ARKIPEL

Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Bachtiar as a Reading Method

Bachtiar Sebagai Metode Baca

Curator: Luthfan Nur Rochman

Dari reruntuhan narasi resmi yang mengeras menjadi monumen Orde Baru, Bachtiar, yang disutradarai Hafiz Rancajale, hadir sebagai ekskavasi sinematik: upaya menggali lapisan ingatan yang dikubur oleh seleksi ideologis, lalu merakitnya kembali sebagai palimpsest (naskah berlapis) yang berpendar dalam gelap. Sejarah resmi yang tertib dan linier menempatkan segelintir aktor sebagai poros, sambil menekan suara yang menyelisihi koridor; ia merapikan yang berlebihan, mensterilkan yang tak sesuai, dan mengunci yang dianggap sesat. Di tengah polemik penulisan ulang sejarah nasional—yang sekali lagi memunculkan pertanyaan tentang siapa berhak menyaring masa lalu—Bachtiar memilih bentuk sebagai argumen: mengubah film menjadi metode baca, bukan sekadar ilustrasi pendapat. Ia menemui penonton bukan dengan jawaban mapan, melainkan dengan ruang kerja yang masih berdebu, meja panjang tempat serpihan disusun ulang, dan lampu kerja yang tak pernah benar-benar menyingkirkan bayangan.

Metode assembling menjadi basis gerak film. Fragmen berserak—surat, draf skenario, sinyal audio, catatan, potret yang memudar, jejak perjumpaan—diangkat satu per satu, dibersihkan dari debu waktu tanpa mengolesi bekas lukanya, lalu diletakkan berdampingan agar tegangan di antara mereka berbicara. Alih-alih menuntaskan cerita, Bachtiar merayakan celah; ia membiarkan sambungan yang retak tetap terlihat agar kita sadar bahwa setiap jahitan adalah keputusan politis. Assembling di sini bukan menumpuk bukti hingga menjadi monumen baru, melainkan menata jarak antarfragmen supaya ritme pengetahuan terasa. Seperti meja penelitian arkeologis, permukaan film menjadi tempat peta kecil digelar, koordinat dicatat, dan hipotesis dibiarkan bernafas. Yang tersisa bukan “cerita besar” yang menyapu semua perbedaan, melainkan lanskap temuan yang saling menandai, saling membantah, dan justru karena itu menghidupkannya.


Di dalam lanskap itu, performativitas sejarah bekerja sebagai tulang punggung. Arsip tidak diperlakukan sebagai benda netral yang menunggu dikutip; ia dipanggil ke mise-en-scene, disuarakan, dibacakan, ditatap, dan disentuh. Ketika Bunga dan Indra Siagian membaca tulisan ayahnya, kita menyaksikan bagaimana teks melampaui statusnya sebagai bukti dan menjelma tubuh yang bernafas; yang dulu dibungkam berdiri lagi, dengan jeda yang kadang patah, dan justru karena patah itulah kita percaya. Sejarah tidak tampil sebagai narasi total yang mulus, melainkan sebagai peristiwa yang terjadi sekarang, di hadapan kamera, bersama napas pembacanya. Film menjadi ruang latihan kefasihan yang menolak kefasihan instan: kalimat bertumbuh di dalam keheningan, merayakan seleksi teks diputuskan oleh Bunga dan Indra Siagian.

Sinematografi gelap-terang memperdalam operasi itu. Kegelapan bukan sekadar latar estetis, melainkan medium epistemik: ruang di mana ingatan kiri disimpan, diredupkan, dan diinterogasi. Cahaya yang datang tidak pernah menguasai bingkai; ia hadir sebagai seleret, retakan di tepi objek, saran penyingkapan yang selalu parsial dan rapuh. Chiaroscuro yang tekun ini menolak ilusi keterjelasan total; ia mendidik mata untuk sabar, untuk menerima bahwa sejarah sering kali hanya tampak sebagai kilat di atas permukaan batu. Dengan cara itu, visual Bachtiar mengajarkan etika membaca: tidak buru-buru menyimpulkan, tidak menutup celah dengan kepastian palsu, dan membuka jalan untuk membaca teks lainnya.


