ARKIPEL

Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Counterprovenance of the Sacred

Penelitian Asal Usul Tandingan dari Yang Sakral

Curator: Dyah Nindyasari

Apa yang para penjajah sebut sebagai ekspedisi pengetahuan sejatinya merupakan proyek kekerasan yang menembus hingga ke inti keberadaan. Segala hal yang mereka “temukan” direkam dan diukur dalam klasifikasi dan kategorisasi—mulai dari objek, tulang-belulang, hingga bagian tubuh manusia hidup—bukan hanya dalam panjang dan volume, melainkan juga dalam identitas dan martabat. Di balik dalih “pengetahuan”, terjadi penghancuran menyeluruh terhadap jaringan relasi yang menopang makna. Benda-benda yang semula hidup dalam ruang sakral dan keterhubungan komunitas dilucuti konteksnya, direduksi menjadi materi diam, lalu dibawa pulang untuk dipamerkan dalam bingkai kemegahan dan kekuasaan atas semua yang “dimiliki”.

Warisan pengetahuan museum—sebagai infrastruktur teknologi yang melayani kepentingan, kepemilikan, dan kemurnian asal-usul—menjelma menjadi hantu yang tak kenal ampun. Kini, meskipun berbagai upaya dilakukan untuk merombak warisan itu, bayangannya tetap bergentayangan. Saat tenaga ahli ditugaskan melakukan penelitian asal-usul (provenance research) atas koleksi baru, pengetahuan tersebut kerap kembali dibekukan dalam kerangka teknokratis: menjadi arsip tanpa denyut, alih-alih membuka keterhubungan yang lebih luas dan hidup.

Bagaimana jika penelitian asal-usul dibayangkan bukan hanya sebagai catatan tentang masa lalu, melainkan sebagai muara kehidupan yang terus berlangsung—ruang relasional di mana benda sakral dan kosmologi lain juga punya cara untuk menampakkan diri dan termediasi?

Di dunia yang kian termediasi oleh layar dan teknologi media, benda-benda itu tak lagi hidup semata-mata di ruang museum. Dari bentuk asli hingga yang termanipulasi, teknologi media bukanlah musuh bagi yang sakral, melainkan jalan baru bagi kehadiran yang tak tunduk pada logika institusional. Dalam ruang yang dipenuhi citra buatan—yang berada di genggaman massa dan berjarak dari otoritas—benda-benda itu melampaui informasi belaka. Mereka justru mengganggu sistem klasifikasi dengan menghadirkan afek baru.

Gempuran data dan algoritma sering membuat teknologi media dipandang sebagai instrumen dominasi, padahal ada potensi lain: menjadi medan resistensi lintas generasi yang memperpanjang ingatan kolektif. Potensi ini justru lahir dari ketidaksempurnaan dan kemungkinannya untuk dimaknai ulang. Filter TikTok dengan tafsir spekulatifnya atas benda sakral dalam film Tete-Nene, Permisi.. (2025) dapat dibaca sebagai bentuk epistemik yang membangkang, menolak rasionalitas Barat yang berusaha mempersempit cakupan pengetahuan. Teknologi yang hadir di negara-negara pascakolonial kerap datang dengan “kebocoran”, menempuh jalur sendiri saat bertemu celah konteks budaya, sosial, material, dan kosmologi lokal. Keniscayaan ini melahirkan improvisasi serta cara-cara penggunaan tak terduga, menjadikan lanskap infrastruktur berlapis-lapis. Benda sakral sebagai “teknologi lama” untuk memediasi realitas tak serta-merta kehilangan makna—ia bermutasi, tetap berpengaruh, dan memperlihatkan porositas waktu serta materialitas.

