ARKIPEL

Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Setiap tahun, Festival Forum secara konseptual selaras dengan tema utama ARKIPEL, berfungsi sebagai ruang diskursif yang memperluas kerangka kuratorial festival ke dalam percakapan publik. Diskusi, presentasi, dan pertukaran yang dikembangkan dalam segmen ini secara langsung menanggapi keprihatinan tematik yang dieksplorasi oleh festival.

Pada tahun 2026, Festival Forum mengadopsi “The Damned of the Earth” sebagai payung tematiknya, membentuk serangkaian dialog yang meneliti implikasi budaya, politik, dan estetika dari tema tersebut dalam praktik gambar bergerak kontemporer.


Presented by

MANSHUR ZIKRI

Manshur Zikri adalah seorang seniman, kritikus, dan kurator yang berbasis di Yogyakarta dan Lombok Utara. Melalui praktik transdisipliner yang mencakup riset artistik, strategi kuratorial, pekerjaan editorial, dan produksi budaya eksperimental, ia mendekati budaya sebagai metodologi kritis dan sebagai tempat penyelidikan kolektif. Ia memegang gelar Sarjana Kriminologi dari Universitas Indonesia dan telah aktif di Forum Lenteng sejak 2009. Zikri adalah pemimpin redaksi Jurnal Footage dan Akumassa, dan sebelumnya menjabat sebagai kurator di Cemeti – Institute for Art and Society (2020–2022) dan sebagai anggota juri edisi ke-9 ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival. Ia juga memimpin dan berkontribusi pada inisiatif kolaboratif termasuk Situationist Under-Record, PROYEK EDISI, Council of Ten, dan 69 Performance Club. Pada tahun 2025, ia menjadi kurator Bangsal Menggawe 2025: Ando Kayuq Aiq, yang mencerminkan minatnya yang berkelanjutan pada praktik spesifik lokasi, memori kolektif, dan persinggungan antara penelitian artistik dengan pengetahuan lokal.


Presented by

  • Dr. phil. GEGER RIYANTO  
  • PERDANA “PEPE” ROSWALDY
  • BENY KRISTIA

ARTIKULASI PERLAWANAN

Bagi Frantz Fanon, kolonialisme tidak hanya bekerja melalui kekerasan yang tampak, tetapi juga melalui tatanan yang mengatur ruang, sejarah, dan kehidupan sehari-hari. Dunia kolonial membelah masyarakat ke dalam kategori-kategori yang menentukan siapa yang memiliki kuasa atas tanah, pengetahuan, dan masa depan, serta siapa yang terus hidup dalam kondisi yang serba dibatasi. Dalam situasi seperti ini, resistensi tidak selalu hadir sebagai peristiwa yang besar atau heroik. Ia tumbuh dari cara masyarakat mempertahankan ruang hidupnya, merawat ingatan kolektif, menyusun kembali sejarahnya sendiri, dan membangun pengetahuan dari pengalaman yang mereka alami.

Panel ini mengajak kita melihat bagaimana bentuk-bentuk resistensi tersebut muncul dalam konteks yang berbeda. Melalui perspektif antropologi, sosiologi, dan sinema, para pembicara akan membahas bagaimana warga menghadapi perubahan yang dipicu oleh kolonialisme, kapitalisme, maupun pembangunan yang terus mengubah lanskap sosial. Mitos, sejarah lokal, konflik agraria, hingga pengalaman personal bukan dipahami sebagai kisah-kisah yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari cara masyarakat membaca, merespons, dan menegosiasikan struktur kekuasaan yang bekerja dalam kehidupan mereka.

Berangkat dari pengalaman riset dan praktik masing-masing, Geger Riyanto, Perdana Putri Roswaldy, dan Lukas Beny Kristia akan membahas bagaimana pengalaman warga membentuk bahasa-bahasa resistensinya sendiri. Pertanyaan yang ingin dibuka bukan lagi apakah resistensi itu ada, melainkan bagaimana ia bekerja, siapa yang mengartikulasikannya, dan dalam bentuk apa ia dapat dikenali hari ini.


