ARKIPEL

Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Uncertain Escape

Kabur Kabur

Curator: Taufiqurrahman ‘Kifu’

Dalam ketidakpastian, manusia mencari pelarian. Terkadang melalui cinta yang tak selesai, mabuk yang menyamarkan realitas, atau sekadar upaya untuk melupakan. Tiga film yang menjadi ruang refleksi program kuratorial ini adalah Sincero, Apaixonado (2025, Portugal), Mother’s Words (2024, Taiwan), dan Perfumed with Mint (2024, Mesir). Ketiganya menghadirkan narasi samar tentang masa lalu yang membayang, masa depan yang tak terjamin, serta upaya-upaya kecil manusia untuk bertahan di tengah pilihannya.


Sincero, Apaixonado memperlihatkan lanskap Portugal yang tak teridentifikasi—reruntuhan, ruang tanpa nama—tanpa menjelaskannya secara naratif maupun melalui konstruksi montase. Sementara itu, suara-suara anonim menuturkan fragmen buku harian yang tercecer. Kisah-kisah cinta yang terpotong dan nostalgia yang tak utuh ini mengingatkan pada konsep saudade dalam sastra Portugis: kerinduan melankolis pada sesuatu yang mungkin tak pernah sepenuhnya ada. Film ini merekam getirnya kepergian tanpa kepastian, juga upaya menyusun kembali ingatan yang berserakan, meski hasilnya tetap kabur. Visualisasinya hadir melalui lapisan suara yang mengisi setiap transisi kisah, dibacakan beberapa narator yang kadang diperlihatkan wajahnya, namun tanpa suara yang terdengar, lalu kembali pada lanskap yang sunyi. Semacam pengingat akan saudade itu sendiri—melankoli pada sesuatu yang barangkali tak pernah nyata, atau kerinduan yang terus-menerus pada sesuatu yang hilang, kabur.


Memasuki abad ke-20, saudade juga dilekatkan pada kerinduan akan tanah air, seiring puluhan ribu orang Portugis meninggalkan tanah kelahirannya demi mencari masa depan yang lebih baik.


Berbeda nuansanya, Mother’s Word menelusuri relasi ibu dan anak laki-laki dalam bayang-bayang keputusan yang tak pernah sederhana. Sang ibu memilih pergi meninggalkan rumah demi memenuhi pilihannya, sementara sang anak berusaha melupakan masa kecilnya. Ingatan menjadi beban sekaligus pelarian. Ia tak pernah benar-benar hilang, hanya berubah bentuk menjadi pemahaman baru.


Sang ibu bernostalgia tentang kehidupannya sebelum menikah, masa kecil anaknya, dan konsekuensi yang harus ia tanggung sebagai ibu dalam masyarakat patriarkis. Namun, rasa bersalah dan kerinduan itu berhadapan dengan pengakuan sang anak, bahwa ia sama sekali tak merasakan apa-apa saat ditinggalkan. Hanya ada ingatan kabur seorang anak kecil yang perlahan bertransformasi menjadi pengertian baru di antara dua orang dewasa. Percakapan mereka berlangsung di tengah aktivitas pindahan dan rencana pembongkaran rumah tua, ruang yang pernah memisahkan sekaligus mempertemukan kembali kenangan mereka sebelum akhirnya benar-benar terkubur. Kamera statis menyorot rumah itu, dikepung tanaman liar.


Dialog-dialog yang sengaja tak selesai mempertegas pilihan artistik film ini. Beberapa diputus dengan fade out. Misalnya ketika sang ibu bernostalgia tentang kebanggaannya pada sang anak, atau saat ia bertanya, “Bolehkah aku tinggal bersamamu ketika sudah tua nanti?”


Perfumed with Mint (Mesir, 2024) menawarkan sinematografi puitis tentang pelarian. Ia meramu unsur-unsur sastra: metafora “bayangan” dan personifikasi tanaman mint yang dalam tradisi Mesir memiliki makna spiritual sekaligus transendental. Ceritanya berkisar pada seorang dokter yang jatuh cinta dan sahabat lamanya yang berusaha melarikan diri dari realitas. Namun realitas dalam film ini sengaja digambarkan abstrak dan surealis: surat cinta yang selalu meneteskan cairan, tubuh-tubuh yang ditumbuhi tanaman, dan ancaman dari bayangan-bayangan. Selain pendekatan sastrawi, film ini juga menyelipkan puisi Noah’s Ark karya Amal Dunqul, diulang-ulang sebagai elemen struktural. Puisi tersebut berbicara tentang pengkhianatan elit politik, ancaman yang tak pasti, dan resistensi warga terhadap tanah airnya.


