ARKIPEL

Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Forum Festival melibatsertakan seniman, kritikus, cendekiawan, dan praktisi dalam diskusi panel dan meja bundar yang mengkaji peran sinema kontemporer dalam masyarakat. Segmen ini mengedepankan dialog, refleksi kritis, dan pertukaran lintas disiplin untuk menantang dan memikirkan kembali batasan praktik dokumenter dan eksperimental.

Setiap tahun, Festival Forum secara konseptual selaras dengan tema utama ARKIPEL, berfungsi sebagai ruang diskursif yang memperluas kerangka kuratorial festival ke dalam percakapan publik. Diskusi, presentasi, dan pertukaran yang dikembangkan dalam segmen ini secara langsung menanggapi keprihatinan tematik yang dieksplorasi oleh festival.

Pada tahun 2025, Festival Forum mengadopsi “Years of Living Dangerously” sebagai payung tematiknya, membentuk serangkaian dialog yang meneliti implikasi budaya, politik, dan estetika dari tema tersebut dalam praktik gambar bergerak kontemporer.


Presented by

RONNY AGUSTINUS

Ronny Agustinus (lahir di Malang, 24 Agustus 1976) adalah seorang seniman, penerjemah, dan penerbit yang memiliki kontribusi yang beragam dalam dunia seni, sastra, dan penerbitan di Indonesia. Ia adalah salah satu pendiri kolektif seni Ruangrupa, pendiri penerbit Marjin Kiri, dan telah aktif sebagai penerjemah buku-buku Amerika Latin. Selain itu, ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan juri di festival film dokumenter dan eksperimental, serta memiliki peran internasional dalam jaringan penerbitan. Ia telah menerbitkan buku pertamanya pada tahun 2021 berjudul Macondo, Para Raksasa, dan Lain-Lain Hal Seputar Sastra Amerika Latin.


Presented by

  • ENOKA AYEMBA
  • YONRI REVOLT
  • ESHA TEGAR

Bahasa Vernakular dalam Geopolitik Global

Nyaris niscaya, dengan meletakan negara sebagai aktor tertinggi di satu teritori, politik global mampu melintas keluar-masuk membawa pengaruh, teknologi, dan kebudayaan. Kontestasi antarnegara akhirnya menarik keseluruhan elemen ruang secara paksa ke dalam medan wacana geopolitik global. Motif mendominasi negara pun mencabut agensi ruang, guna mengekstrak kekayaan apa pun yang terkandung di dalamnya. Interaksi ini mengintervensi kenyataan di wilayah politik terendah, kenyataan umum tempat masyarakat terbingkai ‘dunia ketiga’ berkeseharian di luar keaktoran suatu negara. Ia melahirkan bahasa yang dibentuk dari pencampuran daya ungkap sang natif di bawah doktrin sang asing, endapan bahasa yang beroperasi melampaui definisi asli induk bahasanya, bahasa vernakular.

Membaca vernakularitas dari posisi hari ini ialah suatu pencaharian akan perspektif lain untuk mengkritisi dunia yang konon “setara”. Bahasa ini membawa endapan ratusan tahun proyek kolonialisme Barat dan sekian dekade periode kemerdekaan dunia ketiga hingga lekat dalam ruang dan penghuni suatu lokasi. Ungkapan yang masih bertahan dan berjalan mewakilkan segenggam imajinasi untuk menanggapi bahaya-bahaya di waktu kini. Situasi di mana Aktor tinggi semakin menjauh dari medan tempur dan bergerak di ranah sanksi ekonomi, misil jarak jauh, hingga kendali informasi siber. Keambangan pendudukan asing ini menciptakan situasi ruang yang senantiasa terancam, lantaran sumbernya seolah tak terlacak lagi. Lewat vernakularitas, jejak sang pelaku boleh jadi masih tersisa dalam hikayat pembentukannya.

