Notes on ARKIPEL 2026 International Competition
Catatan tentang Seleksi Kompetisi Internasional ARKIPEL 2026
by Otty Widasari
What’s interesting is that the Western Enlightenment established a centuries-old orthodoxy, abhorring contradiction, and then meeting its chaotic point. Cinema was created along that trajectory. From a fixed calculation, a magical machine called the camera, which projected a montage of images—and later sound—into world culture. Cinema departed from its original realm, modernity, heading towards 2026, where images overflowed, obscuring reality in a frenzied way. Then it became tired, confusing actual reality with cinematic reality. It lost its ability to challenge the unequal world. It could only present aesthetic deception and then overlay stale poetry on top. The poetry piled up like straw hiding a secret key that could unlock the door to a more subtle world.
In 1936, Charlie Chaplin boldly guaranteed that machines would take humans away from ‘work’ and ruined life. From there, he created Modern Times. This was not a prophecy, but rather a reading of a symptom. The film satirically depicts how machines and humans can never coexist, and that eventually machines will run themselves. Meanwhile, Chantal Akerman’s critique in Jeanne Dielman, 23 quai de Commerce, 1080 Bruxelle (1976) is aimed directly at modern humans, who are no longer able to change their modern pattern to the point of killing others.
If Chaplin’s critique of machines occurred at the dawn of modern technology, and 40 years later Akerman criticized modern humans paralyzed by order, how can the power of machines obscure our current reality? Perhaps we have indeed lost consciousness and are trapped in a post-reality created by machines. Is a new, significant critique needed in this time of uncontrolled visual flooding, when we no longer know what will happen next? After machines have completely taken over our lives?
The 22 films presented in the 13th edition of ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival, try to dig through the haystack, to find the key to entering a space of consciousness, which can project other perspectives from the history of cinema.
July 16th, 2026
Otty Widasari
Yang menarik adalah, Pencerahan Barat menetapkan sebuah ortodoksi mengabad, membenci kontradiksi, lalu bertemu dengan titik kacaunya. Sinema diciptakan melalui trayektori itu. Dari sebuah penghitungan pasti sebuah mesin ajaib bernama kamera, yang memproyeksikan hasil montase gambar—dan kemudian suara—menjadi kultur dunia. Sinema berangkat dari ranah asalnya, modernitas, menuju 2026 di mana gambar-gambar meluap, dan mengaburkan realitas segila-gilanya. Lalu ia penat, kebingungan akan realitas sebenarnya dengan realitas sinematik. Ia kehilangan kecakapannya untuk menggugat dunia yang timpang. Ia hanya mampu menyajikan tipuan estetikalalu membubuhkan puisi basi di atasnya. Puisi-puisi itu menumpuk seperti jerami yang menyembunyikan sebuah kunci rahasia yang bisa membuka pintu dunia yang lebih subtil.
Di tahun 1936, Charlie Chaplin sudah berani menjamin bahwa mesin-mesin akan menjauhkan manusia dari ‘kerja’ dan akan megacaukan kehidupan. Dari sana ia menciptakan Modern Times. Ini bukan sebuah ramalan, melainkan pembacaan sebuah gejala. Film tersebut menggambarkan dengan satir bagaimana mesin dan manusia tidak pernah bisa beriringan, dan akhirnya mesin akan berjalan dengan sendirinya. Sedangkan kritik Chantal Akerman dalam Jeanne Dielman, 23 quai de Commerce, 1080 Bruxelle(1976), ditujukan langsung kepada manusia modern, yang tidak sanggup lagi untuk mengubah pola hidup modernnya hingga harus membunuh orang lain.
Jika kritik Chaplin pada mesin berlangsung di awal-awal marak teknologi modern, dan 40 tahun kemudian Akerman menkritisi manusia modern yang lumpuh oleh keteraturan, lalu sekarang, bagaimana kuasa mesin itu bisa mengaburkan realitas kita saat ini? Barangkali kita memang sudah hilang kesadaran dan terjebak di dalam pasca-realitas yang diciptakan mesin. Apakah diperlukan sebuah kritik baru yang signifikan di masa banjir visual tak terkendali ini, di saat kita sudah tidak tahu lagi apa yang akan terjadi nantinya? Setelah mesin sepenuhnya mengambil alih kehidupan?
Ke 22 film yang dihadirkan dalam edisi ke-13 ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival 2026 ini mencoba mengais-ngais tumpukan jerami, untuk menemukan kunci untuk masuk ke sebuah ruang kesadaran, yang bisa memproyeksikan perspektif-perspektif lain dari sejarah sinema.
16 Juli 2026
Otty Widasari

























