ARKIPEL

Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

A Tale Old as the Word of Gods

Sebuah Kisah Tua, Setua Firman Dewa

Curator: Valencia Winata

Kekerasan kerap meninggalkan jejak. Ada yang berusaha keras menghapus keberadaanya dari pandangan kita, namun itu sebenarnya sia-sia saja. Jejak selalu tinggal di ingatan, meski samar. Ia menanamkan dirinya di alam, dan angin kehancuran membawanya berjalan-jalan: dari Timur ke Barat, dari Selatan ke Utara. Kini, kekerasan bukan lagi sebuah jejak. Ia menampakkan ketelanjangannya, memaksa kita memasang telinga dan menontonnya tanpa berkedip. Bagi sebagian orang, kekerasan mau tak mau menjadi sosok familier–sebuah kawan yang harus disiasati.

And still, it remains (Arwa Aburawa & Turab Shah, 2023) menelusuri jejak kekerasan di Mertoutek, Aljazair, sebuah kampung yang dijadikan situs uji coba bom nuklir oleh penjajah Prancis pada tahun 1960-an. Si penjajah telah angkat kaki, tetapi ia tak lupa mewariskan bencana. Tubuh-tubuh penduduk dan alam di sana mengingat sejarah situs: dari Peradaban Awal dibentuk hingga kehancuran yang kini menghantui. Mulut bersuara untuk mengingat, sedangkan alam berbisik dengan gelisah. Angin kehancuran berhembus, membawa berita peringatan, dan mungkin juga mengembalikan debu kolonialisme ke tanah asalnya di Eropa.

Di Belgia, tak jauh dari bandara nasional Brussels, sebuah bangunan tak terlalu tinggi berdiri menyendiri. Pagar kawat menjulang menjaganya, dan lapangan luas yang hijau–terlalu hijau–menghiasinya dari luar. Bangunan steril ini diberi nama Caricole Transit Center, yang difungsikan pada tahun 2010-an. Satu per satu testimoni berbicara, satu bangunan steril menggantikan bangunan steril lainnya, hingga informasi tentang apa yang terjadi mulai terkuak–bahwa tempat-tempat itu adalah penjara yang dirancang khusus untuk para migran, di mana kekerasan terjadi di balik pagar dan beton. Di film From Afar (Gilles Vandaele & Martijn De Meuleneire, 2025), tubuh-tubuh yang ditindas menyerap kekerasan dan menyiasatinya; lidah mereka membongkar bahasa yang diciptakan si penindas, yaitu hukum. Batu logika dilempar balik ke halaman si pencipta aturan. Jika hak asasi manusia adalah universal dan mutlak, maka tak seorang pun–termasuk si penguasa–berhak mengangkangi yang lain. Namun, lagi-lagi, dunia tak pernah berjalan sebaik itu. Tanya saja pada mereka yang tak bisa datang dan pergi.

Angin meneruskan perjalanannya.

Kemarahan membisu di Oblitérer (Gaëtan Saint-Remy, 2023), sebuah reaksi terhadap bom bunuh diri yang dilakukan ISIS di stasiun Maalbeek, Belgia, tahun 2016. Pagi itu dihidupkan kembali dalam bentuk kepingan cerita tentang individu-individu yang pergi ke stasiun. Peron, barisan kursi tempat menunggu, terowongan stasiun yang sepi, tonjolan merah di ubin pemandu menjadi saksi bisu. Sesekali, cerita-cerita ini terpotong oleh garis-garis kereta yang membelah layar–seperti ledakan emosi yang tertahan dan didiamkan. Dan film, sebagai Sang Maha Hadir, menjaga jarak, karena ia tahu bahwa Kematian sedang dalam perjalanan. Toh pada akhirnya, kereta tetap pergi dan menghilang. Setelah bangkit dari abu, ingatan jatuh kembali ke tanah. Pudar.

Angin itu sudah di sini.

Di film Ategheh (Masoud Dehnavi, 2024), kekerasan bukan lagi jarak yang disembunyikan atau ingatan samar. Kekerasan adalah kesekarangan. Di perbatasan Lebanon, bunyi bom Israel yang dijatuhkan di suatu tempat menyusup ke rumah seorang ibu. Dinding bergetar, kamera panik, tetapi si Ibu hanya tertawa mendengar suara gedebuk bom jatuh. Kadang, ia berdiri di balkon, menonton lalu mengurai arah serangan. Bahaya ia jadikan kawan, dan dengan begitu, bahaya kehilangan taringnya.

