Melihat Pada Yang Lalu
Curator: Ananta Wijayarana
Pada suatu malam di tahun 2021, ketika saya sedang ngopi di sebuah warung, seorang teman yang memiliki kemampuan spiritual mengatakan bahwa dirinya bisa melacak nenek moyang seseorang hanya dengan berjabat tangan. Tanpa berpikir panjang, saya pun tertarik dengan ucapannya dan bersedia dilacak. Keinginan ini muncul secara spontan karena memang tidak ada sistem pencatatan keturunan yang terstruktur dalam keluarga saya. Pencarian asal-usul ini juga lahir dari rasa ingin tahu: siapakah leluhur saya di masa lalu? Keberjarakan antara diri saya dengan para pendahulu, perbedaan situasi sosial-politik yang saya alami dengan yang mereka hadapi dahulu, hingga tubuh-tubuh yang memiliki pengalaman sama sekali berlainan, membuat saya ingin sejenak berinteraksi dengan mereka—atau setidaknya memperoleh petunjuk tentang siapa saya dan masyarakat macam apa yang membentuk saya.
Berbicara tentang penelusuran asal-usul, pencarian identitas dalam konteks negara-negara pascakolonial adalah perkara yang kompleks. Sejarah panjang kolonialisme memberi pengaruh besar terhadap pembentukan identitas bangsa jajahan. Pertemuan antara kolonial dan masyarakat setempat tentu menimbulkan negosiasi hingga pemodifikasian kultural, yang membuat perumusan asal-usul masyarakat negara bekas jajahan tidaklah mudah.
Kuratorial Candrawala tahun ini mencoba merespons tema penelusuran asal-usul yang penuh lapisan tersebut. Penelusuran asal-usul tidak hanya terbatas pada pelacakan nenek moyang, tetapi juga dimanfaatkan para pembuat film untuk memahami pengalaman mereka terhadap dunia yang kini sudah mapan terdefinisi (tradisi, sosial, politik). Cara penelusuran asal-usul dalam film-film ini pun berbeda-beda.
Dalam Menyulam Lobang (2024), sang pembuat film menelusuri habitat hidupnya melalui batuan bumi—salah satu jenisnya sering dimanfaatkan manusia. Dari lokasi tempat tinggalnya, ia mencoba memasukakalkan kondisi tanah yang labil karena memiliki patahan geser aktif (Sesar Lembang). Dari situ, ia mendengar cerita dari mamanya bahwa rumah panggung yang mereka huni pernah roboh. Dengan menyandingkan gambar-gambar bebatuan, wawancara para ahli geologi, serta narasi pribadi sang mama, kontradiksi pun muncul: penggunaan sumber daya alam yang semakin lama semakin merusak, berhadapan dengan strategi masyarakat sekitar yang tetap bertahan di tanah labil dengan menambal rumah roboh menggunakan bahan bangunan baru.
Dalam Mencari Kakek Nenek (2025), film tidak lagi sekadar bercerita tentang seorang cucu yang mencari makam leluhurnya. Kuburan kakek-nenek justru dijadikan medium untuk membicarakan performativitas si pemegang kamera dalam merekam sebuah peristiwa. Film ini mengajak penonton masuk dan merasakan suasana kompleks kuburan secara sensori melalui gaya kamera handheld serta tata audio yang membuat penonton semakin diajak sadar—sadar akan medium yang digunakan si perekam. Berkat performativitas ini, penonton tidak hanya diarahkan mengikuti alur film, melainkan juga diajak menyadari apa yang dilakukan dan direkam oleh kamera.
Berbicara tentang situasi politik melalui perspektif para pendahulu, Hujan Panas (2024) menyoroti bagaimana sepasang kakek-nenek yang sedang menikmati masa senja merespons situasi jelang pemilihan umum presiden Indonesia melalui berita televisi. Melalui aktivitas keseharian yang intim, pemosisian kamera yang establish menempatkan penonton seolah bertamu ke rumah mereka—mengamati dari dekat, dan akhirnya ikut terjebak menyaksikan situasi politik kontemporer bersama mereka.
