ARKIPEL

Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Can You See the Monsoon?

風從哪裏來?

Curator: Videotage

Kepulauan Pasifik-Asia menjadi peta hasrat bagi kekuatan-kekuatan kolonial. Sejak abad ke-16, pesisir dan pulau-pulau jatuh ke tangan asing—bukan hanya demi sutra, teh, gula, dan porselen, tetapi juga demi janji strategis yang ditawarkan oleh lautnya. Geografi maritim kawasan ini yang sangat menentukan—selat, pelabuhan, dan persilangan jalur samudra—menjadikannya sekaligus sebagai sesuatu yang diperebutkan dan titik poros dalam permainan kekaisaran.

Namun, lihatlah melampaui pulau-pulau dan lautan: monsun adalah denyut kawasan ini. Dari sapuan angin timur laut pada November hingga embusan angin barat daya pada Mei, musim menopang perkebunan sekaligus menentukan pergerakan—perahu, karavan, tangan-tangan pekerja—yang merajut ritme perdagangan. Cuaca mengulang geraknya seperti sebuah bahasa waktu, menyuburkan tanaman, mengukir garis pantai, serta membentuk adat, ingatan, dan hasrat yang khas pada setiap tempat.

Dari Mana Datangnya Angin? mengarahkan pandangannya pada bentang angin dan air ini, menelusuri bagaimana iklim dan lanskap membentuk kehidupan sehari-hari, mengarahkan perdagangan, serta memicu ketegangan geopolitik di seluruh kepulauan Pasifik-Asia. Untuk menangkap angin dan air, program ini juga menelaah bentang-bentang yang memantulkan dan menyalurkan keduanya: bukan hanya bentang alam, tetapi juga intervensi manusia—reklamasi, pemotongan gunung, ekstraksi sumber daya, dan pembangunan infrastruktur—yang kesemuanya merupakan upaya untuk membentuk kembali tanah dan geografi demi memenuhi kepentingan otoritas, korporasi, dan komunitas. Melalui tindakan-tindakan tersebut, kita dapat membaca nilai-nilai yang saling berhadapan dalam manipulasi sumber daya, sekaligus hasrat mendasar yang terungkap di baliknya.

Dikurasi oleh Videotage sebagai pengembangan dari program pertukaran kuratorial, program ini menampilkan seniman dari Hong Kong dan Cina daratan, memperluas fokusnya dari Asia Tenggara ke kawasan Pasifik-Asia yang lebih luas, serta mempertimbangkan bagaimana monsun melintasi waktu, mengarahkan hasrat manusia, dan membentuk kontur lanskap masa depan.

Dengan menangkap langit—citra yang nyaris tanpa perbedaan—My Random Diary (2020) karya Leung Chi Wo mengajak penonton untuk kembali menengok peristiwa-peristiwa yang terjadi lima puluh tahun silam. Sang seniman menyandingkan peristiwa kekerasan dan perayaan yang terjadi pada hari yang sama melalui sulih suara dan foto-foto dari kunjungan yang dilakukannya ke lokasi-lokasi tersebut setengah abad kemudian. Langit yang tidak berubah, yang menjadi saksi bagi kedua peristiwa itu, dipertemukan dengan lokasi-lokasi masa kini yang hanya menyisakan sedikit atau bahkan tidak meninggalkan jejak dari peristiwa tersebut. Keduanya menandai perjalanan lima puluh tahun, sekaligus mempertentangkan transformasi kota yang berlangsung cepat dengan langit yang seolah tak lekang oleh waktu. Lahir pada 1968, setahun setelah kerusuhan Hong Kong 1967, Leung mengetahui peristiwa tersebut melalui kisah orang lain semasa kanak-kanak; penelusuran kembali secara pengalaman dan penggunaan citra sehari-hari dalam karyanya mencerminkan keterbatasan akses terhadap masa lalu yang telah mereda.

Dalam We Drift Until the Sea Forgets Us (2026), seniman Florence Lee menghadirkan meditasi abstrak mengenai lautan yang tak pernah tenang dan angin yang bergerak melintasinya. Dengan melapiskan pensil, arang, dan pastel, Lee menciptakan animasi gambar tangan yang membangkitkan lanskap maritim yang terus berubah, dipenuhi ikan, bentuk-bentuk yang terbenam, dan makhluk-makhluk yang hanyut. Alih-alih memusatkan perhatian pada satu spesies, karya ini menyusun fragmen-fragmen laut yang sementara dan fana; setiap fragmen kemudian dihapus oleh fragmen berikutnya, menyiratkan pelupaan dan lenyapnya ingatan.

