International Competition 5: Menjelma Sang Penindas
Reporter:
Paulo Freire menjelaskan sejak awal dalam eksplorasi literernya mengenai “kontradiksi” antara penindas dan yang tertindas, yang terangkum dalam Pedagogy of the Oppressed, bahwa dalam proses membebaskan diri dari penindasan, mereka yang tertindas kerap hanya mengetahui bagaimana caranya menjadi penindas. Ia menyatakan bahwa “perjuangan ini […] pada kenyataannya akan menjadi sebuah tindakan cinta yang melawan ketiadaan cinta yang terletak di jantung kekerasan para penindas.” Dengan demikian, pembebasan bukan hanya menjadi perjuangan melawan struktur yang menindas, tetapi juga melawan proses internalisasi terhadap struktur-struktur tersebut.
Pada 10 September, ARKIPEL The Damned of the Earth – 13th Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival menayangkan Cinema-Read: The Wretched Write Back, yang dikuratori oleh Shelvira Alyya. Program ini membahas sinema sebagai sebuah tindakan membaca itu sendiri, dalam konteks kolonialisme dan bagaimana, meskipun seringkali tanpa disadari, sejumlah klasifikasi sosial-politik yang sistemik dan berasal dari kolonisasi masih terus bertahan. Judul program ini sendiri diambil dari pemikiran psikiater dan filsuf politik Prancis, Frantz Fanon, serta desakannya untuk melawan sistem kolonial Eropa melalui pembebasan pikiran.
Hal ini membawa kita pada pertanyaan mengenai kebebasan mental, dan apakah pembebasan semacam itu dapat dilacak dalam sinema kontemporer. Secara kebetulan, kedua film yang ditayangkan menggambarkan rantai-rantai tak kasatmata yang masih mengikat kita pada kerusakan pascakolonial, bahkan ketika kolonialisme tampak sudah tidak lagi hadir.
K-Pop (2026) karya Arjun K mendekati persoalan ini melalui konsep garis keturunan kriminal yang diwariskan, serta bagaimana klasifikasi semacam itu menjadi bukti dari teori pelabelan sosiologis Howard Becker: bahwa penyimpangan tidak melekat secara inheren pada diri seseorang, melainkan diproduksi sebagai konsekuensi dari label yang diberikan oleh masyarakat. Film ini dengan demikian menunjukkan bagaimana klasifikasi sosial terus bertahan dan menentukan siapa yang dianggap menyimpang bahkan sebelum individu tersebut memperoleh kesempatan untuk mendefinisikan dirinya sendiri.

Fenomena ini juga dapat dilihat melalui norma-norma sosial yang diwariskan dari kolonialisme Eropa, khususnya keyakinan bahwa bentuk-bentuk penyimpangan tertentu bersifat bawaan. Asumsi semacam ini semakin melanggengkan logika bioesensialis dari “White Man’s Burden”, sebuah ideologi yang dipertahankan melalui klasifikasi dan hierarkisasi ras. Dalam pengertian ini, rantai-rantai tak kasatmata yang digambarkan dalam kedua film bukan semata-mata sisa dari masa kolonial, melainkan manifestasi dari sistem pemikiran yang masih membentuk bagaimana individu dibaca, dikategorikan, dan dipahami. Tindakan membaca sinema, dengan demikian, menjadi tidak terpisahkan dari pertanyaan mengenai apakah kita benar-benar telah membebaskan diri dari struktur kolonial yang selama ini mengajarkan kita bagaimana cara melihat.
Hal ini berlanjut dalam cara K-Pop memperlakukan pemikiran intelektual Barat, ketika kutipan-kutipan dari Kafka dan Gramsci justru dinisbatkan kepada Krishnan Thugee. Alih-alih sekadar menolak filsafat Barat, K-Pop mempertanyakan siapa yang sejak awal diperbolehkan untuk diakui sebagai pengarang dari pemikiran tersebut. Gagasan-gagasan itu mungkin telah dirumuskan di tempat lain, tetapi film ini menegaskan bahwa kesadaran yang melatarbelakanginya tidak eksklusif dimiliki oleh mereka yang memperoleh akses terhadap institusi-institusi yang kemudian mengabadikan nama mereka.
Dalam Emergencies (2025), Bart Wen Long Seng mendekati pertanyaan ini melalui arsip itu sendiri. Film ini dibuka dengan sebuah peta yang meluas dari Tiongkok menuju Indochina dan Malaya, menempatkan tanah sebagai sesuatu yang harus ditelusuri, dibagi, dan dibuat terbaca bahkan sebelum sejarah masyarakat yang menghuninya dapat diceritakan. Bahkan terminologi yang digunakan untuk menyebut konflik tersebut menjadi sebuah alat kontrol: apa yang pada kenyataannya merupakan perang saudara antara Malayan National Liberation Army dan pasukan kolonial secara resmi disebut sebagai “Malayan Emergency”, salah satunya karena penyebutan konflik tersebut sebagai perang saudara akan berdampak pada klaim asuransi di London. Dengan demikian, kekerasan tidak hanya hadir dalam apa yang dicatat oleh arsip, tetapi juga dalam bahasa yang digunakan untuk mencatatnya. Melalui montasenya yang irreverent, Seng membongkar bagaimana propaganda dapat menciptakan kategori “ancaman” dan “ketertiban”, menentukan kekerasan siapa yang dapat dilegitimasi dan perlawanan siapa yang harus diberantas.