Dalam Napak Tilas untuk Tiba Kembali Padamu (2024), sang pembuat film menelusuri asal-usul identitasnya dengan cara menggugat. Dengan membacakan catatan dan buku hariannya, ia mulai mempertanyakan diri dan masyarakatnya. Film ini adalah bentuk gugatan terhadap dampak kolonialisme di masa lalu dan pengaruhnya yang ia rasakan di masa kini, sebagai orang tropis yang berdiaspora ke Eropa. Pemunculan memori-memori ini menjadi alat untuk memahami diri sekaligus memasukakalkan pengalaman hidup di luar negeri, serta memikirkan posisinya sebagai bagian dari masyarakat diaspora.
Secara bentuk, keempat sutradara ini menunjukkan kesadaran sinematik yang kuat. Gaya kamera handheld yang menjadi bahasa keseharian media dalam Mencari Kakek Nenek (2025) diadopsi sebagai estetika sinema untuk menekankan performativitas perekam. Ambilan establish dan beberapa pergerakan kamera dalam Hujan Panas (2024) memperkuat keintiman kamera dengan subjek, sekaligus menegaskan keseharian. Penyusunan gambar bebatuan yang disandingkan dengan foto rumah dalam Menyulam Lobang (2024) membentuk montase sinematik untuk memahami problem wilayah. Permainan voice-over dengan pitch berbeda-beda dalam Napak Tilas untuk Tiba Kembali Padamu (2024) menghadirkan eksperimentasi medium suara, seolah menegaskan bahwa suara individu adalah bagian dari suara kolektif masyarakat pascakolonial.
Gejala yang tampak dari film-film Indonesia tahun ini adalah kecenderungan banyak pembuat film menengok ke belakang, berusaha berinteraksi dengan para pendahulu. Dari peta ini, muncul berbagai motif: upaya merumuskan identitas diri, relasi personal dengan keluarga, hingga pemahaman situasi masa lalu. Hal penting dari keempat film ini adalah bahwa penelusuran asal-usul ke masa lalu didasari kesadaran politik yang kuat. Lapisan historis yang sarat isu sosial-politik menjadi bermakna bagi pembuat film maupun audiens. Kesadaran politis ini berpadu dengan kesadaran eksperimentasi sinematik yang sama kuatnya. Penggunaan medium film secara spekulatif melahirkan narasi alternatif dan pemahaman subjektif baru terhadap interpretasi peristiwa di masa lalu.
On a night in 2021, as I was having coffee at a small shop, a friend with spiritual abilities said that he could trace a person’s ancestors just by shaking hands. Without a second thought, I was intrigued by his words and agreed to be traced. This desire emerged spontaneously because there was no structured system for recording lineage in my family. The search for my origins also arose from a sense of curiosity: who were my ancestors in the past? The distance between myself and my predecessors, the different socio-political situations I experienced compared to what they faced, and the bodies that held entirely different experiences, made me want to interact with them for a moment—or at least get a hint about who I am and the kind of society that shaped me.
Speaking of tracing origins, the search for identity in the context of post-colonial nations is an intricate matter. The long history of colonialism had a major influence on the formation of identity in colonized countries. The encounter between the colonizers and the local population inevitably led to cultural negotiation and modification, making it difficult to formulate the origins of people in former colonized countries.
This year’s Curatorial Candrawala attempts to respond to the multi-layered theme of tracing origins. Tracing origins is not limited to tracking ancestors but is also used by filmmakers to understand their experiences of a world that is now well-defined (tradition, social, political). The way origins are traced in these films also varies.
In Dalam Menyulam Lobang (2024), the filmmaker traces his habitat through the earth’s stones—one type of which is often used by humans. From their place of residence, he try to make sense of the unstable soil conditions, which are due to an active strike-slip fault (the Lembang Fault). From there, he hear a story from his mother that the stilt house they live in once collapsed. By juxtaposing images of stones, interviews with geology experts, and the mother’s personal narration, a contradiction emerges: the use of natural resources, which is becoming increasingly destructive, is confronted with the strategy of the local community to survive on unstable land by patching up collapsed houses with new building materials.