Menanggapi apa yang hilang dalam detail visual, The First Photograph (2024) karya Jess Lau menelusuri rute migrasi rahasia ayahnya dengan merekonstruksi kemungkinan-kemungkinan lanskap yang dilaluinya. Dibangun melalui beragam gestur—peta Google, gambar kembang api dan pedesaan yang buram, teks yang minim, serta suara latar yang tertahan—film ini meminta penonton untuk mengisi celah-celah yang ada. Tanpa jam tangan, radio, ataupun peta, angin dan cahaya menjadi penanda lokasi dan arah, menuntun para migran menuju permukiman di Hong Kong dan menuju terciptanya foto pertama tersebut—identitas kependudukan yang sah.

Lahir dan dibesarkan di Yunnan, provinsi di barat daya Cina yang berbatasan dengan Myanmar, Laos, dan Vietnam, Cheng Xinhao menggunakan tubuhnya—berjalan dan mengumpulkan satu batu setiap satu kilometer—untuk mengalami secara langsung sebagian jalur Kereta Api Yunnan–Vietnam, dari Kunming hingga perbatasan Vietnam. Dibangun setelah Perang Cina–Prancis, jalur kereta api tersebut mencapai ketinggian lebih dari 2.000 meter pada titik tertingginya sebelum menurun menuju pesisir Vietnam. Dalam karya To the Ocean (2019), rekaman kamera sederhana Cheng mendokumentasikan langkah-langkahnya; garis waktu yang dipadatkan serta perubahan halus pada pakaian dan lanskap menyampaikan dinginnya angin dataran tinggi dan panasnya wilayah perbatasan, sekaligus mengisyaratkan bagaimana modernisasi jalur kereta api telah membentuk kembali komunitas-komunitas dengan latar belakang yang beragam.

Laut dalam Sea Sand Home (2021/2025) karya Lee Kai Chung ditampilkan sebagai sebuah zona yang tak dapat diakses. Menelusuri sumber material yang menopang gelombang baru pembangunan infrastruktur kota, sang seniman melakukan perjalanan ke Guangxi untuk mendekati lokasi-lokasi ekstraksi yang memasok pasir bagi reklamasi di Hong Kong. Perjalanan dengan taksi membawanya ke sebuah lubang galian yang sangat luas; meskipun ia hanya dapat mengamati lokasi tersebut melalui drone, skala dan luka pada lanskap yang telah kehilangan konteksnya memunculkan berbagai pertanyaan bagi sang seniman. Angin dan garam mengancam arsitektur pesisir— siapa yang tinggal di dekat lubang galian tersebut? Mengapa perkebunan dan lahan pertanian terkonsentrasi di sekitarnya? Pasir berwarna putih menandakan kandungan klorida yang tinggi, yang dapat menyebabkan korosi pada struktur bangunan. Siapa yang akan menggunakan material ini untuk infrastruktur jangka panjang? Di tengah arus integrasi dan pembangunan, tanah dikorbankan untuk menopang pertumbuhan di tempat lain. Bagaimana seharusnya kita membaca keindahan di tengah kerapuhan semacam itu?

Angin adalah kehadiran yang tak berwujud, yang kita rasakan setiap hari; kekuatannya dibentuk oleh bentang alam yang dilaluinya. Angin yang kencang memperlihatkan kerapuhan kita, membuat manusia tampak kecil di hadapan keluasan alam dan arus sejarah, sekaligus menegaskan batas-batas daya tahan manusia. Efek kupu-kupu—sebuah konsep ilmiah—menawarkan sudut pandang baru terhadap angin, yang menunjukkan bahwa tindakan-tindakan kecil di satu tempat dapat berkembang menjadi konsekuensi yang luas ketika bergerak melintasi berbagai lanskap. Hal ini mengingatkan kita akan keterhubungan yang mendalam antara manusia dan tempat. Alih-alih memandang angin semata-mata sebagai kekuatan eksternal, kita juga dapat membayangkan bagaimana tindakan-tindakan di masa lalu turut membentuk angin yang kita rasakan hari ini.

The Pacific-Asian archipelago became a map of appetites for colonial powers. From the 16th century onwards, coasts and islands fell into foreign hands—not only for silks, tea, sugar and porcelain, but for the strategic promise of their seas. The region’s commanding marine geography–its straits, ports, and oceanic crossroads–made it both prize and pivot in the games of empire.

Look beyond the isles and ocean: the monsoon is the region’s pulse. From November’s northeast sweep to May’s southwest breath, the seasons sustain plantations and prescribe movement—boats, caravans, laboring hands—weaving the rhythms of trade. Weather repeats its gestures like a language of time, nurturing crops, carving coastlines, and shaping site-specific customs, memories, and desires.

Can you see the Monsoon? turns its gaze to this terrain of wind and water, tracing how climate and landscape have shaped everyday life, steered commerce, and stoked geopolitical tension across the Pacific-Asian archipelago. To capture wind and water, the programme also examines the terrains that echo and channel them: not only natural features but human interventions—reclamation, mountain cutting, resource extraction, and infrastructure building—all efforts to reshape land and geography to satisfy authorities, corporations and communities. Through these acts we read competing values in the manipulation of resources  and the underlying desires they reveal.