Biografi Panelis / Panelists’ Biography

Dr. phil. Geger Riyanto adalah antropolog sosial dengan fokus pada kajian sosial-budaya Indonesia, khususnya mengenai indigenitas, hubungan antarkelompok, dan resource frontiers di kawasan timur Indonesia. Ia menempuh pendidikan doktoral di Universität Heidelberg, Jerman, dengan disertasi yang mendapat penghargaan dari Frobenius Institute. Penelitiannya menelaah bagaimana identitas, relasi kuasa, dan sejarah lokal beroperasi dalam konteks frontier sumber daya serta konflik sosial. Selain publikasi akademik, Geger juga aktif menulis opini di media populer untuk menjembatani antropologi dengan wacana publik kontemporer. Ia berkomitmen memperkuat antropologi publik di Indonesia melalui kombinasi riset mendalam, refleksi kritis, dan keterlibatan sosial.

Perdana “Pepe” Roswaldy adalah seorang sosiolog lingkungan dan staf akademik di Monash University Indonesia. Fokus penelitiannya adalah ekspansi monokultur di Asia Tenggara (Indonesia dan Malaysia) dan aspirasi politik ekonomi masyarakat dari ekonomi perkebunan. Bersama teman-teman peneliti, buruh kebun perempuan, dan aktivis lingkungan, ia mendirikan Sawit Womxn Educational Group, sebuah ruang belajar yang berdedikasi untuk keadilan lingkungan bagi buruh di sepanjang rantai pasok sawit.

Beny Kristia lahir di Magelang dan pindah ke Malang untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Di sana, ia dan teman-temannya di Berakinema memproduksi beberapa film yang diputar di festival nasional dan internasional. Film-filmnya telah diputar di festival seperti Minikino Film Week, Show Me Shorts, BUT Film Festival, dan CRASH International Fantastic Film Festival. Ia memiliki minat yang besar pada shitposting, film bergenre fantasi, budaya populer, dan humor morbid, yang semuanya ia upayakan untuk disalurkan melalui karyanya. Pada tahun 2025, ia pindah ke Jakarta untuk lebih mengembangkan minatnya pada film dan seni di Milisifilem Collective. Film terakhirnya sebelum pindah ke Jakarta adalah “When the Blues Goes Marching In,” yang diputar di festival seperti Minikino Film Week, Diffusion, Beijing International Short Film Festival, QCinema International Film Festival, Festival Film Dokumenter, dan Singapore International Film Festival. Di Milisifilem Collective, ia memperluas praktik artistiknya seperti gambar, kolase, dan sketsa.


PANEL 02

Presented by

  • ALFA GUMILANG
  • PRIHANDINI NUR RAHMAH
  • VINCENT RUMAHLOINE
  • LAURENT VAN LANCKER

Sesudah Kemarahan Reda: Merawat Kesadaran yang Terancam Padam

Dalam bab Spontaneity: Its Strength and Weakness, Fanon membongkar keyakinan bahwa perubahan sosial akan lahir secara otomatis dari ledakan kemarahan rakyat. Berangkat dari perjuangan anti kolonial di Aljazair, ia menunjukkan bahwa spontanitas memang sanggup membuka pintu revolusi, tapi tak pernah cukup untuk mempertahankannya — ia gampang dipatahkan atau, lebih berbahaya lagi, dibelokkan untuk melayani kekuatan yang justru dilawannya. Fanon juga menggugat anggapan Marxis klasik bahwa kelas pekerja industri selalu menjadi subjek utama revolusi. Dalam masyarakat kolonial, justru kelompok di pinggiran — petani, masyarakat desa, penganggur, lumpenproletariat — yang paling radikal, karena mereka hidup di luar jaminan (sekaligus di luar disiplin) sistem kolonial. Tapi posisi itu berparadoks: tanpa pembentukan kesadaran politik, kekuatan yang sama bisa dengan mudah direkrut oleh kolonialisme sendiri untuk meredam gerakan yang mengancamnya.

Hampir enam puluh tahun setelah Fanon menulis itu, pertanyaannya tetap hidup, meski wajah kolonialisme sudah berganti kulit. Kekuasaan hari ini bekerja bukan cuma lewat negara, tapi lewat platform digital, industri budaya, ekonomi kreatif, algoritma media sosial, hingga mekanisme pendanaan yang diam-diam membentuk cara kerja organisasi masyarakat sipil. Di berbagai penjuru dunia, otoritarianisme, perang, krisis iklim, genosida, dan ketimpangan ekonomi tumbuh berbarengan dengan banjir informasi, disinformasi, dan komodifikasi perhatian. Di Indonesia sendiri, ruang demokrasi menyempit lewat kriminalisasi warga, eksploitasi sumber daya atas nama pembangunan, dan praktik kebudayaan yang kian bergantung pada logika proyek dan pasar.

