ARKIPEL

Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

The Gabo Project: A Hundred Years of Solitude

Proyek Gabo: Seratus Tahun Kesunyian

Curator: Otty Widasari

[…] Para penyair dan pengemis, musisi dan nabi, pejuang dan bajingan, semua makhluk dari realitas yang tak terkendali itu, kita hanya perlu sedikit imajinasi, karena masalah krusial kita adalah kurangnya cara konvensional untuk membuat hidup kita terasa nyata. Inilah, teman-teman, inti dari kesunyian kita.

– Gabriel Garcia Marquez, Nobel Prize Speech 8 December 1982

Dalam genre realisme magis yang lahir di Amerika Latin, kemasygulan akan kolonialisme digambarkan sebagai “hal-hal aneh yang cukup masuk akal”. Gerakan artistik ini membahas situasi masyarakat, yang dalam terma Perang Dingin disebut sebagai negara Dunia Ketiga.

Novel Seratus Tahun Kesunyian (1967), karya penulis Kolombia, Gabriel Garcia Marquez, atau Gabo, adalah penggambaran hasrat ekspansi yang berjalan beriringan dengan perekembangan zaman di era penemuan-penemuan ilmiah. Macondo, sebuah kota fiktif, digambarkan sebagai sebuah jagat kecil kolonialisme yang dibangun di atas kerapuhan hubungan sedarah dan ditopang oleh tiang-tiang berahi. Trah keluarga Buendia digambarkan di dalam buku ini sebagai sebuah kompleksitas pertumbukan antara konteks kolonialisme, modernisme, pertumbuhan konservatisme dalam sebuah bangsa baru, libertarianisme, dan perjalinannya dengan lokalitas beserta mitos-mitosnya.

Teknologi modern di dalam buku ini memiliki narasinya sendiri yang menarik, di mana Marquez menyampaikan kedatangan teknologi secara bertahap, melalui kedatangan berkala sang gipsi, Melquiades. Dimulai ketika ia mempertontonkan es di dalam ingatan Kolonel Aureliano Buendia, diikuti dengan demonstrasi magnet yang bisa menarik semua benda-benda logam, bahkan memunculkan benda-benda yang selama ini hilang. Kedua adegan itu membuka jalan pada keterpesonaan akan modernisasi dan perubahan yang sedang mendekat. Kemunculan berturut-turut benda-benda menakjubkan tersebut secara berangkaian, seperti magnet, teleskop, dan kaca pembesar, yang secara konseptual bisa kita bayangkan sebagai elemen dasar dari alat yang paling digunakan hingga hari ini: kamera. Sebuah alat yang metode kerjanya mewakili modernitas dan kolonialisme, yakni membuat seleksi, membuang yang tidak sesusai, memurnikan, memperbesar, dan mengabadikan.

Marquez merangkai novelnya sebagaimana ia merangkai materi-materi tersebut, yang telah mengalami proses menjadi instrumen dan melakukan kerja mekanisnya sebagai teknologi awal di era abad ke 19 itu. Daguerreotype, proses fotografi awal yang menghasilkan gambar pada pelat tembaga berlapis perak, diperkenalkan dan akhirnya diserahkan Melquiades kepada Jose Arcadio Buendia beserta studionya. Sejak saat itu kenangan bisa dibekukan dalam cetakan, maka selanjutnya Jose Arcadio berusaha memotret Tuhan. Realisme magis mengisi kekosongan dalam realitas dengan detail yang “luar biasa”, yang menyimpang dari struktur realitas modern yang tidak bisa berpaling dari logika dan rasionalitas. Sebuah perlawanan, dengan memberi ruang bagi mitos untuk berdialog dengan realitas.

Dalam beberapa perspektif Barat, Seratus Tahun Kesunyian dianggap sebagai representasi dari masayarakat yang peradabannya ‘masih setengah matang’. Hal itu jelas menegasikan peradaban yang ada sebelum kolonialisme dan modernisme. Meskipun peradaban asli di Kolombia tidak seterkenal peradaban Maya, Aztec, atau Inca, namun tetap menunjukkan perkembangan sosial, budaya, dan teknologi yang sangat berarti. Penjajahan Spanyol-lah yang mengubah lanskap Kolombia, namun warisan peradaban asli tersebut tetap hidup dalam budaya sekarang. Dari sanalah lahir genre realisme magis.

