International Competition 9: Visual yang Membangun Ketiadaan
Reporter:
Screening International Competition “Yang Tiada Mendekat, Yang Ada Menjauh” di hari Jumat sore (11/09) yang dikurasi oleh Shelvira Alyya Putri Anjani, menampilkan 4 filem berdurasi 11 hingga 30 menit.

Dibuka dengan Inferno (2025) yang disutradarai oleh Bruno Pavić yang menggunakan found footage kebakaran hutan di Los Angeles di tahun 2025, disandingkannya dengan dampak dari kebakaran tersebut, yaitu kebakaran rumah warga. Pembacaan ayat-ayat kuno dalam bahasa Yunani Koine yang telah punah mengiringi selama filem berlangsung. Alih-alih menggunakan material found footage itu secara mentah, sutradara tampak menyunting ulang material tersebut menjadi material lainnya. Sehingga visual yang terlihat di layar, tampak seperti material filem yang sepertinya sudah sangat tua, rapuh dan juga hampir punah. Filem ini seperti ingin membicarakan tentang gradasi dari hilangnya materialitas, seperti alam, tempat tinggal, bahasa hingga filem secara perlahan, namun tetap sedang atau akan terjadi.

Dead Tongue (2025) adalah filem kedua dan yang paling saya sukai dalam rangkaian kurasi ini. Narasinya yang brutal dihadirkan oleh Josè Jimènez lewat dominasi visual yang bersifat hening, namun seringkali permainan cahaya dan teksturnya menggelitik penonton. Selain lewat suara kesaksian, memori akan ketubuhan dan kekerasan dihadirkan dalam lanskap alam dan anjing-anjing si protagonis yang agresif – baik secara audio maupun visual. Walaupun struktur narasi di filem ini dapat terbaca dengan cukup baik, namun ketegangan atau horror dalam filem ini bukan terbaca dari narasi audio belaka. Melainkan dari montase yang menggabungkan intensitas berbagai tekstur cahaya dan suara tersebut, dan lebih diperdalam dengan monokrom/hitam-putih yang menjadi pilihan artistik si sutradara.
Sie… (2024) yang disutradarai oleh Yosef Levi dibuka dengan adegan pencopotan mata palsu milik Nong Titus, adik laki-laki dari Veronika Nona, seorang penjaga kebun dan ternak di Gunung Gai. Hutan pun kembali dihadirkan dalam rangkaian ini, dimana sebagai penjaga kebun dan ternak yang berada di Gunung Gai, Veronika Nona memiliki sensitivitas pendengaran akan sesuatu yang berjarak sangat jauh dari tempatnya. Ketika Nong Titus akhirnya menggantikannya menjadi penjaga di gunung Gai tersebut, ia yang seharusnya memiliki kepekaan yang lebih tajam karena matanya yang buta sebelah, malah akhirnya kehilangan kambing yang selalu mengikuti Veronika Nona tersebut. Dengan bahasa Nelle di Maumere, ia terus memanggilnya, “Sie!”.
Jaguars (2025), karya dari sutradara asal perancis, Chloè Wasp, ini menjadi rangkaian terakhir dari kuratorial International Competition 9. Mitos, animisme dan realitas menjadi permainan si sutradara dalam filem ini. Alih-alih menemukan Jaguar di filem ini, penonton justru diajak untuk mengimajinasikannya dari awal. Hutan, tulang-tulang yang berserakan dari binatang yang dimangsa, kesaksian warga dan pemburu yang handal dengan taring Jaguar yang digenggam, suara anjing-anjing yang berubah ketika Jaguar datang, dan sebagainya menjadi material untuk membangun kepercayaan penonton bahwa benar adanya Jaguar di tempat tersebut, walaupun kita tidak pernah dipertemukan dengannya. Material-material ini bersifat seperti remah-remah roti yang sepertinya bisa kita telusuri dan mendapatkannya, dimana di tengah-tengah penelusuran itu, kita mendapati bahwa ada cerita tentang pemangsa lainnya di tanah tersebut. Pembunuhan yang dilakukan oleh tangan orang-orang kulit putih Amerika yang pernah mengeksploitasi warga dan bagaimana fakta tersebut ditutupi oleh mitos keberadaan jaguar.