Seperti teritori, film juga tidak luput dari pengaruh bentangan isu, disiplin ilmu, juga aktivisme yang berada di luar asumsi “netralitas perangkat penangkap kenyataan”. Posisinya sebagai aparatus penghasil bahasa tetap dipengaruhi oleh bagasi penggunanya yang, bila ia seorang natif, akan menginterpretasi alat asing ini menurut kenyataannya sendiri.

Forum Festival ARKIPEL secara runut telah melakukan pembacaan bahasa vernakular, mulai dari ‘sebagai kemungkinan bahasa’ pada 2021 (Twilight Zone), hingga ‘sebagai retasan teknologi’ di 2024 (Garden of Earthly Delights). Dari pengalaman tersebut, Forum Festival kali ini ingin kembali memosisikan bahasa sebagai akses masuk dalam kenyataan milik dunia ketiga sembari menimbang peran indisipliner sebagai sejenis hibriditas tersendiri. Niscaya analisa terhadap keberadaan dan konfigurasi bahasa ini dapat dijadikan suatu proposal bersama untuk melanjutkan cita-cita Global Selatan di bawah tantangan yang lebih kontemporer.


Biografi Panelis / Panelists’ Biography

Enoka Ayemba merupakan kurator film dan konsultan festival yang berfokus pada sinema Afrika dan diaspora Afrika serta gerakan anti-kolonial. Antara tahun 2019 dan 2022, ia bekerja sebagai konsultan untuk Berlinale Forum, ikut mengkurasi seri program »Fiktionsbescheinigung« (Fiction Certification). Pada 2023, ia mengkurasi program film Borders in the Middle: Migration and its Perspectives in German Film bersama Biene Pilavci, untuk Filmhaus Nürnberg. Saat ini, ia merupakan anggota komite seleksi untuk Festival Film Pan-Afrika (FESPACO) di Ouagadougou, Burkina Faso.

Yonri Revolt merupakan seorang pembuat film, jurnalis, dan aktivis yang berbasis di Papua. Bersama Yoikatra, sebuah kolektif yang ia dirikan di Timika, Papua, Yonri telah membuat beberapa film yang membicarakan aktivisme, kolonial, dan budaya. Filmnya, Mayday! May Day! Mayday! (2022), diputar perdana secara internasional di IFFR 2023 dan memenangkan Peransi Award di Arkipel—International Documentary and Experimental Film Festival 2022. Film terbarunya, The Silent Path (2024) diputar perdana secara internasional di IFFR 2024, memenangkan Film Panjang Indonesia Terbaik di FFD Yogyakarta 2024, dan masuk official selection New Asian Current Yamagata International Documentary Festival 2025.

Esha Tegar Putra adalah sastrawan asal Minangkabau, Sumatera Barat. Ia menulis puisi, prosa, naskah drama, dan catatan seni-budaya. Ia pernah bekerja sebagai peneliti di Komisi Arsip dan Koleksi Dewan Kesenian Jakarta dan menjadi kurator untuk beberapa pameran arsip terkait sejarah seni. Kini ia sedang menyelesaikan studi S3 di Departemen Susastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.


Presented by

  • YUKI ADITYA
  • ANNISSA WINDA LARASATI

Politik Citra Film Klasik Indonesia

Sinema memiliki kekuatan penyebaran informasi yang masif dalam mengonstruksi cerita, hiburan, informasi, maupun pengetahuan. Sebagai alat penyebar pesan yang begitu kuat, ia mampu menciptakan citra-citra tertentu bagi para penontonnya. Potensi sinema yang besar ini sudah barang tentu dimanfaatkan oleh negara untuk kepentingan politisnya, termasuk Indonesia. Pengaruh kuasa negara mampu menjangkau di hampir semua aspek lini perfilman. Penentuan regulasi produksi, kanonisasi tokoh, hingga penulisan narasi sejarah perfilman Indonesia membentuk satu bungkusan utuh tentang citra bangsa melalui sinema.