Jika ruang-ruang yang berpotensi melahirkan kesadaran politik terus terkooptasi, bagaimana kerja perlawanan masih mungkin dilakukan? Panel ini menelaah bagaimana kesadaran politik diproduksi, dirawat, dan disebarluaskan lewat metode berbasis artistik, jurnalisme investigatif, penerbitan independen, riset dan residensi seni, hingga antropologi audiovisual, sebagai kerja-kerja yang menahan diri dari logika klik, komodifikasi, dan institusionalisasi. Siapa yang memproduksi pengetahuan, melalui metode apa, dan untuk kepentingan siapa?


Biografi Panelis / Panelists’ Biography

Alfa Gumilang saat ini bekerja sebagai Manajer Pengembangan Audiens di Project Multatuli. Sebelumnya sempat bekerja di bidang perfilman sebagai publisis. Sebelumnya lagi, banyak bergerak di isu perburuhan. Sempat membuat media perburuhan, mendirikan serikat, hingga advokasi-advokasi perburuhan di lapangan.

Prihandini Nur Rahmah (Andini) bekerja sebagai editor buku di Marjin Kiri. Berbasis di Jakarta, ia telah berkecimpung di industri penerbitan sejak 2021. Dengan semangat yang kuat terhadap sastra dan keadilan sosial, ia menggunakan suaranya dan kemampuannya untuk mendukung kisah-kisah yang memberdayakan serta menyuarakan perspektif-perspektif yang terpinggirkan, baik di dalam maupun di luar dunia sastra.

Vincent Rumahloine adalah seniman interdisipliner, peneliti, fasilitator, dan kurator berbasis di Indonesia, lulusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB). Praktik artistiknya berfokus pada isu perpindahan, hak asasi manusia, lingkungan, ingatan kolektif, dan pembacaan ulang sejarah melalui pendekatan yang melibatkan komunitas. Ia menginisiasi berbagai proyek seperti Don’t Call Me Hero, Moving Museum, dan Sedekah Benih. Karya-karyanya telah dipresentasikan di berbagai biennale, Galeri Nasional Indonesia, Cité Internationale des Arts Paris, dan ZKM Karlsruhe. Saat ini, ia menjabat sebagai Direktur Eksekutif Rakarsa, sebuah yayasan di Bandung yang mengembangkan proyek interdisipliner, program residensi, dan pendidikan seni.

Laurent Van Lancker adalah seorang pembuat film, antropolog, dan pengajar asal Belgia. Ia mempelajari Film dan Antropologi, serta meraih gelar PhD di bidang Seni Audio-Visual. Ia menjabat sebagai Profesor Antropologi Audio-Visual di Aix-Marseille University, tempat ia mendirikan kelompok riset ANFAA yang berfokus pada “Bentuk Naratif Etnografi Alternatif”. Ia juga merupakan salah satu pendiri laboratorium proyek SIC – SoundImageCulture dan BAAB – Beyond Audiovisual Anthropological Borders. Laurent telah membuat enam belas film — mencakup genre eksperimental, dokumenter, dan fiksi — serta telah menerima sembilan penghargaan. Karya-karya dokumenter awalnya mengeksplorasi tema sosial dan religius, diikuti oleh serangkaian film pendek berjudul “Experimental Ethnographies”. Belakangan ini, ia menyutradarai tiga film panjang bertema migrasi. Karya-karyanya memadukan berbagai pendekatan, seperti sinema kolaboratif, hibrida, dan sensori, menghadirkan dialog antara etika dan estetika, serta antara puisi dan politik.


PANEL 03

Presented by

  • AFRIAN PURNAMA
  • AZALIA SYAHPUTRI
  • MN FIQRI

Jebakan Pemajuan Kebudayaan

Dalam Bab III, The Pitfalls of National Consciousness, Frantz Fanon menunjukkan bahwa kemerdekaan politik tidak otomatis menghasilkan proyek kebangsaan yang mandiri. Persoalannya terletak pada kegagalan membangun basis produksi dan institusi yang memungkinkan masyarakat mengorganisasi kehidupannya sendiri. Dari sini, kritik Fanon dapat dibaca melalui tata kelola kebudayaan: siapa yang memiliki sarana produksi, siapa yang menguasai institusi, siapa yang menentukan legitimasi, dan bagaimana sumber daya kebudayaan didistribusikan. Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya isi kebudayaan, tetapi struktur yang menentukan siapa yang dapat memproduksi dan menentukan arah kebudayaan. 