Di wilayah itulah Bachtiar menggeser cara kita memandang arsip sinema Indonesia. Alih-alih meratap pada kehilangan, film menawar duka melalui kerja ekskavasi; bukan nostalgia, melainkan kerja mengorek tanah yang telaten. Ekskavasi di sini tidak berhenti pada batas negara, sebab sejarah sinema Indonesia sejak awal terhubung dengan jaringan melintas batas—jalur festival, arsip institusional, dan persahabatan intelektual. Turang, karya Bachtiar Siagian yang lama dianggap lenyap oleh pemberangusan, muncul kembali lewat arus sebaliknya: bukan dari pusat narasi nasional, melainkan dari luar, dari lorong arsip yang jauh, menandai bahwa memori kerap memilih rute yang tidak diakui negara. Temuan itu bukan sekadar kabar baik tentang sebuah film; ia menegaskan bahwa historiografi kita selalu bergantung pada aliansi yang melampaui batas administratif.
Penemuan Turang juga memperlihatkan assembling dalam bentuk paling konkret. Forum Lenteng dan Bunga Siagian berinteraksi dengan peneliti Turki, Jerman, Rusia, dan Uzbekistan, merakit jembatan yang melintasi bahasa, institusi, dan perbatasan. Di sini, jaringan kerja berubah menjadi metode historiografi: bukan satu pusat yang memerintah, melainkan simpul yang saling menguatkan, berbagi serpih, membandingkan temuan, dan merundingkan konteks. Jalinan seperti ini memperlihatkan bahwa historiografi alternatif tidak hanya menyasar isi, melainkan membongkar logistik pengetahuan: siapa menyimpan, siapa memberi akses, siapa membaca, dan siapa menerjemahkan. Aliansi global itu, yang lahir dari perjumpaan antar komunitas, menjadikan Turang bukan sekadar artefak yang kembali, melainkan bukti bahwa memori dapat pulang melalui rute solidaritas.

Bentuk film menegaskan etika tersebut. Montase yang menjaga jarak dari resolusi mudah, ritme yang memberi waktu bagi pembacaan, dan keheningan yang tidak takut pada dirinya sendiri, menyusun pelajaran tentang tanggung jawab melihat. Etika ini menolak sensasi dan memilih ketekunan; ia menghindari klimaks sentimental, tetapi memelihara getaran kecil yang lebih tahan lama. Dalam ketekunan itu, film memperlihatkan bagaimana kekerasan epistemik bekerja: bukan hanya dengan melarang, tetapi juga dengan merapikan, dengan mengatur, dengan menukar kebingungan menjadi kepastian yang nyaman. Bachtiar mengajak penonton untuk menunda kenyamanan itu, dan tinggal lebih lama di wilayah yang belum rapi.


Kita pun diundang untuk menonton sebagai arkeolog yang mengekskavasi, bukan turis. Menjadi ekskavator berarti bersedia mengotori tangan, mengakui bahwa yang kita sebut sejarah adalah kerja kolektif yang selalu sementara. Menjadi arkeolog berarti menerima bahwa temuannya tidak lengkap, bahwa setiap pecahan yang diangkat ke permukaan harus ditanya berkali-kali: dari mana asalnya, bagaimana ia selamat, siapa yang menyembunyikannya, dan untuk kepentingan apa ia kini dimunculkan. Menjadi arkeolog berarti mengizinkan imajinasi bekerja tanpa mengkhianati bukti; membangun jembatan tipis antara apa yang mungkin dan apa yang tercatat, sambil mengakui rapuhnya pijakan.

Dalam kerangka polemik penulisan sejarah resmi hari ini, pendekatan itu terasa relevan. Bachtiar tidak menimpali dengan kontra-monumen, melainkan menawarkan modus baca: cara menata pengetahuan yang sadar pada jahitan, sadar pada retakan, dan jujur pada ruang yang tak bisa diisi. Dalam pengertian ini, film bertindak sebagai kurikulum; ia tidak mengajarkan satu kebenaran, melainkan melatih disposisi yang tahan pada godaan kepastian. Ia menunjuk bagaimana narasi dibangun, bukan memerintahkan agar satu versi dipatuhi. Dengan cara itu, film mengembalikan peran aktif penonton sebagai warga yang merundingkan ingatan, bukan konsumen yang menerima kemasan.


Pada akhirnya, Bachtiar memperlihatkan bahwa historiografi alternatif tidak lahir dari kemarahan semata, melainkan dari perawatan yang tekun. Perawatan terhadap arsip yang fragmentaris namun mengandung bara; perawatan terhadap metode yang mengutamakan proses alih-alih produk. Di tengah suara keras yang berlomba mendefinisikan “sejarah resmi”, film ini memilih bekerja di zona temaram, menata bukti sebagai lanskap, dan mengembalikan hak penonton untuk menimbang. Bachtiar adalah undangan untuk mengubah kebiasaan membaca: menunduk seperti arkeolog di situs yang rapuh, mengikis pelan lapisan tanah agar temuan tidak rusak, memotret posisi pecahan, mencatat orientasinya, lalu menatanya di meja kerja dengan kesabaran. Ia mengajak kita membiarkan celah tetap menjadi celah, sebab di sanalah pengetahuan bersarang. Dengan demikian, film ini tidak hanya menunjukkan figur dan arsip yang kembali, tetapi menawarkan kebiasaan intelektual yang memungkinkan kita merakit ulang memori bersama, di sini, sekarang, dengan tekun dan terbuka.


From the ruins of the official narrative that hardened into the monument of the New Order, Bachtiar, directed by Hafiz Rancajale, emerges as a cinematic excavation: an attempt to unearth layers of memory buried by ideological selection, and reassemble them as a palimpsest that glimmers in the dark. The tidy, linear official history places a handful of actors at the center, while suppressing voices that deviate from the corridor; it tidies away the excessive, sterilizes what does not fit, and locks away what is deemed heretical. Amidst the polemics of rewriting national history—once again raising the question of who has the right to filter the past—Bachtiar chooses form as its argument: transforming film into a method of reading, rather than a mere illustration of opinion. It approaches the audience not with ready-made answers, but with a dusty workspace, a long table where fragments are rearranged, and a work lamp that never fully drives away the shadows.

The method of assembling becomes the film’s driving force. Scattered fragments—letters, script drafts, audio signals, notes, fading portraits, traces of encounters—are lifted one by one, dusted off without covering their scars, and placed side by side so that the tension between them speaks. Instead of completing a story, Bachtiar celebrates the gaps; it allows cracked joints to remain visible so we are reminded that every stitch is a political decision. Here, assembling does not mean stacking evidence into a new monument, but arranging distances between fragments so that the rhythm of knowledge can be felt. Like the surface of an archaeological research table, the film becomes a site where small maps are spread out, coordinates recorded, and hypotheses allowed to breathe. What remains is not a “grand narrative” sweeping away all differences, but a landscape of findings that mark each other, contradict one another, and precisely because of that, come alive.


Within this landscape, the performativity of history acts as the backbone. The archive is not treated as a neutral object waiting to be cited; it is summoned into the mise-en-scène, voiced, read aloud, gazed at, and touched. When Bunga and Indra Siagian read their father’s writings, we witness how text exceeds its status as evidence and transforms into a breathing body; what was once silenced stands again, with pauses sometimes faltering, and precisely because of the faltering, we believe. History does not appear as a seamless totalizing narrative, but as an event happening now, before the camera, together with the breath of its readers. The film becomes a training ground for fluency that rejects instant fluency: sentences grow within silence, celebrating the textual selection decided by Bunga and Indra Siagian.

The chiaroscuro cinematography deepens this operation. Darkness is not merely an aesthetic backdrop, but an epistemic medium: a space where leftist memory is stored, dimmed, and interrogated. The light that enters never dominates the frame; it appears as a streak, a crack at the edge of an object, a hint of disclosure that is always partial and fragile. This diligent chiaroscuro rejects the illusion of total clarity; it teaches the eye to be patient, to accept that history often appears only as lightning across the surface of stone. In this way, Bachtiar’s visuals teach an ethics of reading: not rushing to conclusions, not sealing gaps with false certainties, and opening paths toward reading other texts.


It is within this realm that Bachtiar shifts how we view the Indonesian cinema archive. Rather than lamenting loss, the film counters grief through excavation: not nostalgia, but the careful work of digging. Excavation here does not stop at the nation’s borders, for Indonesian cinema history has always been connected to transnational networks—festival routes, institutional archives, and intellectual friendships. Turang, Bachtiar Siagian’s work long thought lost due to suppression, resurfaces through a reverse current: not from the center of national narrative, but from outside, from distant archival corridors, marking how memory often chooses routes unacknowledged by the state. This finding is not merely good news about a film; it affirms that our historiography always depends on alliances that exceed administrative boundaries.

