Tepuk Tangan Atas Urutannya
Curator: Ananta Wijayarana
Informasi, gambar, dan ide yang disediakan media sering kali menjadi sumber utama kesadaran masyarakat tentang masa lalu (sejarah) maupun peristiwa sosial politik terkini. Hal ini tidak hanya merujuk pada media massa konvensional, tetapi juga mencakup media sosial dan film. Semua bentuk media tersebut, dalam berbagai hal, berperan membentuk persepsi sekaligus mendefinisikan realitas sosial dan norma untuk kehidupan bersama. Ada yang menyebutnya cermin sosial, ada pula yang menganggapnya proyeksi sosial, bahkan sumber informasi. Lalu, bagaimana media membingkai peristiwa sosial? Pertanyaan inilah yang ingin dijajaki dalam kuratorial ini. Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mengonstruksi realitas.
Kuratorial ini menyoroti tahap-tahap bagaimana sebuah informasi dikonstruksi. Melalui 10×10÷25=4 (2024, Tiongkok) karya Mengzhuo Lian, kita memahami bahwa gagasan film terbentuk dari gambar dan suara. Penonton diajak menelanjangi komposisi pembentuk citra dan suara, hingga menyadari bahwa gagasan tersebut sejatinya sedang memotret situasi sosial kontemporer. Proses mendasar ini tentunya sudah dilewati oleh The Rain Will Weep (2025, Kroasia) karya Damir Čučić, yang menambahkan lapisan konteks peristiwa kekerasan yang direkam oleh warga. Lebih jauh lagi, The Gloria of Your Imagination (2024, Amerika Serikat) karya Jennifer T. Reeves menampilkan konstruksi informasi yang kian kompleks, terkait norma, struktur sosial, agenda media, hingga peran gender.
Berangkat dari bentuk dasar, 10×10÷25=4 memperlihatkan kerja media melalui sekuensi gambar dan audio. Gambar-gambar kecil muncul bertahap, membentuk bidang dan unit gagasan yang saling berkait. Dari situ lahir gagasan baru: media audiovisual sebagai konstruksi yang bersifat durasional dan komposisional. Unsur suara dalam film ini disederhanakan, ditempel langsung pada susunan gambar, tanpa harus menampilkan bagaimana suara-suara itu dikonstruksi secara setara.
Tahap berikutnya adalah penghadiran konteks peristiwa. Dalam The Rain Will Weep, sang pembuat film menggunakan filter gambar seragam pada seluruh shot. Film ini terdiri atas kompilasi video warga yang merekam kekerasan di berbagai waktu dan tempat. Umumnya, citra kekerasan menimbulkan kengerian bagi audiens. Media kerap mengurangi intensitasnya dengan sensor atau manipulasi gambar. Namun, pengurangan informasi tetap membawa konsekuensi. Film ini menunjukkan bahwa pemberian filter yang sama justru menyetarakan semua gambar, sehingga tingkat kekerasan pun ikut setara. Penerapan filter tersebut juga memberi jarak antara tayangan dan penonton, menghadirkan nuansa seolah-olah dunia game. Kehadiran lagu semakin mempertegas konstruksi tersebut: realitas direkam, ditransformasi, lalu melahirkan realitas kekerasan baru. Proses pengaburan sekaligus penegasan informasi inilah yang menunjukkan kerja pembingkaian media.
Pada tataran wacana, The Gloria of Your Imagination menyingkap bagaimana konstruksi itu merasuk ke benak penonton. Tubuh Gloria digambarkan sebagai kuil yang dipenuhi imajinasi ideal masyarakat konservatif, yang sejatinya bukan dirinya. Susunan montase memperlihatkan konflik batin Gloria terhadap citra diri yang dikonstruksi masyarakat. Kompleksitas film bertambah ketika pembuatnya menampilkan citra perempuan dari iklan, film, berita, dan media lain pada era 1960-an di Amerika, menegaskan betapa peran gender diatur oleh struktur sosial konservatif. Media, melalui pemilik dan agendanya, membentuk realitas baru bagi penontonnya. Sang pembuat film menampilkan represi terhadap perempuan melalui potret media dan dialog Gloria dengan tiga terapis laki-laki. Hubungan tidak seimbang ini memperlihatkan keterjebakan Gloria dalam struktur konservatif. Ia berusaha meraih kebebasan sebagai individu, sekaligus memenuhi perannya sebagai ibu. Kompleksitas semakin terasa ketika sesi personal Gloria dengan para terapis ternyata dipublikasikan, menjadikannya konsumsi publik.
