Milisifilem Collective: Sekarang ke Mana?
Reporter:
Pada Minggu (13/09) kemarin, suasa di Forum Lenteng ramai dengan diskusi dan obrolan. Sudah hari terakhir ARKIPEL The Damned of the Earth – 13th Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival. Percakapan terasa lebih seru dari biasanya. Mungkin karena ini hari terakhir, dan sekalian malam penghargaan, maka banyak teman-teman Forum Lenteng menyempatkan diri untuk hadir di sore itu.

Program pemutaran juga berbeda dari sebelumnya, karena selain merayakan festival, para partisipan Milisifilem angkatan Tulip juga ikut merayakan penyelesaian salah satu “proyek akhir” mereka yang sore ini ditayangkan. Dikuratori oleh Otty Widasari, program spesial ini dinamakan Proyek Dari Penjara ke Penjara: Sedikit Lagi Menjadi Republik. Proyek ini merespons salah satu tulisan Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara, yang menarasikan perjalanan Tan Malaka sebagai figur politik penting. Para partisipan Milisifilem membaca tulisan tersebut kemudian mengembangkan sebuah karya audio-visual dari interpretasi mereka masing-masing.

Filem yang tayang merupakan hasil dari diskusi dan produksi bersama terhadap teks ini. Hari itu merupakan penayangan perdana filem-filem mereka diputar kepada umum. Filem-filem yang akan ditayangkan malam itu termasuk: Repertoar (2026) oleh Agusto Simor, Continuum (2026) oleh Laurent Sindhu, Horror Vacui (2026) oleh MN Fiqri, Rakit Yang Tak Pernah Menepi (2026) oleh Kezia C.Y. Rantung, dan Hasrat (2026) oleh Elisabeth Iskandar.