Jika kebudayaan dipahami sebagai salah satu bidang kehidupan publik, maka persoalan yang sama dapat diarahkan pada tata kelola kebudayaan (cultural governance): bagaimana kebijakan, institusi, dan mekanisme pengambilan keputusan mengatur produksi, distribusi, legitimasi, serta akses terhadap kehidupan kebudayaan. Dalam kerangka ini, pelaku seni dan lembaga kebudayaan bukan sekedar tempat berkesenian, tetapi menjadi bagian dari cara sebuah bangsa mengelolah dan menentukan arah kebudayaannya. Pertanyaannya bukan lagi semata-mata karya apa yang dihasilkan, tetapi bagaimana mekanisme tata kelola produksi karya membangun Gerbulek (Gerakan budaya dan ekonomi) sebagai basis kebudayaan yang berpijak pada kekuatan masyarakat sendiri atau justru mereproduksi relasi kuasa yang diwariskan dari masa kolonial.

Salah satu pintu masuk untuk melihat persoalan tersebut adalah film-film amatir masa Hindia Belanda. Dalam pengertian umum, “amatir” sering diasosiasikan dengan praktik dari bawah atau grassroots. Namun dalam konteks kolonial, film seluloid amatir justru banyak lahir dari kehidupan kelas kolonial yang memiliki akses terhadap teknologi, modal, mobilitas, dan waktu luang. Film-film tersebut merekam perjalanan, liburan, dan kehidupan mewah sebagai konsumsi visual orang-orang kolonial, sementara produksinya dapat melibatkan tenaga pribumi. Posisi ini memperlihatkan paradoks antara status “amatir” dan struktur sosial yang menopangnya. Secara historiografis, film tersebut penting untuk melihat bahwa kemampuan merekam, memiliki arsip, dan menentukan representasi kehidupan tidak pernah netral, melainkan terkait dengan distribusi teknologi, modal, tenaga kerja, dan kuasa.

Persoalan mengenai distribusi kapasitas tersebut beririsan dengan politik pendanaan kebudayaan hari ini. Relasi kuasa bekerja melalui perangkat yang tampak teknis seperti proposal, indikator, anggaran, pelaporan, evaluasi, tetapi didalamnya berlangsung negosiasi antara gagasan ideologis dan tuntutan struktural pendanaan. Gagasan komunitas harus diterjemahkan ke dalam bahasa program, praktik sosial menjadi target dan indikator, keberhasilan harus dibuktikan melalui dokumentasi. Akibatnya, kerja yang disebut grassroots dapat melahirkan kelas perantara yang memiliki modal administratif, jaringan, dan kemampuan mengakses sumber daya. Pertanyaannya kemudian bukan sekadar siapa yang menerima dana, tetapi apakah mekanisme tersebut memperbesar kapasitas masyarakat atau justru membentuk kelompok yang semakin kuat karena kemampuannya mengelola distribusi sumber daya atas nama masyarakat.

Pada titik irisan ketiga persoalan tersebut, panel ini membaca kembali kritik Fanon terhadap kelas menengah nasional dan proyek kebangsaan: bagaimana perubahan struktur formal tidak selalu mengubah mekanisme distribusi kuasa. Dari film amatir kolonial hingga politik pendanaan kontemporer, yang dipertanyakan adalah siapa yang memiliki kapasitas untuk memproduksi, merepresentasikan, mengarsipkan, mengelola, dan menentukan kebudayaan. Komîna Fîlm a Rojava menjadi salah satu kasus pembanding untuk melihat kemungkinan pengorganisasian produksi kebudayaan melalui kerja kolektif dan jejaring solidaritas horizontal. Dengan demikian, panel ini tidak hanya mempertanyakan bagaimana kebudayaan dimajukan, tetapi bagaimana tata kelolanya bekerja dan apakah ia memperluas kapasitas masyarakat untuk menjadi subjek kebudayaan atau justru mereproduksi kelas, ketergantungan, dan relasi kuasa dalam bentuk yang baru di tengah konfigurasi global yang terus berubah.


