within this segment respond directly to the thematic concerns explored by the festival.
In 2025, Forum Festival adopted “Years of Living Dangerously” as its thematic umbrella, shaping a series of dialogues that examined the cultural, political, and aesthetic implications of the theme within contemporary moving-image practices.
Pidato Utama / Keynote Speech
Presented by
RONNY AGUSTINUS
Ronny Agustinus (lahir di Malang, 24 Agustus 1976) adalah seorang seniman, penerjemah, dan penerbit yang memiliki kontribusi yang beragam dalam dunia seni, sastra, dan penerbitan di Indonesia. Ia adalah salah satu pendiri kolektif seni Ruangrupa, pendiri penerbit Marjin Kiri, dan telah aktif sebagai penerjemah buku-buku Amerika Latin. Selain itu, ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan juri di festival film dokumenter dan eksperimental, serta memiliki peran internasional dalam jaringan penerbitan. Ia telah menerbitkan buku pertamanya pada tahun 2021 berjudul Macondo, Para Raksasa, dan Lain-Lain Hal Seputar Sastra Amerika Latin.
Ronny Agustinus (born in Malang, August 24, 1976) is an artist, translator, and publisher with diverse contributions to Indonesia’s art, literature, and publishing worlds. He is a co-founder of the art collective Ruangrupa, the founder of Marjin Kiri publishing house, and has been an active translator of Latin American books. Additionally, he has served on various juries for documentary and experimental film festivals and holds an international role in publishing networks. He published his first book in 2021, titled Macondo, Para Raksasa, dan Lain-Lain Hal Seputar Sastra Amerika Latin.
PANEL 01
Presented by
- ENOKA AYEMBA
- YONRI REVOLT
- ESHA TEGAR
Bahasa Vernakular dalam Geopolitik Global
Nyaris niscaya, dengan meletakan negara sebagai aktor tertinggi di satu teritori, politik global mampu melintas keluar-masuk membawa pengaruh, teknologi, dan kebudayaan. Kontestasi antarnegara akhirnya menarik keseluruhan elemen ruang secara paksa ke dalam medan wacana geopolitik global. Motif mendominasi negara pun mencabut agensi ruang, guna mengekstrak kekayaan apa pun yang terkandung di dalamnya. Interaksi ini mengintervensi kenyataan di wilayah politik terendah, kenyataan umum tempat masyarakat terbingkai ‘dunia ketiga’ berkeseharian di luar keaktoran suatu negara. Ia melahirkan bahasa yang dibentuk dari pencampuran daya ungkap sang natif di bawah doktrin sang asing, endapan bahasa yang beroperasi melampaui definisi asli induk bahasanya, bahasa vernakular.
Membaca vernakularitas dari posisi hari ini ialah suatu pencaharian akan perspektif lain untuk mengkritisi dunia yang konon “setara”. Bahasa ini membawa endapan ratusan tahun proyek kolonialisme Barat dan sekian dekade periode kemerdekaan dunia ketiga hingga lekat dalam ruang dan penghuni suatu lokasi. Ungkapan yang masih bertahan dan berjalan mewakilkan segenggam imajinasi untuk menanggapi bahaya-bahaya di waktu kini. Situasi di mana Aktor tinggi semakin menjauh dari medan tempur dan bergerak di ranah sanksi ekonomi, misil jarak jauh, hingga kendali informasi siber. Keambangan pendudukan asing ini menciptakan situasi ruang yang senantiasa terancam, lantaran sumbernya seolah tak terlacak lagi. Lewat vernakularitas, jejak sang pelaku boleh jadi masih tersisa dalam hikayat pembentukannya.
Seperti teritori, film juga tidak luput dari pengaruh bentangan isu, disiplin ilmu, juga aktivisme yang berada di luar asumsi “netralitas perangkat penangkap kenyataan”. Posisinya sebagai aparatus penghasil bahasa tetap dipengaruhi oleh bagasi penggunanya yang, bila ia seorang natif, akan menginterpretasi alat asing ini menurut kenyataannya sendiri.
Forum Festival ARKIPEL secara runut telah melakukan pembacaan bahasa vernakular, mulai dari ‘sebagai kemungkinan bahasa’ pada 2021 (Twilight Zone), hingga ‘sebagai retasan teknologi’ di 2024 (Garden of Earthly Delights). Dari pengalaman tersebut, Forum Festival kali ini ingin kembali memosisikan bahasa sebagai akses masuk dalam kenyataan milik dunia ketiga sembari menimbang peran indisipliner sebagai sejenis hibriditas tersendiri. Niscaya analisa terhadap keberadaan dan konfigurasi bahasa ini dapat dijadikan suatu proposal bersama untuk melanjutkan cita-cita Global Selatan di bawah tantangan yang lebih kontemporer.