The discovery of Turang also demonstrates assembling in its most concrete form. Forum Lenteng and Bunga Siagian engaged with researchers from Turkey, Germany, Russia, and Uzbekistan, building bridges across languages, institutions, and borders. Here, the network itself becomes a historiographic method: not one center commanding, but nodes mutually reinforcing, sharing fragments, comparing findings, and negotiating contexts. Such entanglement shows that alternative historiography does not only concern content, but dismantles the logistics of knowledge: who stores, who grants access, who reads, and who translates. This global alliance, born from inter-community encounters, makes Turang not just a returning artifact, but evidence that memory can return home through the route of solidarity.


The film’s form underscores this ethic. Montage that avoids easy resolutions, rhythms that grant time for reading, and silences unafraid of themselves compose lessons on the responsibility of seeing. This ethic refuses sensation and chooses diligence; it avoids sentimental climaxes, yet preserves subtle vibrations that endure longer. Within this diligence, the film reveals how epistemic violence operates: not only by prohibiting, but by tidying, by arranging, by converting confusion into comfortable certainty. Bachtiar invites the audience to postpone such comfort, and to linger longer in unsettled terrain.


We too are invited to watch as archaeologists excavating, not as tourists. To be an excavator means being willing to soil one’s hands, acknowledging that what we call history is a collective labor that is always provisional. To be an archaeologist is to accept incompleteness, that every shard lifted to the surface must be asked repeatedly: where did it come from, how did it survive, who hid it, and for what purpose is it now revealed. To be an archaeologist means allowing imagination to work without betraying evidence; building a thin bridge between what is possible and what is recorded, while acknowledging the fragility of the ground.

Within the frame of today’s polemics over official historiography, such an approach feels relevant. Bachtiar does not counter with a counter-monument, but offers a reading mode: a way of arranging knowledge that is aware of stitches, aware of cracks, and honest about spaces that cannot be filled. In this sense, the film acts as a curriculum; it does not teach a single truth, but trains dispositions resilient against the lure of certainty. It points to how narratives are built, not commanding that one version be obeyed. In this way, the film restores the active role of the audience as citizens negotiating memory, not consumers receiving a packaged product.


Ultimately, Bachtiar shows that alternative historiography is born not only from anger, but from diligent care. Care for fragmentary archives still glowing with embers; care for methods that prioritize process over product. Amidst the loud voices competing to define “official history,” this film chooses to work in the twilight zone, arranging evidence as landscape, and restoring the audience’s right to weigh. Bachtiar is an invitation to change reading habits: to bend down like an archaeologist at a fragile site, carefully scraping soil so that findings are not damaged, photographing shards in position, recording their orientation, then arranging them on the work table with patience. It asks us to let the gaps remain as gaps, for it is there that knowledge nests. Thus, the film not only reveals figures and archives that return, but offers intellectual habits enabling us to reassemble collective memory—here, now—with diligence and openness.

Films

Curator’s biography

Luthfan Nur Rochman merupakan seorang pembuat filem, kurator, dan penulis, Direktur Eksekutif Forum Lenteng dan Direktur Festival ARKIPEL. Ia pun berfokus di Milisifilem, kelompok belajar produksi filem melalui praktik eksperimentasi visual, yang digagas oleh Forum Lenteng dan Candikala, yang mencoba mengontekstualisasikan warisan Hindu-Budha dan kerja arkeologi di Indonesia melalui praktik seni. Luthfan turut mengkurasi beberapa pameran mulai dari pameran tunggal Otty Widasari: PARTISAN (Galeri Nasional Indonesia, 2022), Jogja Fotografis Festival (2023-2024), dan Residensi Seniman dan Festival Rakyat Bangsal Menggawe: Montase Air (Pemenang, Lombok Utara, 2024).

Luthfan Nur Rochman is a filmmaker, curator and writer, Executive Director of Forum Lenteng and Director of ARKIPEL. He also focuses on Milisifilem, a film production study collective through visual experimentation practices, initiated by Forum Lenteng, and Candikala, which tries to contextualize Hindu-Buddhist heritage and archaeological work in Indonesia through art practices. Luthfan also curated several exhibitions, including Otty Widasari’s solo exhibition: PARTISAN (Galeri Nasional Indonesia, 2022), Jogja Fotografis Festival (2023-2024), and Residensi Seniman and Festival Rakyat Bangsal Menggawe: Montase Air (Pemenang, North Lombok, 2024)


© 2026 Forum Lenteng. All rights reserved.
ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Website: arkipel.id · Layout: tooftolenk
Powered by WordPress.com