International Competition 4: Repetisi yang Menghalau Keteraturan
Reporter:
Bagaimana jika kita kembali pada kenyataan sesungguhnya? Bukankah kita sudah terlalu lama berada pada dinamika yang memaksa? Atau sudahkah kita berada pada kesungguhan yang sesungguhnya? Jadi, sekali lagi ku tanya, di manakah kita berada?

Sang Anak tumbuh pada dongeng-dongeng kerajaan. Membawa imajinasi pergi ke alam yang entah dapat ditemukan di mana. Kuda berbicara, tongkat sihir, istana es, sepatu kaca, dan pangeran penolong membekali perasaan dilematis yang lama melekat pada hati Sang Anak. Perasaan itu kian melekat pada mimpi-mimpi Sang Anak dan 1001 Anak lainnya, yaitu keinginan menjadi Putri.
Program International Competition 4: Sensasi Gulma menayangkan film Weeds (2026) karya Park Jin Young dari Korea Selatan dan Local Sensation (2025) karya Tulapop Saenjaroen dari Thailand yang dikuratori oleh Alifah Melisa. Keduanya memberikan sebuah sensasi yang memusatkan perhatian pada kerangka-kerangka yang ada di luar keteraturan.

Sebagai film dengan gambar yang ‘bukan film’, Weeds memunculkan dinamikanya, untuk sekali lagi, menampilkan kesungguhan yang sesungguhnya. Weeds mengisahkan sesuatu tanpa perlu menunjukkan bentuk yang “utuh” dengan berpaling dari emosi imajiner.
Adegan demi adegan memperlihatkan proses di balik layar pembuatan film atau yang biasa disebut dengan behind the scene. Kenikmatan dalam menyaksikan prosesnya membuat kita tidak lagi menunggu apa yang sebenarnya sedang mereka buat. Kemunculan aktor-aktor yang seharusnya berperan dalam film seakan hanya menjadi figuran belaka, sementara mereka yang bekerja untuk membuat film berperan sebagai aktor utamanya. Weeds memperlihatkan proses recce hingga syuting yang terus menerus direpetisi. Seperti proses recce di hutan yang menunjukkan bagaimana seharusnya aktor bergerak, berjalan, dan berpindah. Pengulangan setiap adegan yang diuji coba oleh para kru di dalam film membangun dinamika emosi selayaknya apa yang dirasakan oleh manusia. Seperti gerutu yang dilontarkan oleh perekam gambar ketika harus terus-menerus mengulang adegan karena suatu kejanggalan yang mengganggu atau kebahagiaan ketika semua proses telah berakhir. Emosi itu tidak pernah kita rasakan ketika melihat bentuk “utuh” dari keteraturan itu sendiri. Secara tidak sadar, repetisi itu mengajak kita keluar dari keteraturan untuk merasakan emosi dengan apa adanya, melalui kesungguhannya. Lalu, seakan keteraturan itu dilupakan dan tidak lagi berarti.
Repetisi menjadi pola yang sama pada film Local Sensation. Sebuah film black and white yang membicarakan persoalan membangun monumen tanpa menunjukkan monumen itu sendiri.
Local Sensation terus-menerus mengulang berbagai adegan yang tak sinkron satu dengan yang lainnya. Sebuah tree walk workshop, studio peniupan kaca, mahasiswa arsitektur, dan seorang musisi dengan musik eksperimentalnya muncul sebagai adegan yang bergulir direpetisi, diiringi dengan lantunan pembacaan teks yang bernada memuja. Adegan-adegan tersebut menunjukkan kenyataan pada modernitas di kehidupan sehari-hari dan bagaimana suatu objek tidak lagi berarti satu makna, namun dapat arbitrer. Seiring bergulirnya tiap adegan, film sebenarnya sedang mengkritik gagasan seputar monumentalitas dan sakralisasi sebuah monumen yang hanya berhenti sampai tahap pemujaan, bukan reflektif. Kritik tersebut mempersoalkan pembangunan monumen ultra tradisionalis yang menuntut ketakjuban dengan melupakan ruang yang dapat lebih bermakna bagi kehidupan sehari-hari.
Kritik yang sama juga muncul sebagai bentuk kontra-monumentalitas pada sebuah karya instalasi: The Monument Against Fascism karya Esther Shalev-Gerz dan Jochen Gerz’s di Jerman. Sebuah karya berbentuk pilar setinggi 12 meter yang telah dirancang untuk secara perlahan masuk ke dalam tanah. Pilar tersebut dirancang untuk semakin tenggelam dan menurun ketika sisi-sisinya sudah dipenuhi oleh tulisan-tulisan warga. Keberadaan karya tersebut memfokuskan gagasan pada upaya-upaya warga merawat ingatan dan melepaskan keseharian pada pemujaan objek statis.