Dari ketiga film tersebut, terlihat bagaimana media membentuk makna melalui konstruksi audiovisual dan narasi. Media menyusun kontennya dari realitas, tetapi sekaligus memodifikasi dan membengkokkannya lewat pembingkaian serta seleksi informasi—mana yang disebarkan, mana yang ditahan. Dengan demikian, media membingkai cara pandang masyarakat atas dunia. Realitas dan media saling bersinggungan, berinteraksi, dan saling memengaruhi satu sama lain.
Information, images, and ideas provided by the media often serve as the primary source of public awareness—whether about the past (history) or contemporary socio-political events. This refers not only to conventional mass media, but also to social media and film. In their various forms, media shape perception while simultaneously defining social reality and the norms of collective life. Some describe media as a social mirror, others as a projection, and still others as a source of information. But how, in fact, does media frame social events? This curatorial essay seeks to explore precisely that. For media does not merely convey information; it actively constructs reality.
This curatorial text traces the stages through which information is constructed. In 10×10÷25=4 (2024, China) by Mengzhuo Lian, we come to understand that a film’s idea emerges from the interplay of image and sound. The audience is invited to peel apart the composition of these elements, realizing that such ideas are, in fact, reflecting contemporary social realities. This fundamental process is further elaborated in The Rain Will Weep (2025, Croatia) by Damir Čučić, which adds a contextual layer by incorporating citizen-recorded images of violence. Extending this even further, Jennifer T. Reeves’s The Gloria of Your Imagination (2024, United States) presents an increasingly complex construction of information—one shaped by norms, social structures, media agendas, and gender roles.
Beginning with its most elemental form, 10×10÷25=4 demonstrates the workings of media through sequences of images and sound. Small images appear gradually, coalescing into fields and interrelated units of meaning. From this emerges a new insight: audio-visual media as a construction that is both durational and compositional. The soundscape here is pared down, attached directly to the visual arrangement, without attempting to reveal how sound itself might be constructed in equivalent terms.
The next stage is the presentation of context. In The Rain Will Weep, the filmmaker applies a uniform filter to every shot. The film is composed of a compilation of citizen videos recording acts of violence across different times and places. Ordinarily, violent images induce horror in audiences; media institutions often reduce this intensity through censorship or manipulation. Yet the reduction of information has consequences. The film shows that applying a uniform filter not only levels out the images, but also equalizes the degree of violence they convey. This homogenization creates distance between footage and viewer, producing an effect reminiscent of a video game. The addition of music further reinforces this construction: reality is recorded, transformed, and ultimately reborn as a new reality of violence. In this simultaneous obscuring and sharpening of information, the mechanics of media framing are laid bare.
Taken together, these three films demonstrate how media generates meaning through audio-visual and narrative construction. Media draws its material from reality, yet simultaneously modifies, refracts, and distorts it through framing and selective disclosure—deciding what to circulate and what to suppress. In doing so, media frames society’s very perception of the world. Reality and media intersect, interact, and continually shape one another.
Films
Curator’s biography
Ananta Wijayarana (1997) adalah seorang sarjana ilmu komunikasi dari Universitas Brawijaya. Pada tahun 2024, dua tulisannya diterbitkan dalam S … Untuk Sinema, kumpulan esai yang membahas sejarah sinema dunia. Bersama Rahmania Nerva, ia merilis film kolaborasi berjudul Alur-Alir dan ditayangkan perdana di ARKIPEL: Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival (2024). Tahun berikutnya, ia bergabung dengan SIGISORA, sebuah inisiatif yang membingkai isu-isu perkotaan dan politik melalui studi bunyi. Melalui inisiatif ini, ia membuat beberapa komposisi bunyi, merekam bunyi dalam suatu lingkungan untuk memahami dan mengidentifikasi karakteristik sosial lingkungan tersebut. Pada bulan Maret 2025, ia mengkurasi listening session karya Jean-Claude Risset. Ia juga saat ini aktif sebagai pengurus data di Forum Lenteng.
Ananta Wijayarana (1997) is a communications science graduate from Brawijaya University. In 2024, two of his writings were published in S … Untuk Sinema, a collection of essays that discuss history of world cinema. Along with Rahmania Nerva, he released a collaboration film called Alur-Alir and premiered at ARKIPEL: Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival (2024). In the following year he joined SIGISORA, an initiative that frames urban and political issues through studying sound. Through this initiative, he created several sound journals, recording sounds in an environment to understand and identify the social characteristics of that environment. In March 2025, he curated the Jean-claude Risset listening session. He is now also active as a database administrator at Forum Lenteng.