Sayangnya tidak ada sesi tanya jawab sore itu, namun pada akhirnya saya menemukan benang merah dari ke-4 filem ini, yang walaupun memiliki isu dan struktur bahasa sinema berbeda-beda, namun terkurasi dalam pendekatan tekstur visual yang memiliki kemiripan satu dengan lainnya dan narasi tentang ketiadaan akan sesuatu. Baik itu seekor kambing, seseorang yang dikenal dekat, kepunahan alam yang sedang terjadi ataupun kepunahan material yang telah terjadi.
The International Competition 9, “The Absent Draws Near, the Present Drifts Away” which held on Friday afternoon (September 11), curated by Shelvira Alyya Putri Anjani, featured four films ranging in length from 11 to 30 minutes.
The program opened with the film Inferno (2025), directed by Bruno Pavić, using found footage from 2025’s Los Angeles wildfires, juxtaposed with the aftermath of those fires — the burning of residents’ homes. Along with the recitations of ancient verses in the extinct Koine Greek language accompany the film throughout. Rather than using the found footage raw, the director appears to have re-shot the material into another materiality, it looks like celluloid. As a result, the visuals on screen look like film stock that seems very old, fragile, and in fact the material is nearly extinct. The film seems to explore the gradual loss of materiality — of nature, homes, language, and even film celluloid itself, a process that is happening slowly but steadily.
Dead Tongue (2025) is the second film in this curated series — and my personal favorite. Josè Jimènez presents this brutality through a visually dominant yet subdued style and though his interplay of light and texture often intrigues the audience. In addition to the voices of the witnesses, memories of physicality and violence are conveyed through the natural landscape and the protagonist’s aggressive dogs — both aurally and visually. Although the narrative structure through the voice over of this film is fairly accessible, the tension or horror in the film does not stem solely from the audio narrative. Rather, it arises from montages that blend the intensity of various textures of light and sound, further deepened by the director’s artistic choice of monochrome/black-and-white cinematography.
Sie…(2024), directed by Yosef Levi, opens with a scene in which Nong Titus, the younger brother of Veronika Nona, a gardener and livestock caretaker on Mount Gai, removes his prosthetic eye. The forest is also featured in this sequence as the gardener and livestock caretaker on Mount Gai, Veronika Nona, possesses an auditory sensitivity to sounds coming from a great distance. When Nong Titus finally took her place as the caretaker on Mount Gai, he, who should have had even sharper senses due to being blind in one eye, ended up losing the goat that had always followed Veronika Nona. In the Nelle language of Maumere, he kept calling out to it, “Sie!”
Jaguars (2025), a film by French director Chloè Wasp, is the final entry in this curatorial selection – International Competition 9. Myths, animism, and reality are the director’s playthings in this film. Rather than actually seeing a jaguar in her film, viewers are instead invited to imagine one from the very beginning. The forest, the scattered bones of preyed-upon animals, the testimonies of locals and skilled hunters clutching jaguar fangs, the changing barks of dogs when the jaguar approaches, and so on — all serve as material to build the audience’s belief that a jaguar truly exists in that place, even though we never actually see it. These elements are like breadcrumbs that we seem to be able to follow and piece together, yet in the midst of that journey, we discover a story about another predator in that land. The killings committed by white Americans who once exploited these local people, and how that reality was obscured by the myth of the jaguar’s existence.
Unfortunately, there was no Q&A session that afternoon, that can enlighten our watching experience, but in the end, i discovered a common thread running through these four films. Although they deal with different issues and employ varying cinematic languages, they are united by a visual texture that bears similarities and a narrative centered on the absence of something, be it a goat, a close acquaintance, the ongoing extinction of nature, or the extinction of materials that has already taken place.



