Curator: Videotage & Forum Lenteng
Nanyang—yang dalam bahasa Mandarin adalah “laut selatan”— mengacu pada daratan dan kepulauan yang berada di Asia Tenggara: semenanjung Malaya, kepulauan Malaya, Indochina, dan banyak pulau lainnya di Laut Cina Selatan. Bagi masyarakat Cina terma itu tidak hanya merujuk pada peta; ia juga berarti membangkitkan ufuk yang hangat, tanah subur yang mewujudkan bayangan yang hilang tentang kehidupan yang lebih baik. Di tengah gejolak dan pertikaian sipil di dalam negeri, Nanyang menjadi simbol harapan akan tujuan yang lebih aman dan sejahtera, tempat di mana orang-orang dan keturunan mereka dapat hidup dengan lebih tenang; Hong Kong pun menjadi pelabuhan keberangkatan yang sangat penting bagi banyak perjalanan semacam itu.
Berangkat dari perjuangan untuk bertahan hidup dan janji akan hari esok, para pekerja memulai pelayaran, bertahan dari
lidah asing, mabuk laut, rindu rumah, dan bahkan ancaman penculikan. Bermigrasi itu sendiri menjadi pengorbanan — rasa sakit diterima sebagai bagian dari perjalanan, sebuah harga yang harus dibayar untuk kehidupan yang baru.
Setelah mendarat, tubuh-tubuh ini mulai menciptakan dunia dari kerinduan. Terlepas apakah masa depan yang di-
bayangkan terwujud atau tidak, sensasi, kenangan, dan persepsi menetap dalam daging dan kebiasaan, membentuk keputusan dan pertemuan sehari-hari. Komunitas-komunitas tersebar di sepanjang jalur pergerakan; akar keluarga terjalin dengan budaya lokal, agama, bahasa, dan kehidupan sosial baik di tempat tinggal saat ini maupun di kampung
halaman, menabur benih ingatan kolektif dan identitas diaspora.
Di tengah maraknya Perang Dunia Kedua dan Perang Dingin, kawasan ini diubah namanya menjadi “Asia Tenggara”. Meskipun istilah ini mungkin merupakan deskripsi yang tepat secara geografis, istilah ini terus menyederhanakan perbedaan lokal yang diabaikan oleh nama-nama sebelumnya seperti Nanyang atau Hindia Timur (yang menandakan perspektif kolonial). Setelah beberapa dekade pergolakan dan ketegangan antarnegara, kawasan ini menjadi permadani harapan, kesedihan, dan trauma. Pengetahuan yang terinternalisasi dari para migran sebelumnya terjalin dengan pengalaman hidup generasi berikutnya. Identitas, seperti ingatan, bergeser dan melunak; ia bukan lagi arsip
yang harus dikatalogkan, melainkan wadah fragmen yang harus dirasakan, dipertanyakan, dan dibayangkan kembali. Dalam pengungsian, beberapa fragmen dilupakan, sementara yang lain tetap bersama tubuh yang mengembara; sensasi, disorientasi, anekdot, dan gambaran mental dilestarikan dan ditransmisikan melalui berbagi dan dokumentasi pribadi.
Untuk meninjau kembali narasi modern Asia Tenggara dan diaspora, Videotage dan Forum Lenteng bersama-sama mengkurasi seri pemutaran tur, Scales of Passage, yang dipresentasikan di Taipei, Jakarta, Bangkok, dan Sydney. Dimulai dengan simbolisme bersama dari roh penjaga dan makhluk yang membawa keberuntungan, program ini memperlakukan pengalaman para migran dan keturunan mereka sebagai “skala” dari makhluk metaforis ini, menelusuri fragmen yang membentuk identitas diaspora. Menampilkan karya-karya gambar bergerak dari para seniman dari Hong
Kong, Cina daratan, Indonesia, dan seluruh Asia Tenggara, serial ini menampilkan dialog yang mengkaji perpindahan melalui beragam pendekatan, menghubungkan benang merah yang tersebar untuk mengungkap kompleksitas pengalaman diaspora, dan mengajak penonton untuk terlibat secara fisik—melalui penglihatan dan suara, dan melalui memori yang terkandung di dalamnya.