Vernacular Language in Global Geopolitics
Almost inevitably, once the state is positioned as the supreme actor within a territory, global politics traverses in and out, carrying with it influence, technology, and culture. Contestations between states ultimately compel the entirety of space into the arena of global geopolitical discourse. The state’s dominating motive uproots the agency of space itself, extracting whatever wealth lies within. Such interactions intervene in the lowest strata of the political order—the everyday reality in which communities framed as the ‘Third World’ live their lives outside the agency of the state. From this emerges a language shaped by the fusion of native expressive force and foreign doctrine: a sedimented language that operates beyond the original definition of its parent tongue—the vernacular.
To read vernacularity from the vantage point of the present is to search for alternative perspectives from which to critique a world that is allegedly “equal.” This language carries the sediment of centuries of Western colonial projects and decades of postcolonial independence, sediment that has become deeply embedded in the spaces and inhabitants of particular localities. The expressions that endure and remain in use embody fragments of imagination with which to confront the perils of the present. A moment in which high-level actors withdraw ever further from the battlefield, waging instead wars of economic sanctions, long-range missiles, and cyber control of information. This ambivalent form of foreign occupation generates spaces perpetually under threat, precisely because their sources seem increasingly untraceable. Yet through vernacularity, the traces of such actors may still be discerned in the sagas of their historical formation.
Like territory, film too is never exempt from the influence of issues, disciplines, and activism that exceed the assumption of the “neutrality of reality-capturing apparatuses.” Its position as a producer of language is inevitably shaped by the baggage of its users who, if native, will interpret this foreign tool through the lens of their own lived realities.
Over the years, the ARKIPEL Forum Festival has sequentially explored vernacular language: from “language as possibility” in 2021 (Twilight Zone), to “language as technological hack” in 2024 (Garden of Earthly Delights). Building on this trajectory, this year’s Forum Festival seeks once again to reposition language as an entry point into Third World realities, while also considering the role of indiscipline as a mode of hybridity in its own right. Such an analysis of the existence and configuration of language may, perhaps, serve as a shared proposal to advance the aspirations of the Global South amid the more contemporary challenges of our time.
Biografi Panelis / Panelists’ Biography
Enoka Ayemba merupakan kurator film dan konsultan festival yang berfokus pada sinema Afrika dan diaspora Afrika serta gerakan anti-kolonial. Antara tahun 2019 dan 2022, ia bekerja sebagai konsultan untuk Berlinale Forum, ikut mengkurasi seri program »Fiktionsbescheinigung« (Fiction Certification). Pada 2023, ia mengkurasi program film Borders in the Middle: Migration and its Perspectives in German Film bersama Biene Pilavci, untuk Filmhaus Nürnberg. Saat ini, ia merupakan anggota komite seleksi untuk Festival Film Pan-Afrika (FESPACO) di Ouagadougou, Burkina Faso.
Yonri Revolt merupakan seorang pembuat film, jurnalis, dan aktivis yang berbasis di Papua. Bersama Yoikatra, sebuah kolektif yang ia dirikan di Timika, Papua, Yonri telah membuat beberapa film yang membicarakan aktivisme, kolonial, dan budaya. Filmnya, Mayday! May Day! Mayday! (2022), diputar perdana secara internasional di IFFR 2023 dan memenangkan Peransi Award di Arkipel—International Documentary and Experimental Film Festival 2022. Film terbarunya, The Silent Path (2024) diputar perdana secara internasional di IFFR 2024, memenangkan Film Panjang Indonesia Terbaik di FFD Yogyakarta 2024, dan masuk official selection New Asian Current Yamagata International Documentary Festival 2025.
Esha Tegar Putra adalah sastrawan asal Minangkabau, Sumatera Barat. Ia menulis puisi, prosa, naskah drama, dan catatan seni-budaya. Ia pernah bekerja sebagai peneliti di Komisi Arsip dan Koleksi Dewan Kesenian Jakarta dan menjadi kurator untuk beberapa pameran arsip terkait sejarah seni. Kini ia sedang menyelesaikan studi S3 di Departemen Susastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.
Enoka Ayemba is a film curator and festival consultant who focuses on African and Afro-diasporic cinematography and anti-colonial movements. Between 2019 and 2022, he worked as a consultant for the Berlinale Forum, co-curating the programme series »Fiktionsbescheinigung« (Fiction Certification). In 2023, he curated the film programme Borders in the Middle: Migration and its Perspectives in German Film with Biene Pilavci, on behalf of Filmhaus Nürnberg. He is currently a member of the selection committee for the Pan-African Film Festival (FESPACO) in Ouagadougou, Burkina Faso.
Yonri Revolt is a filmmaker, journalist, and activist based in Papua. Together with Yoikatra, a collective he founded in Timika, Papua, Yonri has made several films that discuss activism, colonialism, and culture. His film, Mayday! May Day! Mayday! (2022), had its international premiere at IFFR 2023 and won the Peransi Award at Arkipel—International Documentary and Experimental Film Festival 2022. His latest film, The Silent Path (2024), had its international premiere at IFFR 2024, won Best Indonesian Feature Film at FFD Yogyakarta 2024, and was selected for the official lineup of the New Asian Current section at the Yamagata International Documentary Festival 2025.