Penggunaan sinema sebagai alat yang politis bisa dilihat dari kebijakan sensor yang pernah dikeluarkan oleh pemerintah, sehingga membuat produksi film-film di Indonesia menjadi ketat. Konstruksi gambar yang dibuat berada dalam pengawasan negara dan para sineas tidak bisa sembarangan memproduksi film. Di sinilah potret representasi masyarakat Indonesia dibentuk dan dimodifikasi dalam film. Para sineas mencari celah yang aman untuk memproduksi film dan tetap sesuai dengan kaidah regulasi yang dikeluarkan dari pemerintah. Representasi itu kemudian membentuk pandangan masyarakat terhadap figur tertentu yang dimunculkan di film.

Berbicara tentang figur, film Indonesia tidak pernah lepas dari genre film horor. Banyaknya sosok hantu perempuan di Indonesia kini menimbulkan pertanyaan, mengapa harus perempuan yang menjadi hantu. Melalui panel ini, rasanya penting untuk membaca figur representasi, maupun kebijakan dapat memengaruhi estetika dan berdampak terhadap sinema kontemporer.   

Bila mengacu pada Darah dan Doa (1950)yang disebut sebagai film Indonesia pertama, maka umur sinema Indonesia sudah menyentuh 75 tahun. Dalam kurun waktu 75 tahun ini, citra yang terbentuk dan didominasi berusaha untuk direfleksikan dan dikritisi kembali hari ini. Usaha untuk memunculkan bacaan-bacaan baru masih terus dilakukan. Penyebaran pengetahuan atas bacaan citra perfilman Indonesia dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, seperti kajian akademik terhadap representasi gender dalam film, penelitian akademik terhadap kebijakan film di suatu era, hingga strategi artistik membuat film tentang film Indonesia untuk menciptakan narasi sejarah alternatif.

Berangkat dari tema ARKIPEL tahun ini, Years of Living Dangerously, panel ini berusaha membicarakan upaya preservasi dan pembacaan atas film klasik dalam konteks waktunya (rezim, sosial-politik, budaya, dll.), juga dalam konteks sekarang, ketika infrastruktur untuk film klasik masih harus dibenahi dan ketika film klasik dianggap sebagai bagian dari sejarah dalam membentuk identitas dan sinema masa kini.


Biografi Panelis / Panelists’ Biography

Yuki Aditya (Jakarta, 1981) adalah pegiat kebudayaan. Lulusan Jurusan Administrasi Fiskal, Universitas Indonesia. Aktif berkegiatan di Forum Lenteng dan sejak tahun 2013 menjadi Direktur ARKIPEL. Ia menjadi produser dalam film-film yang diproduksi oleh Forum Lenteng; Golden Memories: Petite histoire of Indonesian Cinema (2018), Om Pius…This is My Home Come the Sleeping (2019), Dolo (2021). Bersama I Gde Mika berperan sebagai realisator dalam film Kelana Citra Jakarta (2021) dan Segudang Wajah Penantang Masa Depan (2022).

Annissa Winda Larasati  adalah penulis buku Memaksa Ibu Jadi Hantu, yang membahas diskursus maternal horror dalam film horor Indonesia pada periode 1970–2020. Saat ini ia sedang menempuh studi doktoral tahun pertamanya di The University of Auckland dengan penelitian mengenai sutradara horor perempuan Indonesia dalam industri film yang didominasi laki-laki dan prekariasi.


Presented by

  • VAN LUBER PARENSEN
  • SYARIFA AMIRA SATRIOPUTRI
  • VOLTA JONNEVA

Estetika Lingkungan: Keterhubungan Masyarakat, Seni, dan Ekologi

Dalam kuliahnya berjudul Posthuman Knowledge (2019, Harvard), Rosi Braidotti mengajak kita melihat kondisi dunia kontemporer yang berada di antara dua ujung ekstrem: ledakan pengetahuan era industri keempat dan ancaman kepunahan keenam. Keduanya dipicu oleh pertumbuhan teknologi dan ekonomi yang berjalan dalam sirkuit eksploitasi yang semakin dalam.

“Kita berada dalam situasi ini bersama-sama, tetapi kita bukan satu dan sama,” adalah kutipan penutupnya. Kalimat tersebut menjadi landasan bagi diskusi ini—sebuah ajakan untuk melihat bagaimana krisis iklim memengaruhi kita secara tidak merata, meskipun kita terlibat dalam jejaring yang saling terhubung dan tak terhindarkan.