Generasi Sekian (2015) adalah film dokumenter yang mengikuti sebuah keluarga Tionghoa-Indonesia saat mereka untuk sementara waktu meninggalkan rumah mereka di Jakarta di tengah rumor akan terjadinya kerusuhan. Pemilihan presiden Indonesia tahun 2014 membangkitkan kenangan traumatis peristiwa tahun 1998, mendorong keluarga tersebut untuk bertindak meskipun rumor tersebut belum terbukti kebenarannya. Karya ini menunjukkan bagaimana trauma masa lalu bukan hanya kenangan yang dipegang oleh mereka yang mengalaminya, tetapi bergema lintas generasi melalui interpretasi, kecemasan, dan keputusan taktis sehari-hari.
Perjalanan ke Malaysia dan Singapura juga mendorong anak-anak untuk mengingat perjalanan mereka ke Cina daratan dan Taiwan pada tahun 2012. Pengalaman-pengalaman ini menyoroti kesulitan komunikasi yang dihadapi oleh generasi kedua, yang tidak berbahasa Mandarin. Penggunaan berbagai bahasa oleh keluarga tersebut menunjukkan bahwa identitas bukanlah warisan yang utuh, melainkan proses negosiasi, seleksi, dan adaptasi yang terus-menerus.
XIAO (Anxiety, Hope and Reality) (2016) adalah karya yang lahir dari aktivisme kolektif yang telah lama berlangsung, yang berjuang bersama warga Tambakbayan untuk tanah mereka. Tambakbayan adalah sebidang tanah kecil yang diperebutkan di Surabaya, kota metropolitan di Jawa Timur, Indonesia, yang telah lama menjadi pemukiman keturunan Tionghoa, yang diklaim oleh militer selama pembersihan komunis tahun 1965 dan diprivatisasi. Selama beberapa dekade,
warga berkolaborasi dengan kolektif untuk melakukan intervensi, merebut kembali tanah melalui praktik artistik, bergandengan tangan dengan advokasi hukum.
Cahyo Prayogo, sang pembuat film, membangun hubungan yang intens dengan warga selama masa residensinya yang panjang di bawah proyek ‘Hidup dan Mati di Tengah Perselisihan’ yang diprakarsai oleh Milisi Fotocopy. Film ini memilih gestur sederhana dari tindakan ritual performatif sambil mengeksplorasi interior rumah pria tersebut, menavigasi ikon dan gestur kehidupan sehari-hari yang diwarisi oleh memori budaya yang telah terjalin lintas generasi dan lokasi.
Pertanyaan tentang asal usul membawa kita ke ranah yang lebih reflektif dan jasmani dalam karya As I Imagine My Body Moving (2022). Lahir di Indonesia, dibesarkan di Singapura, dan sekarang berbasis di Hong Kong, penari-seniman video Elysa Wendi menavigasi tarian dan bekas luka masa lalu dan masa kini melalui penyuntingan dan kolase improvisasi. Tubuh menjadi ruang luas untuk imajinasi, bukan sekadar tempat penyimpanan pengalaman. Berbagai rang-
kaian perjalanan dan tarian kontras dengan adegan rumah sakit yang statis; kedua alur tersebut bertemu ketika sang seniman mengingat kecelakaan masa lalu yang resonansinya terasa nyata namun tak terverifikasi. Cuplikan tempat pertunjukan perusahaan tari yang akan segera dibongkar mencerminkan transformasi sutradara dari
penari menjadi pembuat film. Seperti latar belakang lintas budaya dan mobilitas transnasionalnya, identitas tetap berubah-ubah, tidak pernah sampai pada jawaban tunggal.
Tiger’s Head, Nail’s Tail: Yours Faithful (2025) adalah film esai yang menggali bahasa, migrasi, dan terjemahan memori politik di Asia Tenggara. Dengan menggunakan ingatan kakeknya yang berumur seratus tahun sebagai juru tulis untuk sistem Qiaopi (Surat Perak), seniman Serene Hui merangkai teks, cuplikan awal, surat, video beresolusi rendah dari kakeknya, dan rekaman lapangan sekitar ke dalam karyanya. Tulisan sang seniman menghubungkan dan mengontekstualisasikan elemen-elemen ini, menempatkan kenangan pribadi dalam latar belakang sejarah dan menunjukkan bagaimana kehidupan individu dan kolektif dibentuk oleh dinamika geopolitik Perang Dingin. Bentuk filmiknya menggemakan komunikasi epistolary, mengandalkan teks dan gambar berlapis untuk menceritakan peristiwa dari jarak jauh.