Esha Tegar Putra is a writer from Minangkabau, West Sumatra. He writes poetry, prose, drama scripts, and cultural notes. He has worked as a researcher at the Jakarta Arts Council’s Archives and Collections Commission and as a curator for several exhibitions of historical art archives. He is currently completing his doctoral at the Department of Literature, Faculty of Cultural Sciences, University of Indonesia.
PANEL 02
Presented by
- YUKI ADITYA
- ANNISSA WINDA LARASATI
Politik Citra Film Klasik Indonesia
Sinema memiliki kekuatan penyebaran informasi yang masif dalam mengonstruksi cerita, hiburan, informasi, maupun pengetahuan. Sebagai alat penyebar pesan yang begitu kuat, ia mampu menciptakan citra-citra tertentu bagi para penontonnya. Potensi sinema yang besar ini sudah barang tentu dimanfaatkan oleh negara untuk kepentingan politisnya, termasuk Indonesia. Pengaruh kuasa negara mampu menjangkau di hampir semua aspek lini perfilman. Penentuan regulasi produksi, kanonisasi tokoh, hingga penulisan narasi sejarah perfilman Indonesia membentuk satu bungkusan utuh tentang citra bangsa melalui sinema.
Penggunaan sinema sebagai alat yang politis bisa dilihat dari kebijakan sensor yang pernah dikeluarkan oleh pemerintah, sehingga membuat produksi film-film di Indonesia menjadi ketat. Konstruksi gambar yang dibuat berada dalam pengawasan negara dan para sineas tidak bisa sembarangan memproduksi film. Di sinilah potret representasi masyarakat Indonesia dibentuk dan dimodifikasi dalam film. Para sineas mencari celah yang aman untuk memproduksi film dan tetap sesuai dengan kaidah regulasi yang dikeluarkan dari pemerintah. Representasi itu kemudian membentuk pandangan masyarakat terhadap figur tertentu yang dimunculkan di film.
Berbicara tentang figur, film Indonesia tidak pernah lepas dari genre film horor. Banyaknya sosok hantu perempuan di Indonesia kini menimbulkan pertanyaan, mengapa harus perempuan yang menjadi hantu. Melalui panel ini, rasanya penting untuk membaca figur representasi, maupun kebijakan dapat memengaruhi estetika dan berdampak terhadap sinema kontemporer.
Bila mengacu pada Darah dan Doa (1950)yang disebut sebagai film Indonesia pertama, maka umur sinema Indonesia sudah menyentuh 75 tahun. Dalam kurun waktu 75 tahun ini, citra yang terbentuk dan didominasi berusaha untuk direfleksikan dan dikritisi kembali hari ini. Usaha untuk memunculkan bacaan-bacaan baru masih terus dilakukan. Penyebaran pengetahuan atas bacaan citra perfilman Indonesia dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, seperti kajian akademik terhadap representasi gender dalam film, penelitian akademik terhadap kebijakan film di suatu era, hingga strategi artistik membuat film tentang film Indonesia untuk menciptakan narasi sejarah alternatif.
Berangkat dari tema ARKIPEL tahun ini, Years of Living Dangerously, panel ini berusaha membicarakan upaya preservasi dan pembacaan atas film klasik dalam konteks waktunya (rezim, sosial-politik, budaya, dll.), juga dalam konteks sekarang, ketika infrastruktur untuk film klasik masih harus dibenahi dan ketika film klasik dianggap sebagai bagian dari sejarah dalam membentuk identitas dan sinema masa kini.
The Politics of Image in Classic Indonesian Films
Cinema possesses immense power in disseminating information—constructing stories, entertainment, knowledge, and modes of perception. As a formidable medium of communication, it has the capacity to generate specific images in the minds of its audience. Unsurprisingly, this vast potential has long been harnessed by the state for its own political purposes, including in Indonesia. The reach of state power has extended across almost every facet of film culture: from the regulation of production, the canonization of figures, to the writing of the historical narrative of Indonesian cinema, all of which coalesce into a comprehensive construction of the nation’s image through cinema.
The deployment of cinema as a political instrument is perhaps most evident in the government’s censorship policies, which once rendered film production in Indonesia subject to tight restrictions. Images were produced under the vigilant gaze of the state, leaving filmmakers with little freedom to create arbitrarily. Within this space, the representation of Indonesian society was shaped, modified, and carefully circumscribed on screen. Filmmakers were compelled to seek out “safe” avenues of expression—producing works that remained within the bounds of official regulations. Such representations, in turn, shaped public perceptions of the figures portrayed in film.
In speaking of figures, it is impossible to overlook the prominence of the horror genre in Indonesian cinema. The recurring presence of female ghosts provokes the question: why is it so often women who are consigned to spectrality? Through this panel, it becomes vital to interrogate how representation—and the policies that structure it—not only influence aesthetic forms but also leave lasting imprints on the trajectories of contemporary cinema.