Konteks yang dimunculkan ketiga film ini sejalan dengan pendekatan sastra kontemporer abad ke-20: refleksi atas realitas sosial, politik, dan budaya masa lalu dan masa kini yang berlapis serta tak pasti, dispekulasikan melalui eksperimen bentuk yang radikal dan abstrak. Dengan segala kaburnya, ketiga film ini justru menjadi refleksi atas kegagalan globalisasi.


Dalam kerangka program ARKIPEL 2025 yang mengusung tema The Year of Living Dangerously, ketiga film ini menawarkan perspektif komparatif yang menarik. Seperti film Peter Weir yang membaca gejolak politik Indonesia 1965 melalui kacamata personal, karya-karya ini memperlihatkan bagaimana gejolak sosial-politik besar selalu termanifestasi dalam drama-drama intim manusia. Bersama-sama, mereka membentuk arsip tentang berbagai cara manusia menghadapi ketidakpastian—arsip yang, justru karena ketidaklengkapan dan kesamarannya, terasa lebih jujur dalam merepresentasikan realita hidup manusia.

In times of uncertainty, humans seek escape. Sometimes through unfulfilled love, drunkenness that masks reality, or simply the attempt to forget. Three films that serve as spaces for reflection in this curatorial program are Sincero, Apaixonado (2025, Portugal), Mother’s Word (2024, Taiwan), and Perfumed with Mint (2024, Egypt). Together, they present a blurry narrative of a haunting past, an uncertain future, and the small ways people find to carry on between the cracks of their decisions.


Sincero, Apaixonado presents an unidentified Portuguese landscape—ruins, nameless spaces—without explaining them narratively or through montage construction. Meanwhile, anonymous voices narrate fragments of a scattered diary. These Fragmentary love stories and incomplete nostalgia recall the concept of saudade in Portuguese literature: a melancholic longing for something that may never have fully existed. The film traces the bitterness of leaving without certainty, and the attempt to reassemble scattered memories, though the result remains blurred. Its visualization emerges through layers of voice that fill every story transition, recited by several narrators whose faces are glimpsed amidst the silent landscapes. It serves as a reminder of saudade itself— a melancholy for the perhaps-never-real, or a persistent longing for all that is lost and for escapes that fade.


Entering the 20th century, saudade also became associated with the diaspora’s yearning for the homeland, as tens of thousands of Portuguese left their birthplace in search of a better future.


In a different tone, Mother’s Word explores the relationship between a mother and her son under the shadow of decisions that are never simple. The mother chooses to leave home to fulfill her own choices, while the son tries to forget his childhood. Memory becomes both a burden and an escape. It never truly disappears, only transforms into new understanding.


The mother nostalgically recalls her life before marriage, her son’s childhood, and the consequences she must bear as a mother in a patriarchal society. Yet, her guilt and longing are met with her son’s confession that he felt nothing when she left. There is only an uncertain sense of a small child’s memory, slowly evolving into a new mutual understanding between them as adults. Their conversations take place amidst the activity of moving and plans to demolish the old house, a space that had once both divided and later reunited their memories, before finally being laid to rest. A static camera focuses on the house, surrounded by overgrown plants.


The intentionally unfinished dialogues emphasize this film’s artistic choice. Some are cut off with a fade-out. For example, when the mother nostalgically talks about her admiration for her son, or when she asks, “Will you let me live with you when I’m old?”


Perfumed with Mint (Egypt, 2024) offers poetic cinematography about escape. It blends literary elements: the metaphor of “shadows” and the personification of mint, which in Egyptian tradition carries spiritual and transcendental meaning. The story revolves around a doctor who falls in love and his longtime friend who tries to escape reality. Yet, reality in this film is deliberately portrayed as abstract and surreal: love letters that always drip fluid, bodies overgrown with plants, and threats from shadows. In addition to its literary approach, the film also incorporates the poem Noah’s Ark by Amal Dunqul, repeated as a structural element. The poem speaks of political elite betrayal, uncertain threats, and people’s resistance against their homeland.


The contexts raised by these three films align with the approach of 20th-century contemporary literature: reflections on layered and uncertain social, political, and cultural realities of the past and present, speculated through radical and abstract formal experiments. In all their uncertainty, these films become reflections on the failure of globalization.


Within the framework of ARKIPEL 2025’s theme, The Year of Living Dangerously, these three films offer compelling comparative perspectives. Much like Peter Weir’s film, which read Indonesia’s 1965 political turmoil through a personal lens, these works show how major socio-political upheavals always manifest in intimate human dramas. Together, they form an archive of the various ways humans confront uncertainty—an archive that, precisely because of its incompleteness and blurriness, feels more honest in representing human realities.

Films

Curator’s biography

[Teks Indonesia biografi kurator.]

[English text of curator’s biography.]


© 2026 Forum Lenteng. All rights reserved.
ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Website: arkipel.id · Layout: tooftolenk
Powered by WordPress.com