Notes on ARKIPEL 2025 International Competition
Catatan tentang Seleksi Kompetisi Internasional ARKIPEL 2025
by Otty Widasari
Revolution! The word appears 259 times—including one usage of “revolutionarily” and five usages of “revolutionary”—out of 13,940 words, in 34 pages of Soekarno’s state speech on the 19th anniversary of Indonesia’s independence, August 17, 1964. In his speech, he stated: Revolution is the symphony of destruction and construction, the symphony of demolition and development, because destruction or demolition without construction or development is nothing but anarchy, and conversely, construction or development without destruction or demolition means compromise, reformism.
A year later, he and his regime were wiped out. The world powers did not like his stubbornness. That was how the world worked in those days, during the Cold War. The world operated in a polarized manner: nations in the South were tossed about, pulled to the right, to the left, back to the right, and so on. Militarism and dictatorship gripped most post-colonial countries.
Today, six decades after that speech was delivered, the world, which had been plunged into a twilight zone by a global pandemic, is beginning to emerge from it. Just as a human body recovers from illness, it undergoes various rejuvenation processes, including the formation of new cells to replace damaged or dead ones. However, the opposite is happening to the earth’s body, with damage after damage continuing without significant repair.
Films produced throughout civilization have, at the very least, always highlighted destructive events that can be interpreted as a form of mapping. Film becomes a kind of narrative cartography, combining maps—more than just geographical representations—with stories.
Cartography was discovered, created, and developed by humans to the conceptual level. In its creation, there are certain agendas imposed to it. These agendas are agendas of power: centralized, coercive, and navigational. Thus, cartography in the context of power always has strategic objectives as an instrument and representation of power.
Soekarno titled his speech Tahun Vivere Pericoloso (TAVIP), or the year of living dangerously, 61 years ago. The title was like a warning about a world that was becoming increasingly terrifying due to imperialism and capitalism. It seems like a pretty accurate warning if we look at the narrative cartography spread out in the films that made it into this year’s Arkipel international competition. They’re getting more and more challenging, both poetically and harshly. Stories of the masses and voices from the peripheries are presented as mechanisms for overcoming uncertainty. Past violence is projected onto the present as a forensic method to uncover current violence caused by power struggles.
It seems that films produced after civilization rose from its decline became a kind of invitation to romantic revolution, driven by various forms of destruction that endangered the earth and its inhabitants. These filmmakers played their agency as revolutionaries, as mandated by Soekarno in TAVIP:
“A revolution must have friends and enemies, and the forces of the revolution must know who their friends and enemies are; therefore, a clear line must be drawn, and the right stance must be taken toward the friends and enemies of the revolution.”
Jakarta, August 6th 2025
Revolusi! Kata tersebut muncul sebanyak 259 kali—termasuk di dalamnya ada satu kata kerevolusioneran, dan lima kata revolusioner—dari 13.940 kata, dalam 34 halaman pidato kenegaraan Soekarno pada peringatan HUT ke-19 kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1964. Dalam pidatonya ia menyebut: Revolusi adalah simfoninya destruksi, dan konstruksi, simfoninya penjebolan dan pembangunan, karena destruksi atau penjebolan saja tanpa konstruksi atau pembangunan adalah sama dengan anarki, dan sebaliknya; konstruksi atau pembangunan saja tanpa destruksi atau penjebolan berarti kompromi, reformisme.
Setahun setelahnya, ia dan rezimnya pun dihabisi. Kekuatan dunia tidak suka pada kekeraskepalaannya. Demikianlah dunia bekerja di masa itu, masa perang dingin. Dunia bekerja dengan cara terpolarisasi: bangsa-bangsa di Selatan terombang-ambing, terseret ke kanan, ke kiri, ke kanan lagi dan begitu seterusnya. Militerisme dan kediktatoran mencengkeram di hampir semua negara-negara pasca-kolonial.
Hari ini, enam dekade setelah pidato itu diserukan, dunia yang sempat temaram karena wabah global, mulai bangkit lagi. Sebagaimana tubuh manusia yang baru sembuh dari sakit, tubuh akan melakukan berbagai proses peremajaan termasuk pembentukan sel-sel baru untuk menggantikan yang rusak atau mati. Namun yang terjadi pada tubuh bumi sebaliknya, kerusakan demi kerusakan terus berlangsung, tanpa perbaikan yang signifikan.
Film-film yang lahir di sepanjang peradaban, setidaknya, selalu menyoroti peristiwa-peristiwa kerusakan yang bisa dibaca sebagai sebuah pemetaan. Film menjadi semacam kartografi naratif, yang menggabungkan peta, lebih dari sekadar representasi geografis, dengan kisah.