Kekerasan telah berbahasa dengan konkret. Ia mengguncang dan menyerang indra. Kekerasan bukan hal yang asing, ia meresap ke udara yang mereka hirup sehari-hari. Tubuh-tubuh mereka pun menjadi tubuh yang terlatih dan dilatih oleh situasi. Dari aksi dan reaksi, tubuh menyiasati ulang. Resistensi halus bergerak pelan-pelan.

Angin bertahan.

Violence often leaves traces. They are impossible to forget, no matter how hard or desperate some try to erase them from our present. They are in our memory, however vague it is. They are embedded in nature, in which the air of destruction is carried by the wind, traveling from East to West and South to North. In fact, in the time we live in now, violence is no longer a trace. It appears in its naked form, standing proudly in plain sight, forcing its way in for us to look at and listen to it. To some, violence is a familiar face that exists hand in hand with their lives–and to a certain extreme point, violence becomes their companion that they have to strategise against.

And still, it remains (Arwa Aburawa & Turab Shah, 2023) follows the traces of violence in Mertoutek, Algeria, which was treated by the French as a testing site for nuclear bombs in the 1960s. The French left but the legacy of destruction stays within the bodies of the civilians and of nature. These bodies innately remember the site, before and after, from the beginning of civilisation to the irreversible destruction that haunts the everyday. The voices speak of the memories while nature whispers in restlessness. The wind moves, carrying a cautionary air and… perhaps returning the dust of colonialism to European soils.

In Belgium, not far from Brussels airport, a building stands in isolation, high wired-walls surrounding it, and a green field–too green it seems–encircling it. This sterile building is named Caricole Transit Center, which was inaugurated in the 2010s. One voice after another, one building after another, information begins to pile up–that migrants are imprisoned inside and violence is rendered invisible. In From Afar (Gilles Vandaele & Martijn De Meuleneire, 2025), the body of the oppressed absorbs the violence, then re-route it; the tongue redirects the language that the oppressors is using, which is the law. If universal human rights law stands above all, then no one–not even the authorities–is more powerful. Again, is this how the world works? asks the one who cannot roam free–throwing the logic back to the lord.

Still, the wind continues to blow.

Anger stays still in Oblitérer (Gaëtan Saint-Remy, 2023). It reacts to a bombing of Maalbeek metro station in Belgium carried out by the Islamic State in 2016. The memory of that event is retrieved through fragments of individual stories about those who took the metro that day. The waiting chairs, the empty alley, the platform, the red raised dots of tactile paving–silent witnesses as that day is being relived. Sometimes, these stories are interrupted by sudden, fast, blurry lines of a passing metro that pierce the screen. A quiet, suspended burst of repressed emotions. Acting as an omniscient being, the film keeps its distance, knowing that death is approaching. In the end, the metro keeps moving and disappears. The memory rises from the ashes, then it sinks back, fades out as the distance grows.

The familiar wind is here.

In Ategheh (Masoud Dehnavi, 2024), the violence is no longer a view seen from a distance nor a vague memory. On the Lebanon border, the violence is nowness. The sonic presence of Israeli bombs being dropped somewhere fills a neighbourhood, infiltrating a home that belongs to a mother. The ground shakes, the camera moves in panic, but she just laughs at the thuds. Occasionally, standing on her balcony, she watches and reads the direction of the attack. Danger becomes her companion, and so, danger loses its threat.

The language of violence now turns concrete. In its simplest form, the violence vibrates and penetrates the senses. To some, who experience it daily, violence is no longer a foreign sight. It is in the air that they breathe. Consequently, their bodies become bodies of practice. In the way a body acts, reacts and redirects itself, a soft resistance emerges and operates quietly.

The wind stays.

Films

Curator’s biography

Valencia Winata adalah seorang sarjana film yang telah membuat beberapa video pendek. Dia bagian dari tim database yang mengelola koleksi film dokumenter Indonesia di Forum Film Dokumenter di Yogyakarta. Saat ini ia sedang melanjutkan pendidikannya di bidang Kajian Budaya di Universitas Sanata Dharma. Penelitiannya berfokus pada sejarah, estetika, dan budaya film. Tulisan dan karya visualnya dapat dilihat di http://www.valenciawinata.weebly.com.

Valencia Winata is an aspiring film scholar who has made several short videos. She is part of the database team that manages the Indonesian documentary film collection at Forum Film Dokumenter in Yogyakarta. She is currently furthering her education in Cultural Studies at Sanata Dharma University. Her research focuses on film history, aesthetics, and culture. Her written and visual works can be found at http://www.valenciawinata.weebly.com.


© 2026 Forum Lenteng. All rights reserved.
ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Website: arkipel.id · Layout: tooftolenk
Powered by WordPress.com