O for Opium
Ho Tzu Nyen
2023, Singapore
12 mins, 5.1, HD, Color, English

Sinopsis / Synopsis
“O for Opium” mengisahkan kisah melalui perpaduan puitis antara opium dan arus samudra, sekaligus mengeksplorasi beragam cara di mana opium dapat dipahami, dipersepsikan, dan direpresentasikan. Dengan memadukan rekaman arsip dan teks-teks yang berkaitan dengan sejarah perdagangan opium pada masa kolonial Inggris, karya ini mengambil sudut pandang opium itu sendiri sebagai suatu materi yang terus-menerus mengalami transformasi melintasi zaman, bentuk, dan batas-batas.
“O for Opium” unfolds through poetic conflations of opium and oceanic drifting, contending with the multiplicity of ways in which opium may be understood, perceived, and represented. Melding together found footage and texts related to the history of the opium trade during the British colonial era, the work assumes the perspective of opium itself as a material continually transmuted across times, forms, and boundaries.
Director’s Biography / Biografi Sutradara
Karya-karya Ho Tzu Nyen memadukan narasi mitologis dan fakta sejarah untuk menggali berbagai pemahaman tentang sejarah, penulisan sejarah, dan penyebarannya. Tema sentral dari keseluruhan karyanya adalah penyelidikan jangka panjang mengenai keragaman identitas budaya di Asia Tenggara, sebuah kawasan yang begitu beragam dalam hal bahasa, agama, budaya, dan pengaruhnya sehingga mustahil untuk menyederhanakannya menjadi sekadar wilayah geografis atau landasan sejarah tertentu. Pengamatan mengenai sejarah kawasan dunia ini tercermin dalam karya-karyanya yang memadukan berbagai sistem pengetahuan, narasi, dan representasi. Mulai dari riset dokumenter hingga fantasi, karyanya memadukan gambar-gambar arsip, animasi, dan film dalam instalasi yang sering kali bersifat imersif dan teatrikal.
Ho Tzu Nyen’s works blend mythical narratives and historical facts to mobilise different understandings of history, its writing and its transmission. The central theme of his œuvre is a long-term investigation of the plurality of cultural identities in Southeast Asia, a region so multifaceted in terms of its languages, religions, cultures and influences that it is impossible to reduce it to a simple geographical area or some fundamental historical base. This observation as to the history of this region of the world is reflected in his pieces which weave together different regimes of knowledge, narratives and representations. From documentary research to fantasy, his work combines archival images, animation and film in installations that are often immersive and theatrical.


