Kompetisi Internasional 8: Makan Dengan Gigi Bungsu
Reporter:
Di mana kurator Rafael Marius membahas secara mendalam teori Charles Darwin mengenai organ vestigial, menghubungkan hubungan antara fungsi non-fungsional yang tidak berbahaya dari organ-organ humanoid tertentu dengan materi-materi yang dianggap melampaui evolusi sinematik, ada hal yang perlu dibahas mengenai sudut pandang metaforis yang memandang ketiga film ini yang ditayangkan di ARKIPEL The Damned of the Earth – 13th Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival International Competition 8: Vestigialware.

Darwin sendiri menggunakan konsep vestigialitas sebagai bukti evolusi; argumennya adalah bahwa struktur yang telah kehilangan fungsinya hanya masuk akal dalam konteks evolusi melalui modifikasi. Contoh utama dari hal ini adalah gigi geraham bungsu, karena pola makan manusia purba yang keras dan kasar lebih merusak mulut kita, sedangkan sebagian besar makanan yang kita konsumsi sekarang telah diolah agar lebih mudah dicerna. Sama seperti gigi geraham bungsu, masyarakat digital ini telah berkembang melampaui kebutuhan akan proses kreatif yang mendalam, meskipun melelahkan.
Berbagai hal, mulai dari peralatan praktis hingga perangkat lunak kecerdasan buatan (AI), memicu semacam kesombongan palsu yang seolah-olah menyatakan bahwa baik seniman maupun non-seniman berhak atas kemampuan untuk berkarya dengan metode seefisien mungkin. Meskipun kemampuan beradaptasi memang diutamakan, pengukuran produktivitas manusia yang direduksi semata-mata menjadi soal waktu alih-alih keahlian kerajinan hanyalah gejala lain dari kapitalisme. Dalam skala komersial arus utama, nilai artistik dianggap sama seperti produk pasar lainnya, bukan sebagai ekspresi filosofis sementara dari umat manusia.
Pink Schlemmer (2025) karya Oliver Husain tampil mengesankan sebagai penghormatan sekaligus penyegaran kembali terhadap peran Oskar Schlemmer dalam gerakan Bauhaus, dengan memadukan unsur-unsur konsep geometris dasar yang terkandung dalam koreografi dengan variabel tambahan ciptaannya sendiri, yaitu warna merah muda. Di sini, nuansa warna tersebut berasal dari pancaran film 16mm karya Margarette Hasting yang mengabadikan karya Schlemmer, namun berlanjut dalam film Husain melalui penyuntingan yang disengaja untuk mengartikulasikan interpretasi subversif terhadap eksperimen kontemporer.

Praktik format yang dirancang sebelumnya berlanjut secara tematis dalam karya Peng Zuqiang berjudul Afternoon Hearsay (2025), sebuah arsip yang memanfaatkan komposisi 8,75 mm. Dengan ukuran seperempat dari 35 mm standar, gulungan seluloid berukuran sempit ini beredar luas di Tiongkok karena biaya produksinya yang lebih rendah dan aksesibilitasnya bagi penonton, meskipun tidak ada kamera yang diproduksi untuk mendukung pengambilan gambar langsung. Film ini sendiri menyoroti bagaimana teknologi masa kini menjadi kurang signifikan dalam perbandingan yang kontradiktif dengan perangkat sinematik masa lalu.

Berbeda dengan dua karya sebelumnya, The Inheritors (2025) karya Serge Olivier Rondeau mengungkap sisa-sisa masa lalu melalui narasinya. Dengan merekam burung camar yang menghuni sebuah kawasan di Montreal Timur Laut, penonton seolah-olah hidup melalui burung-burung ini dan hubungan mereka dengan tempat pembuangan sampah beracun di sekitarnya. Dengan pengetahuan bahwa burung camar adalah pemakan bangkai yang predator, sebuah abrasi moral yang kabur memasuki percakapan dan mempertanyakan kebenaran mana yang lebih penting: kebenaran kita, atau kebenaran mereka yang menjadi bagian dari tempat itu? Ketiga film ini masing-masing menunjukkan analogi dengan pemaparan Rafael Marius mengenai vestigialitas, dan menghadirkan pengalaman menonton yang menggugah rasa ingin tahu. Sama seperti tema festival tahun ini, hal yang dapat dijalin di antara semuanya adalah kemunduran yang mengkhawatirkan dan sangat parah sebagai respons terhadap kesulitan “sia-sia” di masa lalu. Meskipun kita telah berevolusi melampaui kebutuhan akan gigi geraham bungsu, mungkin memamerkannya merupakan sebuah revolusi terhadap gagasan bahwa fungsionalitas adalah satu-satunya tujuan kehidupan.
Where curator Rafael Marius conversed at vast Charles Darwin’s theory of vestigial organs, tying the strings between the benign non-function of certain humanoid organs and reincarnating materials considered beyond cinematic evolution, there is something to be said about a more metaphoric lens which views these three films that were screened at ARKIPEL The Damned of the Earth – 13th Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival’s International Competition 8: Vestigialware.
Darwin himself utilized vestigiality as proof of evolution, his argument being that structures that outgrow their functions only make sense in the case of descent with modification. A prime example of this would be wisdom teeth, because early humans’ necessary diet was tougher and therefore more harmful towards our mouths, whereas most of what we consume now has been commodified for easier dispersion. Much like wisdom teeth, this digitalized society has advanced beyond the need for thorough, albeit strenuous, creative processes.
Things ranging from practical equipments to AI softwares induce pseudo-ostentation that both artists and non-artists deserve the ability to create in the most efficient methods possible. While adaptability is preferred, the measurement of human productivity being reduced to time rather than craftmanship is merely another symptom of capitalism. On a mainstream commercial scale, artistic value is deemed as any other market product, not a transient philosophical expression of mankind.
Pink Schlemmer (2025) by Oliver Husain impresses as simultaneously an homage and reinvigoration of Oskar Schlemmer’s role in the Bauhaus movement, combining elements of the introductory geometrical concepts contained within choreography with his own additional variable that is the color pink. Here, the hue comes from the radiation of Margarette Hasting’s 16mm film directing Schlemmer’s work, but continues in Husain’s film through intentional editing to articulate a subversive interpretation of contemporary experimentation.
Practicing aforethought formats continues thematically in Peng Zuqiang’s Afternoon Hearsay (2025), an archive which utilizes the 8.75mm composition. It being a quarter of the typical 35mm, this narrow-gauge celluloid stock was circulated extensively in the People’s Republic of China for its lower production cost and viewer accessibility, despite having no cameras manufactured to aid any direct shooting. This film itself weighs in how today’s technology becomes less consequential in contradictory juxtaposition to cinematic apparatus of the past.
Unlike the prior two, The Inheritors (2025) by Serge Olivier Rondeau discerns vestigiality through its narrative. Recording the seagulls which inhabit an area in Northeastern Montreal, the audience lives through these birds and their relationship with a neighboring toxic landfill. With the knowledge that seagulls are predatory scavengers, a fogged abrasion of morality enters the conversation and asks which truth matters more: that of ours, or of those who belong? These three films display their individual analogy with Rafael Marius’ exposition of vestigiality, and makes for an inquisitive viewing experience. Much similar to the theme of this year’s festival what can be interwoven through all is an unnerving paramount deterioration in response to the “futile” difficulty of the past. Though we’ve evolved beyond the need for wisdom teeth, perhaps baring them is a revolution against the notion that functionality is one’s only purpose of existence.