Curated by Videotage as an extension of the curatorial exchange, the programme features artists from Hong Kong and mainland China, expanding its focus from Southeast Asia to the wider Pacific Asia and considering how the monsoon passes through time, directs human longing, and shapes the contours of tomorrow’s terrain.

By capturing the sky—the images of minimal distinction — Leung Chi Wo’s My Random Diary (2020) invites viewers to revisit events from fifty years past. The artist juxtaposes violent and celebratory events that occurred on the same day through voiceover and photographs from site visits he made half a century later. The unchanged sky that witnessed both scenes, paired with present-day sites that show little or no trace of those events, marks the passage of fifty years, contrasting the city’s rapid transformation with a seemingly perpetual sky. Born in 1968, the year after the 1967 Hong Kong riots, Leung learned of those events through others’ accounts in childhood; his experiential revisiting and ordinary imagery reflects limited access to a subsided past.

In We Drift Until the Sea Forgets Us (2026), artist Florence Lee presents an abstract meditation on the restless ocean and the winds that move across it. Layering pencil, charcoal, and pastel, Lee creates hand-drawn animation that evokes an ever-shifting marine landscape of fish, submerged forms, and drifting creatures. Rather than centering a single species, the work sequences transient, ephemeral segments of the ocean, each erased by the next, suggesting oblivion and forgetting.

Responding to what is lost in visual detail, Jess Lau’s The First Photograph (2024) traces her father’s clandestine migration route by reconstructing its possible scenery. Built from different gestures — a Google map, blurred images of fireworks and countryside, sparse text, and restrained background sound — the film asks audiences to fill in the gaps. Without a watch, radio, or map, wind and light signal location and direction, guiding migrants towards settlement in Hong Kong and towards creating that first photograph (the legitimate residential identity).

Born and raised in Yunnan, the southwest province bordering Myanmar, Laos, and Vietnam, Cheng Xinhao uses his body—walking and collecting one stone every kilometre—to experience a section of Yunnan-Vietnam Railway (from Kunming to the Vietnam border). Constructed after the Sino-French War, the rail line reaches elevations over 2,000 metres at its highest point before descending towards the Vietnamese coast. In the work, To the Ocean (2019), Cheng’s simple camera work documents his steps; the condensed timeline and subtle changes in clothing and landscape convey the plateau’s cold winds and the border’s heat, suggesting the railway’s modernisation has reshaped communities of diverse backgrounds.

The sea in Lee Kai Chung’s Sea Sand House (2021/2025) is presented as an inaccessible zone. Tracing the sources that feed the city’s new swings of infrastructure, the artist travels to Guangxi to approach extraction sites supplying sand for reclamation in Hong Kong. A taxi ride brings him to a vast pit; though he can only survey it by drone, the scale and scar of the landscape, stripped of context, provoke the artist’s questions. Wind and salt threaten seaside architecture—who lives beside the pit? Why are farms clustered around it? The white sand signals high chloride content, which can corrode structures. Who will use this material for long-term infrastructure? In the currents of integration and development, land is sacrificed to sustain growth elsewhere. How should we read beauty upon such fragility?

Wind is an intangible presence we feel daily; its force is shaped by the terrain it crosses. Strong winds expose our fragility, rendering us small against the vastness of nature and sweeping historical currents while underscoring the limits of human resistance. The butterfly effect—a scientific concept—offers a fresh perspective on wind, suggesting that small acts in one place can amplify into far-reaching consequences as they pass through varied landscapes, reminding us of the deep interconnection among people and places. Rather than seeing wind solely as an external force, we can also imagine how past actions helped generate it.

Films

Curator’s biography

Videotage adalah organisasi nirlaba terkemuka di Hong Kong yang berfokus pada presentasi, promosi, produksi, dan pelestarian seni video dan media, melayani para seniman dalam jaringan seni dan budaya teknologi yang berkembang. Sejak 1986, Videotage telah berkembang dari wadah bagi seniman media menjadi jaringan seni dan budaya media untuk produksi budaya lintas disiplin, serta platform untuk memfasilitasi pertukaran internasional.

Videotage is a leading non-profit organisation in Hong Kong focusing on the presentation, promotion, production and preservation of video and media art, serving artists in the expanding technological art and culture network. Since 1986, Videotage has developed itself from an umbrella for media artists to a network of media art and culture for cross-disciplinary cultural productions, as well as a platform to facilitate international exchange.


© 2026 Forum Lenteng. All rights reserved.
ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Website: arkipel.id · Layout: tooftolenk
Powered by WordPress.com

Discover more from ARKIPEL

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading