Submission Period / Periode pendaftaran:
6 February – 30 April 2026
Thematic Introduction
The topography of terror that has long overlaid the history of violence on this earth in the name of peace is now being massively updated. Its sculptors—the architects of destruction—have converged in new syndicates that appear as shadows of their former bodies: colonialism and imperialism. They cultivate a necropolitics that determines which lives are deemed worthy of living and which are consigned to death within the very spaces they partition and disavow. The orchestration of these networks of peace functions as a legitimizing apparatus for terror, death, and freedom, blurring the meanings of resistance with suicide, martyrdom with liberation. Under the pretext of a state of exception, democracy—the foundation of the modern nation-state—is deceived—or is this, in fact, its dark underside?—into rendering mass extermination logically permissible.
Third spaces—within which the violence externalized from metropolitan colonialism takes form, such as plantations, prisons, and penal colonies—have historically nurtured the very fighters who seized their sovereignty. Yet the colonial legacy that produces borders and hierarchies, the categorization of human beings, and cultural imaginaries of inferiority continues to infiltrate modern sovereignty, which retains the capacity to decide who matters and who may be discarded. Once again, our world today is marked by mobilization and the mass displacement of people, whose spaces are eradicated by disasters generated by regimes of violence, no matter how elaborately grand theories of humanity are composed by their thinkers. The afflicted, the floating masses, the lumpenproletariat, the bromocorah, the wretched of the earth, and the multitude of other labels affixed to bodies haunting the regime all find their relevance here—both the living and the dead.
We are confronted with the massive expansion of forensic work on past atrocities—those long buried and those that occurred only seconds ago—circulating relentlessly through algorithms. The construction of novum, both juridical and speculative, is mobilized to challenge and dismantle terror as it continually reincarnates in the present. Necromantic practices are enacted to summon the dead to testify to their own murders and to the systems that sanctioned their annihilation. In cinema, such testimonies have long served as raw material, explored experimentally and instrumental in reshaping cinematic language across eras. In a time when cinema has become an internalized apparatus that transforms the technological behavior of humanity, how might it enable testimonies that are disruptive and experimental?
In its thirteenth edition, ARKIPEL—as a platform for critical reflection on contemporary global phenomena—seeks articulations of resistance through an experimental cinematic language, both in form and in methods of production and distribution. How might speculative engagements with these emerging languages ultimately impress cinema’s capacity to summon and to predict? An act of mancy—par excellence—that divines a way out of the politics of terror.
Pengantar Tematik
Topografi teror yang melapisi sejarah kekerasan di bumi atas nama perdamaian kini dimutakhirkan secara masif. Para pemahatnya—arsitek kehancuran—bersatu dalam kongsi-kongsi baru yang menjadi bayangan dari tubuh lamanya: kolonialisme dan imperialisme. Mereka merawat nekropolitik yang menentukan manusia mana yang patut hidup dan mati di dalam ruang-ruang yang mereka bagi dan ingkari sendiri. Rekayasa jejaring perdamaian ini menjadi legitimasi atas teror, kematian, dan kebebasan yang mengaburkan makna perlawanan dengan bunuh diri; syuhada dengan pembebasan. Atas dalih keadaan darurat (state of exception), demokrasi—yang menjadi pondasi negara-bangsa modern—dikelabui—atau justru itulah sisi gelapnya?—untuk melogiskan pemusnahan massal.
Ruang-ruang ketiga, yang di dalamnya kekejaman dieksternalisasi dari metropolitan kolonialisme—seperti perkebunan, penjara, dan koloni-koloni hukuman—membesarkan para pejuang yang merebut kedaulatannya. Namun, warisan kolonial yang memproduksi batas dan hierarki, kategorisasi manusia, serta imajinasi kultural yang menginferiorkan, merangsek masuk ke dalam kedaulatan modern yang memiliki kapasitas untuk menentukan siapa yang penting dan siapa yang dapat dibuang. Sekali lagi, dunia kita hari ini ditandai oleh mobilisasi dan perpindahan massal manusia, yang ruang-ruangnya digusur oleh bencana bersumber dari rezim kekerasan, betapa pun para pemikirnya menggubah teori-teori agung atas nama kemanusiaan. Para pesakitan, massa mengambang, lumpenproletariat, bromocorah, wretched of the earth, dan segenap istilah lain yang disematkan pada tubuh-tubuh yang menggentayangi rezim, membangun relevansinya di sini—baik yang hidup maupun yang mati.
Kita dihadapkan pada masifnya kerja forensik atas kekejaman masa lalu—yang telah lama lampau maupun yang baru sedetik berlalu—yang berseliweran di dalam algoritma. Penyusunan novum, baik secara hukum maupun spekulatif, dibangun untuk menggugat dan meruntuhkan teror yang terus berinkarnasi hingga hari ini. Praktik necromancy dilakukan untuk memanggil para yang mati agar bersaksi atas pembunuhan yang mereka alami dan sistem yang mengizinkan kebinasaan mereka. Di ranah sinema, kesaksian-kesaksian ini telah lama menjadi bahan baku yang dikelola secara eksploratif dan turut mengubah bahasa sinema sepanjang zaman. Di era ketika sinema menjadi aparatus yang terinternalisasi dan mentransformasi perilaku teknologis manusia, bagaimana ia memungkinkan kesaksian-kesaksian yang disruptif dan eksperimentatif?
Pada edisi ketigabelasnya, ARKIPEL—sebagai platform refleksi kritis atas fenomena global terkini—berupaya mencari artikulasi resistensi melalui bahasa sinema yang eksperimentatif, baik dari segi formal maupun metode produksi dan distribusinya. Bagaimana spekulasi atas temuan-temuan bahasa tersebut pada akhirnya mampu mengimpresikan daya panggil dan daya prediksi sinema? Sebuah aksi mancy yang meramal jalan keluar dari politik teror, par excellence, ini.



