Turang
Bachtiar Siagian
1957, Indonesia
90 minutes, stereo, HD, B/W

Sinopsis / Synopsis
Berlatar di Tanah Karo, Turang mengisahkan seorang gerilyawan kemerdekaan, Rusli, yang terluka parah akibat serangan dari tentara Belanda dan harus disembunyikan di rumah kawan seperjuangannya di desa Seberaya. Selama masa pemulihannya, ia dirawat oleh Tipi dan ayahnya yang merupakan kepala desa dengan risiko tertangkap oleh pihak Belanda yang menguasai wilayah desa. Seiring dengan romansa yang tumbuh antara Rusli dan Tipi, film ini memperlihatkan solidaritas antara gerilyawan kemerdekaan dengan masyarakat desa dalam melawan penjajahan Belanda.
Set in the Karo Highlands, Turang tells the story of Rusli, a freedom guerrilla gravely wounded in an assault by Dutch troops and forced to hide in the home of a comrade-in-arms in the village of Seberaya. During his recovery, he is cared for by Tipi and her father, the village headman, at great risk of capture by Dutch forces occupying the area. As romance blossoms between Rusli and Tipi, the film portrays the profound solidarity between independence fighters and the rural community in resisting Dutch colonial rule.
Director’s Biography / Biografi Sutradara
Bachtiar Siagian (lahir 1923) adalah seorang sutradara, penulis, dan aktor dari Sumatera Utara, Indonesia. Afiliasi politiknya yang berhaluan kiri, yang tercermin dalam karyanya, menyebabkan ia terpinggirkan dari sejarah perfilman Indonesia selama rezim Orde Baru. Dua filmnya yang masih dapat diakses hingga saat ini adalah Violetta (1962) dan Turang (1957).
Bachtiar Siagian (born 1923) was a director, writer, and actor from North Sumatra, Indonesia. His leftist political affiliations, reflected in his work, led to his marginalization from Indonesian film history during the New Order regime. Two of his films that remain accessible today are Violetta (1962) and Turang (1957).