Emergencies dan K-Pop menunjukkan bahwa warisan kolonial tidak hanya bertahan melalui struktur politik atau ekonomi, tetapi juga melalui sistem yang menentukan bagaimana manusia dan sejarah dibuat terbaca. Film yang satu membaca ulang arsip untuk memperlihatkan bagaimana perlawanan diubah menjadi ancaman; film yang lain mengambil sebuah klasifikasi kolonial dan membalikkannya, merebut kembali identitas yang sejak awal dimaksudkan untuk mengutuk. Namun, upaya perebutan kembali ini juga membawa kontradiksi yang diperingatkan Freire: perlawanan dapat mereproduksi struktur yang hendak dibongkarnya ketika mereka yang tertindas mewarisi posisi penindas tanpa mengubah tatanan itu sendiri secara mendasar. Di sinilah Cinema-Read menjadi lebih dari sekadar tindakan interpretasi. Membaca sinema berarti menyadari bahwa setiap gambar telah dibentuk oleh posisi seseorang, bahwa setiap arsip selalu memuat apa yang dipertahankan sekaligus apa yang disingkirkan, dan bahwa pembebasan karena itu membutuhkan lebih dari sekadar mengganti siapa yang menempati bingkai. Seperti yang ditulis Freire, “to be adalah to be like, dan to be like adalah to be like the oppressor.”
Bibliografi:
Fanon, Frantz. The Wretched of the Earth. Diterjemahkan oleh Constance Farrington, Grove Press, 1963.
Freire, Paulo. Pedagogy of the Oppressed. Diterjemahkan oleh Myra Bergman Ramos, Penguin Classics, 2017. Pertama kali diterbitkan pada 1970.
Paulo Freire explains early in his literary exploration of the “contradictions” between the oppressor and the oppressed, aptly titled Pedagogy of the Oppressed, that in the process of liberating oneself from oppression, the oppressed often only know how to become the oppressor. He states that “this fight […] will actually constitute an act of love opposing the lovelessness which lies at the heart of the oppressors’ violence.” Liberation, therefore, becomes not only a struggle against the structures that oppress, but also against the internalisation of those very structures.
On the 10th of September, ARKIPEL The Damned of the Earth – 13th Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival screened Cinema-Read: The Wretched Write Back, curated by Shelvira Alyya. The programme discusses cinema as an act of reading in itself, situated within the subject of colonialism and the ways in which, albeit unknowingly, certain systemic sociopolitical classifications derived from colonisation continue to persist. The title of the programme itself is drawn from French psychiatrist and political philosopher Frantz Fanon, and his insistence on resisting Europe’s colonial system through the liberation of the mind.
This brings to mind the question of mental freedom, and whether such liberation can be traced within contemporary cinema. Coincidentally, both films depicted the invisible chains that continue to bind us to post-colonial decay, even in its apparent absence.
K-Pop (2026) by Arjun K approaches this through the concept of hereditary criminal lineage, and how such classification functions as evidence of Howard Becker’s sociological labeling theory: that deviance is not inherently embedded within the individual, but is instead produced as a consequence of society’s own labels. The film consequently points toward the persistence of social classifications that determine who is considered deviant before the individual is even given the opportunity to define themselves.
This phenomenon can also be inferred from the enduring social norms inherited from European colonialism, particularly the belief that certain forms of deviance are innate. Such assumptions further perpetuate the bioessentialist logic of the “White Man’s Burden,” an ideology sustained through the classification and hierarchisation of race. In this sense, the invisible chains depicted within the films are not merely remnants of a colonial past, but manifestations of the systems of thought that continue to shape how individuals are read, categorised, and understood. The act of cinematic reading thus becomes inseparable from the question of whether we have truly liberated ourselves from the colonial structures through which we have learned to see.
This extends into the film’s treatment of Western intellectual thought, where quotations from Kafka and Gramsci are attributed instead to Krishnan Thugee. Rather than simply rejecting Western philosophy, K-Pop asks who is allowed to be recognised as its author in the first place. The ideas may have been articulated elsewhere, but the film insists that the consciousness behind them is not exclusive to those who were given access to the institutions that preserved their names.
In Emergencies (2025), Bart Wen Long Seng approaches this question through the archive itself. The film begins with a map expanding from China toward Indochina and Malaya, positioning the land as something to be traced, divided, and made legible before the history of its people can even be told. Even the terminology of the conflict became a means of control: what was in reality a civil war between the Malayan National Liberation Army and colonial forces was officially termed the “Malayan Emergency,” in part because the designation of a civil war would have affected insurance claims in London. The violence therefore exists not only in what the archive records, but in the language through which it is recorded. Seng’s irreverent montage exposes how propaganda can manufacture the categories of “threat” and “order,” determining whose violence is legitimised and whose resistance becomes something that must be eradicated.
Emergencies and K-Pop demonstrate that the colonial legacy persists not only through political or economic structures, but through the systems by which people and histories are made legible. One film rereads the archive to expose how resistance was transformed into threat; the other takes a colonial classification and turns it inside out, reclaiming the very identity that was intended to condemn. Yet this reclamation also carries the contradiction that Freire warns of: resistance can reproduce the structures it seeks to dismantle when the oppressed inherit the position of the oppressor without fundamentally altering the order itself. This is where Cinema-Read becomes more than an act of interpretation. To read cinema is to recognise that every image has already been shaped by someone’s position, that every archive contains both what has been preserved and what has been excluded, and that liberation therefore requires more than changing who occupies the frame. As Freire writes, “to be is to be like, and to be like is to be like the oppressor.”
Bibliography:
Fanon, Frantz. The Wretched of the Earth. Translated by Constance Farrington, Grove Press, 1963.
Freire, Paulo. Pedagogy of the Oppressed. Translated by Myra Bergman Ramos, Penguin Classics, 2017. Originally published in 1970.