O for Opium (2023), sebuah karya yang memperluas fokus pada perdagangan komoditas dalam jaringan kolonial global. Dengan menampilkan kurasi cuplikan media dalam adegan berasap dan narasi ilusi, karya ini mempertanyakan istilah ‘mengejar naga’ untuk meneliti keterlibatan historis Cina dengan opium, yang diimpor melalui jalur monsun. Sebagai komoditas adiktif, opium membentuk ekonomi dan mata pencaharian di negara-negara konsumen. Dengan membedah bagaimana identitas dibentuk melalui kontrol material dan bagaimana ekonomi politik dimanipulasi, Ho Tzu Nyen menghubungkan kehidupan individu dengan kekuatan regional, mengungkapkan opium sebagai instrumen kolonial yang menimbulkan ketergantungan dan mengaburkan batas antara keinginan pribadi dan dominasi sistemik.
Program pemutaran film ini terungkap dan diakhiri dalam momen-momen sehari-hari yang biasa, menyimpang ke tubuh yang dimobilisasi, sensasi transit, dan hubungan pribadi dengan sejarah perbatasan untuk memetakan bagaimana pengalaman tubuh ini membentuk identitas dan narasi diaspora. Tubuh tersebut menjadi saksi sekaligus perekam perpindahan, mencerminkan kompleksitas dan ikatan yang luas dengan masa lalu dan tempat, serta merangkai interkoneksi yang membantu kita mengakses wilayah ini—wilayah yang membutuhkan pemahaman lebih lanjut.
Nanyang — literally “South Sea” in Chinese — traditionally refers to the lands and islands of Southeast Asia: the Malay Peninsula, the Malay Archipelago, Indochina, and the many isles beyond the South China Sea. Chinese people understand this term as more than a map, it evoked a horizon of warm, fertile shores that embodied a dislocated imagining of a better life. Against the tumult and civil strife at home, Nanyang represented hopes of a safer, more prosperous destination where bodies and lineages might breathe easier; Hong Kong became a vital port of departure for many such journeys.
Driven by the struggle for survival and the promise of tomorrow, workers embarked on unknown voyages, enduring unfamiliar tongues, salt‑sour seasickness, homesickness, and even the threat of kidnapping. Migration itself became a currency of sacrifice — pain accepted as passage, a toll paid for the prospect of a new life.
Once ashore, these bodies set about making worlds from longing. Whether the imagined future was realised or not, sensations, memories, and perceptions settled in flesh and habit, shaping everyday decisions and encounters. Communities dispersed along routes of movement; family roots intertwined with local culture, religions, languages, and social life in both present locales and hometowns, seeding collective memory and diasporic identity.
Amidst the ripples of Second World War and Cold War, the region was reframed as “Southeast Asia”. While this term might be a precise description of the geography, it continued to simplify the local differences that earlier names like Nanyang or East Indies (which signifies a colonial perspective) neglected. After decades of upheaval and interstate tension, the region was a tapestry of hope, sorrow, and trauma. The embodied knowledge of earlier migrants braided with the lived experiences of subsequent generations. Identity, like memory, shifts and softens; it is less an archive to be catalogued than a reservoir of fragments to be felt, questioned, and reimagined. In displacement some fragments are forgotten, while others remain with the wandering body; sensations, disorientations, anecdotes, and mental images are preserved and transmitted through personal sharing and documentation.
To revisit modern Southeast Asian and diasporic narratives, Videotage and Forum Lenteng co-curated the touring screening series, Scales of Passage, presented in Taipei, Jakarta, Bangkok, and Sydney. Beginning with the shared symbolism of guardian spirits and auspicious creatures, the programme treats migrants’ and their descendants’ experiences as the “scales” of these metaphoric beings, tracing fragments that shape diasporic identity. Featuring moving-image works by artists from Hong Kong, mainland China, Indonesia and across Southeast Asia, the series stages a dialogue that examines displacement through diverse approaches, links dispersed threads to reveal the complexities of diasporic experiences, and invites audiences to engage bodily—through sight and sound, and through embodied memory.
Diaspora (2015) is a documentary that follows a Chinese-Indonesian family as they temporarily flee their home in Jakarta amid rumours of impending riots. Indonesia’s 2014 presidential election stirred traumatic memories of the 1998 events, prompting the family to act despite the rumors remaining unsubstantiated. The work shows how past trauma is not merely a memory held by those who experienced it, but reverberates across generations through interpretation, anxieties, and everyday tactical decisions.
The trip to Malaysia and Singapore also prompts the children to recall their journeys to mainland China and Taiwan in 2012. These experiences highlight the communication difficulties faced by the second generation, who do not speak Mandarin. The family’s use of multiple languages suggests that identity is not an intact inheritance, but rather a process of constant negotiation, selection, and adaptation.
Xiao (Anxiety, Hope and Reality) (2016) is a work born from long-standing activism of collectives who fought together with citizens of Tambakbayan for their land. Tambakbayan is a small, contested land in Surabaya, the metropolitan in Eastern Java, Indonesia, that long serves as Chinese descendant settlement, that is claimed by the military during 1965 communist’s purge and privatised. For decades, the citizens collaborated with collectives to make interventions, reclaiming the land through artistic practices, hand in hand with legal advocacy.
Cahyo Prayogo, the filmmaker, built an intense connection with the citizens during his long residency under the project of ‘Live and Die in the Middle of Dispute’ initiated by Milisi Fotocopy. The film chose simple gestures of performative ritual act while exploring the interior of the man’s house, navigating icons and gestures of daily lives inherited by cultural memory that has been intertwined across generations and locus.
Questions of origin take us into a more reflective, corporeal realm in the work, As I Imagine My Body Moving (2022). Born in Indonesia, raised in Singapore, and now based in Hong Kong, dancer-video artist Elysa Wendi navigates the dances and scars of past and present through improvisational editing and collage. The body becomes an expansive space for imagination rather than merely a repository of experience. Different travelling and dancing sequences contrast with static hospital scenes; both threads converge when the artist recalls a past accident whose resonance is palpable yet unverifiable. Footage of a soon-to-be-dismantled dance company venue mirrors the director’s transformation from dancer to filmmaker. Like her cross-cultural background and transnational mobility, identity remains in flux, never arriving at a singular answer.
Tiger’s Head, Nail’s Tail: Yours Faithfully (2025) is an essay film that excavates language, migration and the political translation of memory across Southeast Asia. Using her centenarian grandfather’s century-old recollections as a scribe for the Qiaopi (Silver Letters) system, artist Serene Hui weaves texts, early footage, letters, low-res video of her grandfather, and ambient field recordings into the work. The artist’s writing connects and contextualises these elements, situating personal memories within a historical backdrop and showing how individual and collective lives were shaped by Cold War geopolitical dynamics. The filmic form echoes epistolary communication, relying on layered text and image to narrate events at a distance.
O for Opium (2023), a work that widens the focus to the trade in commodities within global colonial networks. Unfolding a curation of media footage in smoky tableaux and illusory voiceover, the piece interrogates the term ‘chasing the dragon’ to examine China’s historical engagement with opium, imported along monsoon routes. As an addictive commodity, opium shaped economies and livelihoods in consuming countries. By dissecting how identity is formed through material control and how political economies are manipulated, Ho Tzu Nyen links individual lives to regional forces, revealing opium as a colonial instrument that engenders dependency and blurs the boundary between personal desire and systemic domination.
The screening programme unfolds and concludes in ordinary everyday moments, detouring into the mobilised body, the sensations of transit, and personal links to border histories to map how these bodily experiences inform diaspora identities and narratives. The body both witnesses and records displacement, reflecting its complexity and extended ties to past and place, and constellates interconnections that help us access this terrain—one that warrants further understanding.
Films
Curator’s biography
Videotage adalah organisasi nirlaba terkemuka di Hong Kong yang berfokus pada presentasi, promosi, produksi, dan pelestarian seni video dan media, melayani para seniman dalam jaringan seni dan budaya teknologi yang berkembang. Sejak 1986, Videotage telah berkembang dari wadah bagi seniman media menjadi jaringan seni dan budaya media untuk produksi budaya lintas disiplin, serta platform untuk memfasilitasi pertukaran internasional.
Forum Lenteng adalah organisasi independen nirlaba yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. Didirikan pada tahun 2003, organisasi ini berfokus pada pedagogi alternatif dan praktik berbasis media, dengan penekanan khusus pada film, video, fotografi, dan bentuk-bentuk gambar bergerak lainnya sebagai alat kritis untuk mengkaji realitas sosial, politik, dan budaya.
Videotage is a leading non-profit organisation in Hong Kong focusing on the presentation, promotion, production and preservation of video and media art, serving artists in the expanding technological art and culture network. Since 1986, Videotage has developed itself from an umbrella for media artists to a network of media art and culture for cross-disciplinary cultural productions, as well as a platform to facilitate international exchange.
Forum Lenteng is an independent, non-profit organization based in Jakarta, Indonesia. Established in 2003, it is dedicated to alternative pedagogy and media-based practices, with a particular focus on film, video, photography, and other moving-image forms as critical tools for engaging with social, political, and cultural realities.