In Mencari Kakek Nenek (2025), the film is no longer just a story about a grandchild looking for their ancestors’ graves. The grandparents’ graves are instead used as a medium to discuss the performativity of the person holding the camera while recording an event. This film invites the audience to enter and experience the complex atmosphere of the graveyard sensorily through a handheld camera style and audio design that makes viewers more aware—aware of the medium the recorder is using. Thanks to this performativity, the audience is not only guided to follow the film’s plot but is also invited to be conscious of what the camera is doing and recording.
Speaking of the political situation from the perspective of their predecessors, Hujan Panas (2024) highlights how an elderly couple, enjoying their twilight years, responds to the situation leading up to Indonesia’s presidential election through television news. Through intimate daily activities, the established camera positioning places the audience as if they were visiting their home—observing closely, and ultimately getting caught up in witnessing the contemporary political situation with them.
In Napak Tilas untuk Tiba Kembali Padamu (2024), the filmmaker traces their identity’s origins by challenging them. By reading their notes and diary, they begin to question both themselves and their society. This film is a form of indictment against the impact of past colonialism and the influence they feel in the present, as a person from the tropics in the European diaspora. The emergence of these memories becomes a tool to understand oneself, make sense of the experience of living abroad, and contemplate their position as part of the diaspora community.
In terms of form, these four directors demonstrate a strong cinematic awareness. The handheld camera style, which has become the everyday language of media, is adopted as a cinematic aesthetic in Mencari Kakek Nenek (2025) to emphasize the performativity of the Recorder. The established shots and some camera movements in Hujan Panas (2024) reinforce the camera’s intimacy with the subject, while also affirming the everyday. The arrangement of stone images juxtaposed with house photos in Menyulam Lobang (2024) forms a cinematic montage to understand the region’s problems. The play of voice-overs with different pitches in Napak Tilas untuk Tiba Kembali Padamu (2024) presents an experimentation with the medium of sound, as if to affirm that the individual’s voice is part of the collective voice of a post-colonial society.
A clear trend in Indonesian films this year is the inclination of many filmmakers to look back and attempt to interact with their predecessors. This approach gives rise to various motives: trying to formulate a personal identity, exploring family relationships, and to understand past circumstances. A crucial aspect of these four films is that this delving into the past is driven by a strong political consciousness. The historical layers, laden with socio-political issues, become meaningful for both the filmmaker and the audience. This political awareness is blended with an equally strong awareness of cinematic experimentation. The speculative use of the film medium gives birth to alternative narratives and a new, subjective understanding of historical events.
Films
Curator’s biography
Ananta Wijayarana (1997) adalah seorang sarjana ilmu komunikasi dari Universitas Brawijaya. Pada tahun 2024, dua tulisannya diterbitkan dalam S … Untuk Sinema, kumpulan esai yang membahas sejarah sinema dunia. Bersama Rahmania Nerva, ia merilis film kolaborasi berjudul Alur-Alir dan ditayangkan perdana di ARKIPEL: Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival (2024). Tahun berikutnya, ia bergabung dengan SIGISORA, sebuah inisiatif yang membingkai isu-isu perkotaan dan politik melalui studi bunyi. Melalui inisiatif ini, ia membuat beberapa komposisi bunyi, merekam bunyi dalam suatu lingkungan untuk memahami dan mengidentifikasi karakteristik sosial lingkungan tersebut. Pada bulan Maret 2025, ia mengkurasi listening session karya Jean-Claude Risset. Ia juga saat ini aktif sebagai pengurus data di Forum Lenteng.
Ananta Wijayarana (1997) is a communications science graduate from Brawijaya University. In 2024, two of his writings were published in S … Untuk Sinema, a collection of essays that discuss history of world cinema. Along with Rahmania Nerva, he released a collaboration film called Alur-Alir and premiered at ARKIPEL: Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival (2024). In the following year he joined SIGISORA, an initiative that frames urban and political issues through studying sound. Through this initiative, he created several sound journals, recording sounds in an environment to understand and identify the social characteristics of that environment. In March 2025, he curated the Jean-claude Risset listening session. He is now also active as a database administrator at Forum Lenteng.