Kembali pada Local Sensation, iringan suara pembacaan teks dengan nada memuja turut kian memudar tergantikan oleh musik eksperimental dengan gitar elektrik bersuara nyaring. Seakan memberontak. Lalu, sama halnya dengan apa yang ditulis oleh Alifah Melisa selaku kurator pada catatan kuratorialnya: siapkah masyarakat tradisional menjadi modern?. Diskusi tersebut lahir dalam Local Sensation tanpa memunculkan objek kritik.
Repetisi yang dibangun oleh kedua film, meruntuhkan keteraturan secara sinematik dan ambigu. Keduanya menghalau apa yang seharusnya nampak dengan pengulangan pada kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan bahwa sebuah film melalui proses pembuatan yang panjang dan kenyataan bahwa monumentalitas sebagai objek statis yang menundukkan dapat dihalau dengan keseharian yang apa adanya, yaitu kesungguhan yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, Sang Anak suatu saat tidak lagi bermimpikan menjadi Putri. Kehidupan sehari-hari membawanya melupakan kerajaan awan yang nihil ditemukan. Ia akan hidup pada nuansa keberpijakannya dengan menghalau keteraturan.
What if we returned to the real reality? Haven’t we been caught up in this forced dynamic too long? Or have we already reached true sincerity? So, once again, I ask: where are we?
The Child grew up on royal fairy tales. They carried her imagination to a realm she didn’t know where to find. Talking horses, magic wands, ice palaces, glass slippers, and handsome princes fueled the sense of dilemma that had long lingered in the Child’s heart. That feeling became increasingly ingrained in the dreams of the Child and 1,001 other children—the desire to become a princess.
The International Competition 4: Weeds Sensation program features the films Weeds (2026) by Park Jin Young from South Korea and Local Sensation (2025) by Tulapop Saenjaroen from Thailand, curated by Alifah Melisa. Both films offer a sensation that draws attention to frameworks that exist outside the norm.
As a film without “film-like” imagery, Weeds brings its own dynamics to the table, once again showcasing genuine sincerity. Weeds tells a story without needing to present a “complete” form, turning away from imaginary emotions.
The film shows the behind-the-scenes process of filmmaking, scene by scene. The joy of watching this process means we no longer wait to see what they’re actually creating. The actors who are supposed to star in the film seem to be mere extras, while those working to make the film take on the leading roles. Weeds depicts the process from location scouting to filming, which is constantly repeated. Take, for example, the location scouting in the forest, which demonstrates how the actors should move, walk, and navigate the terrain. The repetition of each scene tested by the crew within the film builds an emotional dynamic akin to what humans actually feel. As the cameraman grumbles when he has to constantly retake a scene due to a distracting glitch, or the joy when the entire process is finally over. We never experience those emotions when viewing the “complete” form of that order itself. Unconsciously, this repetition draws us out of that order to experience emotions as they truly are, through their raw authenticity. Then, it is as if that order is forgotten and no longer holds any meaning.
Repetition is a recurring theme in the film Local Sensation. A black-and-white film that explores the issue of building a monument without actually showing the monument itself.
Local Sensation continuously repeats various scenes that are out of sync with one another. A tree-walk workshop, a glassblowing studio, architecture students, and a musician with his experimental music appear in scenes that unfold in repetition, accompanied by the recitation of text in a reverent tone. These scenes reveal the reality of modernity in everyday life and how an object no longer carries a single meaning but can be arbitrary. As each scene unfolds, the film is actually critiquing the notions surrounding the monumentality and sacralization of a monument—ideas that stop at the stage of worship rather than reflection. This critique challenges the construction of ultra-traditionalist monuments that demand awe while neglecting spaces that could hold greater significance for everyday life.
A similar critique also emerged as a form of counter-monumentality in an installation piece: The Monument Against Fascism by Esther Shalev-Gerz and Jochen Gerz in Germany. This 12-meter-tall pillar-shaped work is designed to gradually sink into the ground. The pillar is intended to sink deeper and lower as its sides become covered with messages written by citizens. The work’s presence highlights citizens’ efforts to preserve memory and break free from the daily ritual of worshiping static objects.
Back to Local Sensation, the accompanying voice reciting the text in an adoring tone gradually fades away, replaced by experimental music featuring loud electric guitars. As if in rebellion. Then, just as curator Alifah Melisa wrote in her curatorial note: Is traditional society ready to become modern? This discussion emerged within Local Sensation without raising any specific targets for criticism.
The repetitions constructed by both films subvert cinematic order and create ambiguity. Both defy what should appear to be the case by repeating the actual reality. The reality that a film undergoes a lengthy production process and the reality that monumentality—as a static, overpowering object—can be countered by everyday life as it is: that is, true sincerity.
Eventually, the Child stopped dreaming of becoming a Princess. Life brought her to forget the kingdom in the clouds that could never be found. She would live according to her own terms, defying regularity.