Kartografi ditemukan, diciptakan dan dikembangkan manusia hingga ke tatanan konseptual. Dalam pembuatannya, ada penerapan agenda. Agenda itu jelas agenda kekuasaan: terpusat, memaksa, dan menavigasi. Maka kartografi dalam konteks kekuasaan selalu memiliki tujuan strategis sebagai instrumen serta representasi kekuasaan.
Soekarno menjuduli pidatonya Tahun Vivere Pericoloso (TAVIP), atau tahun hidup berbahaya, 61 tahun yang lalu. Judul itu seperti sebuah peringatan akan dunia yang makin mengerikan karena agresi imperialisme dan kapitalisme. Tampaknya itu adalah sebuah peringatan yang cukup cermat, jika kita menilik sebaran kartografi naratif yang bisa disaksikan dari film-film yang masuk ke dalam kompetisi internasional ARKIPEL tahun ini. Mereka semakin menggugat, baik secara puitik maupun secara keras. Kisah-kisah massa dan suara-suara dari pinggiran dihadirkan sebagai mekanisme mengatasi rasa ketidakpastian. Kekerasan masa lalu pun diproyeksikan pada hari ini sebagai metode forensik, untuk mengungkap kekerasan di masa kini, yang disebabkan oleh pertarungan kekuasaan.
Tampaknya, film-film yang lahir setelah peradaban kembali bangun dari keredupannya, menjadi semacam undangan revolusi romantik, didorong oleh berbagai kerusakan yang membahayakan bumi dan manusia-manusianya. Para pembuat film ini memainkan keagensiannya sebagai para revolusioner, seperti yang diamanatkan Soekarno dalam TAVIP:
“Revolusi mesti punya kawan dan punya lawan, dan kekuatan-kekuatan Revolusi harus tahu siapa kawan dan siapa lawan; maka harus ditarik garis-pemisah yang terang dan harus diambil sikap yang tepat terhadap kawan dan terhadap lawan Revolusi.”
Jakarta, 6 Agustus 2025
Selected Films
Curated Sections
-
Violence often leaves traces. They are impossible to forget, no matter how hard or desperate some try to erase them from our present. They are in our memory, however vague…
-
Taken together, these three films demonstrate how media generates meaning through audio-visual and narrative construction. Media draws its material from reality, yet simultaneously modifies, refracts, and distorts it through framing…
-
The films included in this curatorial selection critically examine past records as historical evidence. Sammy Baloji, in his work L’abre de L’authenticite (2025, Congo), shares the content of a meticulous…
-
Demonstrasi yang Berpindah dari Parlemen ke Ruang Tamu Curator: Syarifa Amira Satrioputri Revolusi Lebanon 17 Oktober 2019—demonstrasi besar-besaran yang bermula di ruang publik, jalanan, dan gedung parlemen—menjadi simbol perlawanan terhadap…
-
Poetry Lessons
Curator: Adi OsmanIn this film, poetic principles permeate the cinema. Everyday objects are used as metaphors and devices of intimacy, home, and even country. A bird nesting in a window becomes a…
-
South
Curator: Alifah MelisaSelatan Curator: Alifah Melisa Sebuah rumah yang menghadap selatan dipercaya sebagai sesuatu yang baik di Korea Selatan. Dalam feng shui Korea, rumah yang menghadap ke selatan akan membawa kehangatan, kemakmuran,…
-
Subversive Cartography Class; Alternative Methods for Questioning and then Destroy Them
Curator: Syarifa Amira SatrioputriKelas Kartografi Subversif: Metode Alternatif untuk Mencurigai Peta Lalu Menghancurkannya Curator: Syarifa Amira Satrioputri Ketika melihat peta wilayah sebuah negara di dinding kelas, kita dapat mengenali pulau-pulaunya, karena tahu bahwa…
-
Walter Benjamin once observed that a work of art, when reproduced, mass-printed, and widely disseminated, risks losing its aura. Access to the work is no longer arduous; one need not…
-
The Third way, Fourth, Fifth
Curator: Adi OsmanIn both films, modernity has already flooded the civilizations they inhabit, pushing tradition to the side and even perpetuating the attitude of “othering” different civilizations—as if only modernity is correct…
-
Uncertain Escape
Curator: Taufiqurrahman ‘Kifu’Kabur Kabur Curator: Taufiqurrahman ‘Kifu’ Dalam ketidakpastian, manusia mencari pelarian. Terkadang melalui cinta yang tak selesai, mabuk yang menyamarkan realitas, atau sekadar upaya untuk melupakan. Tiga film yang menjadi ruang…




