Biografi Panelis / Panelists’ Biography

Afrian Purnama adalah seorang penulis, periset seni, pembuat film, dan kurator film. Redaktur dan editor pelaksana di jurnal kritik film Jurnal Footage dari 2016 hingga 2022. Menyutradarai beberapa film panjang dan pendek, salah satunya Golden Memories – Petite Histoire of Indonesian Cinema (2017). Sinematografer film Amrus Natalsya Yang Membuat Kembali Keluarga Tandus Disendja (2022). Periset dan Ko-Kurator pameran film Kultursinema dari 2017 hingga 2021, juga beberapa kali menjadi kurator film di festival Arkipel – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival. Salah satu penulis dan editor buku Harimau Tjampa (2021). Saat ini aktif sebagai penulis lepas dan membesarkan platform kritik film yang didirikannya, Aspek Rasio (aspekrasio.com) .   

Azalia Syahputri (b. Mataram, 1999) adalah seorang artisan kebudayaan yang saat ini berbasis di Yogyakarta. Praktiknya bergerak di antara pengorganisasian komunitas, pengembangan dan perawatan program publik, kuratorial seni, dan pengarsipan. Keterlibatannya terentang di berbagai komunitas dan institusi seperti In-Docs, Minikino, Festival Film Dokumenter, dan GAUNG. Pada tahun 2024, ia menjadi seniman residensi Youth of Today oleh Ruang MES56 dan JOFFIS. Saat ini, Azel juga mengurus arsip festival di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Ia juga menjadi peserta terpilih FIAF & L’Immagine Ritrovata Film Restoration Summer School di Bologna, Italia.

MN Fiqri (l.Palu, 1997) adalah seorang pekerja lepas desain grafis. Proyek yang ia kerjakan tersebar lintas medium publikasi cetak dan digital, antara lain desain editorial, poster, sampul buku, katalog, dan identitas visual. Ia lulus dari Jurusan Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, Makassar. Di sana, ia mengembangkan pemahaman multidisiplin mengenai globalisasi, ekonomi politik, dan studi budaya. Bergabung dengan Mutual Study, Forum Sudutpandang di tahun 2024. Saat ini, ia sedang mengembangkan praktik artistik di Milisifilem Collective.


PANEL 04

Presented by

  • BUNGA SIAGIAN
  • AKBAR RAFSANJANI
  • PRASHASTI WILUJENG PUTRI

Ekologi Solidaritas: Medan Kesadaran Internasional

Kolonialisme tidak hanya bekerja dengan menguasai tanah, tenaga kerja, dan sumber daya. Ia juga mengatur hubungan: siapa yang dapat berbicara kepada siapa, pengetahuan mana yang memperoleh legitimasi, pengalaman mana yang dapat beredar, serta dari mana suatu perjuangan harus dipandang agar dapat dikenali. Karena itu, berakhirnya pemerintahan kolonial tidak serta-merta mengakhiri hubungan yang dibentuknya. Tantangan untuk menggagalkan kolonialisme hari ini juga menjadi pertanyaan tentang bagaimana membangun hubungan baru di antara mereka yang sebelumnya ditempatkan dalam posisi yang berbeda-beda di dalam tatanan tersebut.

Dalam On National Culture, Frantz Fanon menempatkan kebudayaan sebagai bagian dari proses perjuangan yang bergerak dari kesadaran nasional menuju kesadaran internasional. Ia menolak kebudayaan nasional sebagai reproduksi masa lalu maupun peniruan terhadap bentuk-bentuk Eropa. Perjuangan kebudayaan justru memperoleh arahnya ketika pengalaman nasional membuka kesadaran yang melampaui batasnya sendiri: “It is at the heart of national consciousness that international consciousness establishes itself and thrives.” International consciousness, dengan demikian, bukan sesuatu yang datang dari luar untuk menyatukan bangsa-bangsa yang telah dibebaskan, melainkan sesuatu yang tumbuh dari hubungan di antara pengalaman perjuangan mereka sendiri.

Gagasan tersebut memiliki resonansi penting dalam pemikiran Tan Malaka. Dari pengalaman pergerakannya, Tan membaca imperialisme bukan sebagai persoalan satu bangsa, melainkan sebagai jaringan kekuasaan yang bekerja melampaui batas teritori. Kesadaran atas persamaan nasib dapat membuka hubungan di antara mereka yang mengalami penindasan, tetapi bagi Tan hubungan tersebut tidak berhenti sebagai simpati. Ia harus dibangun menjadi kerja politik: “Tangkisan saya melawan komplotan imperialisme internasional terhadap diri saya selama ini cuma usaha saya mendirikan komplotan anti-imperialisme dan anti-kapitalisme pula di mana saya berada.” Dalam cita-cita hubungan antarbangsa, perjuangan tersebut mengarah pada hubungan yang “duduk sama rendah, tegak sama tinggi.”

Dengan demikian, Tan memberi jembatan penting dari Fanon menuju pengalaman Selatan di luar konteks Afrika: internasionalisme tidak perlu menunggu terbentuknya satu pusat bersama, tetapi dapat dibangun dari tempat seseorang berada, melalui hubungan, organisasi, dan perjuangan yang saling mengenali.

Salah satu ruang historis tempat kemungkinan tersebut dicoba adalah Konferensi Asia-Afrika 1955. Bandung mempertemukan bangsa-bangsa dengan pengalaman kolonial, kondisi politik, dan latar kebudayaan yang berbeda untuk membangun bentuk kerja sama politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Ia menunjukkan bahwa solidaritas tidak hanya hadir sebagai kesamaan pengalaman, tetapi membutuhkan ruang, jaringan, pertukaran pengetahuan, organisasi, dan mekanisme yang memungkinkan bangsa-bangsa Selatan saling berhubungan tanpa harus terlebih dahulu dimediasi oleh pusat kekuasaan kolonial. Bandung dapat dibaca sebagai salah satu usaha untuk membangun kondisi material bagi kesadaran internasional—sebuah upaya untuk menciptakan hubungan baru di antara bangsa-bangsa yang sedang menggagalkan kolonialisme dalam bentuk-bentuknya masing-masing.

Namun Bandung juga meninggalkan pertanyaan yang belum selesai. Bagaimana hubungan semacam itu dapat terus hidup ketika kepentingan, sejarah, bahasa, dan posisi politik bangsa-bangsa Selatan tidak pernah sepenuhnya sama? Bagaimana solidaritas dapat bergerak dari pertemuan menuju jaringan, dari kesadaran menuju organisasi, dari deklarasi menuju praktik? Dan ketika bentuk-bentuk dominasi baru terus mengatur sirkulasi pengetahuan, kebudayaan, tenaga kerja, dan sumber daya, di mana medan perlawanan itu dapat dibangun hari ini?

Panel ini mengusulkan ekologi solidaritas sebagai cara untuk membaca pertanyaan tersebut. Ekologi dipahami bukan sebagai metafora harmoni, melainkan sebagai keseluruhan kondisi relasional yang memungkinkan pengalaman, pengetahuan, dan perjuangan yang berbeda untuk saling menemukan dan membentuk kemungkinan politik baru. Jaringan sinema dan festival, kerja pengarsipan, organisasi buruh, ruang belajar, serta bentuk-bentuk pengorganisasian lainnya dilihat bukan hanya sebagai medium yang merepresentasikan perlawanan, tetapi sebagai infrastruktur yang memungkinkan solidaritas bekerja.

Dengan memperluas horizon Fanon dari pengalaman perjuangan Afrika menuju lanskap Selatan Global, panel ini tidak bermaksud menawarkan definisi baru tentang internasionalisme. Ia justru menelusuri bagaimana international consciousness memperoleh bentuk melalui praktik-praktik konkret yang dibangun dari Selatan: bagaimana hubungan diciptakan, pengetahuan dipertukarkan, pengalaman dihubungkan, dan ruang bersama dipertahankan. Dari Fanon, Tan Malaka, dan pengalaman Bandung hingga praktik kontemporer, panel ini bergerak pada satu pertanyaan: bentuk-bentuk hubungan seperti apa yang dapat menghubungkan perlawanan-perlawanan Selatan, dan medan seperti apa yang perlu dibangun untuk terus menggagalkan kolonialisme?


Biografi Panelis / Panelists’ Biography

Bunga Siagian adalah seniman, kurator, produser budaya. Menyelesaikan studi masternya pada ilmu Cultural Studies. Memiliki ketertarikan dengan sejarah jaringan Asia-Afrika, Internasionalisme Dunia ketiga, dan komitmen politik-sinematik kelompok kiri pada era dekolonisasi. Saat ini, sedang mengerjakan proyek kuratorial jangka panjangnya Sinefo (Sinema of New Emerging Forces).


Akbar Rafsanjani adalah pembuat film, programmer film, dan penulis asal Aceh, Indonesia. Ia telah terlibat bersama Aceh Documentary sejak 2014 dan pernah menjabat sebagai Direktur Festival Aceh Film Festival. Praktiknya mengeksplorasi persinggungan antara sinema, identitas, politik, dan masyarakat, khususnya dalam konteks Asia Tenggara, serta bagaimana sinema, pertukaran budaya, dan tulisan kritis dapat digunakan untuk mempertanyakan batas-batas dan asumsi-asumsi negara bangsa.


Prashasti Wilujeng Putri adalah seniman dan art manager dengan latar belakang Kriminologi serta Kajian Budaya dan Media. Praktik artistiknya bergerak di antara seni performans, eksperimentasi visual, film, dan riset arsip, yang dikembangkan melalui keterlibatannya bersama 69 Performance Club, Kolektif Milisifilem, dan Proyek Edisi. Karya-karyanya mengeksplorasi deformasi tubuh manusia dan hubungannya dengan relasi antar manusia, melalui praktik riset, pertunjukan, dan kerja kolaboratif. Ia terlibat dalam berbagai proyek dan jaringan, termasuk residensi Silek Art Festival, Indonesia and Southeast Asia Choreographer Network, Rotten TV, dan Mencari Kabar, serta telah mempresentasikan karya bersama 69 Performance Club di berbagai ruang di Indonesia dan internasional. Karya dan tulisannya mengenai seni performans dapat dibaca di performanceart.id dan prashasti.net.


PANEL 05

Presented by

  • MAHARDIKA YUDHA
  • ZIMU ZHANG
  • ADI CHANDRA WIRA ATMAJA

Sains Antikolonial: Menantang Diagnosa Dominasi

Dalam periode kolonial Perancis atas Aljazair, kekuatan medico-legal eropa mencoba menerapkan “kriminalitas” masyarakat Aljazair dan Afrika Utara sebagai hal yang deterministik, membangun dalil ‘buas sejak di pikiran’. Keilmuan psikiatri Barat seolah “melakukan lobotomi” subjek terkoloni dalam tulisan ilmiahnya yang menyatakan secara rasis bahwa orang Afrika Utara tidak menggunakan cortex dan frontal lobe mereka. Sains kolonial rupanya turut mengambil tugas biopolitis yang melegitimasi bentuk-bentuk kecurigaan, kekerasan, intervensi, dan pembiadaban para penjajah terhadap teritori jajahannya. Fanon menantang diagnosis ini lewat pembangun kronik kasus-kasus gangguan jiwa di Aljazair dan penelusuran bahwa sistem kolonial lah yang melahirkan watak keji kaum yang terhina di bawah dunia kolonial. Perang kemerdekaan Aljazair mensyahidkan kekerasan sebagai bentuk perebutan pribadi yang teralienasi dalam dunia yang dikompartmentalisasi, dipecah dua, dan diataxia penjajahan.

Pergulatan instrumen produksi pengetahuan berlanjut hingga abad ke duapuluh satu. Dengan tampaknya pertarungan multipolar dan upaya imperialisme merawat marwah peradaban mereka, setiap pengetahuan yang terproduksi harus selalu diperiksa untuk apa dan oleh siapa ia dihasilkan. Kaum yang terhina, manusia atau yang lebih-dari-manusia, selalu diberikan diagnosa tanpa mempertimbangkan agensi mereka, selalu dijadikan subordinat untuk menunda masa depan dari titik itu. Demikian, setiap diagnosis yang berpotensi manipulatif layak dibedah kembali sampai satuan terdasarnya, sampai kepada satuan data dan informasi untuk direkonstruksi sebagai tafsir yang menantang tafsir kolonialistik. Pengetahuan dari Selatan perlu melakukan pembacaan balik dan merebut pengetahuan yang institusional sekalipun agar bisa mensituasikannya sebagai barang bukti suatu kejahatan peradaban, sebagai fondasi kesadaran politis yang terbarukan.