Selebihnya lagi, film ini menghadirkan moda resistensi yang benar-benar ada dalam genggaman kita, baik secara harfiah maupun gagasan. Ia menunjukkan bagaimana pengetahuan dibentuk melalui relasi lintas generasi, dan bagaimana tafsir baru yang lahir lewat teknologi media memicu dialog serta pertanyaan. Piranti visual dalam konstelasinya menjadi infrastruktur kultural yang memberi ruang bagi generasi baru untuk melampaui peran pasif sebagai konsumen citra, lalu berdiri sebagai pencipta tafsir dan citra itu sendiri.

Dengan demikian, penelitian asal-usul tak hanya berfungsi sebagai data yang disimpan sebagai fakta sejarah benda, tetapi juga dapat menemukan kembali sekaligus membentuk identitas. Tete-Nene, Permisi.. memperlihatkan bagaimana jejak relasi, makna sakral, dan narasi personal yang pernah tercabut dari komunitas asalnya dapat dipulihkan—menghidupkan kembali ingatan kolektif antara objek, tempat, dan manusia yang pernah (dan masih) merawatnya. Proses ini menggeser pandangan hierarkis dalam hubungan antara pusat dan pinggiran, antara institusi dan komunitas, tanpa mencari keabsahan pemaknaan tunggal—konsep yang juga berasal dari epistemologi Barat. Bahkan saat sang sutradara menghadirkan ruang gelap dan kesunyian benda, itu bukan untuk membekukannya, melainkan untuk menunda tafsir instan dan memberi kesempatan bagi kita untuk meraba hubungan yang tak bisa diungkap narasi linear. Jejaring makna pun bebas bergerak, dari masa lampau ke masa kini, dari yang tampak hingga yang tak terlihat.

Empat puluh satu tahun setelah penembakan Arnold Ap, kurator pertama Museum Loka Budaya Universitas Cendrawasih sekaligus pendiri grup Mambesak, kekerasan epistemik dan badaniah masih membekas dan menjelma dalam berbagai bentuk kekuasaan. Namun, selaras dengan praktik Ap dan Mambesak, komunitas Yoikatra terus mengamini relasi antarkomunitas dan teknologi media sebagai sarana distribusi pengetahuan.

Selain itu, sambil membawa kita menyusuri perjalanan “membangun” ruang museum itu sendiri—sebuah ruang yang menciptakan “jarak”—Tete-Nene, Permisi.. menunjukkan bahwa museum berpeluang membangkang dari tujuan awal pendiriannya. Ia tak lagi terbatasi oleh posisi “di dalam” atau “di luar” institusi. Kini, siapa pun dapat membangun penelitian asal-usul tandingan, menelusuri identitas dan akar dari dialog dengan yang sakral—baik melalui perjumpaan langsung maupun lewat teknologi media. Inilah bentuk pengetahuan yang tak hanya melestarikan masa lalu, melainkan juga mempersenjatai masa kini: amunisi hidup untuk merebut kembali dan menulis ulang narasi.

What the colonizers once called an expedition of knowledge was, in truth, a project of violence that pierced to the very core of existence. Everything they “discovered” was recorded and measured into classifications and categories—from objects and skeletal remains to the living human body—not merely in terms of length and volume, but also identity and dignity. Under the guise of “knowledge,” an entire network of relations sustaining meaning was destroyed. Objects once alive within sacred spaces and communal bonds were stripped of context, reduced to inert matter, and carried away to be displayed as trophies of grandeur and power over all that was “possessed.”

The museum’s legacy of knowledge—as a technological infrastructure serving the interests of possession, purity, and provenance—has become a relentless specter. Even now, despite countless efforts to dismantle that legacy, its shadow lingers. When experts are tasked with conducting provenance research on new collections, that knowledge is often frozen once again within a technocratic frame: transformed into an archive without a pulse, rather than opening onto a wider, living web of connections.

But what if provenance research were imagined not merely as a record of what has been, but as an estuary of ongoing life—a relational space where sacred objects and other cosmologies find their own ways of appearing and becoming mediated?

