ARKIPEL

Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

A Repository of Collective Memory: Local’s Embodied Memory of Flooding in Jakarta

Gudang Memori Kolektif: Banjir Yang Menubuh di Ingatan Warga Jakarta

Curator: Dyah Nindyasari & Syarifa Amira Satrioputri

Gudang Memori Kolektif: Banjir Yang Menubuh di Ingatan Warga Jakarta

Banjir yang terus berulang di Jakarta tidak lagi dapat dibaca sebagai fenomena alamiah. Kita tidak sedang berhadapan dengan “dunia alami” yang objektif dan terpisah dari realitas keseharian, melainkan dunia bersama (common world) yang diproduksi sekaligus disusun bersama. Banjir adalah situs tarik-menarik kepentingan, dibentuk oleh infrastruktur, identitas, hingga keindraan dan perasaan. Ia juga fragmen dari krisis iklim sebagai hiperobjek—fenomena yang begitu masif hingga nyaris tak kasat mata.

Banjir tidak hanya hadir sebagai bencana, melainkan juga memperlihatkan dualitas posisi dari berbagai aktor dengan relasi kompleks: warga, tokoh masyarakat, hingga pemerintah. Bagi sebagian kelompok, misalnya anak-anak, banjir bukanlah musibah melainkan undangan bermain di antara air kotor penuh kandungan berbahaya. Sebaliknya, bagi pemerintah, banjir adalah masalah utama Jakarta yang harus ditangani melalui kebijakan infrastruktur. Inilah wajah beragam agensi yang saling bertumbukan, membuat banjir di Jakarta tetap menjadi isu urban yang didekati dengan jalan pintas dan visi kabur. Sementara itu, warga secara organik terus menyiapkan siasat menghadapi banjir yang tak kunjung berakhir.

Kerangka inilah yang melandasi proyek-proyek penelitian kolaboratif transdisipliner, seperti Futures of Listening: Water Knowledge from Two Cities dan Proyek Manggarai. Proyek-proyek ini merekam keseharian warga Kalibata Pulo hingga pintu air Manggarai, dengan menekankan ketajaman sensori tubuh dalam pengalaman warga. Mengaktifkan kesadaran keindraan berarti masuk lebih jauh ke dalam jejak-jejak pengalaman warga: membuka kembali ruang sejarah, agensi, dan memori warga dari fragmen krisis iklim maupun kebijakan yang tercerai-berai dan terhapus modernisme.

Pertanyaannya, bagaimana membuka ruang-ruang tersebut ketika pendekatan konvensional berupa angka dan peta sudah tak lagi cukup? Pendekatan yang lupa bagaimana air dirasakan, dibicarakan, diantisipasi, dan dinegosiasikan oleh warga? Kita dituntut hadir lebih dekat, lebih mendengarkan. Tawaran berbasis bunyi dan keindraan menjadi salah satu jalan untuk merekatkan kembali fragmen-fragmen yang telah menjelma menjadi ketidakaturan yang hidup dalam tubuh warga.

Film-film dalam kuratorial ini adalah gudang memori kolektif baru: merekam ingatan warga akan banjir dan menampungnya dalam ruang penyimpanan bersama tanpa kepemilikan. Setiap pembuat film bebas mengolah ulang materi yang sama, sehingga visual warga kerap muncul berulang. Namun, pengulangan ini tetap menghadirkan makna berbeda: dari anak-anak yang bermain di gang sempit, hingga bapak pemilik warkop kecil yang terbiasa bisnisnya kebanjiran. Rekaman memori warga yang tertangkap kamera bukanlah penutup kisah banjir, melainkan proses yang selalu bisa dipilah, digarisbawahi, dikembangkan, atau dipertanyakan kembali seiring dinamika yang berjalan.

Secara keseluruhan, film-film ini mengangkat masalah keseharian warga melalui bingkai sosiologi populis yang dekat dengan cara bertutur mereka. Salah satunya tampak pada adegan anak-anak membuat miniatur jembatan sebagai simulasi jembatan Kalibata Pulo dalam film Taman Bermain (2025), yang seolah terekam tanpa intervensi sutradara. Adegan ini menunjukkan agensi anak-anak memilih imajinasi ketubuhan untuk memperkecil diri, sebagai respons atas kebijakan infrastruktur yang mereka tahu tidak berpihak pada warga.

Dalam dunia bersama ini, banjir bukan hanya masalah lokal Kalibata Pulo, melainkan juga gejala sejarah megacity Jakarta, yang hingga kini terus menambal-sulam kebijakan air kolonial. Film Key to the Past (2025) mengungkap bagaimana pembangunan infrastruktur air pada masa kolonial Belanda lebih menyerupai fantasi akan kampung halaman mereka, Amsterdam, daripada respons terhadap lanskap lokal. Batu dan sampah yang terjebak di pengendapan pintu air, pembangunan yang terus berjalan di lanskap yang kian sesak, serta agensi warga yang menyelinap di sela beton jembatan, membentuk narasi yang tumbuh di periferi namun terjalin menjadi identitas Manggarai. Film ini membawa kita ke lensa lebih filosofis, membayangkan gestur baru dalam siasat bertahan di tengah krisis antroposen.

Kuratorial ini mengajak kita mempertanyakan kembali bahaya yang bersemayam dalam besi-besi pembangunan. Modernisme memaksa kita menghadapi realitas brutal yang mengancam kelangsungan hidup dengan cara konfrontatif. Namun, di tengah krisis iklim, kita perlu menyadari bahwa kekerasan juga dialami dalam bentuk paling halus—ditangkap indera, tapi luput dari nalar. Kesadaran ini harus dipusatkan kembali, demi menemukan urgensi menjaga resiliensi dan keberlangsungan hidup. Gudang memori kolektif bukan hanya menawarkan refleksi lewat penginderaan, melainkan juga membuka kemungkinan respons: dari kontemplasi hingga resistensi terhadap hiperobjek yang melingkupi kita.

The recurring floods in Jakarta can no longer be read as a natural phenomenon. We are no longer facing an ‘objective natural world’ detached from everyday reality, but rather a common world—produced and composed together. Floods are sites full of competing interests, shaped by infrastructure, identity, as well as perception and emotion. They are also fragments of the climate crisis as a hyperobject, where a phenomenon is so massive that it becomes almost invisible.

Floods do not arrive merely as disasters; there is a duality in how various actors with complex relations perceive them: from local residents, community figures, to the government. For some groups—for instance, children—floods are not disasters but invitations to step outside and play in dirty water mixed with hazardous substances. On the other hand, for the government, floods are Jakarta’s foremost urban problem to be eradicated through infrastructure-driven policies. This is the face of diverse agencies that clash, making floods in Jakarta an urban issue still sought to be solved through shortcut visions clouded by ambiguity. Meanwhile, local residents organically continue to devise strategies to cope with floods whose end is nowhere in sight.

This becomes the foundation for collaborative-transdisciplinary research projects such as Futures of Listening: Water Knowledge from Two Cities and Manggarai Project. These collaborations record the everyday lives of Kalibata Pulo residents up to the Manggarai floodgate, through the sensory sharpness of the body in relation to lived experience. Activating sensory awareness means delving deeper into the traces of the local residents’ experiences. From there, one re-experiences what local residents feel—reopening spaces of history, agency, and memory from fragments of the climate crisis and policies scattered and forgotten by modernism.

How, then, can we reopen these spaces when conventional approaches—numbers and maps—are no longer sufficient? When we have forgotten how water is sensed, spoken of, anticipated, and negotiated by its inhabitants? We are urged to be more fully present, to listen more attentively. Sound- and sense-based practices offer one pathway to reattach fragments that have become entangled and embodied within the local community’s lives.

The films in this curatorial are repositories of collective memory—recording local residents’ recollections of floods, storing them in a shared space without ownership. Each filmmaker is free to rework the same material, so the films often present local residents’ expressions through recurring visuals. Yet these repetitions can still be read differently—from children playing in narrow alleys, to a small coffee stall owner accustomed to seeing his business submerged. The memories captured here are not an ending to floods, but a process that can always be sifted, underlined, developed, or questioned again in tandem with unfolding dynamics.

Altogether, these films offer the everyday struggles of local residents through a populist sociological frame familiar with their own storytelling. In Taman Bermain (2025), for example, a scene shows children building miniature bridges as simulations of those in Kalibata Pulo—captured as if without directorial intention. This reveals the children’s agency in choosing bodily imagination to shrink themselves, responding to infrastructure policies they know will not take their side.

In this common world, floods are not only local problems for Kalibata Pulo residents but also symptoms of Jakarta’s history as a megacity—still patching together colonial water policies to this day. Key to the Past (2025) slips into how the Manggarai river ecosystem, shaped by Dutch colonial water infrastructure, resembled fantasies of their hometown Amsterdam more than responses to the local landscape. Stones and debris caught in depositional eddies near the floodgate, construction still pressing ahead amid a suffocating landscape, and the agencies of actors slipping through cracks of concrete bridges all form stories growing at the periphery yet stitching together into the identity of Manggarai we recognize today. This film carries us from earlier works into a more philosophical lens, imagining new gestures of survival amid the Anthropocene crisis.

This curatorial asks us to reconsider the dangers that seep through the iron of development. Modernism forces us to confront a brutal reality that threatens human survival head-on. Yet amid the climate crisis, we must also recognize that violence is experienced in subtler ways—perceived by the senses but ignored by reason. We need to re-center this awareness to rediscover the urgency of sustaining resilience and continuity. The repository of collective memory not only offers reflection through the senses but also opens possibilities for responding to hyperobjects—responses that may take shape as resistance, not mere contemplation.

Films

Curator’s biography

Dyah Nindyasari (Jakarta, 2002) adalah mahasiswa Studi Asia Selatan dan Tenggara di Universitas Leiden. Menjadi anggota MILISIFILEM Collective sejak 2024, ia aktif menulis, mengkurasi, dan memproduksi berbagai proyek seni dan film. Karya-karyanya telah dipamerkan di JOFFIS 2024 dan pameran Metasandi (2024).

Syarifa Amira Satrioputri (2000, Jakarta) adalah pengamat geologi dan seniman multidisiplin. Ia lulus dari jurusan geologi Universitas Indonesia dan aktif mengkaji isu antroposen lewat pemetaan interdisiplin. Penelitiannya tentang lingkungan pengendapan akibat pintu air Manggarai dipamerkan di Zone2Source, Belanda bersama milisifilem. Sekarang ia membangun platform alternatif Geology made Punk (GMP) untuk mengkritisi keilmuan geologi dan menulis tentang film dan lingkungan.

Dyah Nindyasari (Jakarta, 2002) is a student of the study of South and Southeast Asia at Leiden University. A member of the MILISIFILEM Collective since 2024, she actively writes, curates, and produces various art and film projects. Her works have been exhibited at JOFFIS 2024 and the Metasandi exhibition (2024).

Syarifa Amira Satrioputri (2000, Jakarta) is a geologist and multidisciplinary artist. She graduated from the University of Indonesia with a degree in geology and actively studies the Anthropocene through interdisciplinary mapping. Her research on the sedimentary environment caused by the Manggarai floodgate was exhibited at Zone2Source in the Netherlands with milisifilem. She is currently building the alternative platform Geology made Punk (GMP) to critique geological study and write about film and the environment.


© 2026 Forum Lenteng. All rights reserved.
ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival

Website: arkipel.id · Layout: tooftolenk
Powered by WordPress.com