Repertoar menjelaskan tentang memori. Melalui visual bangunan kosong, diiringi dengan sebuah nyanyian, filem ini mempertanyakan bagaimana masa lalu hadir dalam masa kini. Melalui bangunan-banguan yang sudah lama tidak terpakai, jalur yang dibentuk oleh ribuan kaki, sampai angin yang menyenandungkan lagu-lagu. Filem ini menunjukkan bahwa, mungkin orangnya tidak ada, namun bukti keberadaan mereka masih bisa ditemukan.
Dalam Continuum, seorang tokoh sedang berjalan sendirian, melewati lanskap pantai dan hutan. Hanya duduk di dalam sebuah bangunan rusak dan kosong, di mana dia menetap untuk mengetik menggunakan mesin ketik. Namun, kata-kata yang diketik tidak bisa dilihat karena tidak ada tinta di dalam mesin itu, dan kertas kemudian dibakar, seakan tokoh tersebut tidak ingin orang lain bisa mengakseskan pemikirannya. Kata-katanya dibakarkan dan dihanguskan.
Horror Vacui menawarkan gagasan tentang kepemilikan. Fiqri mengangkat tentang sebuah pencarian emas di tanah Jawa, yang di mana orang-orang yang diperbudak untuk mencarinya adalah orang lokal. Menggunakan arsip dari momen sejarah tersebut, footage yang ditata oleh Fiqri memberikan narasi terhadap jasa, usaha, dan hak. Siapa yang mengerjakannya dan siapa yang berhak atas hasil darinya.
Rakit Yang Tak Pernah Menepi kemudian menggunakan visual kapal dan wawancara dengan nelayan untuk menceritakan kisahnya. Seorang nelayan menceritakan ulang tentang sebuah kecelakaan kapal yang pernah terjadi. Didampingi oleh visual orang yang berlayar melawan ombak, dan diiringi musik gamelan, Kezia menciptakan sebuah rasa ketegangan dan pertanyaan: apakah para nelayan ini akan selamat atau tidak?
Yang terakhir, Hasrat, menggunakan format wawancara dan gaya dokumenter. Elisabeth menjadikan para pembuat genteng sebagai subjeknya. Mereka bercerita tentang kegiatan mereka bermusik menggunakan genteng yang mereka hasilkan. Tanah liat kemudian bukan hanya untuk produksi genteng, tapi juga alat musik. Sebuah kisah bagaimana satu benda tidak terpaku oleh satu fungsi, namun bisa dialihfungsikan. Melalui narasi tersebut, Elisabeth seakan menceritakan bagaimana pembuat genteng juga bisa menjadi pemain musik.
Dari satu teks, namun menciptakan narasi dan pengertian yang beragam. Walaupun pengertian dan interpretasi mereka berbeda-beda kelima sutradara ini membaca tulisan Tan Malaka, kemudian bertanya apa selanjutnya? Bagaimana Tan Malaka bisa hadir dalam diskusi kontemporer masa kini, atau apakah masih relevan untuk membahasnya? Kelima sutradara ini seakan kembali ke masa lalu, merefleksikan sejauh mana kita sudah jalan, kemudian bertanya: Berikutnya apa?
On Sunday (13/09), the atmosphere at Forum Lenteng was abuzz with discussion and conversation. It was the final day of ARKIPEL The Damned of the Earth – 13th Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival and the chatter at Forlen felt livelier than usual. Perhaps because it was the closing day and also awarding night, friends of Forum Lenteng made a point of attending that afternoon.
Other than celebrating the festival, it was a mark of completion for some Milisifilem participants who were completing one of their “final projects.” A special program by Milisifilem Collective batch Tulip was to be presented.
Curated by Otty Widasari, this special program was titled From Prison to Prison Project: A Little Closer to Becoming a Republic. The project responds to a text by Tan Malaka: From Prison to Prison, which chronicles his journey as a pivotal political figure. Milisifilem participants read the text and produce an audiovisual based on their individual interpretations.
The films screened were the result of collaborative discussion and production centered on this text. That evening marked the public premiere of their works.
The films screened that night included: Repertoar (2026) by Agusto Simor, Continuum (2026) by Laurent Sindhu, Horror Vacui (2026) by MN Fiqri, Rakit Yang Tak Pernah Menepi (2026) by Kezia C.Y. Rantung, and Hasrat (2026) by Elisabeth Iskandar.
Repertoar explores the concept of memory. Through visuals of an empty building accompanied by a song, the film questions how the past manifests within the present. From long-abandoned buildings and paths worn down by thousands of footsteps, to the wind carrying melodies, the film reveals that while the people themselves may be gone, evidence of their existence remains.
In Continuum, a solitary figure traverses coastal and forest landscapes. He settle inside a dilapidated, empty building to type on a typewriter. Yet, the typed words remain invisible, there is no ink in the machine, and the paper is subsequently burned, as if the figure wishes to keep their thoughts inaccessible to others. His words are consumed by fire and reduced to ash.
Horror Vacui explores the concept of ownership. Fiqri highlights the search for gold in Java, a process that relied on the forced labor of local people. Drawing on historical archives, he arranges footage to construct a narrative regarding labor, effort, and entitlement, questioning who performed the work and who held the right to the results.
Rakit Yang Tak Pernah Menepi employs visuals of boats and interviews with fishermen to tell its story. A fisherman recounts a past maritime accident. Accompanied by imagery of men sailing against the waves and a gamelan soundtrack, Kezia evokes a sense of tension and raises a pressing question: will the fishermen survive?
Finally, Hasrat utilizes a documentary style, focusing on roof-tile makers. They describe making music using the very tiles they produce. Clay is not merely a material to make a roof, but it becomes an instrument. It is a story of how a single object is not bound to one function but can be repurposed, illustrating how a tile maker can also be a musician.
From a single source, diverse narratives and meanings emerge. Despite their differing understandings and interpretations, these five directors engage with the writings of Tan Malaka and ask: What comes next? How can Tan Malaka and his writings present themselves in contemporary discourse, or how relevant? It is as if these five directors are revisiting the past, reflecting on how far we have come, and then asking: What is next?