Salah satu wajah dari kapitalisme akhir adalah krisis lingkungan. Perubahan iklim telah menjadi realitas sehari-hari yang sering kali tidak tampak secara langsung, tetapi dapat dirasakan secara fisik melalui banjir, kekeringan, dan pencemaran. Dalam lanskap ini, praktik seni hadir bukan hanya sebagai respons, tapi juga sebagai metode investigasi dan intervensi.

Panel ini ingin menggali bagaimana para seniman dan peneliti mendekati persoalan krisis lingkungan, khususnya melalui perspektif posthuman, keterjeratan ekologi, dan politik air. Air, sebagaimana dikatakan Erik Swyngedouw, bukan sekadar benda, melainkan proses yang mencerminkan aliran kekuasaan, ekonomi, dan sejarah.

Dengan berfokus pada praktik lintas disiplin, panel ini akan mengeksplorasi bagaimana estetika, suara, dan pendekatan berbasis tempat dapat merespons kompleksitas krisis iklim dan menawarkan bentuk-bentuk baru dari tanggung rasa dan solidaritas planet.


Biografi Panelis / Panelists’ Biography

Van Luber Parensen (lahir di Sumatra Barat, 1987) adalah seorang seniman dan sineas yang berbasis di Jakarta. Karya-karyanya, yang mencakup film, seni suara, dan seni rupa, telah ditampilkan di berbagai festival internasional. Pada tahun 2024, ia menjalani residensi seniman di Festival Bangsal Menggawe, Lombok, bekerja sama dengan Sigisora.

Syarifa Amira Satrioputri (2000, Jakarta) adalah pengamat geologi dan seniman multidisiplin. Ia lulus dari jurusan geologi Universitas Indonesia dan aktif mengkaji isu antroposen lewat pemetaan interdisiplin. Penelitiannya tentang lingkungan pengendapan akibat pintu air Manggarai dipamerkan di Zone2Source, Belanda bersama milisifilem. Sekarang ia membangun platform alternatif Geology made Punk (GMP) untuk mengkritisi keilmuan geologi dan menulis tentang film dan lingkungan.

Volta Jonneva, aktif sebagai salah satu anggota Komunitas Gubuak Kopi. Pada tahun 2021 menerbitkan buku kritik film “Harimau Tjampa” Bersama Kultur Sinema yang diinisiasi oleh Forum Lenteng, Jakarta. Pada tahun 2022 sebagai direktur Tenggara Festival dan juga terlibat pameran Local in the Making di Seoul, Korea Selatan bersama Komunitas Gubuak Kopi.


Presented by

  • HARDIWAN PRAYOGO
  • LESTARI
  • KAZUKI NIIYA

Komunitas, Estetika Bahaya, dan Praktik Kreatif sebagai Perlawanan

Pada peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA)—sebuah tonggak sejarah solidaritas Global South yang menjanjikan dunia alternatif dari bawah—kita justru hidup dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh kapitalisme digital, kekuasaan negara yang makin tersembunyi, serta estetika yang menyesuaikan diri dengan kontrol. Dalam konteks ini, Festival ARKIPEL melalui tema “Years of Living Dangerously” menyoroti bagaimana bahaya tidak lagi hadir sebagai ledakan ekstrem, melainkan sebagai keteraturan yang terasa wajar: algoritma, sensor diam-diam, arsip yang dimutilasi, dan estetika “aman” yang menghapus kemungkinan perlawanan.

Diskusi panel ini bertolak dari kesadaran bahwa komunitas hari ini beroperasi dalam lanskap yang menantang. Mereka tidak sekadar memproduksi karya, melainkan membentuk medan alternatif untuk merawat ingatan, menolak penghapusan, dan menciptakan ruang solidaritas yang efektif. Cinemartani, Arungkala, Eiganabe adalah contoh dari praktik komunitas yang menolak menjadi “museum”. Mereka bekerja dengan luka yang tidak selesai, arsip yang tak diakui, dan tubuh-tubuh yang dianggap menyimpang—untuk menciptakan estetika kecil yang justru memiliki dampak besar.

Dengan latar belakang sejarah seperti KAA, diskusi ini mengajak kita merenungkan ulang bentuk solidaritas saat ini. Jika KAA mengandalkan pertemuan antarnegara, bagaimana kita membayangkan ulang solidaritas hari ini melalui praktik komunitas lintas identitas, lintas luka, dan lintas medium? Bagaimana komunitas—yang sering diasumsikan sebagai “pinggiran”—justru menjadi pusaran-pusaran kecil bagi upaya membangun dunia yang lebih adil melalui kerja artistik, pengarsipan, dan penciptaan ruang alternatif?


Biografi Panelis / Panelists’ Biography

Hardiwan Prayogo merupakan pekerja seni dari Jogja yang tergabung dalam kolektif film Cinemartani. Ia menjadi salah satu programmer Festival Film Dokumenter (FFD) tahun 2019 & 2022. Pada 2019 menjadi salah satu grantees Asia-Europe Foundation (ASEF) untuk berkunjung ke Manila, Filipina, melakukan riset yang bertajuk “Re-definition from the Bottom”. Tahun 2018-2021, bekerja sebagai arsiparis di Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Pada tahun 2023-2024 terlibat dalam berbagai program residensi seperti Minikino X Toko Seniman di Denpasar, Bali, Crack International Art Camp di Kushtia, Bangladesh dan Rimbun Dahan Southeast Asian Arts Residency di Selangor, Malaysia. Tahun 2024 menjadi kurator Taman Budaya Embung Giwangan dan Pameran Catatan Sinema #1 Kotabaru Heritage Film Festival. Pada tahun 2025 ini menjadi manajer program di Pendhapa Art Space.

Lestari merupakan seniman dan peneliti, selama beberapa tahun terakhir ia mendalami riset artistik seputar ingatan kolektif serta relasinya dengan sejarah gestur dan gerak tubuh. Bersama Kolektif Arungkala, Lestari menginisiasi riset sejarah alternatif dalam ragam wahana dan pendekatan.

Kazuki Niiya adalah co-direktur Eiganabe (Independent Cinema Guild). Peneliti gerakan sinema Amerika Latin, dengan fokus pada Chile dan Kuba. Juga terlibat dalam pemutaran film, kritik, dan komite seleksi festival film, seperti Yamagata International Documentary Film Festival.


Presented by

  • OTTY WIDASARI
  • THE OTOLITH GROUP

Pedagogi Kritis dan Aliansi Baru – Percakapan The Otolith Group dengan Forum Lenteng

Sejarah pendidikan modern di negara-negara pascakolonial tidak pernah steril dari warisan politik global. Kurikulum, metodologi, dan bahkan cara berpikir yang ditanamkan melalui sistem formal sering kali masih menyisakan dominasi pengetahuan Barat, yang secara laten mengulang hierarki kolonial: yang “mapan” mendikte yang “terbelakang”, yang “ilmiah” menegasikan yang “mistis”, dan yang “modern” menghapus yang “lokal”. Dalam lanskap ini, pedagogi menjadi bukan sekadar instrumen belajar, tetapi medan kontestasi ideologi.

Otty Widasari, lewat Milisifilem Collective di Forum Lenteng, menunjukkan bahwa pedagogi bisa lahir dari basis komunitas, spekulasi, dan imajinasi kritis. Kelas ini mengusik kanon Barat dan melacak bagaimana budaya populer, mistisisme lokal, dan pengalaman kolonial mewarnai imajinasi generasi. Dengan metode ini, pedagogi hadir bukan sebagai jalur transfer pengetahuan tunggal, melainkan sebagai laboratorium interpretasi dan perlawanan, yang membuka ruang spekulasi terhadap sejarah dan realitas hari ini.