Proyek MILISIFILEM Collective dari angkatan Bunga Kenanga (angkatan ke-8) ini merespons novel Seratus Tahun Kesunyian dalam sinema hitam putih. Proyek ini berjalan selama enam bulan, dimulai dari membedah buku, hingga ke tahap produksi, dan berangkat dari hasil diskusi yang panjang. Pertanyaan-pertanyaan semacam, ‘apakah ke-magis-an ini berlaku sama dengan dinamika keyakinan lokal yang ada di Indonesia, yang juga terus berdialog dengan situasi politik yang melingkupinya?’, selalu muncul di kepala para partisipan. Dengan pertanyaan itu sebagai titik tolak, terlontarlah proyek ini menuju proses diskusi tentang realisme magis itu sendiri: jalinan mistisisme lokal yang nampaknya masih lekat dengan kehidupan masyarakat Latin, dengan segala macam aspek di luar yang mendesaknya.

Para partisipan ini telah berkelana cukup dalam, memasuki rawa-rawa fiksi Kolombia dalam dunia buku Marquez. Mengenali tiap sudut-sudut di Macondo dengan baik, juga orang-orangnya. Sekembalinya dari sana para partisipan menemukan realitas yang sama sekali berbeda, bahkan ada pola mistisisme dan mitologi yang berbeda. Ada kesadaran tentang seuatu yang hilang, namun sulit dilacak karena pertumpukan lapisan budaya, yang membuat kisah-kisah di sini (Indonesia) tidak lagi tampak. Dalam realisme magis, ketidaktampakan tersebut dimaterialkan menjadi realitas magis yang setara dengan realitas keseharian. Sementara di Indonesia, kisah-kisah yang terkubur berusaha diungkap dengan berbagai cara memutar, seperti kisah hantu atau klenik, yang kerap dibedakan dengan sesuatu yang rasional dan logis. Pencarian akan sesuatu yang hilang tersebut dilakukan dengan berbagai kemungkinan, baik dalam naratif ataupun dalam konstruksi gambar dan suara.

Film-film dalam Proyek Gabo dibuat berdasarkan penelusuran berbagai elemen, mulai dari bagaimana sebuah narasi kolonialisme dimetaforakan sebagai sebuah rumah seratus tahun, melapuk, dan akhirnya hancur; bahwa semua kehancuran itu sudah dituliskan dalam perkamen Melquiades yang menyerupai lauhul mahfudz, dan tak dapat dihindari. Semacam fatalisme melebihi dogma agama.

Proyek ini adalah sebuah manifestasi dari ketakutan, keheranan, dan rasa kehilangan yang melapuk bersama waktu, juga mengamati pengetahuan, kuasa, dan teknologi. Membaca dan memberi perbendaharaan baru dari sebuah karya magnum opus milik Gabo adalah sebuah pengalaman sinematik untuk memahami kesunyian yang dimaksud buku ini. Kesunyian yang bukan sekadar isolasi, melainkan kekuatan destruktif, pembusukan hubungan yang dalam dan berbahaya, serta hilangnya eksistensi. Gabo menggambarkan kesunyian sebagai kondisi yang berulang terus-menerus, yang berdampak pada manusia dan lokasinya.

Film-film yang dibuat di dalam proyek ini adalah penerjemahan Seratus Tahun Kesunyian menggunakan tanda-tanda bahasa dan visual, juga performativitas teks terhadap indra. Mereka mengintervensi retakan-retakan jejak fisik peradaban dengan tubuh manusia, memilah arsip, memontase objek, melacak masa lalu, dan juga membuat renungan dengan bahasa fiksi. Proyek MILISIFILEM Collective sedang menelisik, apa arti kesunyian bagi sejarah peradaban di Indonesia.

[…] Poets and beggars, musicians and prophets, warriors and scoundrels, all creatures from that uncontrollable reality, we only need a little imagination, because our crucial problem is the lack of conventional ways to make our lives feel real. This, my friends, is the core of our solitude.

– Gabriel Garcia Marquez, Nobel Prize Speech 8 December 1982

In the genre of magic realism that emerged in Latin America, the anxiety over colonialism is depicted as “strange things that seem perfectly reasonable.” This artistic movement grapples with social realities, those once classified, in the terminology of the Cold War, as belonging to the “Third World.”

The novel One Hundred Years of Solitude (1967), by the Colombian writer Gabriel García Márquez, or Gabo, portrays the desire for expansion that marched in step with the progress of its era, an age of scientific discoveries. Macondo, a fictitious town, is depicted as a miniature cosmos of colonialism—constructed upon the fragility of blood relations and upheld by pillars of desire. The Buendía lineage is presented as a site of collision: between colonialism, modernism, the rise of conservatism in a nascent nation, libertarianism, and its interweaving with locality and myth.

Modern technology in the novel unfolds through its own intriguing narrative. Márquez introduces it gradually, via the recurring visits of the gypsy, Melquíades. It begins when he presents a block of ice to the memory of Colonel Aureliano Buendía, followed by the demonstration of a magnet that could attract all metal objects, even conjuring forth those long missing. These two scenes open the way to an enchantment with modernization and the sense of impending change. The successive arrival of wondrous objects—the magnet, telescope, magnifying glass—conceptually points toward what we might imagine as the very foundations of one of the most enduring tools of modernity: the camera. A device whose method of operation epitomizes modernity and colonialism alike—selecting, discarding what is deemed unfit, purifying, magnifying, and immortalizing.

Márquez constructs his novel as he assembles these instruments, materials that have undergone transformation into tools, functioning mechanically as the early technologies of the 19th century. The daguerreotype, an early photographic process that produced images on silver-plated copper plates, is introduced and ultimately handed down by Melquíades to José Arcadio Buendía along with his studio. From that moment, memory could be frozen in print—and so José Arcadio sets out to photograph God. Magical realism, here, fills the void within reality with extraordinary details, deviating from the structure of modern rationality that cannot avert its gaze from logic. It is a form of resistance, granting myths a place to converse with reality.
From certain Western perspectives, One Hundred Years of Solitude has been regarded as a representation of a people whose civilization is “half-baked.” This view erases the civilizations that existed prior to colonialism and modernism. Though Colombia’s indigenous civilizations may not be as renowned as the Maya, Aztec, or Inca, they nevertheless exhibited profound social, cultural, and technological development. It was Spanish colonization that reshaped the Colombian landscape, yet the legacies of these civilizations persist within today’s culture. Out of this heritage, magic realism was born.

The MILISIFILEM Collective project, created by the Kenanga cohort (the 8th batch), responds to One Hundred Years of Solitude through black-and-white cinema. The project unfolded over six months, beginning with a close reading of the book, moving into production, and driven by long discussions. Questions such as: “Does this sense of the magical resonate in the same way with the dynamics of local beliefs in Indonesia, which also remain in constant dialogue with the surrounding political situation?” continually emerged in the minds of the participants. Taking this question as a point of departure, the project opened into broader reflections on magical realism itself: a weaving of local mysticism that remains deeply enmeshed in the lives of Latin American communities, alongside the many external forces pressing upon them.

The participants ventured deep into Márquez’s fictional swamps of Colombia, becoming closely acquainted with Macondo and its inhabitants. Upon returning, they encountered a reality wholly different, even though patterns of mysticism and mythology also persisted—but in different forms. There arose an awareness of something absent, obscured by accumulated cultural layers, which rendered local stories in Indonesia no longer visible. In magical realism, what is unseen is materialized into a magical reality on equal footing with daily life. Meanwhile in Indonesia, buried stories struggle to resurface through more circuitous means—ghost tales, mystical practices—often separated from what is considered rational and logical. The search for what has been lost unfolds across multiple possibilities, whether in narrative form or in the construction of images and sounds.

The films of the Gabo Project were shaped by tracing such elements: envisioning colonialism as a metaphorical house of a hundred years—weathered, decayed, and finally collapsing; its destruction already inscribed in Melquíades’ parchments, resembling the lauhul mahfudz, the divine record, of that which cannot be averted. A fatalism that surpasses religious dogma.

This project stands as a manifestation of fear, wonder, and loss decaying with time, while also observing the interplay of knowledge, power, and technology. To read and bring forth a new treasury from Gabo’s magnum opus is to encounter a cinematic experience of solitude—one that is not merely isolation, but also destructive force: the rotting of relationships, profound and dangerous, and the loss of existence itself. Gabo depicted solitude as a condition endlessly repeating, affecting both humans and their places.

The films of this project thus translate One Hundred Years of Solitude through language, visual markers, and the performativity of text upon the senses. They intervene in the cracks of civilization’s physical traces—through the human body, through the sorting of archives, the montage of objects, the tracing of the past, and the creation of reflections in fictional language. The MILISIFILEM Collective seeks, in this way, to probe the very meaning of solitude within the history of civilization in Indonesia.

Films

Curator’s biography

Otty Widasari (Balikpapan 1973) adalah seorang seniman, sutradara, pegiat media, salah satu pendiri Forum Lenteng, dan Direktur Program Pemberdayaan Media Berbasis Komunitas (AKUMASSA) Forum Lenteng.

Otty Widasari (Balikpapan, 1973) is an artist, filmmaker, media activist, one of the founders of Forum Lenteng, and Director of Community-Based Media Empowerment Program (AKUMASSA) at Forum Lenteng.


© 2026 Forum Lenteng. All rights reserved.
ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Website: arkipel.id · Layout: tooftolenk
Powered by WordPress.com