If Darah dan Doa (1950), often regarded as the first Indonesian film, serves as a point of reference, then Indonesian cinema now spans seventy-five years. Across this period, dominant images have taken shape, images that today call for renewed reflection and critique. Efforts to generate new readings persist in varied forms: from academic inquiries into gender representation in film, to scholarly research on state film policies across eras, to artistic strategies that produce films about Indonesian cinema itself, in an attempt to construct alternative historical narratives.
Drawing upon this year’s ARKIPEL theme, Years of Living Dangerously, this panel seeks to engage in a discussion of preservation and interpretation: of classic films in relation to their historical contexts (regime, socio-political, and cultural), and of their relevance in the present moment—when the infrastructure for classic cinema remains in need of serious attention, and when such works are increasingly recognized as integral to the historical formation of both national identity and the contours of contemporary Indonesian cinema.
Biografi Panelis / Panelists’ Biography
Yuki Aditya (Jakarta, 1981) adalah pegiat kebudayaan. Lulusan Jurusan Administrasi Fiskal, Universitas Indonesia. Aktif berkegiatan di Forum Lenteng dan sejak tahun 2013 menjadi Direktur ARKIPEL. Ia menjadi produser dalam film-film yang diproduksi oleh Forum Lenteng; Golden Memories: Petite histoire of Indonesian Cinema (2018), Om Pius…This is My Home Come the Sleeping (2019), Dolo (2021). Bersama I Gde Mika berperan sebagai realisator dalam film Kelana Citra Jakarta (2021) dan Segudang Wajah Penantang Masa Depan (2022).
Annissa Winda Larasati adalah penulis buku Memaksa Ibu Jadi Hantu, yang membahas diskursus maternal horror dalam film horor Indonesia pada periode 1970–2020. Saat ini ia sedang menempuh studi doktoral tahun pertamanya di The University of Auckland dengan penelitian mengenai sutradara horor perempuan Indonesia dalam industri film yang didominasi laki-laki dan prekariasi.
Yuki Aditya (Jakarta, 1981) is a cultural activist. He graduated from the Department of Fiscal Administration, University of Indonesia. He is active in the Forum Lenteng and has been the director of the ARKIPEL since 2013. He has been a producer for films produced by the Lenteng Forum, including Golden Memories: Petite histoire of Indonesian Cinema (2018), Om Pius… This is My Home Come the Sleeping (2019), Dolo (2021). Together with I Gde Mika, he served as the director of the films Kelana Citra Jakarta (2021) and Segudang Wajah Penantang Masa Depan (2022).
Annissa Winda Larasati is the author of Memaksa Ibu Jadi Hantu, a book that explores the horror of mothers in Indonesian horror films from 1970 to 2020. She is currently pursuing her first-year doctoral studies at The University of Auckland, researching Indonesian female horror directors in a male-dominated film industry and precarity.
PANEL 03
Presented by
- VAN LUBER PARENSEN
- SYARIFA AMIRA SATRIOPUTRI
- VOLTA JONNEVA
Estetika Lingkungan: Keterhubungan Masyarakat, Seni, dan Ekologi
Dalam kuliahnya berjudul Posthuman Knowledge (2019, Harvard), Rosi Braidotti mengajak kita melihat kondisi dunia kontemporer yang berada di antara dua ujung ekstrem: ledakan pengetahuan era industri keempat dan ancaman kepunahan keenam. Keduanya dipicu oleh pertumbuhan teknologi dan ekonomi yang berjalan dalam sirkuit eksploitasi yang semakin dalam.
“Kita berada dalam situasi ini bersama-sama, tetapi kita bukan satu dan sama,” adalah kutipan penutupnya. Kalimat tersebut menjadi landasan bagi diskusi ini—sebuah ajakan untuk melihat bagaimana krisis iklim memengaruhi kita secara tidak merata, meskipun kita terlibat dalam jejaring yang saling terhubung dan tak terhindarkan.
Salah satu wajah dari kapitalisme akhir adalah krisis lingkungan. Perubahan iklim telah menjadi realitas sehari-hari yang sering kali tidak tampak secara langsung, tetapi dapat dirasakan secara fisik melalui banjir, kekeringan, dan pencemaran. Dalam lanskap ini, praktik seni hadir bukan hanya sebagai respons, tapi juga sebagai metode investigasi dan intervensi.
Panel ini ingin menggali bagaimana para seniman dan peneliti mendekati persoalan krisis lingkungan, khususnya melalui perspektif posthuman, keterjeratan ekologi, dan politik air. Air, sebagaimana dikatakan Erik Swyngedouw, bukan sekadar benda, melainkan proses yang mencerminkan aliran kekuasaan, ekonomi, dan sejarah.
Dengan berfokus pada praktik lintas disiplin, panel ini akan mengeksplorasi bagaimana estetika, suara, dan pendekatan berbasis tempat dapat merespons kompleksitas krisis iklim dan menawarkan bentuk-bentuk baru dari tanggung rasa dan solidaritas planet.
Environmental Aesthetics: The Interconnection of Society, Art, and Ecology
In her lecture Posthuman Knowledge (Harvard, 2019), Rosi Braidotti invites us to recognize the condition of the contemporary world as suspended between two extremes: the explosion of knowledge generated by the Fourth Industrial Revolution and the looming threat of a Sixth Extinction. Both trajectories, she argues, are propelled by the relentless growth of technology and economy, advancing through ever-deepening circuits of exploitation.
“We are in this together, but we are not one and the same,” she concludes. This statement provides the point of departure for the present discussion—an invitation to consider how the climate crisis affects us unevenly, even as we are enmeshed in networks of interconnection that are at once inescapable and asymmetrical.
One of the defining faces of late capitalism is the environmental crisis. Climate change has become a quotidian reality—often imperceptible to the eye, yet materially palpable in the form of floods, droughts, and pollution. Within this fraught landscape, artistic practice emerges not merely as a form of response, but also as a mode of investigation and intervention.
This panel seeks to probe how artists and researchers engage with the environmental crisis, particularly through the prisms of posthumanism, ecological entanglement, and the politics of water. As Erik Swyngedouw reminds us, water is not simply an object but a process—one that embodies flows of power, economy, and history.
By foregrounding cross-disciplinary practices, the panel will explore how aesthetics, sound, and place-based approaches may grapple with the complexities of the climate crisis and open up new forms of planetary responsibility, affective attunement, and solidarities to come.
Biografi Panelis / Panelists’ Biography
Van Luber Parensen (lahir di Sumatra Barat, 1987) adalah seorang seniman dan sineas yang berbasis di Jakarta. Karya-karyanya, yang mencakup film, seni suara, dan seni rupa, telah ditampilkan di berbagai festival internasional. Pada tahun 2024, ia menjalani residensi seniman di Festival Bangsal Menggawe, Lombok, bekerja sama dengan Sigisora.
Syarifa Amira Satrioputri (2000, Jakarta) adalah pengamat geologi dan seniman multidisiplin. Ia lulus dari jurusan geologi Universitas Indonesia dan aktif mengkaji isu antroposen lewat pemetaan interdisiplin. Penelitiannya tentang lingkungan pengendapan akibat pintu air Manggarai dipamerkan di Zone2Source, Belanda bersama milisifilem. Sekarang ia membangun platform alternatif Geology made Punk (GMP) untuk mengkritisi keilmuan geologi dan menulis tentang film dan lingkungan.
Volta Jonneva, aktif sebagai salah satu anggota Komunitas Gubuak Kopi. Pada tahun 2021 menerbitkan buku kritik film “Harimau Tjampa” Bersama Kultur Sinema yang diinisiasi oleh Forum Lenteng, Jakarta. Pada tahun 2022 sebagai direktur Tenggara Festival dan juga terlibat pameran Local in the Making di Seoul, Korea Selatan bersama Komunitas Gubuak Kopi.
Van Luber Parensen (born West Sumatra, 1987) is a Jakarta-based artist and filmmaker. His works, spanning film, sound art, and visual art, have been presented at various international festivals. In 2024, he undertook an artist residency at Festival Bangsal Menggawe, Lombok, in collaboration with Sigisora.
Syarifa Amira Satrioputri (2000, Jakarta) is a geologist and multidisciplinary artist. She graduated from the University of Indonesia with a degree in geology and actively studies Anthropocene issues through interdisciplinary mapping. Her research on the sedimentary environment caused by the Manggarai floodgate was exhibited at Zone2Source in the Netherlands with Milisifilm. She is currently building the alternative platform Geology made Punk (GMP) to critique geological scholarship and write about film and the environment.
Volta Jonneva is an active member of the Gubuak Kopi Community. In 2021, he published a film critique of “Harimau Tjampa” (Tiger of Tjampa) with Kultur Sinema, an initiative of Forum Lenteng, Jakarta. In 2022, he served as director of the Tenggara Festival and was also involved in the Local in the Making exhibition in Seoul, South Korea, with the Gubuak Kopi Community.
PANEL 04
Presented by
- HARDIWAN PRAYOGO
- LESTARI
- KAZUKI NIIYA
Komunitas, Estetika Bahaya, dan Praktik Kreatif sebagai Perlawanan
Pada peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA)—sebuah tonggak sejarah solidaritas Global South yang menjanjikan dunia alternatif dari bawah—kita justru hidup dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh kapitalisme digital, kekuasaan negara yang makin tersembunyi, serta estetika yang menyesuaikan diri dengan kontrol. Dalam konteks ini, Festival ARKIPEL melalui tema “Years of Living Dangerously” menyoroti bagaimana bahaya tidak lagi hadir sebagai ledakan ekstrem, melainkan sebagai keteraturan yang terasa wajar: algoritma, sensor diam-diam, arsip yang dimutilasi, dan estetika “aman” yang menghapus kemungkinan perlawanan.