Sementara itu, The Otolith Group (Anjalika Sagar dan Kodwo Eshun) melalui Department of Xenogenesis (DXG) membangun sebuah akademi nomaden transnasional yang bersandar pada pemikiran spekulatif Octavia Butler. Dengan mengadopsi konsep xenogenesis (kelahiran dari yang asing), DXG menolak garis lurus sejarah dan kronologi universitas formal, lalu menawarkan metode belajar melalui kosmologi gambar, suara, narasi fiksi ilmiah, feminisme kulit hitam, dan praktik inhumanisme serta posthumanisme. DXG membayangkan sebuah kurikulum tak-beraliansi (non-aligned curriculum) yang meresonansi cita-cita Gerakan Non-Blok dan Konferensi Asia-Afrika 1955: membangun solidaritas pengetahuan di luar orbit dominasi akademik Barat.

Pertemuan keduanya dalam panel ini akan menimbang pedagogi kritis sebagai bentuk aliansibaru: suatu strategi pendidikan yang tak lagi tunduk pada akademia formal, melainkan berakar pada komunitas, spekulasi, fiksi, arsip kolonial, hingga imajinasi masa depan. Pertanyaan yang mungkin dieksplorasi: bagaimana membangun perangkat belajar yang memungkinkan Global Selatan menulis ulang sejarahnya sendiri, menghubungkan mitos dan sains, pengalaman lokal dan solidaritas transnasional?

Forum Festival ARKIPEL melalui panel ini hendak membuka percakapan tentang bagaimana pendidikan alternatif dapat menjadi proyek politik Global Selatan: sebuah pedagogi yang tidak hanya mengajarkan, tetapi juga menantang, meretas, dan merancang kembali horizon pengetahuan bersama—sebagai langkah membangun aliansi baru di era pascakolonial dan krisis global hari ini.


Biografi Panelis / Panelists’ Biography

Otty Widasari (1973, Balikpapan, Indonesia) seorang seniman, kurator, pembuat filem, penulis, pendidik dan salah satu pendiri organisasi yang berbasis di Jakarta, Forum Lenteng —organisasi nirlaba egaliter yang berdiri tahun 2003 dan fokus di bidang media, seni, dan sinema. Otty menjadi inisiator dan pemimpin Akumassa, sebuah proyek kolaborasi bersama komunitas-komunitas di berbagai daerah di Indonesia dalam produksi informasi berbasis warga. Otty juga menjadi kurator filem dan kepala selektor pada Arkipel – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival. Saat ini, aktivitasnya bersama Milisifilem Collective menelurkan strategi-strategi pedagogi dan kuratorial baru merespon wacana geopolitik di sepanjang sejarah, seperti Proyek Minke dan Proyek Gabo. Karya-karya seninya telah dipresentasikan di berbagai perhelatan seni rupa nasional maupun internasional.

The Otolith Group didirikan oleh seniman dan teoretikus Anjalika Sagar dan Kodwo Eshun pada tahun 2002. Entitas anatomis otolith beroperasi sebagai semacam black box figuratif untuk menahan intensi dan menghitung perbedaan. Mengartikulasikan gagasan tentang Otolith bersama dengan gagasan tentang Group merujuk pada sejarah praktik kolektif yang diciptakan oleh para seniman yang berteori dan para teoretikus yang mempraktikkan seni, baik di dalam maupun di luar Inggris. Praktik pasca-sinematik Eshun dan Sagar diinformasikan oleh estetika esai yang mengambil bentuk science fiction of the present, di mana gambar bergerak, spekulasi sonik, pertunjukan, publikasi, dan instalasi mengeksplorasi krisis intertemporal dan bencana interskalar yang membentuk kondisi Techno Feudal masa kini. Selama lebih dari 20 tahun, The Otolith Group telah memamerkan karya-karya mereka secara internasional. The Otolith Collective adalah platform publik yang selama 15 tahun terakhir telah mengkurasi pameran, menyelenggarakan acara, diskusi, dan lokakarya.


© 2026 Forum Lenteng. All rights reserved.
ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Website: arkipel.id · Layout: tooftolenk
Powered by WordPress.com