Mengambil inspirasi dari cara Fanon mempolitisir psikiatri dalam bab 5 Les Damnés de la Terre, panel ini ingin melihat pengetahuan institusional baik dalam arsip, laporan, data, citra yang berkelindan dalam suatu sistem untuk ditinjau kembali dengan kesadaran antiimperialisme dan antikolonialisme. Pembicaraan akan menyasar rekonstruksi pengetahuan, dekolonisasi arsip, intervensi artistik, aplikasi metodologi saintifik secara revolusioner untuk membayangkan suatu pondasi yang membangun akses jalur pergi dari jaringan hirarkis ini. Panel ini ingin menghasilkan petaan strategis dalam membangun pengetahuan bersama sebagai otot-otot baru yang akan mencari daya pembebasan dari segala bentuk dominasi.


Biografi Panelis / Panelists’ Biography

Mahardika Yudha seorang seniman, peneliti, kurator, dan penulis yang tinggal dan berkarya di Jakarta. Ia juga pernah bekerja sebagai pengetik buku, manajer supermarket, dan pekerja di pabrik otomotif. Pada tahun 2003, ia terlibat dalam “Massroom Project” dan kemudian ikut mendirikan Forum Lenteng. Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Festival di OK. Video – Indonesia Media Arts Festival (2013–2017), selain secara aktif menyelenggarakan berbagai proyek pameran seni dan film untuk seniman individu maupun kelompok. Ia pernah mengikuti program residensi “Periferry [1.0], KHOJ Guwahati-Desire Machine Collective” di India (2008) dan “JENESYS Program” di Jepang (2011–2012), serta terlibat dalam proyek seni INFLUX-Riverspace (2011–2012) Sejak 2014, ia menjabat sebagai Kurator Program Pameran Kultursinema di Arkipel Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival, dan pada 2018, ia menjadi Kurator Pameran Tunggal Hafiz Rancajale (@hafizrancajale) bertajuk “Social Organism” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Salah satu karya terpentingnya, Sunrise Jive (2005), dipamerkan di SeMA Biacity Medi Seoul (2014) di Korea Selatan. Di antara karya-karyanya yang lain adalah Suara Putra Brahma (2012), The Face of the Black River (2013), Why Didn’t Ernest Dezentje Come To Wamena? (2014), rangjebor (2014, bekerja sama dengan Mohammad Fauzi), dan Golden Memories: petite histoire of Indonesian cinema (2018, bekerja sama dengan Afrian Purnama dan Syaiful Anwar).

Zimu Zhang adalah seorang akademisi di bidang humaniora lingkungan yang berspesialisasi dalam budaya visual, sinema ekologi, dan seni ekofeminis. Ia menyelesaikan penelitian doktoralnya mengenai (kontra)visualitas Antroposen dalam budaya visual Tiongkok kontemporer dengan fokus pada geografi perbatasan pada tahun 2022 di Sekolah Media Kreatif, City University of Hong Kong. Ia merupakan penerima beasiswa Landhaus 2022 di Rachel Carson Center for Environment and Society, LMU, serta beasiswa VisitANTS 2023 dalam bidang Studi Kritis Keanekaragaman Hayati dan Penelitian Antroposen di Universitas Oulu, Finlandia. Ia telah mengajar mata kuliah tingkat sarjana dan magister mengenai studi media, studi film, serta mata kuliah ekomedia di City University of Hong Kong dan Lingnan University. Zimu juga aktif sebagai pembuat film, kurator, dan praktisi seni yang terlibat secara sosial. Tulisan-tulisannya telah diterbitkan di Journal of Visual Art Practice, British Journal of Chinese Studies, Chinese Independent Cinema Observer, dan Artforum. Film-film dan kurasi karyanya telah ditampilkan di European Media Art Festival, Doclisboa, Yunfest, Visible Evidence, Asian Film Archive, dan lain-lain. Saat ini, ia sedang mengadaptasi disertasi doktoralnya menjadi sebuah buku monograf sambil mengerjakan proyek penelitian yang mengkaji spekulasi ekofeminis mengenai dunia yang berpusat pada air dan melibatkan makhluk-makhluk di luar manusia di Delta Sungai Mutiara.

Adi Chandra Wira Atmaja adalah Pekerja Seni dan Penulis Lepas. Juga menulis untuk berbagai produksi seni lintas disiplin, film programming, dan ulasan seni. Habiskan sisa waktu sebagai relawan di Perpustakaan Mini Nemu Buku. Menaruh minat pada kerja-kerja penulisan, pengarsipan, serta penelitian seni dan kebudayaan.


© 2026 Forum Lenteng. All rights reserved.
ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Website: arkipel.id · Layout: tooftolenk
Powered by WordPress.com

Discover more from ARKIPEL

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading