ARKIPEL

Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Archives Who Scrambles for Interpretation

Arsip yang Berebut Minta Ditafsir

Curator: Otty Widasari

Sebatang pohon rambutan di tengah-tengah halaman sebuah rumah di kawasan perbatasan Jakarta Selatan dan Depok, setidaknya bisa bercerita sedikit tentang sejarah dirinya. Namun, kisahnya tidak akan bisa berdiri sendiri tanpa kisah-kisah lain di sekelilingnya. Seorang tetua di wilayah sekitar, mengatakan bahwa pohon itu ditanam pada tahun 1973. Artinya, ia telah berusia 52 tahun kini, dan telah menjadi saksi atas banyak perubahan di kawasan tepi aliran sungai Ciliwung tersebut. Ada yang bilang bahwa dulunya di sekitar pohon rambutan ini hanya perkampungan dan ada banyak kebun. Namun, sejak ada pembangunan kampus Universitas Indonesia, masyarakat dari kampung yang tergusur berpindah ke sekitar si pohon rambutan. Begitu pula saat pembangunan jalan layang yang membatasi wilayah Jakarta dan Depok, lagi-lagi penduduk di kawasan tersebut memenuhi lingkungan di sekitar si pohon rambutan.


Demikianlah, sebuah pohon tidak bisa bercerita tentang dirinya tanpa kisah-kisah yang berkelindan dari kisarannya. Beberapa pendapat mengatakan bahwa pohon pun memiliki keagensian untuk memengaruhi lingkungannya, serta makhluk hidup di dalamnya termasuk manusia. Namun, keterbatasan pohon untuk menceritakan dirinya menyebabkan pohon rambutan di halaman sebuah rumah di kawasan di Lenteng Agung itu terkepung pemukiman padat yang mengganggu kesuburannya. Hanya manusia, dengan keagensiannyalah yang bisa menceritakan seberapa banyak si pohon memengaruhi siklus air, kesehatan tanah, menyediakan oksigen, dan menyerap karbon dioksida.


Sebenarnya pohon menyediakan dirinya sebagai arsip untuk dibaca. Pada masa prakolonial, masyarakat tropis telah menemukan sistem taksonomi secara vernakular, seperti misalnya, mengklasifikasikan tanaman berdasarkan kegunaannya. Pengarsipan modern terjadi di masa kolonialisme bangsa-bangsa Eropa ke negara-negara tropis yang menghasilkan banyak bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan industrialisasi yang pesat di dunia Barat. Kolonisasi agrikultur di negara-negara tropis terjadi dalam bentuk eksploitasi yang seburuk-buruknya, dan mengakibatkan berbagai kerusakan hingga hari ini. Sayangnya, semua itu terarsipkan secara modern, hingga perubahan paradigma tentang kolonialisasi dan eksploitasi yang dulunya dianggap sebagai konsep keilmuan menjadi konsep kekerasan, membuat arsip-arsip tersebut bisa menjadi barang bukti untuk diinvestigasi hari ini.

Biasanya, jika manusia memiliki kesempatan untuk keluar dan terbebas dari masa kegelapan, lalu memiliki kesempatan untuk mengalami kelahiran kembali, layaknya ia akan menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tapi tidak demikian dengan bangsa Eropa di era pencarian mereka di abad ke-15. Masa itu merupakan kebangkitan budaya dan intelektual bagi mereka, dan perkembangan tersebut yang mendorong kemajuan di berbagai bidang, khususnya kartografi, navigasi, dan pembuatan kapal, yang memungkinkan bangsa Eropa untuk menjelajah lebih jauh melintasi samudera dan menguasai daerah-daerah baru. Perkembangan ilmu pengetahuan nyatanya menimbulkan keserakahan. Renaissance di Eropa mengakibatkan eksploitasi sumber daya dan manusia di tanah yang mereka jajah, dan mengakumulasi kekayaan yang signifikan bagi kekuatan-kekuatan Eropa sekaligus menyebabkan kehancuran dan penderitaan yang meluas di kawasan Selatan dunia. Dampak dari kolonial tersebut berdampak dalam jangka waktu yang panjang, membentuk ketimpangan global hingga sekarang.

Menariknya, kolonialisme melahirkan berbagai produk-produk arkaik. Metode pencatatan ilmiah dan lahirnya teknologi kamera memberi sumbangsih besar dalam pustaka arsip dunia yang tersebar di seantero dunia untuk diamati, dianalisa dan didiskusikan hari ini, dan bahkan akhirnya mampu mengungkap apa penyebab ketimpangan dunia sekarang. Hal tersebut seperti sebuah bumerang yang menyerang balik tuannya. Masyarakat pascakolonial menggunakan cara kerja instrumen imperialis untuk membedah balik kekejaman kolonialisme, karena instrumen tersebut memberikan peluang yang sama untuk membongkar serta mencermati kepingan-kepingan berserak yang disisakan zaman.

Film-film yang termasuk di dalam kuratorial ini secara kritis menelisik catatan masa lalu yang digunakan sebagai bukti sejarah. Sammy Baloji, dalam karyanya L’arbre de L’authenticite (2025, Kongo), membagikan isi sebuah buku harian yang cermat milik seorang agronom Kongo, Paul Panda Farnana, yang mengenyam pendidikan di negara penjajahnya, Belgia. Buku harian yang telah lama hilang ini menunjukkan perekaman data dari pertumbuhan pohon-pohon di masa kolonialisme, diiringi dengan catatan pribadinya tentang situasi kolonisasi. Baloji menyajikan pendangan politis seorang terjajah yang terdidik, yang bersanding dengan pandangan penjajah yang imperialis, dan akhirnya pendapatnya sendiri sebagai sutradara melalui personifikasi pohon yang menjadi saksi sejarah kerusakan ekologis.

Melalui konsep jurnal pertanian modern, L’Arbre de L’Authenticite membongkar secara halus pangkal muasal masalah di dunia, dan itu dilakukan dengan cara mengkopi metode kolonial: mengarsip dan mendata untuk dianalisa. Hal yang sama dilakukan oleh Paoletta Holst dalam film In the Dim Light of a Single Hanging Lamp (2024, Belanda), yang membahas tindakan pengerahan serentak unsur artistik sebagai legitimasi kekuasaan kolonial, khususnya dalam bidang arsitektur, di masa pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia. Pengerahan ini memproyeksikan citra otoritas kekuasaan kolonial, demi gagasan peradaban yang bermisi membuat masyarakat primitif menjadi beradab. Holst membedah arsip foto rumah kolonial, menggunakan pola kerja teknologi kamera, yang merupakan instrumen kolonial: pengerahan arsip-arsip kolonial; menajamkan lihatan pada elemen dan objek-objek yang meruang; gambaran gaya hidup orang Belanda sebagai tuan di tanah jajahan; dan berdampingan dengan para pelayan pribumi yang tampak lebih rendah dan inferior. Montase yang dilakukan Holst menunjuk kepada penjelasan tentang siapa yang ada di belakang kamera dan apa agendanya.

Hal yang sedikit berbeda dilakukan oleh Raras Umaratih dalam film Napak Tilas Untuk Kembali Padamu (2025, Indonesia/Jerman). Melalui montase dari kolase drawing personal dan permainan komposisi suara yang komikal, film ini menumpahkan semua kemarahan seorang manusia pasca-kolonial yang mengembara di benua Eropa terhadap perilaku rasisme dan ketimpangan. Film disusun berdasarkan catatan harian si sutradara yang bersifat acak namun bermakna serupa, sebagai sebuah gugatan. Umaratih seperti sedang berusaha membuat arsipnya sendiri dengan cara yang bukan ilmiah, namun pada akhirnya ia membentuk pola yang bisa dibaca. Metode terpola Barat memang tidak bisa dihindari. Itu sudah dikerahkan sejak beberapa abad yang lalu. Perspektif dekolonial dalam praktik seni berinteraksi dengan catatan sejarah, lalu menantangnya dengan menafsirkan ulang narasi kolonial dan warisannya. Namun dalam film ini Umaratih mengambil jalan memutar untuk tiba sampai ke perspektif tersebut: menciptakan polanya sendiri sebagai bentuk gugatan!

Para penjajah gemar sekali membuat potret diri mereka untuk memproyeksikan citra otoritas dan legitimasi. Potret diri tersebut banyak yang tak lekang oleh waktu karena tersimpan aman di lemari-lemari arsip di kawasan subtropis. Dengan temperatur dan kadar kelembaban yang relatif rendah dan aman dari jamur, arsip-arsip itu berebutan meminta untuk dibaca dan ditafsirkan. Arsip-arsip itu adalah emulsi dalam foto-foto, narasi personal yang tidak tunggal, dan sebatang pohon yang menyumbangkan banyak oksigen kepada dunia. Para arsip itu adalah para martir yang membela keyakinan di selatannya bumi. []

A rambutan tree in the middle of a yard of a house in the border region between South Jakarta and Depok, can at least tell a little history about themselves. However, their story cannot stand alone without other stories that surround it. An elder in the neighbouring area said that the tree was planted in 1973. This means that the tree is now 52 years old, and has witnessed many changes in the area along the banks of Ciliwung River. Some say that the area around the rambutan tree once was only a village and many gardens. However, since the construction of Universitas Indonesia, people from the displaced village have moved to the area around the rambutan tree. Likewise, when a flyover bordering Jakarta and Depok was built, the residents of said area once again filled the area around the rambutan tree.

Thus, a tree cannot tell their own story without other stories that intertwine around them. Some argue that trees also have agency to influence their environment, as well as the living being within it, including humans. However, their limitation to tell their stories has resulted in the Rambutan tree in the yard of a house in Lenteng Agung region being surrounded by dense settlements that disrupt their fruitfulness. Only humans, with their agency, can tell how much the trees influence water cycle, soil health, supplied oxygen and absorbed carbon dioxide.

Truthfully, trees provide their own being as an archive to be read. In pre-colonial times, the tropical society had already found a vernacular taxonomic system, for example, classifying plants based on their use. Modern archiving emerged during European nation colonization of tropical countries that produce abundant raw material to meet the demands of the rapid industrialization in the Western world. Agricultural colonization in the tropical countries took the worst form of exploitation, and resulted in numerous destruction that persist to this day. Unfortunately, all of this is archived in a modern way, until a paradigm shift on colonialism and exploitation that previously considered them as a scientific concept into a violent concept, making those archives serve as evidence for investigation today.

Typically, if humans had the opportunity to emerge and be free from the dark ages, then experience rebirth, they would likely become a better human being. But this was not the case for Europeans during their 15th century quest. It was a period of cultural and intellectual renaissance for them, and these developments spurred advances in various fields, especially cartography, navigation, and shipwright, allowing the Europeans to explore further across the oceans and conquer new territories. The advancement of knowledge, in fact, led to greed. Renaissance in Europe led to exploitation of resources and people in the lands they colonized, accumulating significant wealth for European power while causing widespread destruction and suffering in the Global South. The impact of colonialism was long lasting, shaping global inequality to this day.

Interestingly, colonialism gave birth to a variety of archaic products. Scientific recording methods and the advent of camera technology have contributed significantly to the world’s archive that is scattered across the globe to be observed, analyzed and discussed today, and ultimately capable of uncovering the cause of current global inequality. It acts like a boomerang that returns for their master. Postcolonial societies use the workings of imperialist instruments to dissect the cruelty of colonialism, as these instruments provide the same opportunity to dismantle and examine the scattered pieces left over from time.

The films included in this curatorial selection critically examine past records as historical evidence. Sammy Baloji, in his work L’abre de L’authenticite (2025, Congo), shares the content of a meticulous diary of a Congolese Agronomist, Paul Panda Farnana, who was educated in his colonial country, Belgium. This long lost diary shows his recording data on tree growth during colonial times, accompanied by his personal accounts of the colonization situation. Baloji presents the political perspective of an educated colonized individual, juxtaposed with the perspective of an imperialistic colonizer, and eventually his own perspective as director through the personification of a tree that bears witness to the history of ecological destruction.

Through the concept of a modern agricultural journal, L’abre de L’authenticite subtly reveals the root of the world’s problems, and does so by copying colonial methods: archiving and recording data for analysis. Paoletta Holst did the same thing in the film In the Dim Light of a Single Hanging Lamp (2024, Netherlands), which discussed the act of simultaneous mobilization of artistic element as a legitimation of colonial power, especially in the field of architecture, during the Dutch colonial rule in Indonesia. This mobilization projects an authoritative image of colonial power, for the sake of the idea of a civilization with a mission to make primitive societies civilized. Holst dissect photographic archive of colonial houses, using the working pattern of camera technology, which is a colonial instrument: a mobilization of colonial archives; sharpens the view on elements and objects that make up space; depiction of the lifestyle of the Dutch as master in the colony; and side by side with their native servants who appear to be lower and inferior. Holst’s montage points to an explanation of who is behind the camera and what their agenda is.

Raras Umaratih did something slightly different in the film Napak Tilas Untuk Kembali Padamu (2025, Indonesia/Germany). Through a montage of personal drawing collage and comical sound composition, this film vents all the anger of postcolonial human wandering across Europe against racism and inequality. The film is constructed based on the director’s diary, which is random but has the same meaning, as an accusation. Umaratih seems to be trying to make her own archive through a non-scientific mode, but eventually she makes a readable pattern. The west patterned methods are indeed unavoidable. They have been deployed since centuries ago. A decolonial perspective in art practice interacts with historical record, then challenges them by reinterpreting colonial narratives and their legacies. But in this film Umaratih takes a detour to arrive in that perspective: creating her own pattern as a form of lawsuit!

Colonialists were fond of creating self-portraits to project an image of authority and legitimacy. Many of these self-portraits remain timeless, securely stored in archives in subtropical regions. With relatively low temperatures and humidity, protected from mold, these archives compete to be read and interpreted. These archives are the emulsion in photographs, the multiple personal narratives, and the single tree that contributes so much oxygen to the world. These archives are martyrs who defended the faith in the southern hemisphere.

Films

Curator’s biography

Otty Widasari (Balikpapan 1973) adalah seorang seniman, sutradara, pegiat media, salah satu pendiri Forum Lenteng, dan Direktur Program Pemberdayaan Media Berbasis Komunitas (AKUMASSA) Forum Lenteng.

Otty Widasari (Balikpapan, 1973) is an artist, filmmaker, media activist, one of the founders of Forum Lenteng, and Director of Community-Based Media Empowerment Program (AKUMASSA) at Forum Lenteng.


© 2026 Forum Lenteng. All rights reserved.
ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Website: arkipel.id · Layout: tooftolenk
Powered by WordPress.com