In a world ever more mediated by screens and media technologies, such objects no longer exist solely within the museum. From the authentic to the manipulated, media technology is not the enemy of the sacred; it is a new pathway for presences that refuse institutional logic. Within a space saturated by fabricated images—at the fingertips of the masses and at a distance from authority—these objects exceed mere information. They disrupt systems of classification by generating new affective forces.

The flood of data and algorithms often leads us to see media technology as an instrument of domination, yet it also harbors another potential: a field of intergenerational resistance that prolongs collective memory. This potential arises precisely from its imperfections and its openness to reinterpretation. A TikTok filter with its speculative renderings of sacred objects—as in the film Tete, Nene, Permisi.. (2025)—may be read as an epistemic disobedience, rejecting Western rationality’s attempt to narrow the field of what counts as knowledge. In postcolonial societies, technologies often arrive with “leaks,” following their own routes as they merge with the fissures of local cultural, social, material, and cosmological contexts. This inevitability gives rise to improvisations and unforeseen modes of use, rendering the infrastructural landscape multilayered. Sacred objects, as “old technologies” mediating reality, do not simply lose their meaning—they mutate, remain potent, and reveal the porosity of time and materiality.

Moreover, this film embodies a mode of resistance literally and conceptually within our grasp. It demonstrates how knowledge is forged in relationality across generations, and how new interpretations born of media technology provoke dialogue and inquiry. Visual devices, in their constellation, become cultural infrastructures granting younger generations the means to transcend a passive role as image consumers and to stand as creators of interpretation and image themselves.

Thus, provenance research need not remain mere data stored as historical fact; it can rediscover and even reshape identity. Tete, Nene, Permisi.. shows how traces of relation, sacred meaning, and personal narratives—once severed from their original communities—can be restored, reviving a collective memory between objects, places, and the people who once (and still) care for them. This process reorients the hierarchical gaze structuring relations between center and periphery, institution and community, without seeking the legitimacy of a single authoritative meaning—a notion equally rooted in Western epistemology. Even as the director carves out darkness and stillness around these objects, it is not to entomb them, but to delay instant readings and allow us to feel our way toward connections that resist linear narration. Meaning forms an open network, moving freely between past and present, between the visible and the unseen.

Forty-one years after the shooting of Arnold Ap—first curator of the Loka Budaya Museum at Cenderawasih University and founder of the Mambesak group—the wounds of epistemic and bodily violence remain etched into various forms of power. Yet, in line with Ap’s own practice and that of Mambesak, the Yoikatra community continues to affirm intercommunal relations and the role of media technology as a vehicle for knowledge distribution.

At the same time, while guiding us through the journey of “constructing” a museum space itself—a space that imposes distance—Tete, Nene, Permisi.. reveals that a museum can defy the very purpose of its original creation. It need no longer be confined to the binary of “inside” or “outside” the institution. Today, anyone can build a counter-provenance, tracing origins and identities by dialoguing with the sacred—whether through direct encounters or mediated by technology. This is a form of knowledge that does not merely preserve the past but arms the present: a living ammunition to reclaim and rewrite the narrative.

Films

Curator’s biography

Dyah Nindyasari (Jakarta, 2002) adalah mahasiswa Studi Asia Selatan dan Tenggara di Universitas Leiden. Menjadi anggota MILISIFILEM Collective sejak 2024, ia aktif menulis, mengkurasi, dan memproduksi berbagai proyek seni dan film. Karya-karyanya telah dipamerkan di JOFFIS 2024 dan pameran Metasandi (2024).

Dyah Nindyasari (Jakarta, 2002) is a student of the study of South and Southeast Asia at Leiden University. A member of the MILISIFILEM Collective since 2024, she actively writes, curates, and produces various art and film projects. Her works have been exhibited at JOFFIS 2024 and the Metasandi exhibition (2024).


© 2026 Forum Lenteng. All rights reserved.
ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Website: arkipel.id · Layout: tooftolenk
Powered by WordPress.com