Diskusi panel ini bertolak dari kesadaran bahwa komunitas hari ini beroperasi dalam lanskap yang menantang. Mereka tidak sekadar memproduksi karya, melainkan membentuk medan alternatif untuk merawat ingatan, menolak penghapusan, dan menciptakan ruang solidaritas yang efektif. Cinemartani, Arungkala, Eiganabe adalah contoh dari praktik komunitas yang menolak menjadi “museum”. Mereka bekerja dengan luka yang tidak selesai, arsip yang tak diakui, dan tubuh-tubuh yang dianggap menyimpang—untuk menciptakan estetika kecil yang justru memiliki dampak besar.
Dengan latar belakang sejarah seperti KAA, diskusi ini mengajak kita merenungkan ulang bentuk solidaritas saat ini. Jika KAA mengandalkan pertemuan antarnegara, bagaimana kita membayangkan ulang solidaritas hari ini melalui praktik komunitas lintas identitas, lintas luka, dan lintas medium? Bagaimana komunitas—yang sering diasumsikan sebagai “pinggiran”—justru menjadi pusaran-pusaran kecil bagi upaya membangun dunia yang lebih adil melalui kerja artistik, pengarsipan, dan penciptaan ruang alternatif?
Community, Aesthetics of Danger, and Creative Practices as Resistance
On the seventieth anniversary of the Bandung Conference—a historic milestone of Global South solidarity that once envisioned an alternative world from below—we find ourselves instead inhabiting a world increasingly fragmented by digital capitalism, obscured forms of state power, and aesthetic regimes that adjust themselves to mechanisms of control. Within this context, ARKIPEL Festival, through its theme Years of Living Dangerously, foregrounds how danger no longer manifests as spectacular eruptions, but rather as a normalized order: algorithms, silent censorship, mutilated archives, and “safe” aesthetics that erase the very possibility of resistance.
This panel departs from the recognition that communities today operate within such a fraught landscape. Their practices extend beyond the production of works; they constitute alternative fields through which memory is preserved, erasure is resisted, and spaces of solidarity are actively created. Cinemartani, Arungkala, and Eiganabe exemplify community practices that refuse to ossify into “museums.” They work with wounds that remain unhealed, archives that are unacknowledged, and bodies marked as deviant—fashioning modest aesthetics that nonetheless exert profound impact.
Against the historical backdrop of Bandung, this discussion calls for a rethinking of solidarity in the present. If the Bandung Conference relied upon inter-state encounters, how might we reimagine solidarity today through practices that traverse identities, wounds, and media alike? How might communities—so often relegated to the “margins”—instead be understood as dynamic sites where artistic labor, archival practices, and the creation of alternative spaces converge to generate small yet potent vortices in the struggle for a more just world?
Biografi Panelis / Panelists’ Biography
Hardiwan Prayogo merupakan pekerja seni dari Jogja yang tergabung dalam kolektif film Cinemartani. Ia menjadi salah satu programmer Festival Film Dokumenter (FFD) tahun 2019 & 2022. Pada 2019 menjadi salah satu grantees Asia-Europe Foundation (ASEF) untuk berkunjung ke Manila, Filipina, melakukan riset yang bertajuk “Re-definition from the Bottom”. Tahun 2018-2021, bekerja sebagai arsiparis di Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Pada tahun 2023-2024 terlibat dalam berbagai program residensi seperti Minikino X Toko Seniman di Denpasar, Bali, Crack International Art Camp di Kushtia, Bangladesh dan Rimbun Dahan Southeast Asian Arts Residency di Selangor, Malaysia. Tahun 2024 menjadi kurator Taman Budaya Embung Giwangan dan Pameran Catatan Sinema #1 Kotabaru Heritage Film Festival. Pada tahun 2025 ini menjadi manajer program di Pendhapa Art Space.
Lestari merupakan seniman dan peneliti, selama beberapa tahun terakhir ia mendalami riset artistik seputar ingatan kolektif serta relasinya dengan sejarah gestur dan gerak tubuh. Bersama Kolektif Arungkala, Lestari menginisiasi riset sejarah alternatif dalam ragam wahana dan pendekatan.
Kazuki Niiya adalah co-direktur Eiganabe (Independent Cinema Guild). Peneliti gerakan sinema Amerika Latin, dengan fokus pada Chile dan Kuba. Juga terlibat dalam pemutaran film, kritik, dan komite seleksi festival film, seperti Yamagata International Documentary Film Festival.
Hardiwan Prayogo is a cultural activist from Yogyakarta who is part of the Cinemartani film collective. He was one of the programmers for the Documentary Film Festival (FFD) in 2019 and 2022. In 2019, he was one of the grantees of the Asia-Europe Foundation (ASEF) to visit Manila, Philippines, to conduct research entitled “Re-definition from the Bottom.” From 2018 to 2021, he worked as an archivist at the Indonesian Visual Art Archive (IVAA). In 2023-2024, he was involved in various residency programs such as Minikino X Toko Seniman in Denpasar, Bali, Crack International Art Camp in Kushtia, Bangladesh, and Rimbun Dahan Southeast Asian Arts Residency in Selangor, Malaysia. In 2024, he became the curator of Taman Budaya Embung Giwangan and the Catatan Sinema #1 Kotabaru Heritage Film Festival exhibition. In 2025, he became the program manager at Pendhapa Art Space.
Lestari is an artist and researcher who, over the past few years, has been exploring artistic research on collective memory and its relationship with the history of gestures and body movements. Together with the Arungkala Collective, Lestari has initiated alternative historical research in various media and approaches.
Kazuki Niiya is co-director of Eiganabe (Independent Cinema Guild). Researcher of Latin American film movements, with a focus on Chile and Cuba. Also involved in film screenings, criticism, and selection committees of film festivals, like the Yamagata International Documentary Film Festival.
PANEL 05
Presented by
- OTTY WIDASARI
- THE OTOLITH GROUP
Pedagogi Kritis dan Aliansi Baru – Percakapan The Otolith Group dengan Forum Lenteng
Sejarah pendidikan modern di negara-negara pascakolonial tidak pernah steril dari warisan politik global. Kurikulum, metodologi, dan bahkan cara berpikir yang ditanamkan melalui sistem formal sering kali masih menyisakan dominasi pengetahuan Barat, yang secara laten mengulang hierarki kolonial: yang “mapan” mendikte yang “terbelakang”, yang “ilmiah” menegasikan yang “mistis”, dan yang “modern” menghapus yang “lokal”. Dalam lanskap ini, pedagogi menjadi bukan sekadar instrumen belajar, tetapi medan kontestasi ideologi.
Otty Widasari, lewat Milisifilem Collective di Forum Lenteng, menunjukkan bahwa pedagogi bisa lahir dari basis komunitas, spekulasi, dan imajinasi kritis. Kelas ini mengusik kanon Barat dan melacak bagaimana budaya populer, mistisisme lokal, dan pengalaman kolonial mewarnai imajinasi generasi. Dengan metode ini, pedagogi hadir bukan sebagai jalur transfer pengetahuan tunggal, melainkan sebagai laboratorium interpretasi dan perlawanan, yang membuka ruang spekulasi terhadap sejarah dan realitas hari ini.
Sementara itu, The Otolith Group (Anjalika Sagar dan Kodwo Eshun) melalui Department of Xenogenesis (DXG) membangun sebuah akademi nomaden transnasional yang bersandar pada pemikiran spekulatif Octavia Butler. Dengan mengadopsi konsep xenogenesis (kelahiran dari yang asing), DXG menolak garis lurus sejarah dan kronologi universitas formal, lalu menawarkan metode belajar melalui kosmologi gambar, suara, narasi fiksi ilmiah, feminisme kulit hitam, dan praktik inhumanisme serta posthumanisme. DXG membayangkan sebuah kurikulum tak-beraliansi (non-aligned curriculum) yang meresonansi cita-cita Gerakan Non-Blok dan Konferensi Asia-Afrika 1955: membangun solidaritas pengetahuan di luar orbit dominasi akademik Barat.
Pertemuan keduanya dalam panel ini akan menimbang pedagogi kritis sebagai bentuk aliansibaru: suatu strategi pendidikan yang tak lagi tunduk pada akademia formal, melainkan berakar pada komunitas, spekulasi, fiksi, arsip kolonial, hingga imajinasi masa depan. Pertanyaan yang mungkin dieksplorasi: bagaimana membangun perangkat belajar yang memungkinkan Global Selatan menulis ulang sejarahnya sendiri, menghubungkan mitos dan sains, pengalaman lokal dan solidaritas transnasional?
Forum Festival ARKIPEL melalui panel ini hendak membuka percakapan tentang bagaimana pendidikan alternatif dapat menjadi proyek politik Global Selatan: sebuah pedagogi yang tidak hanya mengajarkan, tetapi juga menantang, meretas, dan merancang kembali horizon pengetahuan bersama—sebagai langkah membangun aliansi baru di era pascakolonial dan krisis global hari ini.
Panel 5: Critical Pedagogy and New Alliances – The Otolith Group in Conversation with Forum Lenteng
The history of modern education in postcolonial countries has never been free from the legacy of global politics. Curricula, methodologies, and even modes of thinking instilled through formal systems often still carry the dominance of Western knowledge, which implicitly repeats colonial hierarchies: the “established” dictates the “backward,” the “scientific” negates the “mystical,” and the “modern” erases the “local.” Within this landscape, pedagogy becomes not merely a tool of learning, but a contested site of ideology.
Otty Widasari, through the Milisifilem Collective at Forum Lenteng, demonstrates that pedagogy can emerge from a foundation of community, speculation, and critical imagination. This class unsettles the Western canon and traces how popular culture, local mysticism, and colonial experience shape generational imagination. In this method, pedagogy is not a one-way transfer of knowledge, but a laboratory of interpretation and resistance—opening space for speculative engagement with history and contemporary reality.
Meanwhile, The Otolith Group (Anjalika Sagar and Kodwo Eshun), through the Department of Xenogenesis (DXG), have built a transnational nomadic academy grounded in the speculative thought of Octavia Butler. By adopting the concept of xenogenesis (birth from the alien), DXG rejects the linearity of history and the chronology of the formal university, offering instead a mode of learning through cosmologies of images, sounds, science-fiction narratives, Black feminism, and practices of inhumanism and posthumanism. DXG envisions a non-aligned curriculum that resonates with the ideals of the Non-Aligned Movement and the 1955 Bandung Conference: building solidarity of knowledge beyond the orbit of Western academic domination.
The meeting of these two approaches in this panel considers critical pedagogy as a form of new alliance: an educational strategy no longer bound to formal academia, but rooted in community, speculation, fiction, colonial archives, and future imaginaries. The questions that may be explored include: how can we construct learning frameworks that allow the Global South to rewrite its own history, to connect myth and science, local experiences and transnational solidarity?
Through this panel, Forum Festival ARKIPEL seeks to open a conversation on how alternative education can become a political project of the Global South: a pedagogy that not only teaches, but also challenges, hacks, and reimagines the horizon of shared knowledge—as a step toward building new alliances in the postcolonial era and today’s global crises.
Biografi Panelis / Panelists’ Biography
Otty Widasari (1973, Balikpapan, Indonesia) seorang seniman, kurator, pembuat filem, penulis, pendidik dan salah satu pendiri organisasi yang berbasis di Jakarta, Forum Lenteng —organisasi nirlaba egaliter yang berdiri tahun 2003 dan fokus di bidang media, seni, dan sinema. Otty menjadi inisiator dan pemimpin Akumassa, sebuah proyek kolaborasi bersama komunitas-komunitas di berbagai daerah di Indonesia dalam produksi informasi berbasis warga. Otty juga menjadi kurator filem dan kepala selektor pada Arkipel – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival. Saat ini, aktivitasnya bersama Milisifilem Collective menelurkan strategi-strategi pedagogi dan kuratorial baru merespon wacana geopolitik di sepanjang sejarah, seperti Proyek Minke dan Proyek Gabo. Karya-karya seninya telah dipresentasikan di berbagai perhelatan seni rupa nasional maupun internasional.
The Otolith Group didirikan oleh seniman dan teoretikus Anjalika Sagar dan Kodwo Eshun pada tahun 2002. Entitas anatomis otolith beroperasi sebagai semacam black box figuratif untuk menahan intensi dan menghitung perbedaan. Mengartikulasikan gagasan tentang Otolith bersama dengan gagasan tentang Group merujuk pada sejarah praktik kolektif yang diciptakan oleh para seniman yang berteori dan para teoretikus yang mempraktikkan seni, baik di dalam maupun di luar Inggris. Praktik pasca-sinematik Eshun dan Sagar diinformasikan oleh estetika esai yang mengambil bentuk science fiction of the present, di mana gambar bergerak, spekulasi sonik, pertunjukan, publikasi, dan instalasi mengeksplorasi krisis intertemporal dan bencana interskalar yang membentuk kondisi Techno Feudal masa kini. Selama lebih dari 20 tahun, The Otolith Group telah memamerkan karya-karya mereka secara internasional. The Otolith Collective adalah platform publik yang selama 15 tahun terakhir telah mengkurasi pameran, menyelenggarakan acara, diskusi, dan lokakarya.
Otty Widasari (1973, Balikpapan, Indonesia) is an artist, curator, filmmaker, writer, educator, and one of the founders of the Jakarta-based organization Forum Lenteng—an egalitarian non-profit established in 2003 focusing on media, art, and cinema. Otty is the initiator and leader of Akumassa, a collaborative project with communities across Indonesia that produces citizen-based information. She also serves as a film curator and head selector for Arkipel – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival. Currently, through her work with Milisifilem Collective, she develops new pedagogical and curatorial strategies in response to geopolitical discourses throughout history, such as the Minke Project and the Gabo Project. Her artworks have been presented in various national and international art events.
The Otolith Group was founded by artists and theorists Anjalika Sagar and Kodwo Eshun in 2002. The anatomical entity of the otolith operates as a kind of figurative black box for withholding intention and calculating discrepancy. Articulating the idea of the Otolith with the idea of the Group alludes to the histories of collective practices invented by artists that theorise and theorists that practice art within and beyond the United Kingdom. The post-cinematic practice of Eshun and Sagar is informed by an aesthetics of the essayistic that takes the form of a science fiction of the present in which moving images, sonic speculations, performances, publications and installations explore the intertemporal crises and interscalar catastrophes that construct the Techno Feudal present. The Otolith Group have been exhibiting their work internationally for over 20 years. The Otolith Collective is a public platform that curates exhibitions, holds events, discussions and workshops for the last 15 years.
© 2026 Forum Lenteng. All rights reserved.
ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival
Website: arkipel.id · Layout: tooftolenk
Powered by WordPress.com



